My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Vena dan Bara


__ADS_3

Matahari menelisik masuk di celah jendela kamar. Arvind masih enggan untuk membuka matanya. Tidurnya terasa sangat nyenyak meski dia harus tidur dalam keadaan duduk di samping Maretha.


Chandra datang pagi-pagi ke rumah sakit untuk mengantarkan pakaian atasannya. Dia berjalan cepat menuju ruangan Maretha. Dia terkejut melihat Alisya yang tidak kunjung masuk ke dalam kamar. Alisya nampak ragu


untuk masuk dan beberapa kali melihat dari kaca pintu.


Chandra berjalan mendekatinya. “Ada apa kok gak masuk..?,” tanyanya ikut mengintip karna merasa penasaran.


“Gue gak berani ganggu...,” jawabnya. Chandra lalu mengerti yang dimaksud Alisya.


Dia lalu mengeluarkan ponselnya kemudian dengan hati-hati dia membuka pintu lalu mengambil gambar pemandangan yang sangat jarang dilihatnya. “Ehhh... lo kok malah motret sih,” protes Alisya menyenggol tangannya.


Chandra menyengir, “Buat serangan balik aja... jarang-jarang bisa melihat pemandangan seperti ini kan....,” cengirnya


menaikkan sebelah alisnya. Alisya pun mengangguk mengerti dengan canggung.


Chandra kembali menutup pintu, kemudian mengetuknya beberapa kali. Mendengar suara ketukan Arvind pun terbangun. Perlahan dia membuka matanya dan mencoba memperhatikan orang yang sudah mengganggu


tidurnya.


Dia terkesiap saat melihat keberadaan Chandra dan juga Alisya. Dia segera bangkit dan terlihat canggung. “Ehhh... kalian..,” ucapnya salah tingkah.


Alisya dan Chandra pura-pura tidak melihat. “Ini bos baju gantinya...,” dia menyerahkan sepaket jas kerja dan kemeja yang terbungkus rapih dengan plastik.


Arvind menerimanya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Alisya lalu menyengir sambik tertawa melihat ekspresi canggung dan salah tingkah manusia dingin itu. Saat Arvind masuk ke dalam toilet mereka pun saling adu tos.


“Jika iblis itu tahu dan marah, jangan bawa-bawa gue yaa...,” ancamnya kemudian menuangkan air ke dalam gelas lalu menyodorkannya pada Chandra.


“Tergantung...,” balasnya melirik Alisya.


PLETAK....


Alisya menjitak kepalanya pelan, “Auw... sadis....,” candanya menggosok kepalanya yang tidak sakit.


Alisya menjulurkan lidahnya yang dibalas tawa renyah dari Chandra melihat ekspresi gadis itu.


Arvind mengernyit melihat kedekatan Alisya dan Chandra tetapi dia bukan tipe orang yang mau tau urusan pribadi orang lain.


“Ayo kita jalan...,” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Chandra yang kebingungan.


Chandra lalu segera berlari kecil menngejar Arvind yang sudah jalan lebih dulu.


***


Kedua orang ini pun berkali-kali harus disidang dan ditekan oleh kedua pria tua yang mereka hormati tetapi diktator terus mendesak.


“Apa kalian masih ingin menolak perjodohan ini, hah?,” tanya Pak Danu sambil membentak dengan giginya bergemeretak.


Umbara sudah mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya terlihat, menahan amarah dan mencoba mengontrol emosinya agar tidak membuat ayahnya mengalami serangan jantung lagi.


Umbara mendesah berat, Vena yang duduk disampingnya memegang tangannya mencoba untuk menenangkan pria ini. “Sabar....” bisiknya sambil menunduk tidak berani menatap tatapan ayahnya yang seperti elang yang siap menerkamnya kapan saja.

__ADS_1


“Ini sudah 3 bulan berlalu, kalian harus lebih realistis,” kecam Pak Danu lagi suara napas yang memburu karena emosi yang memuncak.


Pak Budi terlihat lebih tenang dan tidak bersikap emosi seperti yang dilakukan oleh Pak Danu. “Apa kalian yakin jika membatalkan perjodohan ini, Maretha akan bisa bangun lagi,” sarkasnya dengan tatapan tajam


Vena berdiri, “Kenapa papi berkata seperti itu?,” dia mulai sesenggukan..


