
Acara pernikahan pun telah selesai, Amel dan Danang merencanakan bulan madu ke Seoul, Korea Selatan dan Jepang. Maretha dan para sahabatnya kembali ke kampung untuk melaksanakan ujian akhir.
Selama persiapan menjelang ujian, Maretha dan para sahabatnya selalu melakukan belajar bersama secara intens terlebih bagi Alisya. Dia harus belajar lebih keras dari teman lainnya karena nilainya yang paling rendah diantara mereka. Dengan setia pun Maretha mengajarinya dengan sabar dan tekun.
“Re, aku sedikit takut loh. Nanti aku lulus gak sih?,” katanya pesimis dan wajah sedikit cemberut. Maretha tersenyum simpul, “Gak usah pesimis, aku yakin kok kamu pasti lulus. Selama kamu berusaha.” Katanya memberi semangat.
Ujian pun akhirnya datang. Alisya, Aksar dan Maretha mereka berada dalam satu kelas. Vena dan Ridwan di kelas yang sama. Mereka mengikuti ujian selama 3 hari berturut-turut dengan tenang. Sebelum masuk kelas mereka selalu ketemu di lapangan basket sekolah, duduk dibangkunya. “Ini kan hari terakhir kita ujian, habis ini kita jalan yuk!,” ajak Vena.
“Setuju!,” kata mereka kompak.
Lalu bel pun berbunyi. Mereka pun masuk ke dalam kelas masing-masing. Setelah ujian selesai, mereka sepakat lagi berkumpul di kantin sekolah. Maretha dan Alisya baru saja keluar dari kelas, kemudian salah seorang guru memanggil Maretha, “Re, kamu ikut ibu ke ruangan kepsek ya ada hal penting yang harus diberitahukan.” Kata
Ibu Ningsih selaku walikelas mereka. “Eh iya bu, ada apa ya?,” Maretha mengeryit bertanya.
“Nanti juga tahu,” ajak Ibu Ningsih lagi melangkah lebih dulu menuju ruangan kepsek.
Alisya pun bertanya pada Maretha, “Kamu merasa buat salah gak?,” tanyanya curiga dan Maretha mengangkat kedua bahunya,”Gak ada!.” Balasnya.
“Ya sudah, aku nyusul bu Ningsih ke ruangan kepsek dulu. Ya!,” pamitnya. “Nanti aku nyusul ke tempat kalian.” Tambahnya lagi lalu berjalan menuju ruangan kepsek.
Alisya menyusul tempat teman-temannya berkumpul yaitu di kantin sekolah. “Loh kok sendiri, Rere mana?,” tanya Vena saat melihat Alisya datang sendiri. Alisya duduk didepan mereka, “Tadi waktu keluar kelas, Rere dipanggil sama bu Ningsih katanya disuruh keruangan kepsek. Ada yang penting katanya mau dibicarakan.”Terangnya dengan jelas.
Fitri memutar posisi duduknya yang menghadap Alisya, “Emang apaan ya?,” tanyanya penasaran mendekatkan wajahnya pada Alisya. Dia memanyunkan bibirnya, “Gak tau, bu Ningsih juga gak bilang apa-apa,” sahutnya.
Mereka semua penasaran alasan Maretha dipanggil oleh kepsek. Satu-satunya adalah mereka harus bertanya langsung pada Maretha sendiri.
Sementara di ruangan kepsek Maretha duduk bersampingan dengan bu Ningsih. Maretha nampak gelisah dan sedikit kuatir, karna wajah Ibu Zaenab terlihat serius saat menatap dirinya.
“Rere, kamu pernah mengajukan permohonan beasiswa di Australia?,” tanya Ibu Zaenab dengan tatapan serius.
Maretha memegang kedua tangannya sendiri diatas paha, “Iya bu. Sebulan yang lalu saya coba apply University of Sydney bu.” Jawabnya dan itu membuat ekspresi Ibu Zaenab terlihat senang.
Beliau memeluk Maretha dengan bangga, “Selamat nak, permohononan kamu diterima dan 2 minggu lagi kamu harus ke sana untuk melakukan tes akhir.” Katanya dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Zaenab terlihat sangat senang, karna ini adalah hal pertama yang terjadi dalam sejarah sekolahnya. Untuk pertama kalinya ada siswa yang mengajukan permohonan beasiswa berprestasi ke universitas dan itupun di luar negeri. Padahal sekolah mereka bukan di kota hanya berada di kampung (pinggiran kota). Ibu Ningsih menutup
mulutnya merasa takjub mendengarnya, “Selamat Re, Ibu sangat bangga sama kamu,” ucapnya memeluk Maretha juga dengan penuh sayang.
