
Seperti biasa, pagi ini Arvind mengunjungi Maretha di ruangannya dengan membawa seikat bunga Anyelir sebagai tanda cinta dan harapan. Hal ini sudah dia lakukan dan menjadi rutinitas baginya selama setahun ini.
Arvind memasukkan bunga itu ke dalam vas kemudian meletakkan di meja nakas samping tempat tidur Maretha. Dia lalu duduk dan memegang tangannya. Mengenggegam tangan Maretha dengan kedua tangannya. Lalu dia pun memanadang lembut ke wajah Maretha yang damai dan menyejukkan.
“Hai Sleeping Beauty...” sapanya lembut kemudian mengecup tangan itu.
“Bagaimana tidurmu hari ini..?,” pertanyaan yang selalu diucapkannya setiap kali menemuinya.
Arvind menempalkan tangan Maretha yang dipegangnya ke pipinya, menjadikannya penopang lalu pandangannya ke arah wajahnya. Dia terus menatapnya tanpa berkedip. Kemudian tangan sebelahnya membelainya, “Bagaimana bisa aku selalu merindukan wajah ini..?,” tuturnya sambil menyunggingkan senyumnya.
Dia masih dengan posisi yang sama. “Kamu tahu, aku ingin sekali melihat sebuah senyuman indah dari wajah yang teduh ini.” Tuturnya lagi penuh harap.
“Pasti akan semakin cantik...” gumamnya lagi.
Arvind membasahi bibirnya. “Aku ingin memberitahumu, bahwa orang-orang menganggapku gila. Kamu tahu kenapa..?,” ceritanya.
Sudut bibirnya terangkat, “Mereka berpikir aku gila karna sudah mencintaimu. Haha..” sedikit tertawa.
“Tapi aku tidak peduli dengan penilaian mereka. Karna mereka memang benar. Aku memang sudah tergila-gila denganmu. Aku bisa menjadi gila jika sedetik saja tidak memikirkanmu. Aku akan menjadi gila jika tidak melihat wajahmu.” Akunya menertawakan dirinya sendiri.
“Apa kamu tidak ingin membantuku?,” tanyanya mendekatkan wajahnya.
“Kamu harus bisa bangun secepatnya. Dan membuktikan kepada semua orang bahwa aku tidak gila. Aku tidak salah mencintaimu.” Tambahnya lagi.
Arvind kembali dengan posisinya semula. “Tapi kamu tidak perlu buru-buru. Santai saja, aku akan menunggumu.”
Dia diam sejenak untuk meresapi semua kalimat yang sudah diucapkannya. “Rere.... aku tahu kamu pasti mendengarkan setiap ceritaku. Dan berharap kamu akan memimpikan diriku di sepanjang tidurmu.” Menangkup wajah Maretha dengan sebelah tangannya.
“Hari ini aku tidak bisa mengunjungimu nanti sore. Karena hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan.... hari ini mommy juga pulang.” Tambahnya bercerita.
“Tapi kamu jangan khawatir, besok aku akan datang lagi menemuimu dengan seikat bunga Anyelir kesukaanmu.” Tuturnya berjanji.
Suara ketukan mengalihkan dirinya dan menghentikan ceritanya. “Ehem... Maaf pak boss harus mengganggu kesenanganmu. Tapi sebentar lagi kita ada rapat penting.” Suara Chandra mengingatkan untuk segera mengakhiri cerita dongengnya.
Arvind hanya membalas dengan tatapannya yang biasa. “Aku akan menunggu di mobil,” pamitnya lalu menutup pintu kembali.
Arvind kembali menatap pada Maretha. “Maafkan aku Sleeping beauty, aku harus pergi dulu. Jika tidak Chandra akan terus menganggu.” Pamitnya kemudian mengecup kening Maretha dengan sedikit lama.
Setelah berpamitan Arvind pun berpamitan dan berjalan keluar meninggalkan ruangan Maretha. Hari ini Maretha diserahkan kepada perawat untuk menjaganya karna bunda masih di jalan. Lalu Arvind pun menyusul Chandra yang sudah menunggunya di mobil.
Sepeninggal Arvind pergi, perawat yang sedang ditugaskan untuk menunggu kedatangan bunda menghubungi seseorang.
“Halo, Pak. Ini saya,” sapanya kepada seseorang di seberang telpon.
“Bagaimana keadaan di sana?,”tanya orang itu
“Apakah kita harus meracuninya sekarang..?,” tanya perawat itu yang sedikit ragu-ragu.
“Ada apa..? bukankah itu yang harus kau lakukan, Hah. Kenapa harus bertanya lagi..?,” geram seseorang itu.
“A—aku hanya ingin memberitahu. Ji—ka Reinhard Muda baru saja keluar dari kamarnya.” Lapornya dengan sedikit waspada. Matanya melirik kanan dan kiri, mengawasi jika tiba-tiba ada seseorang yang mencurigai dirinya.
“Kalo begitu, tunda saja dulu. Tapi kamu harus pastikan jika kondisi gadis itu semakin parah.” Perintahnya lagi.