“Rere seperti ini juga karna kesalahan kita....,” airmatanya pun mulai tumpah. Pak Budi sama sekali tidak perduli dengan kesedihannya. Dia justru merasa jengah.


Pak Budi pun bangkit dan berjalan mendekati putrinya, “Pikirkan baik-baik... kali ini papi tidak menerima penolakan,”


katanya dengan mata nyalang memandangi Vena dengan penuh penekanan.


Vena tertunduk gemetar dan merasa takut, keberaniannya tiba-tiba menciut melihat ekspresi ayahnya.


Umbara memilih pergi dan meninggalkan ruangan dengan kemarahann yang sudah diubun-ubun. Kini sisa Vena dan Pak Danu yang tinggal di dalam ruangan itu.


Vena terduduk lemas dengan airmata dan mulai sesenggukan. Pak Danu mendesah lalu beranjak menghampirinya. Dia menarik kursi dan duduk di depan Vena sambil memikirkan sesuatu dan cukup lama. Sedikit melirik gadis di depannya kemudian dia kembali berdiri dan mengarah pada jendela. Dia menatap dengan tatapan kosong di luar jendela. Melihat bangunan dan jalanan dari ketinggian di malam ini memang sangat indah. Pemandangan yang sangat indah dengan kerlap-kerlip yang menghiasi pemandangan kota di malam hari.


“Apa kamu tahu alasanku memaksa kalian untuk menikah?,” kali ini Pak Danu bertanya dengan nada tenang tapi tersirat kesedihan yang mendalam.


Vena berhenti menangis, dia masih menundukkan wajahnya. “Apalagi selain alasan bisnis.” Dengan sendu


Pak Danu tersenyum miris, “Sebenarnya itu pengalihan....,” sambil ketawa sumbang dengan melirik sekilas gadis itu.


Vena kini mengangkat wajahnya, “Maksud om...?,” tanyanya memicingkan matanya berusaha mencari kesungguhan dari pria tua di depannya.


Pak Danu berjalan mendekati dispenser yang berada di dalam ruang pribadinya di kantor. Dia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air, kemudian memberikannya kepada Vena.


Pak Danu kembali berdiri di depan jendela, “Aku akan menceritakan sesuatu kepadamu. Aku harap setelah mengetahui semuanya kamu bisa mempertimbangkan keputusanmu untuk menikah dengan Bara.”


Vena mengernyit mencoba memahami perkataan pria ini, “Semua ini karna kesalahan di masa lalu.....,” tuturnya mendapatkan perhatian dari Vena.


Pak Danu pun menceritakan kisah masa lalu yang pernah terjadi dalam hidupnya. Kisah yang merupakan alasan terkuatnya tidak menyetujui hubungan antara Umbara dan Maretha.


Setelah mendengarkan semua cerita itu, Vena terkejut dan tidak percaya dengan kebenaran yang didengarnya. Kini dia pun bingung apa yang harus dilakukan. Dia termangu.


“Kamu sudah mengetahui semuanya. Pikirkanlah baik-baik, Nak..!,” nasihatnya menepuk pundaknya dengan pelan.


“Biarkan ini tetap menjadi rahasia,” tambahnya lagi sebelum meninggalkan Vena sendirian.


Sepeninggal Pak Danu, Vena memaksakan dirinya untuk berpikir. Otaknya dipenuhi dengan berbagai pertimbangan, dia lalu memilih untuk pulang ke rumah dan memikirkan semuanya dengan baik.


Vena merasa sangat lelah, bukan fisiknya tetapi otak dan hatinya yang merasa lelah. “Aku akan menyiapkan aroma therapy agar kami bisa berendam dengan tenang  sekaligus menenangkan pikiran Non Vena,” kata Tiara mempersiapkan kamar mandi untuk atasannya.


Vena hanya mengangguk menyetujui usulan Tiara asistennya. Setelah merasa lebih tenang, dia merendam tubuhnya di dalam bath tub mencium aroma therapy yang sudah disiapkan oleh Tiara. Memejamkan matanya,


menenangkan pikirannya kemudian mengingat kembali semua yang sudah dijelaskan oleh Pak Danu padanya.


Kini dia sudah mengambil keputusan. Dia akan memberitahukan keputusannya kepada ayah dan juga Pak Danu besok pagi.


