My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Top Service


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan kepada Mommy, Arvind menceritakan semua yang terjadi pada Maretha. Tentang penyelidikan yang dilakukan bahwa yang terjadi pada gadis itu bukan sekedar kecelakaan tetapi sebuah perencanaan pembunuhan untuk dirinya.


“Oh my God. It’s so seriously son.” Komentar Mommy terkejut dengan semua yang diceritakan oleh Arvind dan Chandra sambil memperlihatkan semua data-data yang mereka dapatkan dalam penyelidikan.


Arvind mengangguk menanggapinya. “So what are you doing now..?,” tanyanya lagi


“We haven’t found anything some important from this investigation, Mom..” balas Arvind dengan serius.


 “Apa kalian memberitahukan hal ini kepada keluarganya..?,” tanya Mommy lagi dan hanya mendapatkan gelengan kepala dari keduanya.


“Why...?,” kali ini wajah Mommy terlihat sangat serius.


Arvind dan Chandra saling bertukar pandang. “Pelakunya bisa saja adalah orang terdekat dari Rere sendiri, untuk sementara kami tidak ingin memberitahu siapapun tentang hal ini kecuali dengan saudaranya.”Jelas Chandra menambahkan.


Mommy menatap mereka dengan serius, “You mean... Danang...?,” tebaknya dan Arvind mengangguk pelan menjawabnya.


Mommy mengangguk paham, dia tidak perlu mempertanyakan lagi apa yang diinginkan dari putranya melakukan penyelidikan ini sampai seserius itu. Mommy paham dibalik kekakuan dan sikap dingin putranya ada kelembutan yang tidak ingin melihat orang lain tersakiti.


“So... bagaimana perkembangan perawatannya?,” tanyanya kemudian. Tetapi tidak mendapatkan jawaban apapun dari mereka berdua kecuali tatapan jengah kepadanya.


“Mom, serius tanya soal itu....?,” ucap Arvind merasa jengah dengan pertanyaan mommy yang menurutnya konyol.


Mommy bangkit, “Baiklah... besok mommy akan lihat sendiri laporan medisnya di rumah sakit.”


Mommy pun beranjak meninggalkan ruang kerja putranya, “Sepertinya mommy harus kembali bekerja besok,” dengan mengangkat kedua tangannya.


“Ini adalah laporan dari investigasi yang dilakukan Sonny.,” Chandra menyerahkan sebuah dokumen padanya.


Arvind menerima dokumen itu dan melihatnya. “Sepertinya besok kita harus berkunjung langsung.” Tuturnya sambil menaikkan sudut bibirnya.


“Siap boss..,” jawab Chandra kemudian segera keluar untuk mempersiapkan keberangkan mereka besok pagi.


***


Keesokan harinya Chandra dan Arvind berangkat ke kota M dengan pesawat pribadi milik keluarga Reinhard. Mereka harus menyelesaikan beberapa masalah di salah satu anak perusahaannya. Sebenarnya Sonny sudah membereskan masalah itu, tetapi Arvind dan Chandra ingin menyelidiki sesuatu di kota itu. Berharap mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selama ini bersarang dikepalanya.


Sementara itu mommy harus kembali ke rumah sakit. Kembali beraktivitas seperti dulu, Arvind sudah menyerahkan kembali segala pengurusan rumah sakit padanya. Semalam Herman sudah mengirimkan beberapa data padanya tentang perkembangan rumah sakit.


 Mommy turun dari mobil yang diantar oleh Pak Wahyu supir pribadinya sekaligus menjadi asisten atau bodyguard untuknya. Semua karyawan di rumah sakti menyambut kedatangannya sebagai Direktur Rumah Sakit.


Beberapa dokter dan perawat yang sedang tidak bertugas berdiri di depan lobby rumah sakit menyambut dirinya termasuk Dokter Herman keponakannya.


"Selamat datang kembali dokter..!,” sapa Dokter Herman dengan tersenyum memyambut Direktur Rumah Sakit.


Mommy membuka kacamata hitamnya, memasukkannya ke dalam tas. Menerima jas putih kebanggaannya yang diberikan oleh Pak Wahyu. Dia memakai jas itu dengan perasaan bangga sebagai dokter.


“Terima kasih dokter Herman.” balas Mommy juga dengan tersenyum.


Dokter dan perawat yang menyambutnya memberikan salam padanya. “Aku rasa ini berlebihan, aku tidak perlu mendapatkan penyambutan seperti ini,” tuturnya memprotes pada Dokter Herman sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia menatapnya dengan tatapan sedikit kesal padanya.


