
"Apakah kami sudah terlambat?." tanya seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.
Tentu saja perhatian mereka tertuju pada suara seseorang yang sedikit berat. Mereka memandang ke arah suara dan berdiri dua orang diambang pintu. Seorang laki-laki dengan mengenakan kemeja berwarna merah maroon dengan dua kancing di atasnya sengaja dilepas dan celana bahan kain berwarna hitam. Tubuhnya tinggi sekitar 182 cm dan sedikit berotot, rahangnya tegas matanya bulat dan ada rambut yang tumbuh di bagian wajahnya. Lelaki membawa sebuah bucket bunga mawar merah ditangannya sedang tersenyum ke arah mereka.
Disebelahnya ada seorang wanita yang mengenakan dress panjang berwana hijau telur asin yang bermotif bunga-bunga kecil dengan tangan pendek. Dan dipinggang wanita itu terlilit sebuah belt yang semakin memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sempurna. Rambut wanita dibiarkan tergerai panjang sebahunya, wajahnya putih dan cantik. Hanya dengan polesan make up tipis saja membuat wanita itu terlihat semakin cantik. Wanita itu memegang sebuah tootbag ditangannya.
Maretha mengembangkan senyumannya melihat lelaki itu dan segera berhambur memeluknya, "Mas Danang!" dia pun berlari ke arah lelaki itu yang disebut namanya membuka lebar tangannya.
"Aku kangen Mas Danang," ucap Maretha kemudian sebulir air menetes dan mengenai tangan Mas Danang.
Maretha memeluknya dengan sangat erat, dia memang sangat merindukan lelaki ini. Mas Danang yang adalah sosok kakak yang sangat dicintai dan dikagumi oleh Maretha. Meskipun Mas Danang sudah memiliki keluarga tetapi dia masih sering mengunjungi Maretha dan mengajaknya jalan.
"Aku juga merinndukan adikku yang manja ini," balas Mas Danang mengusap kepalanya.
Maretha mengangkat wajahnya dan melihat wajah Mas Danang yang tersenyum padanya. "Kenapa baru datang?." tanyanya dengan manja. Dia lalu dihadiahi senuah kecupan di keningnya.
Lalu wanita yang disampingnya pun tersenyum menyapa Maretha, "Jadi cuma Mas Danang aja nih yang dipeluk. Aku enggak dipeluk." katanya membuat Maretha mengernyit.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah Mas Danang dan bertanya "Dia siapa mas?." bisiknya.
Mas Danang tersenyum, "Amel!." jawabnya. Maretha mengingat nama Amel.
Amel terlihat murung karna tidak diingat oleh adiknya, "Hiks... ternyata aku sudah dilupakan sama adik kecilku,. Hiks"
Maretha masih belum mengingat siapa Amel dalam hidupnya, tapi dia juga memeluk wanita itu. Amel membalas pelukan Maretha dengan sayang. "Ternyata dede Rere sudah besar sekarang," katanya menyentil hidungnya dengan pelan. Sebuah kebiasaan Amel saat bermain dengan Maretha saat bayi.
Bunda menyambut mereka dengan sayang, "Kalian sudah datang. Mari masuk!." sapa Bunda.
Amel dan Mas Danang mencium punggung tangan beliau bergantian kepada Ibu Citra
"Assalamualaikum, bunda!." sapa Mas Danang
"Bunda, apa kabar?." tanya Amel lalu memeluk Bunda dengan sayang.
"Amel kangen sama bunda," katanya lagi masih memeluk erat bunda.
Mas Danang lalu mencium punggung tangan Ibu Citra begitu juga dengan Amel.
Alisya yang memiliki rasa kepo tinggi tidak sabar untuk menanyakan pria dan wanita cantik yang baru saja bergabung. "Re, dia siapa?," bisik Alisya di telinganya sambil menatap kepada Mas Danang.
Maretha terkekeh, "Tanya sendiri gih sama orangnya," godanya membuat Alisya sedikit malu-malu.
