My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Maretha Septin Aura


__ADS_3

Seorang bayi kecil nan cantik menangis didepan pintu sebuah panti asuhan. Pengurus panti terbangun mendengar suara tangisan bayi. Dia berjalan menuju pintu depan, saat pintu terbuka tidak seorang pun yang nampak. Pengurus panti mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada seorang pun. Dia lalu melihat ke bawah dan mendapati seorang bayi mungil nan cantik sedang menangis. Pengurus panti berjongkok dan mengangkat bayi itu.


"Halo cantik!." sapa pengurus panti sambil mencubit pipi gembulnya dengan gemas. Bayi itu pun berhenti menangis saat digendong oleh Pengurus Panti.


Dia masih mengedarkan pandangannya berharap menemukan orang yang sudah meletakkab bayi ini di depan pintu panti yang diurusnya. Tetapi hasilnya masih sama, kosong.


Dia lalu mengangkat tas bayi yang ikut serta saat bayi ini dititipkan. Lalu menutup pintu panti kembali. Kemudian beberapa anak kecil dan wanita lainnya keluar menghampirinya yang masih menggendong bayi itu.


"Ada bayi lagi ya bu?." tanya seseorang diantara mereka yang usianya sekitar 30 tahunan dengan mata yang masih dikucek.


"Hmm," jawabnya tanpa menoleh.


Wanita pengurus Panti Asuhan itu bernama Ibu Tari, dia cantik dan sangat lembut. Ibu Tari tidak pernah berkata kasar ataupun marah kepada anak-anaknya. Beliau sangat menyayangi mereka meskipun mereka bukan anak kandungnya. Tapi Ibu Tari menganggap anak-anak yang tidak dibutuhkan oleh keluarganya adalah titipan dari Allah dan itu amanah baginya agar merawat mereka, memberikan kasih sayang kepada mereka, dan memberikan kehidupan untuk mereka. pengurus panti dan anak-anak memanggilnya "bunda".


"Sini biar aku yang gendong, bun". tawar wanita itu yang juga adalah pengasuh di tempatnya.


Ibu Tari memberikan bayi itu kepada Ibu Citra, dia lalu memeriksa isi tas yang dititipkan bersama dengan bayinya.


Didalam tas itu, dia mendapatkan 2 lembar popok bayi, susu bubuk yang disimpan pada sebuah toples, sebuah dot bayi yang masih hangat, foto bayi, 3 lembar baju bayi, sebuah amplop coklat berkancing dan amplop putih.


Ibu Tari memberikan dot bayi kepada Ibu Citra agar meminumkan kepada bayi itu. "Ini berikan padanya, dia pasti lapar." katanya memberikan dot pada Ibu Citra.


"Bunda yakin?." Ibu Citra sedikit ragu. Dia takut jika susu ini sudah lama dibuat.


"Susunya masih hangat, dan itu berarti masih baru. Dan mungkin orang yang menitipkan bayi ini sudah mempersiapkannya," jelasnya lagi sambil memperhatikan amplop di tangannya. Kemudian Ibu Citra meminumkan susu pada si bayi pun diam dan terus menghisapnya.


"Bunda, dede bayinya cantik. Namanya siapa?," tanya seorang anak kecil laki-laki berusia 5 tahun bernama Danang melihat bayi yang digendong Citra.


Ibu Citra membalas, "Belum tahu, tapi kita bisa memanggilnya dede bayi" jawabnya.


"Asyiikkk, kita punya dede bayi," tambah seorang anak lagi yang usianya dibawah Danang dengan memperlihatkan giginya yang jarang dengan senang.


"Bawa mereka masuk ke dalam kamar, dan tidurkan mereka lagi." perintahnya pada Citra dengan lembut.


Citra berdiri dan mengajak anak-anak itu kembali ke kamar. "Danang, Amel kembali ke kamar yuk!." ajaknya.


"Tapi kita mau liat dede bayinya, bu?." rengek Amel.


Citra mengulas senyum, "Kan dede bayinya ikut masuk kamar juga." terangnya menggendong serta si bayi masuk ke dalam kamar bersama dengan Danang dan Amel.