Dokter Herman menyengir, “Aku rasa tidak. Sudah lama dokter meninggalkan rumah sakit ini. Jadi aku rasa ini adalah hal yang wajar untuk menyambutmu kembali datang.” Balasnya


Mommy berhenti melangkah saat tiba di dalam lobby rumah sakit. “Baiklah semua terima kasih atas penyambutan kalian. Tapi aku rasa kalian harus kembali bekerja karna pasien lebih membutuhkan kalian daripada menyambutku di sini.” Tolaknya dengan halus kepada para dokter, perawat dan staff yang berdiri berbaris.


Mereka pun akhirnya bubar dan kembali ke tempat mereka masing-masing untuk melayani pasien.


Sebelum bubar mommy meminta kepada beberapa dokter besar lainnya untuk melakukan rapat dengannya.


“Aku ingin rapat dengan kalian semua tentang beberapa hal, kita bertemu jam 9 di ruang konferensi” perintahnya kepada rekan kerjanya sesama dokter. Dokter Herman, Dokter Arum, Dokter Donny dan beberapa Dokter besar lainnya mengikutinya.


Kemudian mereka pun bubar. “Aku kembali ke ruanganku dulu, ada pasien yang sedang menungguku.” Pamit Dokter Herman.


Mommy berdiri di tengah lobby, menelisik seluruh bagian. Dia sangat merindukan rumah sakit ini. 6 tahun yang lalu dia harus meninggalkan rumah sakit karna panggilannya sebagai dokter. Dia harus berkeliling di beberapa negara untuk membantu pasien-pasien yang kurang mampu, dan korban perang.


Arvind dan suaminya tentu saja menentang keputusannya saat itu, tetapi karna rasa kemanusiaannya yang sangat besar. Akhirnya kedua pria itu pun merelakannya untuk pergi dengan bodygurad pilihan tentunya.


“Hem.. Aku merindukan tempat ini,” gumamnya setelah merasa puas memandangi isi bangunan.


Dia pun berjalan menuju lift, beberapa perawat dan dokter serta staff yang mengenalinya menyapanya dengan sopan. Pintu lift terbuka dan dia pun masuk ke dalam dengan beberapa orang.

__ADS_1


“Selamat pagi dokter Vinda,” sapa salah seorang dokter padanya saat di dalam lift.


“Selamat datang kembali dokter,” sambungnya lagi. Mommy membalasnya dengan tersenyum dan menyambut uluran tangannya.


“Selamat pagi bu,” sapa salah seorang staff rumah sakit.


Pintu lift terbuka, mommy keluar dan memberikan senyuman lebar kepada yang lainnya. Dia berjalan menuju ruangannya yang sudah lama ditinggalkan.


“Selamat pagi bu, selamat datang kembali.” Sambut Bella sekertarisnya saat mommy berada di depan pintu ruangannya.


“Selamat pagi Bella.” Balasnya dengan tersenyum.


“Aku sudah meletakkan rekam medis beberapa pasien yang harus ibu lihat, dan ini adalah agenda untuk rapat nanti dengan tim dokter.” Lapornya kepada mommy sambil memperlihatkan notebook yang menjadi agendanya hari ini.


“Baiklah, Bella. Tolong kamu atur semua kebutuhan rapat hari ini. Saya mau memeriksa rekam medis pasien.” perintahnya.


“Baik bu.” Jawab Bella


Mommy pun berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dia sudah melihat beberapa folder penting di atas mejanya. Dia berjalan mendekat, meletakkan tasnya dan duduk di kursi. Menghembuskan napas lalu mengambil satu folder untuk memeriksa laporan medis pasien yang dirawat.


Laporan yang di atas mejanya, bukan hanya laporan untuk pasien VIP, VVIP atau yang istimewa lainnya. Di atas mejanya pun terdapat laporan dari pasien yang kurang mampu dan membutuhkan perawatan.


Mommy memeriksa laporan medis dari beberapa pasien yang tidak mampu. Dia membaca satu per satu laporan tersebut. Laporan itu untuk memberikan persetujuan darinya agar mendapatkan tindakan medis lanjutan tanpa harus dibebankan biaya.


“Hem... ternyata banyak juga pasien yang harus mendapatkan perawatan lebih dari kalangan tidak mampu,” gumamnya.


Setelah membubuhkan tanda tangan dari laporan tersebut, mommy beralih pada laporan medis dari pasien orang-orang kaya. Laporan Media VIP, VVIP, VVVIP, FIRST CLASS, TOP SERVICE.


Mommy mengernyit dan berhenti saat melihat folder dengan tulisan TOP SERVICE. “TOP SERVICE...?,” gumamnya penasaran setelah melewatkan beberapa laporan medis lainnya.