“Baik Pak.” Kemudian percakapan mereka pun berakhir.
__ADS_1
Didalam mobil Arvind mengepalkan tangannya dengan keras menahan emosinya yang sudah mulai memuncak. Kecurigaannya dua hari yang lalu dengan perawat yang memeriksa Maretha benar.
Dengan cepat dan tanpa sepengatahuan dari keluarga Maretha, dia telah memasang kamera di sekitar kamar Maretha dengan posisi yang tidak pernah diduga oleh orang lain.
“Segera hubungi Martin untuk membereskan perawat itu dan cari tahu siapa yang telah membayarnya.” Perintahnya kepada Chandra dengan sorot mata nyalang.
Chandra tidak membalasnya, dia langsung menghubungi Martin sesuai dengan perintah dari Arvind.
Dia masih memperhatikan layar ponselnya, dia masih melihat jika perawat itu belum melakukan sebuah tindakan. Hingga sosok bunda pun muncul pada layar lalu berbicara dengan perawat.
Kemudian dia meletakkan ponselnya setelah memastikan Maretha sudah aman, dan Martin sudah membawa perawat itu ke suatu tempat.
Dia lalu menyandarkan punggungnya sambil menautkan kedua alisnya. Sambil kepalan tangannya ditempelkan di bibirnya. Chandra hanya memperhatikannya dari kaca spion. Jika ekspresinya seperti menandakan bahwa atasannya itu sedang memikirkan sesuatu.
“Hubungi Martin, jangan dulu melakukan apa-apa dengan perawat itu. Aku ingin tahu permainan apa yang sedang mereka kerjakan.” Perintahnya lagi membuat Chandra tidak menggeleng.
“Terkadang aku pun merasa takut dan ngeri melihat ekspresi dan tatapanmu yang seperti ini. Itu seperti.... Iblis kejam yang tidak berperasaan”—pikir Chandra.
Arvind melihat ekspresi Chandra, “Apa yang sedang kau pikirkan, heh”tanyanya dengan menyeringai.
Chandra melirik ke arah spion untuk melihat bosnya. “Aku hanya berpikir... Kamu ini bisa menjadi Iblis yang sangat
menyeramkan.” Sahutnya.
“Thanks pujiannya.” Balasnya
“Ck..ck..ck.. Aku sedang tidak memujimu bro, tapi sedang mengejekmu.” Timpalnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Tapi aku anggap itu pujian.” Kilahnya dengan smirk khasnya.
“Terserah kau sajalah,” sungutnya dengan jengah.
***
Arvind dan Chandra baru saja melakukan rapat dengan beberapa klien untuk proyek tambang yang sedang dikelolanya di kota K. Dia baru saja menduduki kursi kebesarannya. Chandra langsung menyodorkan map
yang baru lagi ditangannya.
“Ini adalah proposal merger yang diberikan oleh Carnation Company di Belgia. Aku sudah membacanya dan memeriksanya.” Lapornya detail
Arvind menerima map itu. Membaca dan memeriksa kembali beberapa perjanjian dan advantage lainnya berhubungan dengan Merger itu. “Aku rasa, kita harus mengganti point 3 ini yang lebih menguntungkan untuk kita.” Sambil memperlihatkan bagian yang harus mereka tambahkan.
Chandra pun langsung menggantinya sesuai dengan yang diinginkan oleh Arvind di laptopnya.
“Apa menurutmu ini sudah bagus..?,” tanya Chandra dengan tatapan sedikit ragu.
Arvind mengangkat sebelah alisnya. “Karna aku mendengar jika Savage Corp juga berminat untuk melakukan merger dengan mereka.” Tambah Chandra.
"Hem... ternyata mereka pun tertarik dengan perusahaan yang sudah mau bangkrut ini.” Tuturnya mulai berpikir.
“Yah, pada kenyataannya memang seperti itu. Tapi kamu kan tahu jika Carnation Company adalah satu-satunya perusahaan yang produknya paling laris di Belgia dan beberapa negara tetangganya yang lain.” Tambah Chandra lagi.
Arvind menyunggingkan senyumnya, “Tidak perlu. Mereka hanya berharap jika kita yang menerima Merger itu. Savage Corp hanya sebagai umpan saja.” Pikirnya yang membuat Chandra merasa takjub untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Ditengah mereka sibuk dan asyik berdiskusi tentang perusahaan dan beberapa pekerjaan lainnya. Mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba dan dengan tatapan marah.
“ARVIND ZARFAN REINHARD..” panggilnya berdiri di ambang pintu yang terbuka dengan paksa .
Mereka berdua pun menoleh ke arah sumber suara yang nyaring. Mereka terkejut melihat kehadiran seorang wanita yang berusia hampir 50 tahun dengan mengenakan dress span berwarna merah yang panjangnya dibawah lutut, dengan sepatu hitam berhak tinggi. Sedang berkacak pinggang dan menatapnya dengan tajam.
“Mommy....,” panggilnya saat melihat sosok ibunya yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.
