My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Video


__ADS_3

Usia pernikahan Vena dan Umbara sudah berlangsung empat bulan, tetapi mereka hidup seperti orang lain saja meski berada di dalam satu atap. Vena merasa menderita batin dengan sikap dan perlakuan Umbara yang tidak perduli dengan keberadaannya.


“Mas... Ayo sarapan dulu,” ajaknya saat melihat Umbara yang keluar dari kamarnya dengan pakaiannya yang rapih.


Umbara hanya meliriknya, “Aku ada meeting, dan buru-buru. Aku akan sarapan di kantor saja.” Balasnya kemudian berlalu pergi.


Vena menekan dadanya yang terasa sakit, dia pun buru-buru memasukkannya ke dalam kotak dan berlari menuju depan. “Kalo begitu bawa ini untuk kamu makan di jalan,” tawarnya menyerahkan kotak makan pada suaminya.


Umbara menatap kotak itu, kemudian dia pun menerimanya. “Terima Kasih. Aku akan memakannya di jalan.” Sahutnya kemudian masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Jack yang masuk di kursi kemudi.


Mobil suaminya pun sudah meninggalkan halaman rumah. Tanpa terasa dia meneteskan airmata untuk kesekian kalinya. “Aku akan tetap berusaha, Mas sampai kamu cinta dan perduli denganku.” Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Dia pun kembali masuk ke dalam rumah. Duduk di meja makan menikmati sarapannya seorang diri. Pandangannya nanar, dia pun mengunyah dengan sangat pelan.


“Non, gak apa-apa..?,”tanya Tiara menghampirinya sedikit khawatir.


Vena tersenyum paksa dan menoleh pada Tiara. “Temani aku sarapan.” Perintahnya melirik kursi di depannya.


Tiara pun menarik kursi di depannya. Dia menemani Vena sarapan dalam diam. “Tiara....,” panggilnya.


Yang dipanggil pun mengangkat wajahnya. “Ada apa Non..?,” tanyanya.


“Temani aku ke rumah sakit yaa..!,” perintahnya yang mendapatkan anggukan dari Tiara.


Setelah sarapan dan bersiap-siap, Tiara dan Vena pun menuju rumah sakit. Tiara dengan setia selalu mendampingi majikannya.


Setelah mengisi daftar buku pengunjung dan meminta persetujuan dari kepala perawat yang ditugaskan untuk mengontrol kamar Mareteha. Vena pun ditemani oleh seorang perawat menuju kamar 1702.


Sejak kejadian hari itu, dan saat ini Bunda, Ibu Citra ataupun Alisya agak sulit untuk menjaga Maretha. Mereka pun akhirnya meminta untuk memberikan pengawasan dari pihak rumah sakit jika tidak ada yang bisa menjaganya. Lagipulan dari jauh pun Arvind bisa mengawasinya melalui CCTV yang sengaja dia pasang tanpa sepengatahuan dari pihak keluarga.


Perawat yang diname tagnya tertulis “ZASKIA” membukakan pintuk kamar dan menggeser sedikit badanya untuk memberikan ruang bagi Vena masuk.


“Silakan masuk bu!,” tawarnya sopan sambil memberikan senyuman pada Vena.


“Terima Kasih,” balasnya juga dengan tersenyum.


Perawat itu menutup kembali pintu dan dia pun meninggalkan mereka berdua menuju ruang perawat yang berada di dalam lantai 17. Tiara menunggu di depan kamar sambil berjaga-jaga.


Vena menarik kursi yang berada di samping tempat tidur Maretha. Dia duduk, memandangi wajahnya dari atas hingga ke bagian kaki. Memperhatikan tubuh itu yang sama sekali tidak memberi respon.


Setelah puas dia pun mengalihkan pandangannya pada layar monitor yang menyala yang tersambung pada detak jantung Maretha, dan sebuah tabung gas yang memberikan pernapasan pada tubuhnya. Vena mendesah sedih


melihat peralatan itu, sahabatnya tergantung dari peralatan medis yang terpasang ditubuhnya.


Dia menundukkan wajahnya kemudian meneteskan airmata. Apa yang harus disedihkan, apa yang harus dia keluhkan, sementara dia masih bisa bernapas dengan bebas. Jantungnya pun masih berdetak dengan normal.


Seketika Vena memeluk tubuh Maretha yang tidak bergerak. Tubuhnya gemetar karna tangisnya yang pecah. Melihat dari layar ponsel membuat Arvind sedikit terkejut dan bergidik ngeri. Hampir saja dia meminta untuk Chandra untuk menyiapkan mobil dan segera ke rumah sakit jika saja Vena tidak bangkit kembali.


Vena bangkit dan menghapus airmatanya. Memejamkan matanya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“Re... Maafin aku, aku gak tahu kenapa aku menjadi lemah dan cengeng seperti ini,” ucapnya dengan sesenggukan.


Dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Setelah merasa cukup dia pun meraih tangan Maretha dan mengenggammnya sambil meletakkan sikutnya pada tepian ranjang.


Vena tersenyum samar, “Re.... Aku gak tahu harus cerita dengan siapa? Tapi dipikiranku hanya ada kamu.” Katanya lagi mulai mengutarakan.


“Kamu tahu aku sudah menikah dengan Kak Bara tiga bulan....,” kemudian dia menunduk lagi. “Tapi aku tidak merasakan pernikahan yang seharusnya,” airmata mulai mengalir dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Arvind yang menyaksikan itu mengerutkan dahinya. Hingga dia memikirkan untuk memasang pengeras suara di sekitar kamar Maretha agar dia bisa mendengarkan percakapan orang. Kemudian pikiran itu pun ditepisnya, karna dia tidak ingin menjadi penguping.


Chandra memperhatikan sikap bosnya itu. “Ada apa heh..?,’ tanyanya dengan curiga. Arvind tidak menjawabnya, dia hanya menunjuk pada layar ponselnya bahwa dia melihat rekaman CCTV di kamar Maretha. Dia pun hanya membentuk jarinya menjadi huruf “O” mengisyaratkan bahwa dia mengerti.


Vena kembali terisak, “Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik bagi Kak Bara selama 3 bulan ini. Tapi dia sama sekali tidak pernah menganggapku, aku tahu jika pernikahan hanya terpaksa. Tapi apakah aku tidak berhak mendapatkan pengakuan ataupun perlakuan manis dari suamiku..?,”


“Aku tidak ingin meminta banyak padanya, aku hanya ingin dia menganggapku sebagai istri sampai perjanjian yang kami buat pun berakhir. Apakah itu bisa juga kudapatkan, Re...,” dia kembali sesenggukan.


“Aku tahum tidak sepantasnya aku menceritakan ini semua padamu. Tapi aku gak tahu harus bercerita dengan siapa? Kamu satu-satunya sahabat yang selalu mendengar semua keluh kesahku.”


“Re... aku kangen sama kamu. Aku berharap kamu cepat sembuh, aku ingin mengakhiri semua penderitaan ini.” Harapnya mengguncang tubuhnya berharap tubuh itu merespon.


Vena berusaha lagi menghapus airmatanya. Dia menengadahkan wajahnya, dan kembali menghirupa udara sebanyak-banyaknya untuk melegakan hatinya yang sesak. “Re, terima kasih telah menjadi sahabat terbaik


untukku. Terima kasih karna sudah mau mendengarkan ceritaku.” Ucapnya kemudian mengecup keningnya.


Diam-diam Tiara merekam saat Vena mengutarakan semua isi hatinya pada Maretha. Dia bermaksud kan membantu majikannya agar bisa mendapatkan perhatikan dan balasan dari suaminya.


Tiara lalu mengirimkan video ke nomor Jack asisten dari Umbara. “Tolong perlihatkan video ini pada Pak Bara.” Tulisnya sebagai pengantar.


“Maafkan aku, Non. Tapi aku tidak ingin melihat Non Vena terus-terusan sedih dan menangis karna suami Nona yang tidak peka.” Ucapnya setelah mengirim video itu pada Jack.


Vena menghapus airmatanya, dia telah merasa puas. Beban dihatinya sedikit berkurang. Meski tidak akan ada perubahan, setidaknya dia bisa merasa sedikit lega. Vena pun akhirnya berpamitan dengan Maretha.


Tanpa sengaja matanya melirik di meja nakas, “Anyelir..???,” pikirnya merasa heran. Namun dia pun urung untuk menambah beban pikirannya.


Dia pun keluar dari kamar dan menemui perawat yang tadi mengantarnya. Tiara mengikuti di belakang.


“Kita mau kemana Non..?,” tanya Tiara


***


Ponsel Jack berdering sebagai tanda notifikasi dari pesan yang masuk. Dia melihat sekilas di layar ponselnya nama


pengirim.


“Tiara.... Asistennya Nyonya...?,” Gumam Jack mengernyit. Kemudian dia pun membuka pesan dari Asisten dari Vena yang juga merupakan majikannya sekarang.


“Tolong perlihatkan video ini pada Pak Bara”, Jack belum membuka video yang dikirim. Dia pun semakin penasaran.


Dia membuka file video, bukan kepo tetapi merupakan salah satu dari jobdesknya sendiri. Dia harus memverifikasi sesuatu sebelum melaporkannya kepada atasannya.


Tanpa terasa Jack terenyuh dengan video yang baru saja dikirimkan oleh Tiara. Dia pun berpikiran sama dengan Tiara. Jika Umbara tidak memperdulikan Vena sebagai istrinya. Dia pun sudah beberapa kali mengingatkan Umbara agar lebih peka dengan istrinya.


Jack mondar-mandir sambil berpikir. Apakah video ini dia harus teruskan ke ponsel Umbara, atau dia harus memperlihatkannya langsung. Dia sangat paham dengan sikap dari atasannya.


