
Setelah saling sepakat untuk mengikuti keinginan orangtua mereka dengan perjanjian yang mereka berdua saja
mengetahuinya. Umbara dan Vena pun menyampaikan keputusan mereka kepada orangtua masing-masing.
Tentu saja Pak Danu dan Pak Budi sangat senang mendengar akhirnya mereka setuju dan menyerah dengan kekeraskepalaannya mereka. Khususnya Pak Danu terlihat lega mendengar sendiri Umbara menyampaikan
persetujuan untuk menikah.
Umbara baru saja masuk ke dalam rumah dengan ekspresi lelah. Ibu Amara menghampiri putranya dan menyambutnya dengan sayang. Umbara tersenyum lembut dengan ibunya.
Ibu Amara mengajak putranya untuk bergabung di meja makan. Dia sudah memasak makanan kesukaan kedua pria kesayangannya. “Kamu pasti lelah, Nak. Kita makan dulu,” ajaknya menuntun Umbara menuju meja makan.
Di meja makan Pak Danu hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan mengunyah makanannya. Ibu Amara mengambilkan nasi dan meletakkan di piring Umbara. Mengisi gelasnya dengan air putih.
Melihat kedua pria itu saling tidak menyapa membuat Ibu Amarah jengah. Dia pun memutuskan untuk duduk melanjutkan makannya dalam diam. Tidak ada obrolan kecuali suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Umbara menenggak air yang tadi diisi oleh ibunya. “Aku setuju.” ucapnya kemudian membuat Pak Danu menghentikan aktivitasnya.
Dia berusaha mencerna kalimat yang baru saja diutarakan anaknya. “Apa?.,” tanyanya meyakinkan pendengarannya.
Umbara tersenyum tipis, “Aku bilang aku setuju. Aku akan menikah dengan Vena.” Sahutnya kemudian.
Pak Danu dan Ibu Amara saling bertukar pandang mendengar perubahan dari putranya. Ibu Amara pun memeluk putranya. Sementara Pak Danu tertawa kecil sambil menyunggingnkan senyumnya.
Umbara pun bangkit dari duduknya, “Atur saja sesuai dengan yang kalian inginkan. Aku akan menurutinya.” Katanya sebelum meninggalkan meja makan.
Pak Danu merasa sangat senang sekaligus lega. “Mah... kamu dengar kan... Dia akhirnya setuju,” ucapnya sambil meneteskan airmata bahagia.
Ibu Amara pun ikut senang, “Iya pah... mamah juga mendengarnya,” sambungnya memeluk suaminya.
Kemudian Pak Danu pun menghubungi Pak Budi tentang keputusan Umbara yang menyetujui perjodohan ini.
Di dalam kamar, Umbara duduk di tepi ranjangnya. Menunduk dan mendesah pasrah. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas kasur king size. Menatap langit-langit kamarnya, “Maafkan aku Re.... Tapi aku janji akan secepatnya menyelesaikan perjodohan ini. Aku akan tetap mencintaimu.” Gumamnya.
Di tempat lain, Vena pun merasa senang meskipun dirinya sendiri tidak yakin dengan keputusan ini. Setidaknya dia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Meski pada akhirnya nanti teman-temannya akan mencemooh dirinya bahkan menjauhinya. Tapi ini adalah keputusan paling benar yang harus dia lakukan.
“Maafkan aku Re,.... Tapi.... bolehkan aku egosi sedikit,” gumamnya menggigit bibir bawahnya.
***
Setelah mengambil gambar Maretha yang sedang tertidur yang memperlihatkan wajah damai gadis itu. Sejak saat itu pula layar ponselnya terganti dari gambar abstrak menjadi wajah Maretha yang damai. Dan setiap kali dia merasa lelah, dia akan memandangi gambar itu di ponselnya. Kemudian sudut bibirnya pun tertarik membentuk senyuman.
Di atas mejanya menumpuk dokumen yang harus dia tanda tangani yang berisi laporan dari masing-masing kantor yang menjadi tanggung jawabnya. Yah, Arvind memimpin beberapa perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya seperti Mall, Periklanan, Finansial, Insurance, Percetakan, Hotel, Perumahan, dan juga Automotif yang saat ini bekerja sama dengan perusahaan miliki Mas Danang yang bergerak dibidang itu. Yayasan Pendidikan dan Panti
Asuhan, Rumah Sakit (sementara sampai ibunya kembali).
Semuanya beroperasi dan berpusat pada gedung perkantornya milik keluarganya Reinhard Group Tower. Menuju akhir bulan memang membuatnya semakin sibuk dengan laporan masing-masing perusahaan.