Maretha tersenyum renyah, “Tapi, aku belum tentu diterima bu. Kan masih harus ujian lagi,” katanya pesimis menunduk. Ibu Ningsih mengelus rambut Maretha yang tergerai dengan sayang, “Kamu diterima atau tidak nantinya ini juga udah kebanggaan besar buat kami. Tapi kami percaya kok sama kamu. Kamu itu anak yang cerdas dan pasti bisa lulus.” Nasihatnya memberikan semangat pada Maretha agar tetap optimis.
“Iya ibu juga setuju dengan ucapan Ibu Ningsih, kamu jangan pesimis dong. Harus tetap optimis ya!,” tambah Ibu Zaenab lagi mengepalkan kedua tangannya dengan semangat. Kemudian beliau menyodorkan sebuah amplop putih yang berisikan kop surat dari kampus tersebut kepada Maretha, “Ini adalah surat pemberitahuannya.
Maaf jika ibu lancang membacanya duluan karna disurat ini ditujukan untuk sekolah. Nanti baru ibu liat nama kamu didalam.” Terangnya menyodorkan amlop tersebut.
Maretha menerimanya kemudian berpamitan dengan mereka, “Aku pamit dulu ya bu. Terima kasih sudah menyemangatiku.” Senyumnya lalu mencium pungung tangan mereka secara bergantian. Marertha terus mengembangkan sebuah senyuman renyah dan ceria. Tiada henti-hentinya dia mengucapkan rasa syukur kepada Allah atas kabar gembira yang diterimanya. Dia tidak sabar untuk memberitahukan Bunda, Ibu Citra, Mas Danang dan Mbak Amel dan tentunya kepada para sahabatnya.
Maretha sengaja memasang muka cemberut saat melihat teman-temannya yang masih duduk setia menunggunya di kantin. Kemudian dia berjalan menuju bangku mereka, “Re,ada apa kok sedih sih?,” tanya Alisya membantunya duduk dibangku sampingnya.
“Ada apa sih? Gak biasanya kan kamu cemberut gini?,” pikir Alisya dengan mengernyitkan
__ADS_1
keningya.
Vena meraih tangan Maretha dan menggosoknya dengan pelan,”Cerita dong sama kita, Re. Jangan
diem gini,” tambahnya lagi dengan niat memberikan semangat padanya.
Aksar dan Ridwan tidak kalah khawatir mereka gelisah dan berdiri sambil mengepalkan tangannya sambil sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah merasa yakin dengan ekspresi teman-temannya yang khawatir padanya, Maretha mengeluarkan amplop dari dalam tasnya dan meletakkannya diatas meja. Tadi sebelum kembali Maretha meminta amplop putih kepada ibu kepsek. Jadi amplop yang sekarang tidak ada kopnya. “Tadi Ibu Kepsek dan Ibu Ningsih memberiku ini,” katanya dengan memasang wajah yang mengenaskan.
Vena mengernyit, “Ini amplop apa?,” katanya lalu mengambil amplop itu. Aksar dan Ridwan mendekati Vena untuk membuka amplopnya. Vena membukanya dengan pelan,“Serius?,”tanyanya dengan senyuman renyah diwajahnya. Aksar dan Ridwan membelalakkan wajahnya. Fitri dan Alisya pun penasaran, mereka juga ikut membaca surat itu. Lalu mereka pun terika histeris, “Rereeeeeeeee, sumpah ya kamu ngerjain kita.” Alisya langsung memeluknya dengan semangat.
“Selamat ya kamu udah diterima.” Ucap Vena memeluknya juga. Fitri pun ikut memeluknya,“Sumpah, kita senang banget mendengarnya,” mereka saling berpelukan. Aksar dan Ridwan menyalaminya dan juga memberikan selamat untuknya.
“Oh ya kamu nanti ke Aussie sama siapa?,” tanya Vena tiba-tiba. Maretha menggeleng, “Belum tahu, Ven. Aku mau kasi tahu bunda dulu,” jawabnya.
“Kalo nanti belum tahu siapa yang nemenin atau belum tahu mau tinggal dimana kasi tahu aku ya, kebetulan aku punya teman yang kuliah di sana. Dia baik kok, dan sudah pasti mau bantuin kamu,” terang Vena.
Alisya menimpali, “Teman kamu yang mana ya?,” tanyanya. Vena tersenyum dan dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Anaknya teman papi,” jawabnya jujur. Alisya mengerti.
