
"Benar kami akan menyatukan perusahaan kami dengan menjodohkan anak-anak kami yaitu Umbara dan Vena." Sebuah pengumuman pasti yang sepakat keluar dari mulut Pak Danu dan Budi.
Maretha hanya mampu memandang nanar ke depan dimana kedua keluarga itu sedang menyatukan kerjasamanya. Kaki Maretha lemas seakan tidak ada tenaga lagi untuk menopangnya. Maretha menekan terus dadanya berharap rasa sakit yang menyerangnya segera menghilang. Namun hal itu sia-sia, rasa sakit itu semakin kuat dan sesaknya semakin membuat dirinya sempoyongan.
"Kenapa aku harus menghadiri acara ini?," lirihnya dengan airmata yang berlinang.
Maretha terduduk lemas di sebuah kursi sambil mencerna kejadian demi kejadian malam ini. Dia berusaha untuk bernapas tetapi sepertinya udara pun enggan masuk ke dalam rongganya.
Sementara di atas sana para reporter dan relasi mereka bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat kepada kedua keluarga yang terkenal itu. Mereka sibuk mengkonfirmasi rencana mereka yang akan digelar bulan depan.
Maretha berusaha untuk bangkit. Dia menghembuskan napas dengan kasar. Menghapus airmatanya dan berusaha untuk tegar meskipun sebenarnya dia sangat terluka.
"Re, kamu gak apa-apa?," tanya seseorang yang menghampirinya dengan nada khawatir.
Maretha menoleh dan tersenyum getir kepada orang itu. "Aku baik kok, Pak." jawabnya.
Wanita di sampingnya memandang iba padanya, "Bener, Re kamu gak apa-apa?," tanya Ibu Andini lagi memastikan.
Maretha menghembuskan napas dan mengangguk, "Iya aku gak apa-apa?," balasnya sambil merapikan rambut dan dressnya.
Dia berusaha bangkit dan berdiri tegar. "Pak Lukman sama bu Andini gak beri mereka selamat?," tanyanya dengan canggung.
Ibu Andini tersenyum paksa, "Kami khawatir sama kamu, Re?," katanya.
"Kalo begitu ayo kita memberi mereka selamat." Ajak Maretha berlalu meninggal kedua suami istri yang kebingungan dengan sikapnya.
Mereka berdua tahu bahwa Maretha sedang berusaha untuk menerima kenyataan ini. Kenyataan penolakan yang dilakukan oleh keluarga Pak Danu terhadap dirinya secara terang-terangan.
Mereka pun akhirnya mengekor di belakang Maretha dan berjalan menuju ke pusat acara. Maretha ikut berdiri dibarisan para tamu yang ingin memberikan ucapan selamat.
Maretha mengulum senyuman khasnya meski terasa canggung saat berhadapan dengan Vena dan Umbara. "Selamat atas perjodohan kalian," ucapnya mengulurkan tangannya.
Vena menunduk dan meneteskan airmatanya, "Re, ini bu....." Vena tidak bisa berkata apapun karna dia pun merasa terjebak dengan situasi ini.
Maretha tetap tersenyum kemudian memeluk sahabatnya Vena, "Aku bahagia jika kamu bahagia kok." ucapnya membuat Vena terisak.
"Re, aku...... aku tidak tahu harus..... " sekali lagi Vena tidak bisa menjawab dan berkata-kata dengan kondisi ini.
Umbara menarik tangan Maretha dan memaksanya untuk pergi meninggalkan ballroom. Maretha menahan tubuhnya dan memaksa Umbara untuk tidak berbuat konyol.
__ADS_1
"Lepaskan, Pak Bara!," ucapnya membuat Umbara berhenti menarik tangan Maretha.
"Maaf Pak Bara tidak bisa melakukan ini. Jangan berbuat konyol yang akan mempermalukan keluarga Pak Bara." katanya lagi panjang menahan airmata yang sudah ingin tumpah dan melepaskan genggaman tangan Umbara.
Umbara membalikkan badannya, dia menatap marah pada sikap Maretha yang tidak mendukungnya sama sekali untik menghentikan rencana ayahnya.
