
Tidak mudah bagi Umbara untuk mengejar dan mencari perhatian dari seorang Maretha Septin Aura. Gadis dengan senyum yang membuat debaran jantungnya tidak sehat, dengan mata hazel yang berwarna sedikit abu-abu padahan dia orang Indonesia. Entah mata itu dia dapatkan dari siapa juga tidak tahu. Gadis sederhana yang polos, tetapi pintar, tidak terlalu banyak bicara tetapi sekali ngomong bisa nyelekit. Umbara terus berjuang agar bisa menaklukkan hati Maretha, karna di kampus ini bukan hanya dirinya yang menyukai Maretha. Tapi ada beberapa pria lainnya yang menyukai gadis itu.
Besok ada pertemuan Himpunan Mahasiswa Indonesia di Melbourne, Australia. Tentu saja Umbara menjadikan momen ini untuk bisa semakin dekat dengan Maretha,
"Re, besok kamu ikutan pertemuan HMI di Melbourne?,"tanyanya saat meletakkan pantatnya dibangku sebelah taman kampus yang selalu digunakan Maretha untuk membaca buku.
"Hem," jawabnya tanpa menoleh. Dia masih berkutat dengan buku yang dibacanya.
"Mau berangkat bareng gak? Kebetulan aku sendiri nih,"ajaknya berharap Maretha mengangguk menyetujui ajakannya.
Maretha menutup bukunya dan kini menoleh sebentar ke arah Umbara yang duduk disampingnya. "Aku juga gak tahu sih sebenarnya kak mau ikut atau gak. Soalnya besok juga ada urusan dengan Mrs. Lenny di Perpustakaan." kemudian menghelas napas pelan masih disertai dengan senyumannya yang khas.
Mereka pun saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Umbara tidak mungkin tidak ikut ke acara itu karena dia sendiri adalah ketua perwakilan dari kampus ini. Kemudian Lisda datang menghampiri mereka.
"Gue ganggu gak?," tanya Lisda melirik bangku yang masih kosong di sebelah Maretha.
Maretha menatap ke sumber suara, "Enggak kok," jawabnya lalu menggeser duduk hingga dia semakin dekat dengan Umbara.
Lisda menawarkan air mineral pada Maretha,"Sapa lo haus, Re."tawarnya dan langsung diambil dan diapun meminumnya. "Thanks," ucapnya menutup penutupnya dan mengembalikan botol yang isinya sisa setengah pada Lisda di sampingnya.
"Re, ikut yuk ke acara HMI besok. Gue gak ada temennya nih!," bujuk Lisda memegang tangan Maretha dan sontak membuat Umbara melotot.
"Thank you Lisda, lo udah bantuin gue meskipun gak sengaja. Semoga Maretha mau pergi"batinnya mendengar ajakan Lisda.
Maretha berpikir, "Ayolah, Re. Lagian acara besok dengan Mrs. Lenny gak jadi kok" desak Lisda lagi yang membuat hati Umbara semakin senang.
"Kamu tahu darimana kalo acara sama Mrs. Lenny gak jadi?," Maretha mengernyit.
Lisda menselonjorkan kakinya di bangku taman kampus, "Tadi sebelum ke sini aku ketemu Mrs. Lenny dia info kalo acara besok gak jadi katanya dia ada acara keluarga. Makanya gue ke sini mau kasi tahu lo," jawab Lisda menerangkan.
"Lagian kita kan belum pernah liburan, Re. itung-itung kalo kita ke Melbourne sekalian liburan aja Weekend ini," ajak Lisda lagi. Maretha berpikir, dia diam lalu mengangguk kepalanya setuju. "Boleh, tapi kita ke sana naik apa? Kalo mau daftar ikut bus sama yang lainnya kan udah penuh," tambahnya membuat Lisda sedikit manyun.
"Bareng gue aja kalo mau," celetuk Umbara yang sedari tadi mendengarkan mereka. Kali ini Maretha melirik ke arah Umbara, "Naik apa?," tanyanya mengangkat sebelah alisnya.
"Besok rencananya mau bawa mobil sendiri sih, trus emang aku juga gak ada temennya. Kalo kalian ikut berarti aku gak kesepian besok perginya." jawab Umbara dengan senang karena akhirnya Maretha mau ikut juga.
"Boleh. kalo gitu kita berangkat sekarang biar besok gak telat kan!," Lisda bersemangat.
Maretha menarik tangan Lisda, "Tunggu dulu," lalu Lisda pun kembali duduk di tempatnya. "Ada apalagi Maretha?" mulai jutek.