Mommy membuka folder tersebut dan membaca laporan pasien. “Pasien korban kecelakaan, pendarahan berat di bagian kepala dan mengalami gangguan saraf lainnya setelah operasi sehingga divonis Koma.” Gumamnya membaca laporan yang tertulis.


Mommy terus membuka lembaran demi lembaran. “Dokter penanggungjawab bedah saat operasi Dokter Herma,” bacanya lagi semakin tertarik.


“Pasien bernama NN. MARETHA SEPTIN AURA, Usia 24 Tahun, disetujui oleh Direktur Rumah Sakit Arvind Zarfan Reinhard.”


Mommy mulai mengernyit, “Hemm.... kenapa anak itu memberikan Top Service pada pasien ini,” pikirnya.


“Oh My God... Aku ingat..,” ucapnya antusias saat mengingat nama Maretha sebagai salah seorang pasien di rumah sakitnya.


"Ini kan Maretha, salah satu anak asuh dari bunda di panti asuhan. Dan yang diceritakan Arvind tadi malam.” Pikirnya lagi.


“Tapi kenapa Arvind menjadikannya sebagai Top Service..? Bukannya menjadi pasien VVIP saja sudah cukup.” Pikirnya lagi.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan menghentikan dirinya untuk mencari tahu ketika Bella sudah berada di ambang pintu. “Maaf bu, semua tim dokter dan pejabat tinggi lainnya sudah siap di ruangan konferensi. Sisa menunggu Ibu Vinda,” lapornya menjemput mommy.


“Ah... okey...” sahutnya kemudian bangkit menuju ruang konferensi.


Di ruang konferensi, tim dokter dan para pejabat tinggi lainnya (manager yang bekerja yang bukan merupakan dokter) sudah menunggu kehadirannya. Dia menyapa mereka dengan sopan sambil tersenyum. Mommy kemudian memulai rapat dengan tim dokter yang bekerja di rumah sakitnya.


Banyak hal yang mereka bicarakan, tentang perkembangan rumah sakit, pelayanan yang harus diberikan kepada pasien, perawatan yang harus diberikan kepada pasien yang tidak mampu, dan masih banyak lainnya.


Setelah semua hal tersebut dibicarakan dan didiskusikan dengan tim dokter dan pejabat lainnya. “Baiklah, untuk sementara seperti itu dulu. Jika ada hal-hal urgent lainnya kalian bisa diskusikan di ruangan saya.” Katanya sebelum mengakhiri rapat.


“Selamat pagi semuanya, dan selamat bekerja.” Tambahnya mengakhiri rapat. Kemudian tim dokter dan pejabat lainnya pun berangsur keluar meninggalkan ruangan.


“Dokter Herman, aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu di ruanganku.” Katanya sebelum orang yang dimaksud melangkah keluar ruangan.


“Aku tahu apa yang ingin dokter bicarakan, tapi masih ada operasi yang menungguku” Sahut Dokter Herman.


“Baiklah, aku akan menunggumu.” Balasnya.


Mommy pun kembali ke ruangannya, membaca kembali berkas-berkas laporan kesehatan dari Maretha dan mulai mempelajarinya. Laporan yang berisi untuk tetap mengawasi dan waspada terhadap pasien. Laporan tentang


insiden yang pernah terjadi.


Kemudian kembali Bella mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya, “Maaf dokter, operasi transplantasi organ sedang menuggu Anda.” Lapornya mengingatkan mommy jika hari ini dia ada operasi pencangkokan ginjal dari salah seorang pasien yang mengalami gagal ginjal dan sudah mendapatkan donor yang tepat untuknya.

__ADS_1


Mommy hanya mengangguk dan memintanya untuk kembali ke tempatnya. Dia pun beranjak dari ruangannya menuju ruang operasi. Cukup lama mommy melakukan operasi tersebut, meskipun sudah dibantu oleh tim dokter lainnya.


***


Dokter Herman berkunjung ke ruangan mommy setelah melakukan operasi dan sudah konfirmasi jika tantenya sedang di dalam ruangannya.


“Masuk!,” seru dari dalam ruangan setelah mengetuk pintu.


Dokter Herman pun masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa yang ditunjuk oleh mommy.


Mommy menekan dial telpon menghubungi Bella, “Bella, tolong siapkan 2 cangkir kopi.” Perintahnya kemudian mengakhiri panggilan.


Mommy pun beranjak duduk di sofa di depan Dokter Herman sambil membawa folder laporan kesehatan Maretha. Mommy memberikan folder itu pada Dokter Herman untuk dijelaskan tanpa harus mendapatkan pertanyaan.


“Apa Arvind sudah menceritakan tentang kecelakaan yang dialami oleh Nona Maretha ini?,” tanyanya sebelum menjelaskan pertanyaan dari mommy.


