My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Penolakan


__ADS_3

Setelah pertemuan itu Umbara menghampiri ayahnya yang sedang duduk santai di ruang tamu apartemen miliknya sambil membaca koran.


"Pa, aku ingin bicara sebentar," selanya duduk di seberang ayahnya.


"Jika kamu ingin membahas tentang gadis itu, kamu sudah tahu jawabannya." jawabnya tanpa menoleh sedikit pun


"Tidak bisakah papa menilai seseorang dari sifatnya? Mengapa harus dilihat dari kekayaan seseorang." Protesnya.


Pak Danu masih fokus dengan korannya yang sedang dibaca.


"Papa tidak peduli. Aku sudah memilih gadis untukmu dan kamu juga sudah mengenalnya. Jangan membuat hubungan ini jadi rumit." Katanya masih fokus dengan korannya.


Umbara mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. "Tapi aku tidak pernah mencintainya, Pa. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku saja."


Pak Danu melipat korannya. Dia lalu mengangkat kaki kanannya yang bertumpu pada kaki kirinya.


"Cinta akan datang sendirinya jika kamu membiarkan hatimu untuk terbuka." Balasnya dengan nada serius.


Umbara menggeretakkan giginya menahan amarah yang mulai membuncah. Dia bangun dari duduknya dan ingin pergi meninggalkan ayahnya.


"Aku tidak peduli dengan gadis itu. Papa tidak akan melarang jika kau ingin bersenang-senang dengannya. Asalkan kau tidak membuatnya hamil saja." Balas Pak Danu sinis.


Umbara tidak berbalik badan. Pandangan matanya menggelap. Dia sangat marah pada ayahnya. Bisa-bisanya ayahnya berkata seperti itu. Maretha gadis yang baik dan berhak untuk diperjuangkan.


"Justru itu yang ingin kulakukan agar Papa tidak punya alasan lagi untuk menolaknya." Tantang Umbara mengalihkan pandangannya pada ayahnya tanpa memutar tubuhnya. Dia menatap tajam pada ayahnya.


"Umbara! Kau!," Geram Pak Danu berdiri dari duduknya.


Umbara tidak memperdulikan teriakan ayahnya. Dia tetap berjalan keluar apartemennya meninggalkan ayahnya. Amara yang sejak tadi menyaksikan perdebatan antara putra dan ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan meneteskan airmata melihat perdebatan mereka.


Umbara melirik ibunya, dan tersenyum padanya. "Maafkan Bara, Ma tidak bisa mengantarmu ke Bandara." Ucap Umbara lembut pada Ibunya.


Amara menenangkan napasnya yang tercekat. Dia berusaha tersenyum dengan putranya. "Mama ngerti kok. Kamu hati-hati ya." balasnya memeluk putranya.


Umbara pun pergi tanpa memperdulikan perkataan ayahnya. Dia sangat marah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu kenapa Mas? Ada masalah ap," tanya Maretha memperhatikan sikap Umbara yang lebih banyak diam dengan tatapan kesal dimatanya.


Saat ini mereka sedang menikmati makan siang bersama di Kafe Kampus.


Umbara tidak merespon. Maretha mengelus punggung tangan Umbara. "Yasudah kalo kamu gak mau cerita. Tapi tolong redam amarahmu apapun itu alasannya. Kamu jangan menyimpan dendam." Nasihat Maretha memahami tatapannya.


Umbara menoleh, dia memegang tangan Maretha. "Kamu memang selalu mengerti diriku meski aku tak cerita." katanya lalu mencium punggung tangannya.

__ADS_1


Maretha tersenyum, "Aku tahu Mas. Tapi tolong jangan dendam sama Papamu. Beliau berhak jika menolak diriku. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya." Tambah Maretha lagi.


Umbara tertunduk lesu. "Aku tidak apa-apa Mas. Jika memang kita sudah berjuang agar Papa Mas Bara mau menerima lalu suatu saat dia menolak. Mungkin saat itu pula memang kita harus berhenti."


Maretha menarik napas. "Dan jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, sekeras apapun Papa Mas menolak suatu saat beliau pun akan memberikan restu."


"Saat ini aku ingin berjuang dengan Mas Bara agar beliau mau menerimaku." katanya panjang lebar.


Umbara tersenyum dan mengelus pipi Maretha. Dia merasa sangat senang karna wanita yang dicintainya sangat pengertian dan meneduhkan hatinya.


Mereka berdua pun tidak pernah menyerah agar ayah Umbara bisa merestui. Maretha membuktikan dirinya layak menjadi kekasih Umbara. Hingga pada akhirnya Umbara menyelesaikan kuliahnya dan tengah menjalankan perusahaan ayahnya. Dan Maretha pun telah dilamar oleh perusahaan besar di Indonesia dibidang Garment dan Advertising sebagai Consultan Bisnis Management padahal kuliahnya belum selesai.


Umbara bolak balik Indonesia Australia untuk menemui Maretha. Banyak rintangan pada hubungan mereka dan akhirnya perlahan bisa mereka lewati. Kecuali sikap ayah Umbara yang masih belum menerima Maretha sebagai kekasih anaknya. Meskipun Amelia dan Mas Danang menjamin tentang identitas dan jati diri adiknya.


Dua hari lagi Maretha akan di wisuda. Bunda, Amel dan Mas Danang sudah datang sebagai keluarga untuk menghadiri acara tersebut. Mereka tinggal di apartemen milik keluarga Amel karna rumah yang mereka tinggali selama kuliah sepenuhnya ditempati oleh Lisda dan keluarganya yang juga turut hadir.