Chandra memberikan sebuah Map yang berisi laporan keuangan dari bagian percetakan yang bekerja sama dengan salah satu anak perusahaan miliknya. “Aku sudah memeriksanya beberapa kali, sepertinya ada
ketidakcocokan dari laporan yang kita buat dengan laporan yang dikirim dari kantor mereka.” Lapornya sambil memperlihatkan hasil perhitungan dari yang berbeda.
Arvind meneliti dengan baik isi laporan itu, “Kamu tahu apa yang harus dilakukan” ucapnya kemudian setelah menemukan kejanggalan pada isi laporan yang terkirim.
“Baiklah, aku akan meminta Sonny untuk melakukan investigasi tanpa sepengetahuan mereka.” Jawabnya
“Sepertinya ada yang sedang bermain-main dengan kita. Cari tahu secepatnya.” Ucapnya dengan senyuman smirknya yang menakutkan.
__ADS_1
Chandra pun menelpon salah seorang kepercayaan mereka yaitu Sonny agar melakukan penyelidikan salah satu anak perusahaan mereka di kota M. “Beres Pak. Tunggu hasilnya dalam beberapa hari lagi.” Lapor Chandra lagi profesional.
Arvind kembali memperhatikan laporan yang sekarang berada di tangannya. Anak perusahaan ini memang sudah lama tidak pernah dikunjunginya. Pemimpin perusahaan itu adalah seusia dengan ayahnya. Dia mengernyit memikirkan sesuatu.
Chandra sangat paham dengan ekspresi atasannya saat ini. “Bukankah ini hanya masalah keci?,” tuturnya mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh atasannya kali ini.
Arvind menyandarikan punggungnya pada kursi kebesarannya sambil tangan kirinya bertumpu pada sikutnya dan tangannya menutup mulutnya dengan mengepalkannya sedikit lalu tangan yang satunya mengetuk-ngetukkan jarinya.
Lalu sudut bibirnya pun terangkat, “Minta Sonny untuk mencari tahu tentang masa lalu orang itu.” Perintahnya kemudian bangkit dari kursinya berjalan mendekati pintu.
“Siiip...,” balas Chandra dengan menaikkan ibu jarinya mantap.
Chandra menghentikan langkahnya saat Arvind sudah memegang panel pintu,”Eh... mau kemana? 10 menit lagi ada meeting dengan bagian promosi.” Katanya mengingatkan.
Arvind menoleh sekilas kepadanya, “Batalkan...,” perintahnya lagi kemudian berlalu.
Chandra kesal dengan kelakuan semena-mena bosnya akhir-akhir ini.”Ta... tapi..,” lanjutnya tapi justru Arvind tetap
pergi.
“Ishhh.... dasar Raja Iblis,” gerutunya geram.
Dia lalu menekan tombol dial bagian promosi, “Dengan Chandra. Batalkan meeting hari ini. Nanti aku kabari setelah mengatur ulang jadwalnya.” Infonya saat sambungan tersambung.
Wajahnya ditekuk dan terlihat sedikit kesal dengan sikap Arvind. Dia pun keluar dari ruangan. “Ada apa Pak? Kok mukanya ditekuk begitu?,” tanya salah seorang karyawan yang lumayan dekat dengan Chandra.
“Huh... biasalah tingkah sesuka hatinya bos.,” gerutunya lagi kesal.
Karyawan tersebut hanya mengangguk. “Ya sudah. Bagaimana dengan proposal yang diajukan oleh pihak Majalah itu?,” tanyanya pada Gilang bagian Komunikasi.
“Saya sudah mempelajarinya pak. Sepertinya ide dan penawaran mereka sangat menarik. Nanti saya kirimkan filenya ke surel Pak Chandra untuk ditinjau kembali,” lapornya mantap dengan beriringan.
Chandra selain menjabat sebagai asisten dari Arvind tapi dia juga mempunyai tanggung jawab lebih dibandingkan dengan karyawan lainnya. Sehingga dia pun mendapatkan ruangan khusus yang tidak jauh dari ruangan CEO. Dia akan menghandle semua pekerjaan Arvind jika sedang tidak di tempat. Dan akan menyelesaikan semua masalah yang terjadi tanpa harus berdiskusi panjang secara diam-diam.
Tetapi jika di luar pekerjaan mereka akan berbicara sebagai seorang sahabat antara lelaki. Hal itulah yang membuat dia sangat memahami karakter dari seorang Arvind Zarfan Reinhard.
Dia tidak perlu bertanya kemana orang itu pergi. Karena beberapa bulan terakhir ini dia sangat sering ke rumah sakit mengunjungi Maretha.
Yah Arvind datang ke rumah sakit untuk menemui Maretha. Tanpa sengaja dia melihat toko bunga. Dia berpikir akan membelikan bunga untuk Maretha. Dia masih mengingat penjelasan dari Dokter Herman, jika Maretha masih diajak berkomunikasi karna indra pendengaran dan penciumannya masih berfungsi,
Setelah berpikir, Arvind pun memundurkan mobilnya dan berhenti di depan toko bunga. Dia turun lalu masuk ke dalam toko. Dia memperhatikan seisi toko yang dipenuhi dengan berbagai macam bebungaan yang cantik, wangi dan menyejukkan matanya.