Sementara mereka masuk, Ibu Tari melanjutkan memeriksa isi tas. Kemudian dia membuka amplop coklatnya. Dia mengeluarkan selembar kertas berisikan Surat Keterangan Lahir dari bayi itu. Kemudian dia menemukan selembar kertas lagi yang berisikan surat yang ditulis tangan. Kemudian dia membuka amplop putih yang berisi beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu sebanyak 20 lembar.


Ibu Tari mengernyit, dia masih bingung dengan orangtua bayi ini. "Kalo dia bisa memberikan uang sebanyak ini, Kenapa harus menitipkan bayinya di Panti Asuhan" batinnya menggelengkan kepalanya pelan.


Dia lalu membuka kertas yang tertulis tangan dan membacanya.


**Untuk Pengurus Panti Asuhan yang baik hati.

__ADS_1


Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih karena telah menerima anakku dengan senang hati. Aku sadar jika yang kulakukan ini salah. Tapi aku sudah memikirkan semuanya dengan baik.


Aku berharap kalian bisa memberikan kasih sayang yang tulus untuk Rere anakku. Yah, aku memberinya nama Maretha Septin Aura. Dan aku memanggil bayiku dengan Rere. Aku bukan ibu yang baik untuk Rere begitu juga dengan lingkunganku.


Aku melahirkannya karna dia sudah terlanjur tumbuh didalam rahimku. Tetapi aku tidak bisa merawat dan membesarkannya di lingkunganku yang kotor dan penuh dengan dosa. Aku menyerahkan bayiku pada Anda agar bisa tumbuh dengan normal, bisa mendapat kasih sayang yang tulus. Setidaknya kelak dia tidak merasa malu jika tumbuh di lingkungan Panti Asuhan jika dibandingkan di tempatku.


Aku tidak tahu siapa ayah dari bayiku, jadi aku tidak bisa menyerahkannya kepada keluarga ayahnya. Karena pekerjaanku, aku tidak bisa menuntut salah satu diantara mereka sebagai ayah bayiku. Dan aku juga tidak memiliki keluarga yang bisa merawat bayiku jika suatu saat nanti aku tiada. Untuk itu aku memutuskan untuk memberikannya kepada Anda. Aku tidak tahu akan hidup sampai berapa lama karna setelah melahirkan bayi Rere dokter memvonisku dengan penyakit yang mematikan. Mungkin ini akibat dari pekerjaanku sebagai pemuas nafsu laki-laki yang berduit.


Aku mohon rawatlah bayiku, berikanlah dia kehidupan yang layak. Berikanlah dia kasih sayang karna aku tidak bisa memberikannya.


Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih karna sudi menerima bayiku. Sampaikan padanya jika aku sangat menyayanginya.


Dari Ibu yang melahirkan Maretha


Selama membaca surat itu Ibu Tari merasa kasihan dan sebulir air jatuh di pelupuk matanya dan membajir. Dia tidak mampu menahannya lagi. Ibu Citra menghampirinya setelah menidurkan anak-anak itu.


"Bunda kenapa nangis?." Ibu Citra mengernyit melihat Ibu Tari menangis tersedu. Ibu Tari memberikan surat yang telah dibacanya kepada Ibu Citra pun langsung mengambil dan membacanya juga.


"Kasihan banget ya bayi Rere, bun." komentarnya setelah membaca surat itu.


"Tapi setidaknya bayi Rere tahu ibunya, meskipun hanya nama" tambah Citra lagi


"Tapi kenapa dia harus menitipkan bayinya di Panti jika dia sendiri bisa mengasuhnya". protesnya


Ibu Tari mengangkat sudut bibirnya, "Begitulah kita seorang wanita. Terlalu banyak tugas, beban moral dan aturan di masyarakat yang menuntut kita. Apapun yang kita lakukan selalu saja ada pandangan yang menganggap itu salah. Tapi disudut terkecil kita itulah yang benar." katanya mulai menjelaskan persepsinya terhadap isi surat bayi Rere.


Ibu Tari menoleh sebentar kemudian menghembuskan napas pelan, "Salah memang. Tapi akan lebih salah jika dia tetap bersikeras merawat bayinya di sana. Di lingkungan yang menurut surat ini tidak baik. Ibunya Rere tidak ingin bayinya kelak akan mengikuti jejaknya meski sekuat apapun dia menjauhkannya. Kamu kan tahu bahwa karakter seseorang akan terbentuk dari lingkungan sekitarnya." Citra mengangguk paham dengan penjelasan Ibu Tari.


