My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Permohonan Maaf


__ADS_3

Sudah 4 hari Maretha dirawat, ketakutannya perlahan menghilang karna Umbara yang selalu menemaninya. Maretha merasa nyaman dan aman berada didekat pria itu.


Maretha pun sudah tahu jika Umbara sudah memberikan penjagaan yang ketat untuk dirinya selama di rumah sakit. Tentu saja dengan laporan dari Lisda yang merasa terganggu dengan keberadaan pengawal itu di depan pintu.


"Lebay banget kan kak Bara itu, sampai siapin pengawal sebanyak itu." Protes Lisda melapor pada Maretha. Saat mereka hanya berdua di dalam kamar.


"Lo gak ngerasa risih sama sikap Kak Bara yang over begini?," tanyanya lagi penasaran.


Maretha hanya tersenyum, "Berlebihan sih, tapi mungkin menurut Kak Bara ini yang terbaik." jawabnya sekenanya.


Maretha mengalihkan pandangannya, "Bagaimana keadaan kampus?," tanyanya. Sebenarnya dia ingin menanyakan kabar Rebecca tapi entah dia bingung ingin bertanya seperti apa.


Lisda menelisik tatapan Maretha, "Lo nanyain kampus atau cewek itu," tebaknya sambil memutar bola matanya asal dan tidak suka.


Maretha hanya tersenyum. "Gue juga gak tahu persis sih. Tapi lo bisa tebak sendiri apa yang bisa dilakukan Kak Bara buat lo," gadis berkacamata itu beranjak dari kursinya yang tadi duduk di sebelah tempat tidur Maretha.


"Aku hanya ingin tahu, Lis?," ujarnya.


Mereka pun saling diam.


Tiba-tiba Lisda mengingat sesuatu. Dia segera mendekati Maretha lagi yang masih terduduk dengan menyandarkan punggungnya di ujung ranjang.


"Gue baru ingat, tadi gue dikasi tau sama Mr. Jhon kalo Mas Danang mau dateng jengukin." katanya menepuk jidatnya.


Airmuka Maretha berubah senang, "Iyakah? Kapan? Kok Mbak Amel gak telpon aku ya?," tambahnya.


"Yaah, mungkin gak mau ganggu lo kali. Mereka kan sayang banget sama lo, Re." Lisda menimpali.


Lisda melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. "Gue ke pergi dulu ya ada urusan." pamitnya setelah membaca pesan di ponselnya.


From : Pak Rektor


Lisda, Can u help me?


I want to meet with Ms. Maretha


But, U know. I can't to come to Hospital.


Meet me at Cafe near at hospital.


I'm wait u, please help me


Lisda menautkan alisnya setelah membaca pesan dari Robert Rektor di kampusnya yang juga ayah dari Rebecca.


"Mau ke mana?" tanya Maretha.


"Ke kafe seberang, ada yang penting." jawabnya kemudian keluar meninggalkan ruangan.


To : Kak Bara Bossy


Gue keluar bentar ya, ada penjaga kok yg jagain di luar. Gw jg gak mungkib suruh salah seorang dari mereka masuk kan!


Ntar lo ngamuk lagi.


Kemudian langsung di balas oleh orang yang dikirimkan pesan


**From : Kak Bara Bossy


Ok. Tp lo mau kemn?


To : Kak Bara Bossy


Bukan urusan lo**.


Kemudian tidak ada jawaban lagi. Lisda berjalan menuju Kafe yang dimaksud oleh Robert.


Lisda sudah sampai di Kafe yang dimaksud. Dia masuk lalu mengedarkan pandangannya mencari sosok laki-laki bule gembul yang sudah tua.


Dia laly berjalan menuju kursi di mana pria itu duduk.


"Maaf pak, sudah membuat Anda menunggu," ucapnya menarik kursi di depannya.


"It's Okay.!" balasnya.


"Silakan kau bisa pesan minuman atau makanan," tawar Robert menyodorkan menu pada Lisda.

__ADS_1


Dia mengulum senyum, "Baik pak!,"


Robert lalu memanggil seorang pelayan, "Can I help you, Miss?," tanya pelayan itu ramah.


Lisda menengadah, "I want Hot Lemon Tea, please." jawabnya lalu pelayan itu pun meninggalkan meja mereka.