Mereka pun melanjutkan rencana mereka untuk menonton film bersama-sama. Menikmati waktu kebersamaan mereka yang sebentar lagi akan susah untuk bisa ketemu. Maretha langsung menemui bunda saat masuk ke dalam rumah, dia lalu memberikan amplop itu pada bunda. Lalu memberitahu Mas Danang. Ucapan selamat datang untuknya.Entah itu secara langsung ataupun melalui pesan.
Keesokan paginya Mas Danang dan Amel datang mengunjungi Panti Asuhan, mereka datang sekalian ingin memberikan selamat kepada adiknya dan juga memberikan hadiah untuknya.
“Mas Danang sama Mbak Amel kok repot-repot datang ke sini,” kata Maretha saat mereka telah duduk manis di kursi yang ada diruang tamu.
“Kita gak pernah repot kok, lagian kami kan senang adik kami ini bisa dapat beasiswa kuliah di luar negeri apalagi di Australia.” Amel pun bersuara. Maretha tertunduk malu, “Belum kak, kan masih ada ujian masuknya.” Jawab Maretha masih ragu akan lulus.
Setelah meminum kopi yang dibuatkan oleh Ibu Citra, Mas Danang pun kembali meletakkan cangkirnya di atas meja. “Nanti di Australia tinggal dimana?,” tanyanya menatap Maretha. “Belum tahu, Mas.” Jawabnya menggeleng. Maretha membasahi bibirnya, “Mungkin aku akan tinggal bersama temannya Vena,” sahutnya pelan tidak yakin akan bisa nyaman dengan teman Vena.
“Cewek apa cowok?,” serang Bunda padanya ingin tahu. “Cowok bun.” Dan jawaban itu berhasil membuat pandangan Bunda meredup dan ada tanda kekhawatiran didalamnya.
Kali ini Mas Danang menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Kalo gitu biar Amel saja yang nemenin kamu nanti saat di Australia. Sekalian mencari tempat tinggal buat kamu kalo kamu lulus ujian.”
Maretha senyum cerah, “Benarkah? Emang gak ngerepotin?,” tanyanya. Amel mengelus pipi Maretha dengan sayang, “Ya enggaklah sayang. Kebetulan aku juga ada sedikit urusan di sana. Jadi sekalian nemenin kamu ujian kan!,” jelasnya.
Semuanya pun sepakat bahwa Maretha akan diantar oleh Amel ke Australia. Lalu mereka pun mengurus passport dan visa untuk Maretha agar bisa datang sesuai jadwal yang tertulis pada surat undangan panggilan tes.
***
Maretha dan Amel berangkat ke Australia dua hari sebelum pelaksanaan ujian berlangsung. Mereka tinggal di hotel dekat kampus, Maretha ditemani Amel melihat kondisi kampus yang sangat luas dan sangat cantik. Maretha seolah jatuh cinta dengan kampus ini dan semangatnya untuk lulus ujian semakin besar.
Waktu ujian pun tiba, Maretha datang lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan dia sudah membaca beberapa buku saat tiba di negara ini. Kemain pun dia sudah menyempatkan diri untuk membaca di perpustakaan meski dia sedikit kesulitan menemukan tempat itu.
Maretha masuk ke dalam kelas dan menunjukkan ID Card serta Surat Undangan Tesnya kepada pengawas lalu dia menunjukkan kursinya yang berada di deretan kedua dari kanan. Maretha duduk dan memperhatikan beberapa siswa lainnya yang juga ikut memasuki ruangan. Ada banyak siswa dari berbagai negara.
Ujian pun berlangsung selama 2 jam, dan Maretha menyerahkan kertas ujiannya pada pengawas lalu berjalan keluar kelas. Kemudian seseorang menyapanya yang kebetulan juga adalah salah seorang teman saat dia mengikuti Sains Competition di Jakarta. “Hai, kamu Maretha kan?,” sapa gadis dengan rambut berombak dan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya. Maretha mengernyit berusaha mengingat gadis itu, “Hai, iya. Kamu—Lisda kan dari SMA Cahaya.” Balasnya mengingat gadis itu.
__ADS_1
“Gak nyangka ternyata kamu dapat undangan juga ya?,” tanya gadis itu dengan senang. “Iya,” katanya mengangguk. Akhirnya mereka pun berbincang dengan rencana mereka apabila sama-sama lulus dari tes ini. Lalu ponsel Maretha berdering dia melihat di layarnya tertulis nama ‘Mbak Amel’.