###


Penghuni Panti Asuhan sangat senang dengan kedatangan anggota baru mereka. Secara bergantian mereka menjaga bayi Rere, mengajaknya bermain. Bayi Rere anggota keluarga termuda setelah Amel yang berusia 4 tahun 3 bulan.


Amel sangat senang karna saat ini sudah memiliki adik. "Akhirnya Amel punya dede bayi," katanya dengan tatapan mata yang berbinar sambil menekan hidung bayi Rere dengan pelan.


Danang juga ikut senang, karna mereka bertiga yang termuda dalam anggota keluarga ini. "Mas Danang, sekarang Amel punya adik. Mas Danang juga harus menjaga dede bayi ya!." ucap bocah kecil itu memberikan jari kelingkingnya dan disambut oleh Danang dengan senang hati.


Ibu Tari dan Ibu Citra melihat tingkah polos mereka meneteskan airmata bahagia. "Dunia mereka memang sangat polos. Kebahagiaan mereka sangat sederhana," komentar Ibu Citra merangkul Ibu Tari.


Bayi Rere sekarang sudah berusia 4 bulan sesuai dengan Surat Keterangan Lahir yang diberikan ibunya. Dan Bayi Rere juga sudah 3 bulan tinggal bersama mereka. Bayi Rere tumbuh menjadi bayi yang cantik dan menggemaskan. Danang dan Amel sering mengajaknya bermain, dan mengobrol. Sementara anggota keluarga yang lebih besar secara bergantian menjaga mereka.


Hanya bayi Rere yang memiliki identitas dari anggota keluarga lainnya. Dan setiap bulan ibunya mengirimkan uang dengan jumlah yang sama setiap bulannya didalam amplop disertakan dengan surat dan selalu diselipkan di bawah pintu.


Mereka tidak pernah tahu siapa ibu dari bayi ini, sebenarnya ada keinginan didalam hati Ibu Tari untuk mencari tahu ibunya. "Bunda, apa sebaiknya kita ke rumah sakit di mana bayi Rere dilahirkan. Mereka pasti punya data-data dan keterangan setiap pasien kan," usul Ibu Citra.


"Aku juga pernah memikirkan hal itu, tapi......" kalimat Ibu Tari menggantung ekspresinya seperti ragu-ragu dan takut.


"Tapi kenapa bunda?."

__ADS_1


Ibu Tari tertunduk lesu, "Aku takut kecewa jika mengetahui ibunya" lirihnya. Ibu Citra menggosok punggung Ibu Tari seolah mengalirkan semangat kepadanya.


"Setidaknya kita tahu siapa ibu dari bayi Rere. Jika suatu saat dia dewasa dan menanyakan orangtuanya kita bisa memberitahunya. Tentang nanti bayi itu akan terima atau tidak, kita tinggal menunggu saja bagaimana akhirnya." Terang Ibu Citra dan membuat Ibu Tari agar mempertimbangkannya.


Setelah pembicaraan itu Ibu Tari memikirkan masa depan bayi Rere. Entah kenapa dia sangat menyayangi bayi itu dan ingin membesarkannya sendiri. Dia tidak ingin bayi Rere diadposi oleh keluarga baru.


Di rumah sakit Ibu Tari dan Ibu Citra menunggu di ruang dokter yang menangani kelahiran bayi Rere dengan perasaan cemas. Kemudian tidak lama seorang perawat datang bersama dengan dokter wanita yang usianya tidak jauh beda dengan dirinya.


"Maaf bu sudah menunggu lama, tadi aku ada pasien yang baru melahirkan". ucap Ibu Dokter setelah duduk di kursinya.


"Tidak masalah dokter, kami mengerti kok". balas Ibu Tari.


Ibu Dokter membuka sebuah map folder yang berisi tentang semua data-data pasiennya. "Saya sudah mendengar dari perawat bahwa kalian datang ingin mencari tahu tentang bayi perempuan yang dilahirkan di bulan September. Apa boleh saya tahu alasan kalian ingin mengetahuinya?." tanya dokter ingin tahu.


Ibu Tari menghela napas, "Saya adalah pemilik Panti Asuhan Al Mukarram. Kebetulan tiga bulan yang lalu seorang bayi perempuan dititipkan di depan pintu panti." kemudian Ibu Tari menceritakan pertemuannya dengan bayi Rere dan juga kiriman uang dari ibunya. Dokter mendengar dengan seksama cerita Ibu Tari.


