
Setelah bergulat dengan pikiran akhirnya Vena menelpon ayahnya dan juga Pak Danu untuk menyampaikan keputusannya.
“Halo Pi, aku sudah memikirkan semuanya dengan baik,” sapanya mengawali obrolan dengan telepon.
“Baik. Papi harap keputusanmu sangat menguntungkan,” sarkas dari seberang telepon.
Vena tersenyum terpaksa, “Papi gak perlu cemaskan hal itu,” balasnya
“Kalo begitu papi tunggu... Tuuut...,” kemudian mengakhiri panggilan. Vena mendesah pasrah sambil menggembungkan mulutnya.
“Non Vena yakin dengan keputusan ini..?,” tanya Tiara mengerti dengan perasaan nona muda yang sudah diikutinya sejak lulus SMA.
Vena mengangguk ragu. Tiara tidak ingin bertanya lagi, dia tidak ingin membuat atasannya semakin ragu dengan keputusan yang sudah diambilnya.
Tiara menemani Vena ke kantor ayahnya dan menuju ruang eksekusi di dalam ruangan direktur tempat ayahnya berkantor.
Tiara membukakan pintu untuk Vena agar bisa masuk, di dalam ruangan terlihat Pak Danu yang sedang mengobrol serius dengan ayahnya.
“Assalamualaikum, Papi, Om..,” sapanya melirik secara bergantian kedua pria tua itu. Kemudian dia duduk di sofa.
“Waalaikumsalam...,” balas mereka bersamaan dengan sikap yang berbeda. Pak Danu menyunggingkan senyum kepadanya tetapi ayahnya justru tidak memberikan ekspresi apapun.
Pak Budi yang sedang duduk di kursi kebesarannya memberikan isyarat kepada Tiara untuk keluar. Pembicaraan mereka ini rahasia dan sangat penting. Ini juga adalah urusan keluarga mereka.
Pak Budi melirik arloji di tangannya dan menatap pada sahabat sekaligus rekan kerjanya. Tanpa mengutarakan pertanyaannya, Pak Danu sudah mengerti maksudnya.
“Tunggulah sebentar, tadi Jack sudah menelponku mereka sudah di jalan.” Sahutnya. Vena tidak ikut berkomentar, dia hanya diam memainkan ponselnya sambil sesekali melirik dari sudut matanya tingkah kedua pria itu.
Tok.... Tok...
Suara ketukan dari pintu memperlihatkan Jack dan Umbara yang sudah diambang pintu. Umbara melangkah masuk dan duduk di sofa yang sama dengan Vena tetapi berada di ujugnya. Sementara Jack menutup pintu dan menunggu di luar.
Pak Budi pun bangkit dan ikut bergabung bersama mereka duduk di sofa. Suasana semakin tegang. Tidak ada yang bersuara. Hanya tatapan mata mereka yang saling berbicara.
"Jadi apa keputusanmu?,” tanya Pak Budi langsung menghunus tatapannya ke arah putrinya.
Vena menunduk mengambil nafas lalu menghembuskannya. Mengangkat wajahnya dan berusaha untuk tersenyum kepada keduanya.
“Seperti yang papi dan om minta agar aku mempertimbangkan lagi keputusanku tentang perjodohan ini.....” menenggak salivanya yang terasa berat. “Vena.... memutuskan untuk.....” kini pandangannya beralih kepada Umbara yang nampak tegang.
Vena memberi isyarat pada Umbara melalui sorot matanya seakan berkata, “Maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” Umbara mendengus pasrah dengan sorot matanya yang terpaksa.
“Vena.... setuju dengan perjodohan ini.” Katanya menyelesaikan kalimatnya sambil menggigit bibir bawahnya. Mendengar itu membuat Umbara mengepalkan lagi katanya.
Jika Vena sudah setuju, tidak ada lagi cara untuk mencegah perjodohan ini. Umbara menatap pada Vena dengan sorot mata yang penuh tanya. “Tapi Bara tetap tidak akan menerima perjodohan ini meski kalian membunuhku.” Tegasnya bangkit dengan sorot mata yang marah kepada mereka.
Umbara kecewa dengan keputusan Vena, dia tidak tahu mengapa gadis ini mau menerima. Mereka sudah sepakat untuk menunggu Maretha yang koma dan selama itu mereka harus mencari alasan untuk menunda bahkan membatalkan perjodohan diantara mereka.
“Kamu tidak setuju pun perjodohan ini akan tetap berlangsung.” Sahut Pak Danu dengan sorot mata yang sama.
