My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Three Times


__ADS_3

Sudah 3 bulan Maretha menjalanu hari-harinya di Sydney, Australia. Sekarang dia tercatat sebagai Mahasiswa Schoolraship jurusan Hukum dan Bisnis. Berkat bujukan dari Danang dan Amel juga bantuan dari Bunda akhirnya dia mau menerima pemberian kakaknya. Maretha tinggal di Flat yang dibelikan oleh kakaknya Danang dan Amel. Meski sudah berusaha menolak, tetapi dia tidak punya pilihan lain.


*Flashback On


"Gak perlu, Mas. Mbak." tolak Maretha menatap mereka secara bergantian.


Dia menghela napas pelan, "Lagian kampus juga udah sediain asrama kok. Jadi Mas Danang sama Mbak Amel gak perlu repot-repot beliin flat buat aku."terangnya lagi dan membuat kedua kakaknya bermuka murung.


Bunda menarik tangan Maretha lembut, "Bunda lebih lega kalo kamu tinggal di rumah yang dibeli kakak mu, Nak."


"Kamu kan jauh dari kita, kalo tinggal disitu Bunda bisa lebih tenang karna ada yang jagain". Tambah Bunda membuat Maretha urung menolak pemberian kakaknya.


Maretha menghembuskan napas pelan,"Ya sudah kalo gitu. Tapi aku bisa ajak teman kan buat tinggal bareng,"katanya menyetujui.


"Tentu saja boleh. Karna flatnya juga punya dua kamar. Dan disana ada yang jagain, namanya Bapak Jhon. Kami sudah menitipkan kamu sama dia dan keluarganya yang tinggal di lantai bawah." Jelas Amel senang akhirnya Maretha mau menerima pemberiannya.


Flashback Off*


Pada awalnya Maretha sedikit kesulitan tinggal jauh dari orang-orang yang dia sayang. Untung saja ada Tuan Jhon dan istrinya yang selalu setia membantunya. Tentu saja Lisda yang menjadi teman tinggalnya. Meski Lisda sedikit jutek dan terlihat sombong tapi yang Maretha nyaman tinggal bersamanya.


Lisda bukan termasuk orang kaya dan bukan pulang orang miskin. Orangtua Lisda berkecukupan dan juga merupakan karyawan yang bekerja di perusahaan keluarga Vena sahabatnya. Jadi Lisda merasa terbantukan, setidaknya mengurangi biaya untuk tinggalnya.


Maretha mengetuk pintu kamar Lisda yang terbuka sedikit "Tok.. Tok...."


"Lis, aku udah buatin nasi goreng di meja ya." katanya. Lisda masih sibuk dengan laptopnya mengerjakan tugas kuliah, "Hemm..." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Muncul ide jahil di kepala Maretha untuk mengganggu temannya yang selalu serius. "Tok...Tok..!" ketuknya lagi. Tapi Lisda masih tetap dengan laptopnya.


"Aku duluan ya karna ada kuliah pagi," pamitnya.


"Hem..." balas Lisda tanpa menoleh. Maretha tersenyum mencurigakan. "Tok....Tok...Tok... Tok...!" ketuknya berkali-kali yang mengusik keseriusan Lisda. "APAAN SIH, RE! Ganggu banget,"Kali ini Lisda menutup laptopnya dan menatap tajam ke arah Maretha sambil menahan emosinya.


"Habis kamu serius amat ngerjain tugasnya,"jawabnya disertai dengan cekikikan.


Lisda melipat kedua tangannya didada dengan memasang muka masam dan marah pada Maretha. "Nanti jangan lupa makan nasi gorengnya. Aku udah sengaja loh buatin buat kamu." Katanya lagi dengan nada bercanda.


Lisda menatapnya dengan tajam,"Ingat dimakan ya!," dan kemudian melemparkan bantal love pada Maretha yang sudah kabur. "Iya bawel!"balasnya.


"Aku pamit ya, Assalamualaikum!,"!Teriaknya kabur sebelum mendapat amukan dari Lisda karna sudah mengganggu ketenangan sahabatnya.


Lisda pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju meja makan. Moodnya pagi ini untuk menyelesaikan tugas sudah rusak karna sengaja diganggu oleh Maretha. "Pagi-pagi udah dibuat marah sama Rere bikin aku laper," dia menggosok perutnya.


Lisda pun menarik kursi dan mengambil sendok. Sebelum dia memakan nasi goreng buatan Maretha, dia mencium aromanya yang lezat. Kemudian dia pun memakannya, "Hem, enak banget serasa di rumah," pikirnya setelah memakan nasi goreng Maretha.


Lisda emang selalu memuji dan mengakui masakan Maretha lezat. Dan ini pun bukan pertama kalinya dia mencicipinya. "Dasar ya tuh anak. Ada aja kelakukannya bikin aku laper pagi-pagi gini." katanya.