"Kita kan belum daftar," jawabnya dan Lisda menepuk jidatnya. "Iya benar. Lupa," katanya.
"Kalo soal daftar gampang, tunggu aku telpon bagian regist ya!," Umbara lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu menghubungi seseorang.
"Halo, ini Bara!,"
"Aku mau nambahin 2 orang lagi untuk kegiatan besok di HMI,"
"Maretha Septin Aura sama Lisda Priscilla anak semester dua"
"Mungkin bareng aku naik mobil,"
"Oke, thanks ya!," katanya lalu menutup panggilan telepon.
Umbara kembali ke tempat kedua gadis itu. "Sudah aku daftarin, sekarang kita siap-siap yuk. Karena yang lainnya juga udah pada jalan katanya." Ajaknya.
Sebelum Lisda dan Maretha beranjak, Umbara menawarkan untuk mengantar mereka sampai ke rumah. Awalnya Maretha menolak, tapi Lisda memaksanya.
__ADS_1
"Kak Bara tunggu bentar ya, aku sama Lisda mau prepare dulu," kata Maretha setelah meletakkan segelas sirup untuk Umbara menunggu.
Setengah jam Umbara menunggu mereka, dan mereka pun berangkat bersamaan. Maretha meminta izin kepada Tuan Jhon untuk pergi beberapa hari.
Kesempatan bagi Umbara untuk mendekati Maretha. Selama perjalanan Maretha duduk disamping Umbara yang mengemudikan mobil. Kemudian Lisda duduk di kursi penumpang.
Sepanjang perjalanan Lisda memperhatikan sikap Umbara yang sering curi-curi pandang kepada Maretha. Apalagi saat Maretha tertidur, Umbara memperhatikan setiap lekuk wajahnya dan sesekali menyingkirkan rambut-rambut kecilnya.
Umbara tidak merasa jika Lisda memperhatikan tingkah lakunya. Karena menurutnya Lisda hanya terfokus pada buku tebal yang dibawanya.
Setelah kegiatan HMI berlangsung mereka menikmati makan malam dan malam ramah tamah yang sudah diatur oleh panitia.
Umbara sedang asyik menikmati api unggun bersama dengan Leon, dan Romi. Lisda yang baru saja dari toilet mendekati Umbara.
"Permisi, gue boleh bicara dengan Kak Bara sebentar?," katanya dengan tatapan serius meski ada kacamata yang menghalangi.
Leon dan Romi beranjak ke Kafe dekat tempat mereka. Lisda duduk di kursi di depan Umbara yang tadi diduduki oleh Leon.
"Kak boleh gue tanya sesuatu?," tanyanya memulai obrolan
"Boleh," jawab Unbara dengan mengangguk.
Lisda menghela napas pelan, "Kak Bara suka ya sama Rere?," to the point tanpa embel basa-basi dulu.
Umbara yang baru saja ingin memetik senar gitar terhenti. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Lisda.
"Keliatan banget ya?," tuturnya.
"Gue pikir lo gak merhatiin gue,"katanya lagi mulai salah tingkah.
Lisda hanya tersenyum. "Gue sih udah ngerasa sejak Kak Bara sering anter ataupun jemput Rere. Tapi selama perjalanan gue makin yakin kalo Kak Bara cinta sama Rere,"terangnya.
Lisda ingin beranjak, "Ya sudah gue cuma mau tanya itu sama Kak Bara."
Umbara menahannya, "Tunggu!," Lisda pun kembali duduk di tempatnya.
Umbara berpikir sejenak,"Lo mau bantuin gue gak?," alisnya menyatu.
"Bantu buat?," Lisda mengangkat sebelah alisnya.
Umbara meletakkan gitar disampingnya. Dia mengubah posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Lisda di depannya.
"Bantu gue lebih dekat sama Rere," tatapannya serius.
"Bukannya Kak Bara udah deket ya sama Rere,"timpalnya.
Umbara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bukan gitu. Maksud gue bantuin gue supaya Rere peka sama perasaan gue. Karna rencananya gue mau nyatain cinta gue sama dia."jujurnya dengan penuh harap.
"Caranya gimana?,"tanyanya polos dan membuat Umbara sedikit frustasi.
"Justru itu gue minya bantu lo, Lisda!"katanya mulai geram dengan sikap Lisda.
"Bukannya gak mau bantuin nih kak. Tapi gue juga gak ngerti soal cinta-cintaan. Tapi kalo kak Bara minta diajarin ngitung, gue pasti jabanin."terangnya dengan jujur.
