
Sahabat-sahabat Maretha sengaja didatangkan oleh Mas Danang dan Amel untuk memudahkan penyembuhannya dari Nyctophobia yang dialaminya.
Secara bergantian mereka menghibur dan membuatnya terasa nyaman. Cukup lama Maretha izin dari kampus. Tetapi dia juga tidak ketinggalan mater. Mas Danang sengaja meminta dosen yang mengajar untuk memberi privat padanya di rumah.
Sahabat-sahabat Maretha tidak bisa berlama-lama tinggal di Australia karna mereka juga punya kesibukan sendiri. Ada yang harus kuliah sambil kerja, ada yang bekerja dan ada yang harus mengurusi usaha orangtuanya di kampung. Kecuali Alisya yang masih menetap karna kebetulan Alisya juga punya urusan di Perth.
Alisya dan Bunda memutuskan untuk merawat Maretha di rumah. Meski Alisya harus bolak-balik Perth dan Sydney, tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya agar sahabatnya itu bisa kembali kuliah dan beraktivitas.
Mereka mengantar Ridwan, Fitri, dan Aksar di Bandara.
"Makasi ya Fit, udah mau dateng." ucap Maretha memeluk sahabatnya.
Fitri tersenyum, "Aku loh yang makasih karna dikasi kesempatan untuk jalan-jalan ke sini." tambah Fitri senang.
"Salam ya sama Ibu dan Bapak kamu, Fit!," ucapnya lagi.
"Oke."
Alisya pun memeluk Fitri dan memberikan sebuah kardu kepadanya. "Fit, ini aku titip untuk Emak ya." katanya menitipkan oleh-oleh untuk ibunya di kampung.
"Kamu berapa lama di sini?," tanyanya ingin tahu.
"1 tahun. Kan aku cuma training aja." jelasnya.
Aksar dan Ridwan tidak mau kalah, "Kami kok gak dipeluk sih?," protes mereka kompak.
"Kalo kaliam berani silakan saja. Setelah itu hidup kalian kelar." kata Umbara mengintimidasi dengan memberikan tatapan tajam kepada keduanya. Umbara memasukkan kedua tangannya pada kedua saku celananya.
Aksar dan Ridwan bergidik ngeri. "Serem amat ancaman pacar kamh, Re." Bisik Aksar sambil menundukkan wajahnya.
"Itu bukan serem, tapi posesif." timpal Alisya sontak memuat Umbara menyunggingkan senyumnya.
Ridwan masih memperhatikan sesuatu. "Kamu lagi cari siapa?," teguf Alisya dengan nada curiga.
Ridwan menggaruk tengkuknya. "Gak ada kok!," jawabnya.
"Lisda lagi ada kuliah jadi gak bisa nganter." Jawab Umbara lagi membuat cowok itu salah tingkah.
Alisya ketawa nyengir, "Ckck... Kamu beneran naksir si Lisda jutek itu." celetuknya menggeleng.
"Emang kenapa?," tantang Ridwa tidak suka. "Lisda gak jutek kok. Kamu aja yang bilang gitu. Dia itu baik, perhatian dan punya daya tarik sendiri."jelasnya lagi.
"Iya deh. Aku gak ngerti yang lagi bucin." timpal Alisya lagi.
"Udah deh kalian jangan berdebat lagi." Lerai Maretha.
"Ridwan sih bucin plus baper." tambah Aksar yang mendapatkan cubikan keras diperutnya.
"Aw, kok main cubit sih bro. Gak gentle banget deh." Kata Aksar lagi menggosok perutnya yang mungkin berbekas.
"Sudah. Sudah." Fitri memecah suasana yang tegang.
"Kita udah mau balik ke Indonesia, entah kapan lagi bisa ketemu. Bisa gak sih kalian gak berdebat." Protesnya dengan nada yang cukup tinggi.
Alisya menunduk. "Sorry!," ucapnya.
"Iya, aku juga minta maaf." Ridwan mengulurkan tangannya pada Alisya dan Aksar.
