
Maretha sudah menjadi pasien VVIP di VR Medical Hospital selama satu bulan. Perban dikepalanya pun sudah dilepas karna sudah kering. Dokter pun sudah memeriksa keseluruhan kesehatannya, tidak lupa memberikan cairan nutrisi pada selang infus agar kondisinya gula darah, dan lain-lainnya tetap ada.
Entah mengapa hari ini Arvind merasa sangat lelah di kantor. Dia juga sengaja mengemudi sendiri setelah jenuh dengan semua berkas yang ada di atas mejanya.
“Chandra, hari ini selesaikan sisanya. Berikan kunci mobil padaku.” Perintahnya beranjak dari kursi kebesarannya.
Chandra menoleh dan mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan kalimat yang baru saja didengarnya. “Chandra! Kamu tau kan aku tidak suka mengulang kata-kataku!,” gertaknya dan seketika Chandra pun mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
“Ahh.. Iya bos.... ini kuncinya,” sahutnya memberikan kunci mobil.
Arvind lalu menggamit jasnya yang disampirkan di punggung kursinya. Kemudian berjalan mendekati pintu ruang kerjanya. “Serius bos ingin mengemudi sendiri..?,”tanya Chandra meyakinkan.
Dia tidak perlu lagi menunggu jawaban dari atasannya setelah mendapatkan tatapan membunuh dari si pemilik mata hazel itu.
Chandra pun akhirnya melanjutkan pekerjaan sebelum mendapatkan kalimat tidak mengenakkan dari atasannya itu. “Untung aja lo temen gue, kalo bukan mah udah dari dulu gue cabut.” Gerutunya lupa jika Arvind memiliki
pendengaran yang super sensitive.
Arvind berhenti, kemudian menengok ke belakang sedikit. “Kalo udah bosen, silakan buat surat pengunduran diri lo besok,” sarkas dengan smirknya yang membuat Chandra merinding.
Chandra menggeleng menyesali dirinya, “Eng...enggak gitu juga kali bos.... sory bro,” sahutnya sambil menyengir dan membentuk jarinya huruf “V”
Arvind pun berlalu sambil sedikit tertawa dengan membelakangi asisten sekaligus sahabatnya itu. “Hati-hati dijalan...,” teriaknya dan Arvind hanya melambaikan tangannya acuh.
Untuk pertama kalinya setelah kejadian kecelakaan itu Arvind ingin mengemudi sendiri. Yah sejak kecelakaan itu dirinya sempat mengalami trauma untuk tidak mengemudi sendiri. Bayangannya selalu melihat ketika tubuh Maretha menghantam kaca depannya.
Setelah lama berkutat dengan pikirannya sendiri, dia pun akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan parkiran kantornya. Dia membelah jalan yang mulai ramai. Tanpa disadarinya, dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Lama dia terdiam di dalam mobilnya. Entah mengapa dia mengingat pertemuan singkatnya dengan Maretha beberapa kali. Dia pun memejamkan matanya beberapa saat
Flashback On
Dia mulai mengingat saat pertama kali bertemu dengannya ketika acara pernikahan anak dari MR. Warren salah satu rekan bisnis ayahnya. Dia tidak sengaja menabrak gadis di depan lorong toilet yang kebetulan dekat dengan lift. Dia menangkap gadis itu sebelum jatuh terjengkang dan menabrak dadanya, “Maaf akutidak sengaja menabrak Anda,” ucap gadis itu yang kemudian langsung melepaskan tangannya.
Kemudian pertemuannya saat di supermarket di Sydney, saat itu gadis itu salah memasukkan makanan yang
dibelinya ke dalam trolly miliknya dan tidak sengaja tangan mereka bersentuhan. Kemudian gadis itu marah dan mengatainya mesum kala itu.
“Dasar mesum,” pekiknya kala itu dengan memberengut kesal. Saat itu dia hanya menatap gadis itu dengan smirknya kemudian pandangan mereka beradu.
“Maaf nona ini adalah trollyku,” balasnya saat itu kemudian dia memperlihatkan trolly milik gadis itu yang berada diujung koridor.
Wajah gadis itu memerah mungkin merasa malu karna sudah mengatainya mesum, dan dia adalah orang pertama yang berani berkata kasar dengannya. Apakah dia marah? Arvind justru merasa lucu melihat ekspresi gadis itu apalagi saat gadis itu berkali-kali minta maaf padanya.
Kemudian dia pun bertemu lagi dengan gadis yang sama saat di supermarket ketika hendak menyeberang dan sebuah mobil menyambar dirinya. Lagi-lagi dia yang menyelematkannya saat itu. Dan saat itu pun dia bisa melihat bagaima reaksi gadis itu sangat ketakutan karna bisa merasakan tubuhnya gemetar.