Mas Danang yang menyadari menjadi pusat perhatian teman-teman adiknya memperkenalkan dirinya. "Hai semua, kenalin aku Danang!", Katanya mengulurkan tangannya dan menyalami secara bergantian teman-teman adiknya.
"Askar!",
"Ridwan!",
"Vena!,"
"Fitri!,"
Dengan sedikit malu-malu, "Alisya, mas", balasnya tersipu.
"Al, sejak kapan kamu gak lembut kayak gini. Biasanya ribut, cempreng, gokil", tegur Fitri menyenggolnya.
"Sejak........(otaknya dipaksa berpikir untuk mencari jawaban). Kan ada cowok keren di sini jadi harus jaga sikap dong." tukasnya terus terang dan secara bersamaan mereka menertawakan tingkah konyolnya.
"Sudah. sudah jangan digodain terus Alisyanya. Kasihan kan!", Ibu Citra menengahi.
__ADS_1
"Makasi bu, hanya Ibu yang mengerti perasaanku." Dia memeluk Ibu Citra sambil menenggelamkan kepalanya di pinggang Ibu Citra.
"Aku kakaknya Rere. Dia gak pernah cerita ya soal aku", katanya lalu menoyor kepala Maretha yang sedang duduk di sampingnya.
Maretha memprotes, "Kata siapa? Jangan asal ngomong dong mas. Aku sering kok cerita sama mereka, tapi emang gak pernah kasi liat fotonya Mas Danang aja". Protesnya cemberut.
"Jangan cemberut dong adik manis". Amel merangkul adik kecilnya yang selalu dianggap kecil di matanya.
Maretha bersikap manja kepada Amel, "Mbak liat tuh Mas Danang jahat sama aku," katanya meliukkan badannya seperti anak kucing.
"Sudah, kalian tuh baru ketemu bukannya melepas rindu, tapi malah berantem", Bunda menengahi sambil menyajikan makanan.
"Ayo dimakan, nanti keburu dingin loh", tawar Ibu Citra.
"Akhirnyaaa bisa makan juga," sahut Aksar, Ridwan dan Fitri berebutan.
Vena yang memang terlihat lebih anggun dari mereka hanya geleng-geleng saja, "Ishhh kalian tuh bikin malu-malu aja," protesnya.
Mereka tidak memperdulikan protes Vena, "Ngapain malu-malu sih. Kita kan udah sering makan di sini", dengan mulut yang penuh makanan.
"Yups, bener banget tuh!" tambah Ridwan lagi.
Amel pun menimpali mereka sambil tertawa renyah, "Dek, teman-teman kamu kocak banget ya. Pasti kamu senang deh punya teman seperti mereka".
"Yaah begitulah mbak, tapi terkadang mereka emang suka bikin malu juga sih".
"Setuju!," Vena menimpali dengan semangat.
Mereka pun menikmati makanan yang sudah disiapkan di atas meja. Mas Danang dan Amel juga tidak lupa menyajikan makanan yang mereka bawa. Selain itu mereka juga membawa mainan dan beberapa perlengkapan sekolah untuk adik-adiknya di Panti Asuhan.
Bunda Tari dan Ibu Citra memperhatikan sikap Danang dan Amel yang tidak lazim. Mereka saling memberikan perhatian dan sikap manja Amel yang juga tidak seperti biasanya. Bunda dan Ibu Citra saling bertatapan seolah mereka memiliki pertanyaan yang sama.
Setelah teman-teman Maretha pergi, kini tersisa mereka penghuni Panti. Danang sedang duduk di Gazebo halaman sambil memperhatikan adik-adiknya yang sedang bermain. Bunda menghampirinya, "Bunda mau bicara boleh?", tanya Bunda saat mendudukkan pantatnya di sebelah Danang.
"Apa hubungan kamu dengan Amel?", tanya Bunda to the point tidak suka bertele-tele.