Arvind dan Chandra seketika bangkit dan berjalan mendekatinya. “Tante Vinda..,” sapa Chandra sopan
“Kalian berdua benar-benar ya sudah melupakan mommy.” Geramnya mengacuhkan mereka berdua pura-pura.
Chandra salah tingkah karna merasa bersalah, tetapi Arvind justru bersikap santai. “Maaf... tante.. bukannya maksud melupakan tante... tapi... kami kira tante datangnya jam 7 malam ini.” Jawabnya berusaha menjelaskan.
“Mommy... plis jangan bersikap lebay seperti itu,” tukas Arvind merasa jengah dengan sikap ibunya yang suka berlebihan.
Mommy atau Nyonya Vinda Reinhard yang juga ibu kandung Arvind merasa kesal dengan sikap anaknya. “Kamu ini, bukannya memeluk mommy malah menghujamkan protes.” Ucapnya menjewer telinganya.
Tapi kemudian dia pun memeluk anak semata wayangnya yang tampan. “Aku pasti merindukan mommy.” Tuturnya membalas pelukan ibunya.
Kemudian Mommy pun merangkul Chandra yang sudah dianggapnya seperti anaknya juga. “Kamu juga Chand, apa tidak merindukanku..” kali ini mommy merentangkan kedua tangannya setelah melepaskan pelukannya dari Arvind. Bukan, tapi Arvind yang melepaskan pelukannya.
Chandra pun berangsur memeluk wanita itu yang sudah seperti ibu baginya dan sudah memberinya kehidupand dan kasih sayang. “Tentu saja aku merindukan tante..” balasnya.
“Duduklah, Mom. Kamu gak capek berdiri terus seperti itu.” Tawar Arvind dengan melirik ke sofa.
Nyonya Vinda pun mengikuti Arvind. Dia duduk di sofa dekat Arvind. Lalu Chandra menghubungi resepsionist untuk membawakan minuman ke dalam ruangan.
“Linda, tolong minta OB atau OG untuk membawakan tiga cangkir kopi ke dalam ruangan CEO secepatnya.” Perintahnya di telpon.
"Baik Pak.!” Balasnya kemudian mematikan pangilan.
“Kalian itu apa selalu sibuk seperti ini...?,” tanya Mommy memandang iba kepada putranya.
“Bukannya mommy sudah tahu,” mengangkat sebelah alisnya.
“Iya, tapi ini sudah lewat jam makan siang, Vind. Mommy khawatir kamu sakit, sayang.” Kali ini tatapannya lembut.
“Thanks Mom selalu mengkhawatirkan Arvind.” Ucapnya lembut
“Kamu ini kan anak Mommy yang tampan dan satu-satunya. Jadi tentu saja selalu mengkhawatirkanmu sayang.” Tambahnya lagi membuat ekspresi Arvind sedikit malas.
Yah, mommy Arvind sangat berbeda seperti yang orang lain bayangkan. Beliau bukan tipikal wanita kaya yang sombong, angkuh, dan suka meremehkan. Justru Mommy adalah tipe wanita yang periang, cerewet, baik hati dan tidak pernah pamer. Dan terkadang mommy akan bertindak konyol untuk sesuatu yang menurutnya itu penting. Mungkin karna kedua pria yang dicintainya memiliki karakter yang dingin. Jadi pas rasanya jika mommy memiliki karakter yang terbalik dengan mereka berdua.
“Untuk mommy sudah membawakan makan siang untuk kalian berdua meskipun jam makan siang sudah lewat. Tapi mommy rasa kalian harus tetap makan.” Katanya lalu mengeluarkan rantang makanan yang baru saja diantar oleh asistennya.
Arvind tersenyum senang begitu juga dengan Chandra. Sudah lama mereka tidak makan masakan dari Mommy. “Wah... Pasti ini sangat enak. Sudah lama aku tidak merasakan masakan tante,” tutur Chandra menjilati bibirnya saat melihat berbagai masakan kesehatan yang enak di atas meja.
“Sejak kapan mommy menyiapkannya?.. Bukannya mommy baru tiba sejam yang lalu,” tanya Arvind.
Mommy tersenyum dan mengerlingkan matanya pada putranya, “Kamu ini sudah lupa ya..? mommy kan bisa menyiapkannya di atas pesawat tadi.” Menyenggol putranya. Tetapi Arvind hanya ber”OH” ria membalasnya.
Tentu saja mommy bisa memasak di atas pesawat pribadi miliknya. Dia sudah memperhitungkan tidak sempat memasak jika harus singgah di kediaman Reindhard. Untuk itu dia pun mempersiapkan semua bahan sebelum berangkat, dan mengolahnya saat di atas pesawat ketika sudah hampir mendarat di Halim Perdana Kusuma.
Mereka bertiga pun akhirnya menyantap masakan yang kelihatannya masih hangat dan lezat itu. Arvind sebenarnya merindukan ibunya tetapi dia sedikit enggan untuk mengutarakannya. Mommy pun sangat paham
__ADS_1
dengan hal itu dan dia bisa melihat kerinduan yang besar di mata putranya.
Friday, 10 Apr 2020