Dia pun mengingat saat melihat gadis itu sedang makan malam bersama dengan kedua temannya di sebuah restoran di Sydney, salah satunya adalah Vena.
Flashback Off
Arvind menyandarkan kepalanya pada sandaran kuris kemudi. Dia memijit pelipisnya, “Kenapa dia selalu saja bertemu dengan Maretha disaat gadis itu mendapatkan kesulitan?,” pikirnya.
Dia menarik napas lalu memperhatikan keadaan sekitar, dia baru menyadari jika dirinya berada di rumah sakit. “Kenapa aku bisa ke sini..?,” gumamnya.
Arvind kembali bergelut dengan pikirannya. “Apa sebaiknya dia masuk? Apakah dia harus menemui gadis itu? Tapi bukankah rumah sakit ini miliknya? Jadi tidak seharusnya dia merasa canggung apalagi takut kan?..” pikirinya lagi membuatnya sedikit gusar.
“Kenapa memikirkan Maretha dia jadi kehilangan jati diri seperti ini? Jika Chandra ada di sini habislah dia dikerjai oleh assisten tidak berbakti itu..?,” celotehnya sendiri menilai.
Setelah berpkiri dan bertarung dengan berbagai pertanyaan dia pun akhirnya turun dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Tentu saja karyawan dan perawat bahkan dokter yang melihatnya menyapa dirinya.
Arvind masuk ke dalam lift dan menekan angka 5 pada tombol. Dia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
TING!...
Suara lift berdenting, kemudian pintunya terbuka. Arvind keluar dan berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari lift. Arvind mengetuk pintu dan membukanya dengan pelan.
“Assalamualaikum...,” sapanya mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam...,” jawab Bunda dan juga Alisya bersamaan.
Alisya yang sedang asyik mengerjakan proyeknya pun beranjak menyambut si pemilik rumah sakit yang ganteng tetapi dingin itu.
“Nak Arvind!,” panggil bunda lembut.
Arvind berjalan mendekati wanita dengan kerudung panjang itu dan mengecup punggung tangannya. Sikap itu tidak luput dari pandangan mata Alisya yang merasa takjub dengan si boss besar.
__ADS_1
“Kalo sama bunda kok luluh gitu ya ekspresinya? Tapi kalo sama gue atau yang lainnya kayak gak dianggep gitu...?
pikirnya mengamati.
Arvind duduk di samping tempat tidur Maretha. “Hai..... Gimana kabar kamu?,” sapanya dengan tatapan lunak.
Alisya mendekati bunda, “Bun... dia sering ke sini ya?,” bisiknya. Tapi Arvind masih mampu mendengarnya, hanya saja dia malas untuk menanggapi yang menurutnya tidak penting.
Bunda mengangguk, “Hampir tiap hari,” jawabnya. “Serius bun..?,” tambah Alisya lagi menimpali yang dibalas anggukan oleh bunda.
Alisya mengernyit, “Kenapa yaa”, menggaruk kepalanya. Bunda menyenggol bahunya pelan, “Gak usah terlalu dipikirkan. Nanti kamu pusing sendiri.” Godanya membuat Arvind mengangkat sudut bibirnya yang membelakangi bunda dan Alisya.
Alisya dan bunda sesekali mengobrol dengan bercanda untuk menyemangati dirinya yang tengah pusing membuat konsep dari proyek yang diterima oleh Maretha sebelumnya. Belum lagi dia harus menyiapkan beberapa desain untuk busana yang harus ditampilkan.
“Mending kamu lanjutin konsep kamu gih. Daripada ngurusin orang lain,” tegur bunda lagi.
Arvind tidak banyak bertanya dia hanya memperhatikan wajah damai Maretha yang tertidur pulas. “Sleeping Beauty...,” gumamnya didalam benaknya.
Ponselnya bergetar sebuah notif dari Chandra.
From : Chandra
Lapor boss, semua berkas udah gue beresin
Sekarang gue mau balik
To : Chandra
Ok
From : Chandra
Tapi ada berkas yang mau ditanda tangani?
To : Chandra
Nanti malam antar ke apartemen gue
From : Chandra
Siap boss
"Ada apa ini??,” tanya bunda cemas.
Alisya pun seperti itu dia pun terlihat sangat panik melihat tubuh Maretha kejang-kejang. Dia berlari mencari perawat untuk segera menangani Maretha.