"Saya sependapat dengan tindakan ibu bayi itu, karna lebih baik bayinya dirawat di Panti Asuhan daripada tumbuh di lingkungan yang buruk yang mungkin akan membuatnya menjadi lebih buruk". tambah ibu dokter mengomentari.


Ibu Dokter lalu menunjukkan sebuah foto dan identitas dari ibu yang melahirkan bayi Rere kepada Ibu Tari dan Ibu Citra. "Kebetulan saat dia melahirkan aku yang membantunya. Ibu Kirana mengatakan yang sebenarnya kepada saya saat itu jika pekerjaannya adalah seorang pelacur dan dia tinggal di lingkungan itu. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak tahu benih lelaki mana yang membuatnya hamil. Tetapi karna terlanjur hamil, dia tidak ingin membunuh anaknya. Jadi Ibu Kirana memutuskan untuk melahirkannya." terang dokter secara detail. Dia juga memberikan alamat wanita itu bekerja.


Ibu Tari menerimanya dan saat membacanya dia sudah tahu tempat apa itu. "Lalu kenapa dia tidak berhenti dan memutuskan untuk merawat bayinya sendiri?." kini Ibu Citra yang melayangkan pertanyaan kepada dokter.


"Pertanyaan itu pun aku sempat melontarkan kepadanya. Dia hanya menjawab jika dia tidak bisa melakukannya, karna itu sama saja bunuh diri. Jika dia berhenti, maka konsekuensinya bayi yang dilahirkan akan menjadi penggantinya kelak jika usianya sudah bisa melayani laki-laki. Dia tidak ingin menjadi seperti dirinya. Dia berharap anaknya mendapat kehidupan yang layak."


Ibu Citra menanggapi, "Hal itu dia tuliskan dalam suratnya." katanya


"Lalu kenapa dia baru menitipkan bayinya setelah usianya satu bulan?." tanya Ibu Tari lagi ingin tahu.


"Iya, itu berarti dia sudah membawa anak itu di lingkungannya tinggal," tambah Ibu Citra lagi.


Ibu dokter tersenyum tipis, "Karna selama itu bayinya di tinggal di sini dengan alasan dia tidak punya uang untuk membayar biayanya. Dan selama itu dia mencari Panti Asuhan yang cocok untuk anaknya. Kemudian dia menemukan tempat ibu, lalu dia datang menebusnya bayinya." terang Ibu Dokter menjelaskan.


Ibu Tari dan Ibu Citra mengangguk paham dari cerita Ibu Dokter. Mereka pun saling terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Setelah semuanya jelas mereka pun berpamitan dan kembali ke Panti Asuhan. Tidak adalagi pertanyaan yang membingungkan didalam benak Ibu Tari. Sekarang dia sudah punya jawaban jika suatu saat anak itu dewasa dan mencari orangtuanya. Uang yang dititipkan oleh Ibu Kirana (Ibunya Maretha) setiap bulan dia menyimpannya untuk kebutuhan anak itu. Hingga diusia Maretha menginjak 5 tahun, tidak adalagi amplop dan surat dari Ibu Kirana untuk Maretha. Tetapi di amplop terakhir ada begitu banyak surat untuk Maretha yang tertulis berikan nanti pada anak saya disetiap ulang tahunnya hingga usianya 18 tahun.


Ibu Tari dan Ibu Citra menuruti amanah dari Ibu Kirana. Mereka mendapatkan informasi jika orangtua Maretha pun meninggal karna penyakit kanker rahim yang dideritanya setelah melahirkan Maretha.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Di bagian ini author menceritakan tentang latar belakang Maretha yang menjadi alasan Pak Danu atau papa Umbara yang TIDAK PERNAH MERESTUI hubungan mereka.


Di bab berikutnya aku akan menceritakan tentang pertemuan Umbara dengan Maretha. Bagaimana perjuangan mereka hingga akhirnya mendapatkan restu dari orangtua Umbara terutama papanya.


Terima kasih semuanya yang sudah meluangkan waktu membaca ceritaku.


Jangan lupa untuk memberikan vote dab follow akun author ya.

__ADS_1


Thursday, 02 January 2020


__ADS_2