Setelah beberapa saat berpikir, Jack pun beranjak dan menuju ruangan Umbara. Dia mengetuk pintu ruangan Umbara. Dari dalam terdengar sahutan untuk memintanya masuk.


“Ada apa jack..?, tanya Umbara masih sibuk dengan layar laptonya.


Jack memberanikan dirinya untuk mendekat. “Saya ingin memperlihatkan sesuatu pada Anda, Pak..” sahutnya berdiri di depan meja Umbara.


Umbara pun berhenti dari aktivitasnya. “Kalo gak penting, aku.....,”


“Ini sangat penting, Pak..”, potongnya.


Umbara menatapnya serius. “Maaf, Pak saya lancang memotong Anda. Tapi ini sangat penting menurut saya.” Jawabnya sambil menundukkan wajahnya sedikit.

__ADS_1


“Baiklah... Apa yang ingin kamu perlihatkan.” Ucapnya.


Jack pun mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Kemudian dia membuka pesan dari Tiara. Lalu dia menyerahkan ponselya pada Umbara.


Umbara terkejut melihat rekaman video itu. Melihat Vena yang sedang menangis sesenggukan seperti itu.


“Apakah selama ini dia begitu menyakiti Vena tanpa ia sadari..?, pikirnya sambil melihat video itu.


Umbara nampak berpikir setelah memutar video rekaman yang dikirim oleh Tiara. Dia memberikan kembali ponsel Jack.


“Jack... Apa kamu juga berpikir jika selama ini saya telah menyakiti Vena..?,”tanyanya.


Jack mengangguk, “Maaf Pak.” Jawabnya.


Umbara menyatukan tangannya dan menjadikan sikunya sebagai tumpuan di atas meja. Menundukkan wajahnya, menekan keningnya dengan kedua tangannya. “Tapi kamu juga tahu, jika pernikahan kami ini karna adanya perjanjian yang disepakati bersama.” Tuturnya kemudian.


“Benar Pak. Tapi, saat ini Anda sudah menikah dan sudah seharusnya Anda bertanggungjawab dengan Nyonya. Setidaknya bisa memperlakukannya sebagai istri. Ungkapnya ragu-ragu.


“Maaf jika saya lancang, Pak.” Sambungnya lagi.


Umbara terdiam. Dia mengangguk membenarkan kata-kata asistennya. “Pernikahan itu bukan sebuah permainan, Pak atau sekedar mencoba. Jika merasa bosan atau tidak puas, maka dengan mudah bisa ditinggalkan atau diabaikan.”


“Tidak ada salahnya, jika Anda memberikan ruang untuk Non Vena. Setidaknya sampai Non Maretha sadar.” Tambahnya lagi mengingatkan.


“Maaf pak, sebagai seseorang yang sudah menikah. Hanya ini yang bisa saya sarankan kepada Anda. Karna sebagai seorang suami, kita harus memperhatikan istri meskipun itu dengan terpaksa. Karna orangtua mereka telah menyerahkan tanggungjawab itu kepada kita.” Nasihatnya lagi.


Pandangan mata Umbara nanar. Dia memikirkan setiap kalimat yang diucapkan oleh asistennya. “Lalu apa yang harus saya lakukan...?,” tanyanya.


Jack tersenyum, “Cukup dengan perhatian kecil saja, tuan. Misalnya mengucapkan selamat pagi disaat pagi hari, mengecup kening sebelum ke kantor, atau memuji masakannya meskipun rasanya tidak enak.”


Umbara melirik Jack, “Apa kau melakukan itu semua..?,” Jack pun mengangguk.


“Pasti istrimu sangat bahagia, Jack.” Pujinya membuat Jack menggaruk kepalanya yang tidak gatal salah tingkah.


“Begitulah, Pak.” Menundukkan wajahnya.


Umbara pun bangkit dari kursinya. Mengancing kembali jasnya, lalu dia menekan nomor sekertarisnya. “Apakah sore ini aku ada jadwal..?,” tanyanya kepada Lala.


“Tunggu Pak saya cek dulu.” Jawab Lala.


“Sore ini Anda kosong, Pak.” Sahutnya kemudian setelah melihat agenda atasannya.


“Baiklah, Lala. Terima kasih.” Ucapnya kemudian mematikan saluran telpon.


Dia pun beranjak keluar dari kantor. “Ayo Jack..” ajaknya dengan isyarat kepala.


Jack mengernyit, “Kemana Pak...?,” tanyanya kebingungan.


“Bukannya harus memberikan perhatian kecil kepada istri kan?, jawabnya dengan tersenyum.


“Mungkin dengan membelikan sesuatu untuk Vena, bisa menyenangkannya.” Tambahnya.


Jack pun mengangguk paham. Dia pun mengikuti atasannya menuju mobil dan ke pusat perbelanjaan.


 


Friday, 17 Apr 2020

__ADS_1


__ADS_2