Ekspresi Mas Danang terlihat biasa. Dia sudah menyadari jika Bunda pasti akan menanyakan hal ini."Danang gak mau bohong sama Bunda. Tapi apa yang Bunda perhatikan itu benar, Bun." jawabnya dengan jujur.
Mas Danang membasahi kedua bibirnya lalu menghela napas pelan,"Mungkin sejak kecil kami selalu sama-sama di sini. Tumbuh dan besar di sini bersama. Lalu kemudian kami pun terpisah lantaran aku dan Amel mendapatkan keluarga baru. Kemudian di waktu yang tidak terduga kami di pertemukan kembali di tempat ini saat usia kami sudah dewasa. Dari pertemuan itu kami pun saling memberi kabar karna Amel kembali lagi ke Jerman untuk menyelesaikan studinya. Dan seiring waktu berjalan perasaan peduli kami satu sama lain pun berkembang menjadi rasa sayang". terangnya panjang lebar.
"Apa Bunda tidak setuju aku dan Amel saling mencintai?". tanya meminta pendapat dari Bunda.
Bunda menarik senyuman, "Kenapa Bunda harus tidak setuju?",
"Kalian pun tidak ada ikatan darah sama sekali, dan sekarang ini kalian sudah memiliki keluarga masing-masing. Lalu alasan apa Bunda tidak menyetujuinya", terangnya.
Mas Danang memeluk wanita disampingnya dengan sayang."Terima Kasih Bunda. Bunda memang selalu mengerti". ucapnya lalu melepaskan pelukannya.
Mas Danang kembali membenarkan posisi duduknya, "Sebenarnya aku dan Amel datang ke sini punya tujuan selain ingin memberikan hadiah untuk Rere, bun", katanya lagi
Bunda mengangkat sebelah alisnya, "Apa itu?", tanyanya dengan rasa penasaran.
Kemudian dari belakang terdengar suara tawa Maretha yang bergelayut manja pada Amel, "Mas Danang belum bilang ya sama bunda", sahut Amel.
Mas Danang lalu menggeser duduknya dan menepuk tempat di sebelahnya agar Amel dan Maretha ikut bergabung dengan mereka. Mas Danang juga memanggil Ibu Citra yang kebetulan berlalu agar bergabung dengan mereka. "Ibu sini! Gabung sama kita!," ajaknya.
Ibu Citra pun mendekat, "Duh ada apaan nih. Kayaknya serius deh," lontanya setelah duduk dan memandangi Amel serta Danang dengan menyelidik.
Mas Danang tidak ingin berlama-lama lagi dan membuat mereka penasaran. "Bunda, Ibu dan Adik kecilku ini. Kami ingin memberitahu kalian sesuatu yang sangat penting", katanya kemudian meraih tangan Amel lalu mengaitkan jari-jarinya menjadi satu.
__ADS_1
"Ciyeeee, Mas Danang sama Mbak Anel romantis banget sih", ucap Maretha menggoda mereka.
Mas Danang dan Amel pun saling berpandangan, "Begini kami ke sini untuk meminta restu kalian. Minggu depan aku akan melamar Amel di rumahnya. Dan kami ingin Bunda, Ibu dan Rere ikut serta." Dan ketiganya terlihat sangat bahagia mendengarnya.
"Insyaa Allah, kami akan menghadiri acara lamaran kalian", sahut Bunda.
Maretha menyela, "Tapi kita harus ke rumah siapa bun?", tanyanya spontan.
"Ke rumah Mas Danang atau Mbak Amel?", tanyanya lagi kebingungan memandangi mereka secara bergantian.
Mas Danang dan Amel bertatapan dan mengkerutkan keningnya. "Terserah kalian saja mau ikut dengan siapa? Karena toh sama saja." jawab Amel.
"Bunda rasa kita wakilkan Danang saja dulu, kan ujung-ujungnya pasti ke rumah orangtua Amel juga kan!," sarannya lalu di benarkan oleh yang lainnya.
Setelah perbincangan itu mereka pun bersenda gurau saling melepas rindu. berbagi cerita. Maretha penasaran dengan kisah cinta kakak-kakaknya. Dia terus mencari tahu tentang hubungan mereka.
