My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Kekhawatiran Mommy


__ADS_3

Setelah berbicara tentang Maretha dengan Dokter Herman yang juga merupakan keponakannya. Mommy menjadi sangat mengkhawatirkan Arvind. Dia sangat mengenali putranya jika sudah mencintai seseorang. Dia merasa beruntung karna putranya bukan seorang anak milyarder yang suka bermain dengan wanita. Bergonta-ganti pacar dan meniduri mereka.Putranya sangat menghargai wanita dan bertanggung jawab terhadap mereka.


Zivara adalah satu-satunya wanita yang pernah dicintai oleh putranya mungkin sampai saat ini pun dia sangat mencintainya. Zivara adalah wanita yang ditemuinya saat kuliah di Harvard University. Arvind jatuh cinta dengannya karna wanita itu sangat lembut dan sederhana.


Disaat semua wanita tergila-gila padanya di kampus, dan selalu mencari perhatian darinya. Zivara adalah satu-satunya mahasiswa cewek kala itu yang tidak perduli dengan pesonanya. Kesederhanaan dan ketidakpedulian Zivara yang membuat putranya penasaran dan jatuh cinta padanya.


Tetapi sayang, Zivara tidak bisa bertahan karna leukimia yang dideritanya dan itu sangat membuat Arvind sangat terpukul dan frustasi. Mommy merasa jika putranya selalu jatuh cinta dengan wanita yang memiliki penyakit yang mematikan.


Memikirkan semua hal itu membuat dirinya sedikit frustasi. Dia tidak punya cara untuk menghentikan hal ini. Dia tidak mungkin melarang putranya untuk jatuh cinta atau menemui Maretha yang sedang koma. Tapi dia juga khawatir jika suatu saat nanti apa yang terjadi oleh Zivara pun terjadi pada Maretha.


Mommy mondar mandir di dalam kamarnya memikirkan kekhawatirannya. “Apa yang harus aku lakukan..?,” gumamnya.


“Jika memberitahu hal ini pada Daddy..? Oh tidak. Pemikiran mereka selalu sama,” gumamnya lagi menggigit bibirnya.


Mommy tidak bisa tidur karna memikirkan Arvind. “Arggghhh... kenapa mereka berdua selalu membuatu khawatir seperti ini,” cemasnya menatap langit-langit kamarnya.


“Chandra.... Ya aku harus bicara padanya,” putus mommy akhirnya.


Mommy meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi Chandra, tapi dia pun urung. “Tidak... jangan sekarang. Sebaiknya aku tunggu Chandra kembali,” putusnya lagi setelah berpikir.


Mommy pun akhirnya kembali membuka laporan medis Maretha selama 18 bulan ini. Dia terus mempelajari tentang


perkembangannya yang tidak terlalu besar, dan justru sering mengalami kejang karna ketidakcocokan anestesi yang diberikan untuknya. Hingga beberapa kali harus diganti dengan dosis yang lain.


Mommy merasa pusing dan akhirnya pun tertidur setelah lelah mengkhawatirkan putra semata wayangnya.


***


Di kota M Arvind disambut oleh para karyawannya termasuk Gerry General Manager di perusahaan itu. Mereka berbaris menyambut kedatangan sang bos besar sambil menunduk karna takut melihat tatapan matanya.


Arvind baru turun dari mobil, “Selamat datang Pak Reinhard!,” sambut Pak Gerry yang merupakan General Manager sekaligus pimpinan di perusahaan ini.


Arvind hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan memberi isyarat pada Chandra sebagai asistennya sambil mengancingkan kembali jasnya. Arvind memandangi para karyawan yang sudah berbaris rapih menyambut dirinya.


“Berlebihan,” gumamnya sambil tertawa kecil.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam perusahaan, Arvind berjalan tanpa menoleh sedikit pun atau menatap para karyawan itu. Sikapnya yang dingin terkadang membuat para karyawan ingin mengutuknya. Tetapi pesonanya terlalu kuat untuk dikutuk, justru mereka akan terus memuji dirinya.


“Gak nyangka ya bos besar datang kemari,” bisik salah seorang karyawan yang merasa takjub dengan sosok Arvind.


“Dia tampan sekali, aku rela melakukan apa saja agar bisa berada disampingnya,” tambah seorang lagi yang merupakan karyawan perempuan.