__ADS_1
"Terserah papa mau lakukan apa, aku tetap tidak setuju,” sungutnya dengan penuh amarah.
Vena pun ikut bangkit, dia menatap bingung dengan ketiga pria ini yang sedang bersitegang. Sorot matanya kini berputar memandangi mereka secara bergantian. Umbara sudah melangkah keluar dengan perasaan marah, kecewa, sedih, semuanya campur aduk.
Kedua pria tua itu terlihat senang dengan keputusannya seperti yang terlihat dari ekspresi yang mereka gambarkan di wajahnya. Vena mengambil tasnya dan menyusul Umbara yang sudah melangkah duluan.
"Biar Vena yang bicara dengan Kak Bara...,” katanya sebelum pergi.
“Terima kasih...,” ucap Pak Danu.
Vena pun berlari mengejar Umbara yang berjalan lebih dulu bersama dengan Jack. “Kak Bara... tunggu...,” panggilnya mengejar lelaki itu yang berjalan dengan cepat.
Umbara tidak memperdulikan panggilan dari Vena. “Tuan muda... apa sebaiknya kita menunggunya,” saran jack tetapi Umbara semakin memperpanjang langkahnya.
Umbara merasa kesal karna pintu lift tidak terbuka. Dia menekan tombol lift dengan penuh kekuatan dan berkali-kali. Meluapkan amarahnya pada tombol lift yang tidak bersalah.
“Arrgggjhhhhhhhh......,” geramnya memukul dinding. Jack segera membantunya, menahan tubuhnya untuk tidak melakukan hal yang lebih ekstrem lagi. Dia merasa jika emosi atasannya akhir-akhir ini memang tidak stabil
Vena pun akhirnya berhasil mengejar mereka yang terhalang lift. Vena memperbaiki napasnya yang memburu. Tiara menyusul di belakangnya.
“Kak Bara.....,” katanya dengan napas yang menderu
“Kita harus bicara...,” katanya lagi berusaha. Umbara masih menatapnya dengan sorot matanya yang mulai memerah karna marah.
Vena memelas, “Pliss.....,” mohonnya.
Denting lift berbunyi lalu pintu besi itu pun terbuka. Umbara melangkah masuk lebih dulu, “Ayo...,” ajaknya melirik Vena.
Vena pun ikut masuk ke dalam lift. Kedua asisten itu memilih diam dan tidak menyusul masuk. Mereka paham jika kedua atasannya butuh waktu sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka.
“Kalian nanti menyusul,” perintah Umbara dibalas anggukan oleh kedua assiten itu.
Di dalam lift mereka saling terdiam beberapa saat. Vena terlihat khawatir melihat tangan Umbara yang memerah dan sedikit terluka akibat memukul dinding dengan keras. Dia meraih tangannya lalu melihatnya.
“Kenapa kak Bara selalu bertindak bodoh dan melukai diri sendiri,” tanyanya menatap Umbara dengan kasihan.
Umbara diam dan hanya menatapnya. Namun kemudian dia luluh dengan tatapan Vena. “Bukan urusanmu. Yang sakit tubuhku, bukan tubuhmu” sungutnya melepaskan tangannya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding lift sambil memejamkan matanya.
Vena pun melakukan hal yang sama. Saat lift sampai di basement. Mereka keluar dan berjalan menuju tempat parkir. Umbara membuka pintu mobil dan masuk Vena mengikuti.
Setelah duduk dikursi samping kemudi, Vena membuka dashbord mobil dan mencari sesuatu. “Apa yang kamu cari...?,” tanyanya memperhatikan.
“Perasaan aku simpan disini deh,” Vena tidak menjawabnya justru bergumam sendiri sambil mencari sesuatu. “Nah ini dia..,” katanya tersenyum setelah mendapatkan kotak putih bertuliskan P3K.
Umbara mengernyit. “Sini tangannya aku lihat,” tawarnya. “Gak perlu, nanti akan sembuh sendiri,” sahutnya berusaha melepaskan tangannya dengan memutar kunci mobil.
Vena memaksa menarik tangannya dan melihat tangan Umbara yang memerah dan sedikit terluka. “Biar aku bersihkan lukanya biar gak infeksi,” sahutnya.
Umbara pun pasrah dan menunggu Vena selesai mengoles alcohol pada tangannya yang memerah. “Sudah...
__ADS_1
Kamu lanjutkan gih,” ucapnya.