Arvind pun tidak berpikir lama, dia segera mendial nomor Dokter Herman
“Halo ada apa Vin..?,” sapa Dokter Herman diseberang telepon dengan nada sedikit bercanda.
“Buruan ke ruangan Rere, kalo lo gak mau gue pecat!,” balasnya pedas.
Dokter Herman merasa kaget mendengar ancaman dari sepupunya, “Ada apa dengan Rere..?,” tanyanya mulai kuatir.
“Gak tau, dia tiba-tiba kejang-kejang...,” dengan nada cemas.
“Oke gue mutar balik sekarang..” balasnya.
“Buruaannn...,” titahnya merasa panik.
Entah mengapa melihat tubuh Maretha yang tiba-tiba kejang-kejang begitu. Sekujur tubuh Arvind gemetar, ada rasa cemas dan takut dalam hatinya. Hanya saja dia berusaha untuk menyembunyikannya
Dokter Herman sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tetapi karna ponselnya berdering dan melihat di layar tertulis nama “Reinhard Junior” dia segera mengangkatnya.
Alhasil setelah mendengar kepanikan dari sepupunya, dia segera memutar balik. Untung saja dia belum terlalu jauh meninggalkan rumah sakit.
Perawat pun berlarian memasuki ruangan Maretha. “Permisi bu, mohon tunggu diluar kami akan berusaha untuk memberikan pertolongan pertama sampai Dokter Herman tiba.” Kata perawat meminta mereka untuk keluar dari kamar.
Perawat tidak perlu membawa peralatan apapun karena di dalam ruangan Maretha sudah dilengkapi dengan semua yang diperlukan.
Arvind menutupi kecemasannya dengan mengepalkan jarinya didepan mulutnya sambil tangan sebelahnya dimasukkan didalam saku celana.
Sementara bunda dan Alisya mulai menangis, mereka takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Tampak dari kejauhan sudah terlihat sosok Dokter Herman yang berlari. Dia hanya menatap sekilas pada sepupunya kemudian segera masuk ke dalam ruangan Maretha.
Cukup lama mereka berada di dalam ruangan itu membuat jantung yang menunggu berdebar-debar. Alisya pun menghubungi Mas Danang untuk melaporkan kondisi Maretha yang tiba-tiba kejang-kejang. Tidak berapa lama sosok Mas Danang pun muncul karna kebetulan dirinya sedang berada di Indonesia.
__ADS_1
“Bagaimana Rere bu..?,”tanyanya masih dengan napas yang tersengal-sengal karna tadi berlarian masuk ke dalam rumah sakit.
Bunda menggeleng, “Belum tahu.. dokter masih memeriksanya,” dengan isakan tangisnya yang sendu.
Mas Danang pun memeluk tubuh bunda yang mulai lemas karna dokter atau perawat pun belum keluar juga.
Sementara di dalam ruangan dokter Herman dan beberapa perawat melakukan tindakan medis untuk menyelamatkan Maretha. Perawat menyuntikkan obat ke dalam infus, kemudian mengecek EEG (Elektroensefalogram) dan EKG (Elektrokardigram) pada tubuh Maretha. Setelah semuanya dilakukan akhirnya kejang-kejang Maretha pun berhenti. Perawat dan Dokter Herman khususnya bernapas lega.
Mereka pun berangsur keluar dari ruangan, dan mendapati beribu pertanyaan yang tak terucapkan dari keluarga Maretha khususnya sepupunya sendiri.
“Bagaimana kondisi Rere, dokter?,” tanya Alisya yang merangkul tubuh bunda.
Dokter Herman tersenyum tipis, “Rere sudah melewati masa kritisnya, kalian boleh menjenguknya.” Ucapnya
“Terima Kasih dokter,” ucap bunda kemudian sebelum masuk ke dalam ruangan.
Dokter Herman memandangi kedua pria di depannya secara bergantian lalu menunjuk untuk segera merapat ke pinggir. Keduanya paham dengan isyarat dokter Herman.
Tanpa harus menunggu pertanyaan dari sepupunya dokter Herman pun langsung menjelaskan detail penjelasan dari kondisi Maretha. “Pasien mengalami kejang-kejang karna pengaruh dari obat yang disuntikkan. Sepertinya obat itu tidak cocok untuk tubuhnya sehingga kami harus mengganti dan menambah dosisnya agar kejadian ini tidak terulang lagi.” Jelasnya dan sempat mendapatkan tatapan intimidasi dari mata hazel itu.
“Tapi kenapa dia bisa kejang-kejang begitu dokter?,” kali ini Mas Danang yang ingin tahu.