“Meski ekspresi menakutkan seperti itu, aku rela asalkan bisa melihat wajah tampannya,” rutuk seorang lagi diantara mereka.


Semua itu tentu saja dapat didengar oleh Arvind, tetapi dia tidak pernah memperdulikannya. Mendengarnya justru membuat membentuk smirk khasnya dibibirnya.

__ADS_1


Chandra hanya mampu menggelengkan kepala dengan komentar para karyawan tersebut. “Sebaiknya kalian kembali bekerja jika tidak ingin dipecat,” gumam Chandra saat mereka sudah berada di lobby perusahaan.


Para karyawan saling memandang kemudian segera bubar dan kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.


“Terima kasih Pak Arvind sudah mau mengunjungi perusahaan ini,” tutur Pak Gerry lagi sambil mengulurkan tangannya.


Arvind menyambutnya sambil menyunggingkan senyuman sekilas yang penuh dengan misteri.


“Mari silakan ikut saya,” ajak Anna sekertaris Pak Gerry menunjukkan ruangan rapat.


Mereka pun mengikuti Anna menuju ruangan tersebut, beberapa karyawan kembali memuji dengan pesona Arvind saat melintas di sekitar mereka.


Di ruangan itu mereka pun membahas tentang masalah yang terjadi pada perusahaan, tentu saja dengan cara mereka. Sonny yang ditunjuk untuk menyelidiki masalah itu pun pura-pura tidak terjadi sesuatu pada laporan keuangan yang mengalami perbedaan.


Mereka cenderung membahas perkembangan perusahaan yang semakin menurun dengan laporan keuangan yang tidak pernah mencapai target maksimal. Arvind dan Chandra mendengarkan presentasi dari para manager yang terlibat dalam permasalahan tersebut.


“Oke, aku tidak ingin mendengar kata ‘mungkin dan hampir’ dalam proyek kali ini. Yang ingin kudengarkan adalah berhasil. Itu saja,” komentarnya kemudian setelah mendengar presentasi mereka untuk meningkatkan produktifitas perusahaan.


Semua orang pun terdiam dan menunduk.Beberapa diantaranya terlihat ketakutan dengan tujuan kedatangan bos besar di tempat mereka. Arvind memperhatikan mereka dengan sangat teliti.


 "Aku tunggu laporannya besok pagi,” kemudian bangkit dari duduknya. Para manajer lainnya pun ikut bangkit.


 Arvind baru saja ingin beranjak tapi dia kembali menatap kepada manajer yang ikut rapat. “Siapkan diri kalian untuk menjadi pengangguran,” tambahnya mengancam mereka dengan tatapan sinisnya yang membunuh.


Arvind pun kemudian keluar dari ruangan dan menuju mobilnya. Chandra tentu saja ikut bersamanya. Pak Gerry dan beberapa manajer lainnya dibuat terkejut dengan keputusan bos besar.


Arvind dan Chandra kembali ke hotel yang merupakan salah satu property miliknya di kota itu. Selama perjalanan ke hotel pun mereka diikuti oleh seseorang, tetapi mereka membiarkannya.


Tujuan mereka selain untuk mengetahui korupsi yang terjadi di kantornya, mereka pun ingin menyelidiki tentang masa lalu dari Pak Gerry yang mencurigakan.


***


Keesokan harinya mommy kembali ke rumah sakit. Masuk ke dalam ruangannya dan melihat beberapa berkas pasien yang membutuhkan bantuan dari keahliannya untuk menyelematkan penyakit kronis dan fatal.


Setelah melakukan sebuah operasi yang menghabiskan sekitar 4 jam, mommy kembali ke ruangannya dan mempelajari kembali laporan medis dari Maretha.


“30% kemungkinan untuk bisa sembuh dan kembali siuman setelah awal kecelakaan yang hanya 10%.” Gumamnya.


"Berarti ada perkembangan 20% selama kurang lebih setahun ini. Tapi jika kemungkinan itu hilang. Bagaimana nasib Arvind...?,” pikirnya lagi mempertimbangkan.


Telpon di ruangannya berdering. “Iya, Bella.” Jawabnya saat melihat dial nomor yang berkedip.


“Maaf dokter, pasien kamar 1702 sedang mendapatkan kunjungan dari kerabatnya. Apakah dokter ingin menemui mereka..?,” lapor Bella.