"Apa yang kamu lakukan, Re?," tanyanya dengan mata yang sudah memerah menahan amarah yang ingin meledak.
Maretha menunduk untuk menutupi perasaannya yang terluka. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan berusaha terlihat bahagia. "Apa yang kulakukan adalah yang seharusnya aku lakukan." ucapnya memutar bola matanya dengan menarik napas yang keras.
Umbara terdiam di tempatnya, dia hanya menatap nanar dan penuh tanya pada Maretha. Entah mengapa dia sangat marah pada gadis ini karna tidak mendukungnya sama sekali. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan keras. Dan menyaksikan adegan pura-pura bahagia yang dilakukan oleh Maretha.
"Terima kasih. Maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi seperti yang Pak Danu inginkan." ucap Maretha kini beralih kepada ayah Umbara.
Vena dan Ibu Amara terisak dengan ketegaran yang ditampakkan oleh Maretha. Mereka sangat memahami situasi saat ini, tapi mereka pun tidak berdaya untuk melawan.
Maretha mendesah kasar dan menggigit bibirnya kemudian berusaha untuk tersenyum seperti biasanya. "Selamat semuanya, maaf jika selama ini aku pernah menyakiti kalian." ucapnya kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan mereka.
Airmatanya pun tak kuasa untuk terbenbdung lagi. Dengan langkah kaki yang gontai, dan derai airmata. Dia berusaha untuk pergi dari tempat ini secepatnya.
*Flashback On
Saat Maretha sedang sendiri dan menikmati minumannya. Asisten Pak Danu menghampirinya dan memintanya untuk bertemu dengannya.
Maretha menurut dan mengekor di belakang pria itu. Kemudian dia masuk ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat acara. Maretha sudah melihat sosok Pak Danu yang membelakanginya.
"Saya permisi dulu, tuan," kata Reno lagi berpamitan lalu menutup pintu ruangan.
"Apa yang ingin Pak Danu bicarakan?," tanya Maretha sopan dengan perasaan yang amburadul.
Pak Danu sama sekali tidak membalikkan badannya. Dia hanya memandangi lukisan yang berada di dalan ruangan itu. "Baiklah, saya akan to the point saja." katanya kemudian beralih duduk di sofa sementara Maretha masih berdiri mematung di depan pintu.
Pak Danu menyilangkan kakinya, "Aku hanya ingin kamu menyerah dengan hubunganmu. Karna sampai kapan pun aku tidak akan pernah merestui kalian. Dan, aku juga sudah merencanakan pernikahan Bara dengan salah satu rekan bisnisku." terangnya membuat jantung Maretha berhenti berdetak.
Maretha berusaha tersenyum, "Bagaimana jika Mas Bara menentangnya?," tanyanya lagi.
"Aku tahu dia pasti tidak akan pernah menyetujui perjodohan ini. Makanya aku memintamu untuk melepaskannya." jawabnya tanpa memandangi Maretha sedikit pun .
Maretha menunduk dan berpikir, "Jika aku tidak melakukannya?," tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
"Tidak masalah jika kamu tidak setuju, kamu tahu kan apa yang bisa kulakukan dengan karirmu dan ......." Pak Danu berhenti sebentar melihat ekspresi Maretha yang masih menundukkan kepalanya.
"Panti Asuhan yang selama ini kamu dibesarkan berdiri di atas tanah yang sudah menjadi milikku." lanjutnya membuat Maretha semakin sakit dan tidak punya pilihan.
Pak Danu kemudian bangkit dari sofa lalu beranjak meninggalkan ruangan itu saat Reno sudah masuk dan membuka pintu. "Pilihan ada padamu, bijaklah untuk memilih." katanya saat berada di samping Maretha yang menunduk. Kemudian dia berlalu dan meninggalkan Maretha berdiri terpaku di tempatnya.