"Gak nyangka ya dek akhirnya kamu diwisuda juga." Kata Amel yang sedang menyuapi anaknya Kevin yang berusia 2 tahun.


"Ini juga berkat dukungan dari Mbak dan Mas Danang." sambung Maretha memeluk pinggang Bunda.


"Aku gak sabar melihatmu di atas panggung atas prestasi yang kamu raih dek," sambung Mas Danang yang baru saha bergabung dengan mereka.


"Apaain sih Mas Danang." Balas Maretha memerah.


Bunda mengusap kepalanya, "Alhamdulillah. Bunda bersyukur bisa merawatmu sampai seperti ini." Katanya terharu dan mulai berkaca-kaca.


Maretha mengangkat kepalanya dan menghapus airmata yang mulai jatuh dipelupuk mata Bunda. "Aku yang bersyykur Bun. Berkat kasih sayang bunda aku bisa seperti ini." ucapnya lalu mengecup pipi Bunda bergantian.


Mas Danang juga ikut memeluk Bunda. Amel pun terharu melihat kebahagiaan yang sederhana itu.


"Vena datang gak acara wisuda besok?," tanya Amel.


Maretha melepaskan pelukannya. "Gak tahu sih Mbak. Kayaknya gak datang deh karna dia juga lagi sibuk." Jawabnya.


Amel hanya memberikan ekspresi biasa saja.


Hari wisuda pun tiba. Maretha ditemani oleh Bunda, Amel, Mas Danang dan Kevin. Mereka sangat bahagia. Lisda juga hadir bersama orangtuanya. Umbara pun ikut menghadiri acara wisuda Maretha. Dia mempersiapkan sebuah bucket bunga yang besar untuk kelulusan kekasihnya.


Acara Wisuda berjalan dengan lancar. Semua mahasiswa tampil cantik hari ini tak terkecuali Lisda yang biasanya cuek dengan penampilan. Rektor dan para jajarannya memberikan penghargaan kepada semua mahasiswa yang berprestasi baik di bidang akademik ataupun non akademik.


Lisda pun mendapatkan penghargaan atas penelitian Sciensenya yang pernah dilakukannya. Maretha juga diberikan penghargaan atas prestasinya di bidang akademik yang dibilang fantastis termasuk penghargaan karna telah diterima di perusahaan besar sebagai Consultan Business Management yang termuda. Maretha juga mendapatkan Cumlaude karna dia mampu menyelesaikan studinya hanya 3 tahun.


Sebenarnya Maretha mengikuti acara wisuda setahun lalu yang bersamaan dengan Umbara. Hanya saja Maretha menolak, dia ingin melakukan wisuda bersama teman seangkatannya. Jadi selama setahun itu Maretha bekerja di perusahaan dengan jabatan yang dipegangnya saat ini.

__ADS_1


Setelah acara wisuda selesai mereka melakukan sesi foto bersama. Maretha dan keluarga keluar dari Aula kampus. Umbara sudah menunggunya di depan.


Umbara mendekati Maretha yang baru saja keluar dari Aula. Dia mengulum sebuah senyuman, dengan bucket bunga di tangannya.


Bunda, Amel dan Mas Danang hanya melihat mereka berdua.


"Selamat ya sayang atas kelulusannya." Umbara memberikan bucket bunga yang cantik untuknya.


Maretha menerima bucket bunga itu dengan senyum sumringah dan renyah. "Terima Kasih, Mas." ucapnya bahagia.


Kemudian Umbara berlutut di depannya, dia mengeluarkan kota berwarna biru dari saku celananya. Lalu membukanya. Nampak sebuah cincin dengan batu berlian kecil di tengahnya.


Seketika Maretha menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dan bulir airmata bahagia mengalir di pelupuk matanya.


"Maretha Septin Aura. I Love you, I wish we could live together forever. We can get through all the problems together. I hope you become the mother of my children someday."


Umbara mengambil jeda dan bernapas. "Will you marry me?," ucap Umbara dengan sungguh-sungguh.


Maretha tersenyum bahagia, "Yes!," jawabnya dengan linangan airmata bahagia di wajahnya.


Umbara menyematkan cincin itu pada jari manisnya, lalu mengecup punggung tangannya dengan sayang.


Umbara bangkit dan memeluknya dengan erat. "I love you, Re." bisik Umbara di telinga Maretha.


"I love you too, Mas Bara." balasnya.


Lisda yang menyaksikan adegan itu segera menghampiri sahabatnya lalu memeluknya dan memberinya ucapan selamat.


Bunda, Amel dan Mas Danang pun mengucapkan selamat atas lamaran yang dilakuka oleh Umbara.


Mereka semua berbahagia. Hari ini terlewati dengan senyuman dan tawa yang ceria. Umbara memperlihatkan kesungguhannya untuk menikahi Maretha meski ayahnya belum menerimanya dengan sepenuh hati.


__________________________________


Di Episode berikutnya kembali ke masa yang sekarang. Jadi readers yang mungkin masih bingung, author mau ngasih kejelasan bahwa ini ceritanya mundur yaa.


Supaya di episode berikutnya readers bisa paham dengan beberapa konflik yang akan terjadi berikutnya.


Terima Kasih.


Flashback Off


Sunday, 09 Februari 2020

__ADS_1


__ADS_2