***

__ADS_1


Setelah pertengkaran itu, Umbara memilih pergi dan mengunjungi rumah sakit. Dia datang menemui Maretha. Yah, penampilannya sudah pasti tidak bagus. Bukan karna dia merasa lelah dengan rutinitas di kantornya. Tetapi lelah dengan pikiran dan hatinya. Dia merasa tertekan dengan sangat frustasi.


“Aku akan meninggalkanmu di sini...,” kata bunda saat melihat kondisi Umbara yang berantakan.


Umbara hanya mengangguk, “terima kasih bunda..,” ucapnya saat bunda sudah berada di ambang pintu.


“Jangan terus-terusan menyalahkan dirimu atas apa yang telah terjadi. Pikirkan juga dirimu dan masa depanmu,” nasihatnya sebelum keluar dan meninggalkan Umbara sendirian di kamar Maretha.


Umbara menundukkan wajahnya memegangi tangannya. Mendesah pelan lalu menitikkan airmata. Tidak seharusnya dia menangis, tetapi dia rapuh dan butuh sebuah sandaran untuk mencurahkan semua yang terjadi dalam hidupnya.


“Re..... aku butuh kamu...,” ucapnya lirih dengan suara serak.


“Disaat seperti ini aku sangat membutuhkanmu. Kamu selalu bijak memberikanku nasihat dan masukan. Cepatlah bangun Re, dan selamatkan diriku..” katanya lagi masih dengan suara yang serak.


Tubuhnya mulai bergetar, menumpahkan segala beban di dalam hatinya. Dia tidak kuasa menahan airmata yang sedari tadi ingin tumpah.


“Kamu pasti akan mengejekku jika melihatku menangis begini. Tapi bukankah laki-laki juga berhak untuk menangis kan,” tambahnya membodohi dirinya sendiri. Suaranya semakin serak.


“Apa yang harus aku lakukan, Re...,?” kali ini dia kembali menundukkan kepalanya.


 "Aku mencintaimu, tapi aku juga tidak bisa egois membiarkan perusahaan hancur..,” lirihnya lagi dengan frustasi.


 Umbara mencium punggung tangan Maretha dengan lama sambil memejamkan matanya. Dia membayangkan senyuman khas Maretha yang selama ini menghiasi hari-harinya. Senyuman yang selalu membuat jantung tidak


sehat. Senyuman yang saat ini sudah hilang.


Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk melegakan hatinya terasa sesak lalu menghembuskannya. Dia melakukannya beberapa kali. Dirasa berhasil, Umbara mengecup keningnya. “Aku mencintaimu, Maretha


sayang...,” ucapnya lalu bangkit dari duduknya.


Umbara tidak menyadari jika di luar seseorang sedang mendengarnya dan terlihat sangat marah. Seseorang itu mengepalkan tangannya dengan kuat, tetapi mencoba untuk mengontrol emosinya.


Hatinya terbakar melihat ketulusan Umbara yang begitu mencintai Maretha. Dia bisa melihat dari sorot matanya yang tulus. Di sana tidak ada kebohongan. Dia lalu beranjak dan pergi.


Bunda yang melihatnya hanya mampu memegangi pundaknya untuk menenangkannya. Pria itu melihat ke arah Bunda dengan tatapan sendu. Hanya mata mereka yang saling berbicara.


Bunda merasa pria itu sudah tenang, dia pun memberinya isyarat dengan mata agar segera pergi bukan bermaksud untuk mengusir. Tetapi sekedar menghindari pertengkaran yang mungkin bisa menjadi sebuah perkelahian.


Setelah pria itu pergi, bunda pun mengetuk pintu.


Tok... Tok....


Suara ketukan pintu membuyarkan Umbara, dia melihat ke arah pintu dan melihat sosok bunda yang tersenyum. “Bunda sudah datang.... mari bun,” Umbara bangkit dan berjalan mendekati bunda.


“Aku pamit bun,” ucapnya meraih tangan wanita itu lalu menciumnya. “Assalamualaikum...,” pamitya kemudian beranjak keluar dari kamar Maretha.


“Waalaikumsalam,” balas bunda dengan pelan sambil memandangi punggung Umbara yang menghilang dari balik pintu.


“Bunda berdoa yang terbaik untuk kalian semua..,” doanya berharap


Thursday, 02 Apr 2020

__ADS_1


__ADS_2