Kemudian Ridwan memajukan tangannya. Dia memberikan isyarat agar yang lainnya mengikuti. Aksar meletakkan tangannya di atas tangan Ridwan. Lalu disusul tangan Fitri, kemudian tangan Maretha dan terakhir Alisya.
"SAHABAT SELAMANYA!," seru mereka kompak kemudian melayangkan ke udara lalu melemparkannya.
Maretha mengernyit. "Sayang ya, gak ada Vena di sini." katanya sedikit berbisik.
"Dia mah Nona besar, jadi sibuk di negara jauh." timpal Alisya dan Fitri.
__ADS_1
Kemudian terdengar pengumuman tentang pesawat yang mereka tumpangi dari pengeras suara.
"Yuk ah, kita sudah dipanggil." pamit Fitri sambil berlalu masuk ke dalam bandara.
"Jangan lupa info ya kalo udah sampai," kata Alisya mengingatkan.
"Sip.!" jawab Ridwan dengan mengangkat jempolnya.
"Beres," jawab Aksar dengan membentuk jarinya huruf V
"Oke," jawab Aksar dengan membentuk jarinya huruf O
Mereka pun berjalan masuk ke dalan bandara. Kemudian mereka pun menghilang dari pandangan Maretha dan Alisya.
Umbara merangkul Maretha dan mengajaknya untuk pulang. Maretha menuruti langkah Umbara.
"Aku naik taksi ya!," kata Alisya tiba-tiba.
Maretha mengernyit,"Aku ada urusan di Fashionity Shopping Taylor," jawabnya sebelum temannya bertanya.
"Kak, tolong jaga Rere ya." katanya ingin beranjak.
"Aku pasti menjaganya. Lo gak perlu khawatir." tambah Umbara cepat
Alisya mengangguk paham. "Aku tahu," kemudian segera menghilang dari pandangan mereka.
Mereka pun akhirnya meninggalkan bandara. Maretha pulang bersama Umbara dan Alisya harus kembali ke Perth.
Umbara mengaitkan tangannya pada tangan Maretha. Seolah-olah dia ingin memberitahu kepada orang-orang bahwa wanita di sampingnya adalah kekasihnya.
Umbara merasa tidak senang karna mendapati laki-laki lain melirik kekasihnya. Posesif memang.
"Mas, kok begini?," tanya Maretha merasa diperlakukan terlalu berlebihan dengan Umbara.
"Aku hanya tidak ingin orang-orang itu menggodamu."jawabnya sarkas dengan tangan kirinya dimasukkan dalam saku celana.
Apalagi setelah dia mulai kembali kuliah. Umbara selalu menjaganya. Jika kuliahnya lebih cepat selesai dia akan segera menunggunya di depan kelas.
Kini mereka telah sampai di parkiran mobil. Umbara membukakan pintu untuknya. Kemudian mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil. Dia duduk di depan kemudi.
Umbara melirik ke sampingnya. Gadis itu masih tersenyum menggemaskan. Umbara mendekatkan wajahnya pada Maretha, wajahnya semakin dekat. Maretha menoleh dan kini wajah mereka saling bertemu. Umbara semakin mendekatkan wajahnya membyat jantungnya berdegup sangat kencang. Maretha memejamkan matanya untuk menghindari perasaannya yang semakin tidak karuan.
Unmbara menatap mata Maretha dengan intens. Kemudian berpindah pada bibirnya yang tipis dan merah merona. Dia tersenyum melihat Maretha memejamkan matanya.
KLIK...
"Kamu belum pasang sabuk pengamannya sayang," kata Umbara dengan mengerlingkan matanya jahil pada Maretha.
Maretha membuka matanya, dia menoleh pada Umbara. Dia menghembuskan napasnya kasar.
"Emang tadi kamu pikir aku mau ngapain, hem?," tanya Umbara menaikkan sebelah alisnya.
Maretha mendelik, "Eng--gak kok. Gak ada apa-apa," jawabnya dengan terbata.
Dia lalu mengalihkan pandangannya pada luar jendela.
Umbara tertawa jahil melihat tingkah kekasihnya yang salah tingkah seperti ini.