Mommy berpikir sebentar, “Baiklah, aku akan ke sana.” Katanya kemudian mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


Mommy kembali meletakkan laporan medis Maretha, dan beranjak menuju kamar 1702 ruangan rawat khusus Maretha.


Saat di depan kamar 1702 mommy mengetuk pintu dan memperhatikan seseorang dari luar pintu. “Siapa yang menjenguknya??,” gumamnya.


Seseorang berjalan mendekati pintu dan membuka pintu untuknya. “Silakan masuk dokter,” ujar wanita muda yang usianya tidak jauh dari Maretha.


Mommy menelisiknya dari atas hingga bawah dan berusaha mengingat wajahnya. Dia pun mengernyit, “Kamu siapa?,” tanyanya pada akhirnya.


Gadis itu tersenyum dengan tatapan heran padanya, “Aku Alisya, temannya Rere. Eh, maksudnya Maretha.” Jawabnya


Kini Alisya yang mengernyit memandangnya, “Anda dokter barunya Rere?,” tanyanya mencoba menebak.


Mommy pun berjalan mendekati tempat tidur Maretha sambil membawa lembar pemeriksaannya di tangannya. “Secara harfiah sih begitu,” jawab mommy sambil memeriksa denyut nadi, detak jantung, oksigen, dan semuanya.


Alisya semakin terlihat bingung, “Maksudnya dokter,” sahutnya lagi sambil memperhatikan mommy yang sedang memeriksa Maretha.


Mommy hanya meliriknya sekilas kemudian kembali memeriksa kondisi kesehatan Maretha yang masih setia dengan tidurnya yang panjang. Setelah memeriksa mommy pun mencatat pada lembaran tersebut.


“Biasanya perawat atau Dokter Herman yang melakukan pemeriksaan, apakah Anda dokter baru karna aku baru melihatmu di rumah sakit ini.” Ujar Alisya menilai dan hanya mendapatkan senyuman dari mommy.


Kemudian tidak lama Dokter Herman pun datang dan ikut bergabung dengan mereka. “Bagaimana dokter?,” tanyanya mendekati mommy yang sedang memeriksa.


“Everything is good, and I think we need help from Dr. Flora and Dr. Evan.” Jawabnya.


Alisya memperhatikan kedua dokter itu dengan ekspresi bingung. “Dr. Flora? Are you seriously? We already have Dr. Laura as an Anesthesiologist like her. She’s good I think,” sahut Dr. Herman berpendapat sambil mengangkat kedua tangannya dengan bebas.


“Yes, I know but Dr. Flora is better than her,” tambahnya membuat Dr. Herman tidak bisa menentangnya lagi.


“Whatever, you’re the boss and all decision are yours,” ujarnya menyerah pada akhirnya.


Alisya menyela perdebatan mereka, “Maaf, kalian mempertaruhkan keselamatan Rere loh.” Ujarnya


Dokter Herman menyadari yang barusan mereka perdebatkan.“Oh..Iya. Maaf Alisya. Aku lupa memperkenalkanmu, beliau adalah Dr. Vinda ibunya Arvind.” Ucapnya memperkenalkan mommy.


Alisya tentu saja terkejut saat tahu wanita yang sudah tidak muda ini tapi masih terlihat cantik adalah ibu dari Arvind


pria yang jatuh cinta pada sahabatnya yang saat ini sedang tertidur.


Alisya menutup mulutnya dengan tangannya, “Ibunya.... Pak Arvind,” gumamnya kemudian dengan ekspresinya yang hampir saja menjatuhkan gelas ditangannya.


Mommy tersenyum padanya, “Hai. Aku Dr. Vinda yang kebetulan Arvind adalah satu-satunya anakku.” Sambutnya menyapa Alisya.


Alisya memilih duduk di sofa dan mengatur napasnya yang mulai terasa sesak. Bukan karna merasa takut dengan ibunya Arvind. Tetapi dia lebih khawatir jika tahu putranya sedang kasmaran dengan sahabatnya.


Mommy memperhatikan sikap dan ekspresi Alisya, tanpa harus bertanya dan penjelasan dia pun paham apa yang sedang dipikirkan oleh Alisya saat ini.

__ADS_1


Tuesday, 19 May 2020


__ADS_2