Mommy mengangguk, “Iya, tapi aku cuma ingin tahu kenapa pasien ini sangat penting bagi Arvind..?,” menyandarkan punggungnya pada sandara sofa sambil menyilangkan kakinya.


Dokter Herman pun meletakkan kembali folder itu di meja. “Menurut tante gimana..?,” tanyanya belum menjawab pertanyaan mommy.


“Kamu ini bukannya menjawab malah balik nanya sih..,” sahut mommy


Dokter Herman tertawa kecil, “Mungkin tante harus bertanya kepada perawat yang menjaga Maretha, dan sepertinya tante harus bertanya juga siapa yang paling sering mengunjunginya.” Jelasnya membuat mommy


sedikit kesal.


“Kenapa kalian selalu misterius seperti ini..,” geramnya dengan Dokter Herman keponakannya.


“Setidaknya pria Adijaya tidak kaku seperti pria Reinhard,” candanya.


Mommy bangkit dan menjitak kepala Dokter Herman pelan. “Kamu ini. Pria Reinhard jadi kaku karna mereka harus berurusan dengan bisnis milyaran.” Jawabnya sambil menekan pelipisnya.


Mommy sangat menyadari jika sifat dan karakter dari kedua pria yang dimilikinya. “Coba saja pria Adijaya juga terjun ke dunia bisnis, mungkin kalian akan semakin aneh.” Komentarnya lagi disambut tawa dari Dokter Herman.


“Tapi sayangnya, keluarga Adijaya menyukai untuk menjadi dokter daripada dunia bisnis,” balasnya lagi.


Kemudian Bella pun masuk membawakan 2 cangkir kopi yang tadi  dipesannya. “Ini Dokter kopinya. Silakan diminum,” tawarnya meletakkan cangkir kopi di meja.


Dokter Herman mengambil cangkir kopi miliknya kemudian menyesapnya.


“Oh ya Bella, tolong kamu minta laporan kunjungan dari pasien kamar 1702 segera,” peritahnya lagi sebelum Bella keluar.


Dokter Herman meletakkan cangkir kopi miliknya kembali ke meja, “Apakah tante sepenasaran itu..?,” tanyanya kemudian disambut anggukan dari mommy.


Mereka berdua saling menceritakan tentang kondisi Maretha yang sebenarnya. Kemudian Bella masuk membawa laporan yang diminta oleh mommy tadi. Dia menerimanya dan terkejut membaca laporan kunjungan yang tertulis.


“Seriuosly..?,” tanyanya heran mengernyit.


Dokter Herman mengangguk, “Yups... Arvind everyday always meet her before and after he work. Sometimes he stayed to kept her.” Balasnya.


Mommy menganga mendengarnya. “He stayed..?,” tanyanya lagi memperjelas dan dibalas anggukan dari Dokter Herman.


"And you know what. He installed a CCTV Camera around her rooms,” tambahnya lagi.


“It’s so Crazy..,” komentar mommy.


“It’s not Crazy for Arvind... cause he fall in love with her,” jelas Dokter Herman.


“Aku sendiri tidak pernah melihat sikapnya melembut dan melankolis seperti ini, semenjak Zivara meninggal. Kita tahu, sejak Zivara meninggal Arvind menjadi sosok yang lebih dingin dan tanpa ekspresi. Mungkin tante melihat perubahan itu pada diri Arvind saat bertemu dengannya.” Tambah Dokter Herman menjelaskan lagi.


Mommy mendengarkan dan mengangguk membenarkan tanggapan Dokter Herman terhadap perubahan sikap Arvind yang sedikit melunak. “Tapi... Kamu kan tahu sendiri apa yang dialami oleh Rere ini kemungkinan kembali siuman itu hanya 30%.” Sambungnya.


“Arvind pun tahu hal ini. Tapi dia sangat yakin dengan kemungkinan 30% itu.”


Mommy merenung, dia diam sejenak berpikir apa yang harus dilakukannya. “Aku khawatir jika Rere tidak akan pernah bangun, dan.....,” mommy tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Dia menekan dadanya dan sebulir air lolos dimatanya. Dia mengingat yang pernah terjadi pada Arvind ketika Zivara


meninggal karna kanker yang dideritanya. Anaknya menjadi orang yang sangat dingin dengan kata-kata pedas yang menyakitkan. Terkadang tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya.

__ADS_1


Dokter Herman merangkul mommy, “Saat ini kita harus percaya padanya. Dan.. kalopun itu terjadi saya rasa dia bisa mengatasinya.” Usulnya mencoba menenangkan mommy yang sangat khawatir.


 Tuesday, 19 May 2020


__ADS_2