Umbara pun melajukan mobilnya menuju sebuah kafe yang biasanya dia datangi saat bersama Maretha. Tempat ini adalah tempat favorit mereka karna interior dan pemandangan kafe itu yang selalu membuat Maretha tersenyum dan merasa senang.
Mereka duduk di tempat yang biasanya, memesan minuman kepada pelayan. “Bicaralah.... apa alasanmu melakukan itu,” tuturnya tanpa basa basi.
Vena mengangkat sudut bibirnya, “Aku tahu Kak Bara pasti marah dan kecewa dengan keputusanku,” jawabnya dengan tatapan sendu dan menundukkan kepalanya.
Umbara tidak berkomentar. “Tapi aku melakukannya karna aku memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa aku katakan kepada orang lain termasuk Kak Bara.” Sudut matanya berair.
Sorot mata Umbara yang tadinya kesal berubah sendu melihat ekspresi Vena yang juga tertekan sama dengan dirinya. Vena tersenyum sumbang, “Meskipun sebenarnya aku juga mencintai Kak Bara. Tapi itu tidak akan merubah perasaan Kak Bara terhadap Rere..,” sambungnya lagi.
“Hanya saja......,” tenggorokannya terasa tercekik. Dia hampir keceplosan untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Lalu kenapa kamu masih ingin melanjutkan perjodohan ini.” Tanya Umbara menuntut jawaban. Vena terdiam dia tidak langsung menjawab. Dia terlihat berpikir sejenak.
“Ini untuk kebaikan kita semua,” jawabnya kemudian.
Umbara mengernyit, “Maksudnya...?,”
“Aku tahu Kak Bara sangat mencintai Rere, tapi bisakah Kakak memberiku kesempatan dan waktu untuk membuat Kakak mencintaiku.” Balas Vena kemudian.
Kini Umbara mulai terlihat kesal. “Karena.....,” Vena lagi-lagi tidak melanjutkan kalimatnya. “Pliss, jangan memaksaku..” Menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan ekspresi pasrah.
Umbara pun terdiam, dia pun ikut berpikir melihat sorot mata gadis di depannya kebingungan. Dia pun tidak menuntut lagi penjelasan selanjutnya, “Lalu apa yang kamu rencanakan?,” tanyanya langsung.
Vena pun akhirnya mengaduk minumannya lalu menyesapnya. “Kita buat perjanjian saja sebelum menikah.” Jawabnya kemudian tidak menatap Umbara.
Umbara melipat kedua tangannya di dada, mengernyit dan mempertimbangkan usulan Vena. “Percuma saja kita menolak. Apapun yang kita lakukan tetap tidak akan pernah mengubah keputusan papi juga om Danu.” Sambung Vena.
"Jadi aku sudah memikirkan semuanya dengan baik. Aku juga tidak terus-terusan mengganggu Rere dan melibatkannya di semua permasalahan yang kita hadapi.” Terangnya.
Umbara mendengarkan dengan baik penjelasannya. “Kita akan menerima perjodohan dengan perjanjian kita akan berpisah setelah beberapa tahun, atau kita akan berpisah setelah Maretha siuman. Setelah itu Kak Bara bisa melanjutkan rencana kakak.” Jelasnya merasakan sesak didadanya.
Hampir saja airmata itu jatuh, tapi Vena segera menepisnya. Dia mengalihkan wajahnya ke arah lain agar Umbara tidak melihat airmatanya. “Bagaimana menurut kakak?,” tanyanya menggigit bibirnya bawahnya.
Umbara tidak langsung menanggapi, dia pun memikirkan ke depannya. “Tapi pernikahan itu bukan sebuah lelucon atau permainan, Ve.” Tuturnya kemudian.
Vena sedikit terkejut mendengar penuturan Umbara, “Itu terserah kakak saja. Aku hanya berusaha untuk mencari solusi buat kita berdua.” Gumamnya
“Aku capek ditekan terus oleh papi dan om Danu,” katanya menyembunyikan wajahnya.
Umbara diam dan berpikir. “Baiklah. Aku akan mengikuti rencanamu.” Sahutnya menyetujui. Vena menenggak ludahnya.
“Semoga aku bisa membuatmu jatuh cinta kak dan bisa melupakan Rere. Maafkan aku, Re. Aku tidak bermaksud untuk egois ataupun menyakitimu. Tapi ini demi kebaikan kita semua,”—batinnya berharap.
Mereka berdua pun sepakat membuat perjanjian pernikahan lalu menyetujui perjodohan yang direncanakan oleh kedua orangtua mereka.
Friday, 03 Apr 2020
__ADS_1