Flashback On
Saat Maretha pergi melakukan Studi Bandung di Kota J, Mas Danang dan Amel datang mengunjungi Panti Asuhan. Mereka tidak janjian untuk mengunjungi Panti. Mas Danang mungkin sering menjenguk mereka jika ada waktu luang karna rumah orangtuanya tidak terlalu jauh dengan Panti. Berbeda dengan Amel yang orangtua angkatnya mengajaknya tinggal di Jerman.
Saat itu Amel sedang liburan, dan untuk kali ini dia meminta orangtuanya agar bisa liburan pulang. Dia ingin mengunjungi Panti Asuhan tempat dia dibesarkan hingga orangtuanya sekarang yang merawatnya.
Amel termasuk salah satu anak dari Panti Asuhan yang beruntung. Dia diadopsi oleh keluarga yang kaya yang memang berketurunan Jawa dan Jerman. Dan orangtuanya pun sangat baik padanya. Meski saat usianya 14 tahun ibu angkatnya berhasil mengandung dan melahirkan anak laki-laki tidak mengurangi kasih sayang mereka untuk Amel. Dia tetap menjadi anak pertama dalam keluarga mereka.
Berbeda dengan Danang yang mendapatkan orangtuan bukan dari kalangan orang kaya. Orangtuanya dari keluarga yang sederhana meski tidak kaya tetapi segala kebutuhan Danang dapat mereka penuhi. Hingga saat Danang lulus kuliah dia mendapatkan pekerjaan yang lumayan bagus dan bisa membantu orangtuanya sekarang. Karna hanya Dananglah penerus satu-satunya dari keluarga mereka.
Danang yang datang lebih dulu mengunjungi adik-adiknya di Panti Asuhan. Kemudian tidak lama terdengar suara seseorang dari arah pintu depan.
"Assalamualaikum," salam wanita muda yang berparas cantik dan putih.
Teedengar dari dalam rumah suara seseorang yang masih sangat di kenali oleh Amel. "Waalaikumsalam, siapa?," tanya Bunda saat itu.
Saat didepan pintu, Amel tersenyum senang dan matanya pun berkaca-kaca melihat sosok wanita yang sedang berdiri mematung memperhatikan dirinya.
"Bunda, Amel kangen!" ucapnya berhambur dan langsung memeluk Bunda Tari.
Bunda terlihat bingung, tapi tidak melepaskan pelukannya. "Bunda, ini Amel. Amelya Crista." katanya memperkenalkan diri sambil menengadahkan kepalanya.
Bunda pun mengingat anak-anaknya yang sudah pergi karena mendapatkan keluarga baru. Dia pun mencium pipi dan keningnya dengan sayang. "Kamu sudah besar, nak. Dan sekarang tambah cantik!," pujinya membuat Amel tersipu.
Lalu Ibu Citra pun menghampiri dan bertanya siapa gadis cantik yang sedang dipeluk oleh Bunda. Beliau pun memperkenalkab dan reaksinya pun sama.
"Kebetulan, di dalam ada Danang sedang mengajar anak-anak mengaji." sontak Amel sangat senang. Karna dia sangat merindukan sosok kakaknya yang perhatian itu.
Mereka bertemu dan saling bertegur sapa. Lalu saling bertukar nomor ponsel agar mudah berkomunikasi. Sehingga dari pertemuan itu mereka pun akhirnya
saling menyadari bahwa mereka sama-sama jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.
Flashback Off
Begitulah awal pertemu an Amel dan Mas Danang dewasa.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Akhirnya selesai juga bagian ini. Mohon maaf para readers jika beberapa bab ini Author masih menceritakan tentang orang-orang yang berada di sekitar Maretha.
Author mohon komentarnya yaa๐๐๐๐
Biar semangat nyetornya.
__ADS_1
Terima Kasih semyanya๐๐ค
Saturday, 04 Januari 2020