“Pasien koma bisa saja mengalami hal ini jika terjadi ketidakcocokan pada perawatan yang sedang dilakukan. Seperti yang sudah saya jelaskan bahwa beberapa rangsangan yang diberikan tidak memberikan efek apapun
kepada pasien, sehingga kami memberikan beberapa obat untuk membantu agar semua tekanan darah, gula darah, detak jantung dan lainnya bisa berfungsi dengan baik.”
Dokter Herman menjeda, “Tetapi sebenarnya ini pun baik untuk pasien koma seperti Rere. Itu menandakan bahwa tubuhnya masih bisa memberikan respon jika terjadi ketidakcocokan. Dengan kata lain ada kemungkinan bagi
pasien untuk bisa sadar kembali..” terangnya membuat kekhawatiran kedua pria itu sejenak menghilang.
“Lalu berapa lami dia akan mengalami ini...?,” kali ini Arvind yang bersuara.
Dokter Herman menatapnya sekilas. “Kondisi koma pada Rere bisa berlangsung satu bulan, dua bulan, satu tahun, hingga beberapa tahun ke depan. Tergantung bagaimana tubuhnya memberikan respon atau tanggapan terhadap pengobatan yang diberikan.”
Arvind mengernyit, “Maksudnya... jika ke depannya Rere tidak memberikan respon apapun itu berarti ......,” dia tidak perlu melanjutkan kalimatnya karna langsung ditanggapi oleh sepupunya.
“Yups jika beberapa tahun ke depan dia tidak memberikan respon, maka yang perlu dilakukan dengan memberikan Eutanasia (suntik mati) kepada pasien.” terangnya dengan hati-hati.
Mas Danang mendesah gusar, dia memukul dinding yang ada di dekatnya. “Anda tidak perlu terlalu mencemaskan itu. Kami akan berusaha untuk memberikan perawatan dan pengobatan yang terbaik untuk Rere.” Tambahnya menghibur.
“Dengan melihat kondisi pasien yang masih memberikan penolakan terhadap obat-obatan yang diberikan memungkinkan bahwa tindakan itu tidak perlu dilakukan.” Tambahnya lagi.
“Berapa persen kemungkinan itu..?,” tambah Mas Danang.
“20%.” Jawabnya mantap
“Berarti kita bisa memanfaatkan 20% itu,” sahut Arvind merasa yakin.
Mas Danang menatapnya dengan tatapan curiga, begitu juga dengan Dokter Herman. tetapi dokter Herman justru mengukirkan senyumannya. “Untuk memastikan itu, keluarga bisa mengajak pasien untuk mengobrol karna indra
pendengarannya masih berfungsi begitu juga dengan indra penciumannya. Yang tidak bisa dilakukan pasien saat ini adalah berpikir dan bergerak.” Terang Dokter Herman menambahkan sebelum meningalkan kedua pria itu.
Setelah merasa cukup Dokter Herman pun pamit dan meninggalkan kedua pria itu yang terlihat sangat jelas bahwa mereka peduli dan sangat menyayangi Maretha. Salah satunya adalah sepupunya.
“Baiklah saya rasa sudah cukup. Saya permisi dulu!,” pamitnya menepuk bahu Mas Danang dengan pelan dan mengerlingkan mata kanannya kepada Arvind dengan tujuan menggoda pria dingin itu.
Mas Danang merasa sedikit lega mendengar penjelasan dokter bahwa ada harapan bagi Maretha untuk bisa kembali sadar meskipun itu hanya 20%. Dia pun bergegas masuk ke dalam ruangan dan memberitahukan hal itu kepada bunda dan Alisya.
Arvind hanya mengamatinya dari luar, merasa cukup puas melihat wajah damai Maretha dia pun beranjak pergi. Bukan pulang ke apartemennya melainkan kembali ke ruangan ibunya.
To : Dokter Herman
Berikan semua laporan medis Rere padaku
From : Dokter Herman
Siap sepupu
Kemudian dia pun mengangkat sudut bibirnya sambil memutar ponselnya. Lalu sebuah panggilan pun menganggu lamunannya.
“Hem....,”sapanya malas.
“Gue ada di apartemen lo, tapi kosong. Lo dimana?,” tanya Chandra yang tidak menemukan Arvind didalam apartemennya.
“Rumah sakit...,” jawabnya kemudian memutuskan penggilan.
Chandra tentu saja merasa geram dengan kelakuan bos sekaligus sahabatnya itu. Dengan kesal dan malas Chandra pun meninggalkan apartemen Arvind lalu menuju rumah sakit.
__ADS_1
Wednesday, 01 Apr 2020