Flashback Off*
Maretha berjalan keluar ballroom dengan langkah yang gontai. Dia merasa sangat sakit dan hancur berkeping-keping. Dia tidak menyangka jika gadis yang dijodohkan oleh Pak Danu adalah Vena sahabatnya sendiri. Sahabat yang selama ini tempatnya berbagi cerita tentang hubungannya dengan Umbara selain Alisya dan Lisda.
Seandainya saja gadis itu adalah orang lain yang tidak dikenalinya mungkin rasa sakitnya tidak seperti saat ini. Segala macam pikiran dan pertanyaan berkecamuk di kepalannya. Dia hanya terus berjalan tanpa arah dan tujuan meninggalkan hotel dengan linangan airmata dan langkah yang terseyok.
Maretha terus berjalan, dia berhenti sejenak pandangannya mulai kabur karna airmatanya sendiri. Dia melihat cincin di jari manisnya. Dia memegangi cincin itu dan mengingat kenangan saat Umbara melamar dirinya. Dia lalu menarik cincin itu dan mengeluarkannya dari jarinya kemudian melanjutkan jalannya.
Maretha terus berjalan sambil memandangi cincin yang dipegangnya tanpa melihat jalanan. Dia sudah berada di jalanan yang sepi dengan penerangan lampu jalan. Hanya sesekali terlihat kendaraan yang lewat. Namun, saat dirinya berada di persimpangan jalan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak tubuhnya hingga terpental jauh dan jatuh pada mobil lainnya yang berlawanan arah yang tiba-tiba berhenti saat kecelakaan itu terjadi.
Mobil yang menabrak tubuhnya tidak berhenti dan terus melaju hingga meninggalkan tempat kejadian. Mobil lainnya yang berlawanan arah dengan kecepatan biasa berhenti karna tubuh Maretha justru terjatuh di atas mobilnya.
CIIIIIITTT.......
Pengendara mobil itu menginjak rem saat tubuh Maretha mengenai mobilnya. Dia terkejut saat tubuh seseorang mengenai mobilnya. Pengendara mobil itu menutup matanya, menarik napas kemudian menghembuskannya. Dia menenangkan dirinya, lalu menarik kenop pintu mobilnya kemudian turun dari mobilnya untuk melihat orang yang jatuh di mobilnya.
Dia lalu melihat tubuh Maretha yang jatuh tengkurap di aspal dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Orang itu memberanikan dirinya untuk mendekati tubuh yang sudah tidak bergerak sama sekali. Dia kemudian memeriksa tubuhnya dengan meletakkan dua jarinya pada hidung Maretha dan dia sama sekali tidak merasakan hembusan napas di situ. Kemudian dia meletakkan tiga jarinya dengan membentuk huruf V pada leher untuk memeriksa denyut nadinya yang masih ada namun sangat lambat.
"Dia masih hidup," gumamnya kemudian membalikkan tubuh Maretha dan memegang kepalanya. Dia lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis itu yang tergeletak di aspal untuk melihat kondisinya.
"Cantik,"gumamnya lagi kemudian tersenyum tipis.
Orang itu lalu mengangkat tubuh Maretha yang sudah penuh dengan darah dan membawanya masuk ke dalan mobilnya. Orang itu meletakkan tubuh Maretha di kursi penumpang dengan hati-hati lalu menutup pintunya. Saat dia ingin masuk ke mobil, dia melihat tas Maretha yang tergelatak di trotoar jalan. Dia berjalan kemudian memunguti tas itu lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
Saat perjalanan menuju rumah sakit dia menghubungi seseorang dengan menggunakan handsfree bluetooth yang terpasang di telinganya. Kemudian tersambung.
"Halo, ada apa Pak?," tanya seseorang di seberang telepon.
"Temui aku di rumah sakit VR Medical Hospital", katanya membuat seseorang di seberang telpon terkejut.
"Ada apa? Apakah Anda sakit Pak?," tanya seseorang itu lagi cemas.
"Nanti kuceritakan." jawabnya kemudian menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Dia menatap wanita yang saat ini tidak sadarkan diri dikursi penumpang dari kaca spion. Dia lalu mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit VR Medical Hospital.
Sunday, 01 March 2020