“Permisi, aku jawab dulu ya.” Katanya lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian menggeser panggilannya.
“Assalamualaikum, Mbak!,” sapanya
“Kamu udah selesai kan ujiannya?,” tanya Amel yang suara terdengar dari seberang telepon.
“Iya Mbak, sudah 20 menit yang lalu.” Jawabnya dan membuat Amel harus menepuk jidatnya karena terlambat menjemput adiknya.
“Aduh, maaf ya dek. Kamu tunggu bentar ya. Mbak sekarang jemput kamu.” Balasnya.
“Gak usah buru-buru, Mbak. Lagian aku ketemu teman di sini. Kami ngobrol banyak, jadi kalo mbak masih ada urusan gak apa-apa. Kalo pun masih lama, nanti aku ke perpustakaan aja.” Katnaya lagi lalu mereka pun mengakhiri pembicaraan mereka.
Maretha kembali duduk disamping Lisda, kemudian mereka pun melanjutkan obrolan mereka yang semakin panjang. Lalu Lisda pun harus meninggalkan Maretha karena jemputannya pun sudah datang. “Re, aku duluan ya!,” pamitnya memandangi punggung Lisda yang kemudian menghilang dari pandangannya.
Seperti rencana awalnya, Maretha ingin berjalan menuju perpustakaan untuk menuggu Amel menjemputnya kemudian tanpa sadar dia ditabrak oleh seseorang yang hampir membuatnya terjatuh tetapi tangan laki-laki itu dengan cepat menarik tubuhnya dan membuat wajahnya menabrak dada laki-laki itu. “Sorry!,” ucap laki-laki itu melepaskan Maretha.
Maretha masih menunduk. Dia menganggukkan kepalanya, “It’s Okay,” balasnya dengan tersenyum. Lalu dia berjalan melewati laki-laki itu tanpa melihatnya.
“Hi... Excuse me!.” Panggil seseorang berlari ke arahnya dan dia pun spontan berbalik.
BUGH!!
Lagi-lagi Maretha harus menabrak dada laki-laki itu karena dia tiba-tiba berbalik. “Auw, sakit!,” rintihnya dengan suara pelan menggosok hidungnya.
Laki-laki itu pun mundur, dan tertawa kecil melihat tingkahnya yang sedikit konyol karena sudah dua kali dia menabrak dadanya. “Kamu Indonesia?,” tanyanya hati-hati meyakinkan dirinya.
Maretha mengangkat wajahnya dan tatapan mereka pun bertemu. “I—iya,” sambil mengangguk dan tersenyum. Laki-laki itu terus menatapnya sambil menyungingkan sebuah senyuman manis untuknya. “Ini buku kamu, tadi jatuh!,” katanya memberikan buku yang berwarna coklat kepadanya dan Maretha pun langsung mengambilnya.
“Terima kasih.” Ucapnya.
Ponsel Maretha berdering dan dia pun mengangkatnya. “Kamu dimana? Mbak sudah didepan.” Kata seseorang
di seberang telepon sebelum Maretha menyapanya. “Iya Mbak, aku ke sana sekarang.” Jawabnya.
Baru saja laki-laki itu ingin mengulurkan tangannya untuk berkenalan, tetapi Maretha langsung berbalik eninggalkannya. “Maaf, aku harus pulang sekarang. Terima kasih ya!,” ucapnya dengan tersenyum lalu meninggalkannya.
Laki-laki itu menarik tangannya kemudian mengepalnya dengan terpaksa. “Mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi”batinnya dengan tertawa kecil menyadari kebodohannya.
Setelah seminggu menikmati liburan di Australia, Maretha pun kembali ke Indonesia tanpa melupakan membelikan oleh-oleh untuk para sahabatnya, dan penghuni Panti Asuhan.
Pengumuman Ujian pun datang dan menjadikan Maretha sebagai siswa yang mendapatkan nilai tertinggi di sekolah bahkan tertinggi di kabupatennya. Lalu disusul dengan datangnya surat pemberitahuan bahwa dirinya lulus di universitas dan diterima sebagai mahasiswa schoolarship dengan jurusan yang dipilihnya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terima kasih bagi yang sudah membaca ceritaku ini. Mungkin saat ini Author agak susah untuk melanjutkan di bab berikutnya karena saya mau ujian hari sabtu. tapi bukan ujian sekolah ya, saya mau ujian untuk tes kegiatan yang sudah dilaksanakan selama sebulan ini.
Selamat membaca semuanya
__ADS_1
Thursday, 09 January 2020