"Aku senang melihatmu seperti ini sayang. Kamu sangat menggemaskan." Pikir Umbara.
"Kenapa kita gak jalan, Mas?," tanya Maretha mencoba mengalihkan suasana.
Umbara lagi-lagi hanya tertawa jahil. Kemudian mulai melajukan mobilnya menuju restoran untuk makan siang. Karna mereka belum makan siang.
Selama perjalanan mereka saling diam, tidak ada perbincangan sama sekali. Yang terdengar hanya suara audio dari mobil yang memutar lagu-lagu romantis.
__ADS_1
Mobil Umbara memasuki area restoran cepat saji.
"Kita makan dulu, habis ini baru ke kampus." kata Umbara melepaskan seatbeltnya. Maretha mengikuti. Dia dengan cepat melepaskan seatbeltnya. Dia tidak ingin mengulangi hal konyol tadi.
"Ayo, sayang!" ajak Umbara setelah turun dari mobil.
Umbara menautkan lagi jari-jarinya dengan milik Maretha.
Mereka masuk dan duduk. Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan menu untuk mereka.
"Mau pesan yang mana?," tanya Umbara membuka buku menu.
"Apa saja asalkan topingnya gak pake Nanas." jawabnya melihat menu lainnya.
Umbara lalu menunjuk menu yang mereka inginkan, pelayan pun dengan cekatan mencatatnya.
"I want Macaroni Schootel," tambah Maretha sebelum pelayannya pergi.
Umbara mengambil tangan Maretha lalu menggenggamnya. "Sayang, nanti orangtuaku mau datang. Aku mau kenalin kamu sama mereka." Kata Umbara tersenyum.
Maretha tidak merespon, dia justru merasa khawatir. Pasalnya Umbara adalah pewaris tunggal Gineka Corporation. Sementara dirinya bukan siapa-siapa. Maretha menyadari posisinya yang sangat jauh berbeda dengan Umbara.
Umbara pun mengelus punggung tangan Maretha lalu menciumnya beberapa kali.
"Apa mereka bisa menerima aku, Mas?," tanya Maretha ragu-ragu. Wajahnya tertunduk dan nampak sendu.
Umbara tersenyum, dia lalu mengangkat wajah kekasihnya dengan memegang dagunya.
"Memang tidak mudah meyakinkan mereka. Apalagi papa, tapi apapun nanti aku akan memperjuangkanmu. Asalkan kamu tetap bersamaku." jawabnya terus terang.
"Aku sangat mengenal mereka, tapi dengan ketulusanku yang mencintaimu. Aku yakin mereka akan menerimamu. Mereka sangat suka dengan wanita mandiri dan Fighting seperti dirimu." tambahnya lagi menenangkan Maretha.
Tidak lama pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.
"Thank you," ucap mereka bersamaan.
Pelayan itu tersenyum, "You're welcome. Enjoy your food!," ucapnya kamudian berlalu.
Mereka pun menikmati makanannya dalam diam dengan pikiran masing-masing.
Setelah makan mereka pun meninggalkan restoran dan menuju kampus.
"Nanti aku jemput ya sayang," pamit Umbara.
Maretha hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Mas gak kuliah?," tanyanya.
"Aku kan udah menjelang semester jadi kuliah udah gak terlalu padat. Aku ada urusan sebentar." jelasnya.
"Nanti kalo kuliahnya udah kelar telpon aja biar aku jemput." tambah Umbara lagi mengusap rambutnya.
Maretha hanya tersenyum. "Iya sayang," ucapnya. Kemudian Umbara mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
Maretha pun beranjak masuk ke kelas dan Umbara mengurus sesuatu dengan seseorang.
__________________________________
**Maaf ya semuanya jika episode ini agak lama baru update karna author lagi berduka dan ada beberapa masalah yang harus diurus.
Next episode author akan menceritakan tentang perjuangan Umbara dan Maretha mendapatkan restu.
Tolong jangan lupa di LIKE, VOTE, KOMEN
Jangan pelit-pelit ya beri Vote POIN biar makin semakan updatenya.
__ADS_1
Terima Kasih**
Monday, 27 Januari 2020