Sejak tinggal dengan Lisda, Maretha sudah tahu jika temannya itu punya penyakit maag. Tetapi Lisda orangnya suka sungkan sama orang lain. Jika tidak dipaksa seperti itu, mungkin Lisda akan lupa untuk sarapan padahal dia punya penyakit maag


Lisda tersenyum simpul, "Aku sayang banget sama kamu, Re. Kamu adalah teman yang paling perhatian dan pengertian yang pernah kupunya," ucapnya.


Sudah pukul 11.30 waktu Sydney, Maretha baru keluar dari kelas. Dia merapikan buku-bukunya dan menggendongnya lalu berjalan keluar kelas. Maretha berjalan menyusuri koridor kampus sambil menggendong buku di tangan kirinya dan memegang ponselnya di tangan kanannya. Dia membuka ponselnya dan ada banyak pesan yang masuk


**From : Bunda Sayang


Rere sayang, gimana kabar kamu?


Kamu yg baik2 ya disana?


Jangan terlalu diforsir otaknya belajar


Jaga kesehatan


Jangan lupa makan


Bunda kangen sama kamu

__ADS_1


From : Alisya


Re, semangat ya belajarnya. dan bilangin sama teman kamu yang jutek itu senyum dikit lah.


From : Lisda


Re, gak usah tungguin aku.


Aku ada urusan dikit sama Mrs. Elina urusan part time jadi pulangnya agak malam.


From : Vena


Re, gimana? Kamu udah ketemu sama teman aku disana**?


From : Mas Danang


Re, Mas mau kasi kabar sama kamu. Mbak Amel sekarang hamil bentar lagi kamu punya ponakan.


Maretha asyik membaca pesan dan tersenyum sendiri setelah membacanya. Sampai dia tidak melihat ada seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


BUGH!!


Dia menabrak seseorang lagi dan tubuhnya hampir jatuh terjengkang. Tetapi tangan orang itu menariknya sehingga dia menabrak dadanya.


"Auw, hidungku sakit!," dia meringis memegang hidungnya.


"Hi, are you okay!," kata orang itu dengan suara beratnya yang terdengar seksi.


Maretha belum memperhatikan, dia menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu karena aroma parfum laki-laki itu sangat maskulin dan segar membuat dadanya sedikit berdebar-debar.


Maretha menunduk dan menjongkok memunguti buku-bukunya yang jatuh. Laki-laki itu membantunya memunguti buku-bukunya.


"This is your books," kata laki-laki itu memberikan buku pada Maretha. Maretha mengambilnya kemudian mengangkat wajahnya melihat laki-laki itu. "Thank you!," ucapnya.


"She's look very beautiful. She's smile very nice and I'm very love it. What is she an angel"batinnya


"Wow cowok ini cool banget, dan aroma tubuhnya segar dan maskulin. Kok aku jadi deg-degan gini ya"puji Maretha dalam hati.


Mereka salah tingkah dan saling membuang pandangan ke sembarang arah. Maretha ingin berjalan. "Wait!," kata laki-laki itu menghentikan langkahnya. Maretha mundur beberapa langkah dan sekarang berdiri didepan laki-laki itu.


Dia menyelipkan rambutnya di telinga meski rambutnya tidak terlalu panjang hanya sebahu. Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menyamarkan kecanggungannya didepan laki-laki itu.


"I'm sorry," ucap laki-laki itu menjulurkan tangannya.


"I'm Umbara. You can call Bara, from Indonesia," katanya lagi memperkenalkan diri.


Maretha membalas uluran tangannya sambil tersenyum, "Maretha. My Friends call me Rere,"balasnya.


"Did you know, your smile make me die"batin Umbara melihat senyum Maretha


Maretha tersenyum simpul, "Aku juga Indonesia" jawabnya.


Mereka masih bersalaman, dan Umbara masih enggan menyingkirkan matanya untuk menatap Maretha yang sangat cantik apalagi dengan senyuman khasnya yang mematikan peredaran darahnya.


"Maaf bisakah tanganku di lepas,"kata Maretha dengan suara yang sedikit keras.


Umbara salah tingkah dia melepaskan tangannya sambil ketawa kecut dan menggaruk tengkuknya. "Oh iya maaf," katanya canggung.


"Apa aku bisa pergi?,"tanyanya lagi memberi isyarat agar Umbara memberinya jalan.


"Eh, Ah, Iya, silakan. Maaf,"katanya lagi terlihat konyol.


"Cmon Bar, kok kamu konyol gini sih. Ini bukan pertama kalinya kamu ketemu sama dia. Dan ini bukan pertama kalinya kamu ketemu cewek cantik"batinnya lagi.


Umbara memberikan jalan untuk Maretha. Dan saat Maretha sudah melangkah lebih jauh dia berlari kecil menyusulnya.

__ADS_1


"Re, tunggu!,"panggilnya sambil berlari menyusul Maretha. Dan dia pun berhenti dan berbalik sebentar ke sumber suara.


"Ada apa?,"tanya Maretha mengernyit.


Umbara membasahi bibirnya, "Kamu mau ke Kafe kampus kan!,"tebaknya dan dibalas anggukan oleh Maretha.