Umbara semakin frustasi. Teman paling dekat dengan Maretha hanya Lisda. Jadi siapa lagi yang mau bantu dia untuk mengorek perasaan Maretha yang bagai Gunung Everest. Tinggi dan sulit untuk ditaklukkan.
"Tapi yang gue tahu cowok yang paling dekat sama Rere cuma Kak Bara deh selain Mas Danang tentunya." kata Lisda mengembalikan semangat Umbara.
__ADS_1
"Serius lo?," Kali ini Umbara memperbaiki duduknya.
Lisda mengangguk mantap, "Iya."
"Dan.... yang gue tahu juga cuma Kak Bara yang sering di respon sama Rere. Cowok-cowok lainnya justru dicuekin tuh." tambah Lisda lagi semakin memantapkan dirinya.
"Lo yakin?," tanya Umbara lagi meyakinkan dirinya. dan Lisda pun mengangguk mantap.
Mereka pun saling terdiam dengan pikiran masing-masing. "Menurut lo kalo gue nyatain perasaan gue sama dia, diterima gak?," Kali ini Umbara semakin serius.
Lisda tersenyum, "Kalo soal itu sih gue gak tahu kak, tapi kan gak apa-apa kalo kak Bara mau coba. Setidaknya nanti kita tahu bagaimana perasaan Rere sama Kak Bara." Lisda memberikan saran.
Umbara merasa apa yang dikatakan Lisda itu benar. Jika dia tidak pernah mencoba, dia tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan Maretha padanya. Karena Maretha sangat susah untuk ditebak apalagi jika berhubungan dengan perasaan.
Lisda dan Umbara merencanakan untuk menyatakan perasaan Umbara pada Maretha, "Kak Bara ungkapinnya dengan sederhana aja. Rere juga gak suka sama yang berlebihan, entar yang ada malah ilfil sama Kak Bara," saran Lisda
"Terus apa yang harus gue lakukan?," tanya Umbara merasa bingung.
Lisda berpikir, dia memegang dagunya dengan menjepitnya menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya. Umbara menatap serius.
"Gue juga gak tahu kak. Kayaknya Kak Bara lebih tahu deh."
"Gue cuma bisa bantu soal info yang tadi. Sisanya Kak Bara aja yang rencanain. Gue pasti dukung kok," Tambahnya lagi kemudian beranjak.
Lisda berjalan meninggalkan Umbara dan kembali duduk di depan Maretha yang masih sibuk dengan Novelnya.
Lisda menarik kursi di depan Maretha dan mendaratkan pantatnya dengan baik. Pandangan Maretha masih fokus pada barisan huruf yang ada ditangannya.
"Kalian bahas apa? Serius amat?,"tanya Maretha tanpa mengalihkan pandangannya.
Lisda meletakkan kedua sikutnya diatas meja lalu menangkup gelas minumannya dengan kedua tangannya. "Gak ada, cuma bahas soal besok. Mau nebeng lagi pulangnya", jawabnya sekenanya.
Maretha menutup novelnya dan berbalik melihat ke arah Lisda. "Lalu katanya apa?," ingin tahu.
"Boleh. Katanya sih karna kita perginya bareng dia. Jadi Kak Bara juga bertanggung jawab nganter kita sampai pulang dengan selamat." Ada rona kemerahan di pipi Maretha.
Dia tersenyum cerah,"Kok senang gitu? Lo suka ya sama Kak Bara?," Lisda menggodanya dan berhasil membuat Maretha tersipu.
"Eng--gak kok. Biasa aja,"jawabnya menunduk sengaja untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karna malu.
"Biasa aja, tapi kok ekspresinya begitu."tambah Lisda lagi.
Maretha merasakan degup jantungnya tidak beraturan saat Umbara berjalan mendekat ke arah mereka.
"Oh ya besok kita pulang habis sarapan ya jam 8,"katanya memberi tahu. Manik matanya menangkap senyuman khas dari Maretha.
"Ya Tuhan, bisa sakit jantung saya kalo dia terus-terusan senyum kayak gitu"batinnya.
"Terima Kasih kak,"ucapnya menunduk dan sambil tersenyum manis.
"Terima kasih untuk apa?,"tanyanya dengan serius.
Maretha mengatur napasnya dan menenangkan debaran jantungnya."Terima kasih untuk semuanya. Untuk semua perhatian dan kebaikan Kak Bara." jawabnya sekenanya.
Umbara mengernyit, "Oh oke. Sama-sama."tuturnya kemudian berbalik. Tapi ujung matanya melirik Lisda untuk memberikan isyarat.
Lisda memberikan jempol padanya sebagai isyarat bahwa semuanya beres.
__ADS_1
Tuesday, 14 January 2020