Robert ataupun Lisda tidak berbicara apa-apa. Mereka saling terdiam hingga pelayan tadi mengantarkan pesanannya.


Lisda menyeruput minumannya sambil melirik Robert yang terlihat gelisah.


"Anda ingin meminta bantuan apa, sir?," tanya Lisda memulai obrolan.


Robert tertunduk, dia mengetukkan jari-jarinya di meja. Dia menenggak salivanya, "Aku ingin kau membantuku untuk bertemu dengan Nona Maretha." katanya langsung tanpa basa-basi.


Lisda mengernyitkan alis, mencoba untuk mencerna permintaan Rektornya. "Untuk apa, sir?," tanyanya ingin tahu.


"Rebecca,"jawabnya dan Lisda pun mengangguk mengerti tanpa Robert harus menjelaskan tujuannya dengan detail.


"Anda tahu kan jika ruang perawatan Rere dijaga oleh pengawal yang disiapkan oleh Umbara." katanya.


Robert mengangguk pasrah, "Aku tahu. Untuk itu aku memohon bantuanmu agar aku bisa berbicara dengannya dan memohon untuk melepaskan Rebecca. Kau tahu kan tidak ada orangtua yang tega melihat putrinya menderita apalagi di penjara," mata Robert mulai berkaca-kaca.


Dia sangat menyayangi putrinya, dia juga tidak menduga jika putrinya bisa berbuat nekat seperti ini.


Lisda berpikir sambil menenggak Hot Lemon Tea nya lagi menjadi setengah.


"Aku akan berusaha mempertemukan Anda dengan Rere." jawabnya.


Senyum mengambang di wajah pria itu. Lisda mengeluarkan ponselnya.


**To : Kak Bara Bossy


Gw udh selesai, mau balik ke RS lagi. Btw, Mas Danang mau datang hari ini jenguk adiknya.


From : Kak Bara Bossy


Oke, gw tahu apa yg harus gw lakukan**.


**To : Rere Bestie


Boleh gak?


From : Rere Bestie


Boleh.


Aku jg mau tahu kabar Rebecca**


Setelah mengirimkan pesan, Lisda kembali menatap Robert yang masih harap-harap cemas.


"Rere juga mau ketemu dengan Anda." katanya


"Kapan saya bisa ketemu?," tanyanya.


"Sekarang, kebetulan Umbara lagi mengurus sesuatu dengan papahnya." jawabnya.


Robert mengangguk senang. Dia pun membayar pesanan mereka lalu keluar meninggalkan Kafe.


Dalam hati Robert sangat senang, tapi dia juga merasa takut jika pengawal Umbara menahannya. Dan niatnya untuk berbicara dengan Maretha gagal.


"Semoga si Bossy itu lama. Semoga juga Mas Danang agak telat datangnya"batin Lisda


Mereka berjalan menuju rumah sakit. Lisda menekan tombol lift.


TING!


Lift terbuka dan mereka pun berjalan masuk. Lisda menekan angka 5 pada tombol lift. Kemudian membawa mereka ke lantai yang dituju.


Lisda menarik napas berat untuk melegakan hatinya yang merasa sedikit takut jika yang dilakukannya ini ketahuan oleh Umbara. Sudah pasti dia akan tahu-bodoh"batinnya lagi


Robert pun melakukan hal yang sama. Saat pintu lift terbuka dia menenggak salivanya. Dia pernah ingin menemui Maretha dan saat itu dia diusir dengan kasar oleh pengawal dan mengancam dirinya.


Robert merasa dirinya penuh dengan ancaman akhir-akhir ini akibat ulah bodoh putrinya.


Lisda keluar dari lift dan meneliti koridor. Dia tidak mendapati seorang pengawal pun yang berjaga. "Ada apa ini? Mereka kemana?,"tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Sudahlah, nanti saja dipikirkan. Mumpung mereka gak ada ini kesempatan mempertemukan Pak Robert sama Maretha," pikirnya lagi.


"C'mon, sir!," ajaknya.


Robert mengekor di belakang Lisda. Lalu ikut masuk ke dalam kamar setelah memutar knop pintu.


"Silakan masuk, sir!," ajaknya lagi. Setelah memberikan kode pada Maretha tentang keberadaan Robert di luar.


"Rere juga sudah menunggu Anda." tambahnya lagi meyakinkan.