"Kok, kamu tahu? Kamu udah lama ya kuliah di sini?,"tanya Maretha mulai mencairkan suasana.


"Lumayan lama sih, sekarang udah semester lima."jawabnya dan sontak membuat Maretha terkaget.


"Maaf ya, kak!," ucapnya merasa tidak sopan karna sudah panggil kamu.


"Maaf?"


"Untuk apa?," tanya Umbara bingung.


Maretha menggigit bibir bawahnya,"Aku gak tahu kalo Kak Bara udah semester lima. Kirain sama kayak aku," sedikit malu.


Umbara mengibaskan tangannya, "Gak masalah. Di kampus ini kan gak ada senioritas, Beda kayak kampus-kampus di Indonesia yang selalu ada senioritas."katanya dan Maretha memukul bahu Umbara pelan. "Kak Bara bisa aja mandingin", sambil tersenyum.


"Kak Bara mau ke Kafe jug,"tanya Maretha polos. "Yup. ini kan udah siang. Lagian kuliah juga udah gak ada."jawabnya menoleh dan memperhatikan senyum khas gadis di sampingnya.


Mereka pun berjalan bersama menuju kafe yang ada didalam kampus. Mereka duduk dipinggir dekat jendela dan memesan minuman juga makanan untuk makan siang mereka.


Mereka memulai pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. Hingga akhirnya Umbara menyampaikan jika Maretha sudah tiga kali menabrak dadanya.


"Oh ya Re, kamu tahu gak kalo kamu udah nabrak dadaku tiga kali," katanya sambil menunjukkan jarinya.


Maretha yang sementara menyeruput Greentea Lattenya tersedak, "Uhuk, Uhuk"


kemudian dia mengatur napasnya, "Masa sih kak, kok aku gak ingat ya?,"mengernyit sambil mengingat pertemuan yang mungkin tidak disengaja.


Umbara menyeruput Hot Coffee Machiato miliknya, "Iya, yang pertama itu terjadi beberapa bulan lalu. Saat ujian masuk di sini. Waktu aku yang gak sengaja nabrak kamu trus kena dadaku, lalu kamu mau menghidar tetapi justru bikin kamu mau jatuh kayak tadi jadi aku narik kamu kamu sampai kena dada. Dan seperti tadi juga kamu ngeluh hidung kamu sakit." Umbara menceritakan saat pertama kali dia bertemu dengan Maretha.


"Benarkah?" tanyanya masih tidak percaya tetapi mencoba mengingat.


"Iya aku baru ingat sekarang. Jadi yang wakfu itu Kak Bara yang nabrak aku,"Maretha baru ingat kejadian itu yang sempat diceritakan kepada para sahabatnya.


"Waktu itu aku mau ngejar kamu, tapi kamu kelihatannya buru-buru. Dan juga saat itu aku dipanggil sama dosen, jadi gak sempat tanya nama kamu."tambahnya lagi.


"Hem, bay the way kamu tinggal sendirian?,"tanya Umbara ingin tahu.


Maretha masih dengan senyuman khasnya yang selalu ceria dan tenang, "Enggak. Aku tinggal bareng teman sesama Indonesia. Namanya Lisda anak Sains,"Jawabnya mantap.


Akhirnya obrolan mereka pun semakin panjang. Umbara orangnya asyik dan pembawaannya juga santai jadi membuat Maretha mudah buat bergaul. Boleh dibilang Umbara mengingatkan Maretha sosok Mas Danang yang membuatnya merasa terlindungi meski baru kenal. Sikap dewasa Umbara juga yang membuat Maretha semakin nyaman ngobrol dengannya.


Padahal karakter Maretha tidak terlalu terbuka dan lumayan susah beradaptasi apalagi dengan laki-laki. Tetapi memang berbeda dengan Umbara yang membuatnya merasa nyaman.


Dengan pertimbangan yang panjang, akhirnya Maretha memberikan nomor ponselnya pada Umbara.


"Aku anterin pulang, boleh?,"tawar Umbara.


"Gak usah kak, lagian aku juga masih ada urusan sedikit", tolaknya berbohong.


Maretha tidak ingin terlalu dekat dengan laki-laki. Dia menyadari dirinya sudah terlalu banyak bicara dengan Umbara.


"Ya sudah lain kali, aku anter ya!,"kata Umbara sedikit kecewa. Maretha hanya menjawab dengan tersenyum.


"Duuuh bisa sih kamu gak senyum terus. Aku bisa mati mendadak nih kalo gini"batinnya lagi.


"Aku permisi ya kak!,"pamitnya lalu berjalan meninggalkan Umbara


Saat pertemuan pertama Umbara sudah jatuh cinta dengan Maretha. Sejak hari itu dia sudah berusaha mencari tahu tentang Maretha. Tetapi pertemuannya hari ini memang tidak di sengaja. Dan setelah hari ini Umbara terus-terusan mengejar Maretha.


Sunday, 12 January 2020

__ADS_1


__ADS_2