Robert masuk dan mendapati gadis itu duduk di atas ranjang rumah sakit. Dia merasa sedih melihat kondisinya. Meski Maretha tidak terluka parah pada fisiknya.


Melainkan psikis Maretha yang belum stabil.


Maretha merasa tubuhnya bergetar melihat kehadiran Robert. Dia membayangkan saat dirinya dipukul dan di kunci di dalam gudang oleh Rebecca. Karna mata mereka sama persis begitu juga dengan bibirnya.


Maretha berusaha mengendalikan kecemasannya yang mulai naik. Menyadari hal itu Lisda mengenggam tangannya dengan lembut. Kemudian dia memberikan pelukan agar sahabatnya merasa tenang.


"Jangan takut, Re. Gue akan jagain lo," bisik Lisda di telinganya.


Robert yang melihat reaksi gadis itu pun merasa urung untuk berbicara. Dia baru saja ingin membalikkan badannya. Tetapi suara Maretha membuat kembali.


"Bagaimana kabar Rebecca, sir?," tanya Maretha dengan suara yang lirih dan sedikit tercekat akibat deru napasnya yang memburu.


Robert ragu-ragu, "Tidak terlalu baik." jawabnya.


Masih dalam dekapan Lisda, "Lalu apa yang bisa aku bantu, sir?," tanyanya lagi.


"Bisakah kau mencabut gugatanmu pada putriku? Aku tidak tega melihatnya di penjara seperti itu." jawabnya lagi dengan nada memohon.


Maretha terdiam, "Aku tidak pernah melaporkannya. Tapi aku akan membujuk Umbara untuk melepaskannya." jelasnya.


Robert tersenyum kecil, "Baiklah. Aku ucapkan terima kasih atas bantuanmu." ucapnya


"Maafkan putriku Rebecca, aku berjanji akan menjauhkannya darimu," dia ingin berlutut tapi Lisda segera menahannya.


"Anda tidak perlu melakukan ini," kata Lisda menarik tubuhnya untuk berdiri.


Sebutir bening melengos dari pelupuk mata Robert. Dia segera menghapusnya dengan ujung jari telunjuknya.


Hatinya terasa sakit melihat penderitaan Maretha yang merasa ketakutan. Dia pun merasa sakit karna gadis ini sangat pemaaf. Apa yang telah dilakukan oleh putrinya. Mengapa harus membuatnya seperti ini.


"Apa aku boleh memelukmu?," pintanya dengan ragu-ragu.


Lisda dan Maretha saling bertukar pandang. Kecemasan dan ketakutan masih ada pada diri Maretha. Tetapi dia harus bisa sembuh. Caranya adalah dengan melawan rasa takut ini.


Maretha mengangguk pelan, Lisda membulatkan matanya. Dia cemas jika ini akan membuatnya semakin parah. Dan Umbara pasti akan menggereknya.


Robert berjalan pelan mendekati ranjang Maretha. Dia pun meraih tubuhnya, dan memeluknya dengan rasa bersalah.


"Maafkan aku," ucapnya dengan tulus.


Tubuh Maretha menegang dan napasnya kembali memburu. Maretah pun sedikit bergetar. Robert langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf. Tolong maafkan aku." ucapnya


Maretha tidak berbicara sedikit pun. Dia menekukkan kedua kakinya dan memeluk kedua lututnya sambil menyembunyikan wakahnya.


Robert panik, begitu juga dengan Lisda. dia langsung memeluk tubuh Maretha dan berusaha menenangkannya.


"Jangan takut, Re. Ada gue di sini," bisiknya sambil menggosok punggung Maretha.


Cukup lama dia melakukan itu. Akhirnya Maretha pun kembali tenang. Napasnya mulai normal.


Dia membaringkan tubuhnya. Mengusap kepalanya dengan lembut. "Istirahatlah!," pintanya.


Maretha mengangguk dan menurutinya. Lisda lalu mengantar Robert keluar kamar.


"Apakah dia akan baik-baik saja?," tanyanya khawatir.


Lisda tersenyum menghibur, "Anda tidak perlu cemas. Dia akan baik-baik saja." katanya lagi.


"Terima Kasih," kemudian berjalan memasuki lift dan menghilang dari pandangan Lisda


Friday, 17 January 2020

__ADS_1


__ADS_2