Lama dia termenung memikirkan bunga yang disukai oleh Maretha seperti apa. Lalu seorang pelayan toko yang berusia sekitarn 40 tahunan menghampirinya. “Tuan mencari bunga untuk apa?,” tanya seorang florist yang masih terlihat cantik meskipun sudah ada keriput di bagian wajahnya sambil tersenyum.
Arvind menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Aku tidak tahu bu.” Jawabnya dengan satu tangannya masuk ke dalam saku celana.
Florist itu pun tersenyum, “Apakah ingin diberikan untuk pacarnya?,” tebaknya memandang wajah tampan Arvind.
“Hem..... iya.... eh.... bukan...,” jawabnya kebingungan sendiri. Florist hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Kedua tangannya kini dimasukkan ke dalam saku celananya. “Aku ingin memberikan seorang teman yang sedang berjuang. Dan ingin memberikan sebuah semangat dan harapan bahwa dia akan segera sembuh. Dan....,” dia berpikir untuk melanjutkan kalimatnya.
“Dan ingin mengatakan bahwa semua orang sangat menyayanginya.” Tambahnya lagi.
Florist tersenyum mengerti, “Apakah dia cantik..?,” tanyanya menelisik.
“Iya.. Dia sangat cantik. Bahkan jika sedang tertidur pun dia tetap cantik.,” jawabnya dengan sorot mata yang bahagia.
__ADS_1
Florist itu membuatkan sebuah bucket bunga untuknya kemudian memberikannya kepada Arvind. “Ini bunganya, tuan.” Katanya menyodorkan bucket bunga yang cantik untuknya.
“Anyeilr..?,” tanyanya ingin tahu. Meski tidak begitu paham dengan makna dari bebungaan, tapi dia bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan jenis bunga hias.
Ibu florist pun tersenyum. “Yah, Anyelir. Nama lainnya adalah Carnation. Carnation melambangkan sebuah cinta jangka panjang. Cinta yang tidak akan pernah pupus di lekang oleh waktu. Carnation memiliki tiga warna yaitu merah untuk cinta dan kasih sayang, pink untuk rasa syukur dan putih untuk cinta yang murni dan juga harapan.” Jelasnya yang mendapatkan anggukan mengerti oleh Arvind.
“Sesuai dengan yang tuan inginkan bahwa teman Anda sedang berjuang untuk sembuh dan masih memiliki harapan. Jadi Anyelir ini sangat pas untuknya..” tambahnya lagi.
Arvind pun lalu membayar bunga itu dan menerimanya dengan ekspresi senang. “Semoga Anda beruntung tuan.” Doa ibu Florist.
“Terima kasih, bu.” Balasnya lalu beranjak dan berjalan menuju mobilnya.
Dengan semangat dan penuh kebahagiaan Arvind melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia terus berjalan menuju ruan perawatan Maretha. Biasanya jika dia ke rumah sakit menuju ruangan Direktur. Tapi beberapa
bulan ini ruangan itu hanya sebagai tempat persinggahannya saja. Karna tujuan utamanya sudah berpindah ke ruangan VVIP lantai 17 kamar 1701.
Arvind mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar. Dia disambut oleh senyuman hangat dari bunda yang setia menjaga Maretha dan juga Ibu Citra.
“Assalamualaikum..,” sapanya
“Waalaikumsalam..,” balas bunda dan Ibu Citra bersamaan.
Ibu Citra duduk di sofa sedang mengaji, sementara bunda duduk di samping Maretha yang sedang mengajaknya mengobrol tentang keadaan Panti Asuhan saat ini.
Bunda bangkit dan mengajak Ibu Citra untuk keluar kamar agar bisa memberikan waktu pada Arvind agar bisa leluasa berbicara dengan Maretha. Ibu Citra pun paham dengan itu, dan dia tidak perlu banyak bertanya.
“Hai, My Sleeping Beauty...,” sapanya dengan sorot mata bahagia.
“Kamu lihat, aku membawakanmu bunga. Aku harap kamu menyukainya. Karna menurut Ibu Florist bunga Anyelir ini sangat bagus untukmu.” Katanya mulai mengajak berbicara dengan menunjukkan bucket bunga Anyelir yang dipegangnya.
Arvind lalu mendekatkan bunga itu ke hidung Maretha dengan harapan aroma dari bunga Anyelir yang wangi bisa membantunya untuk merefleksi dirinya. “Gimana..? Kamu suka kan dengan wanginya?,” tanyanya lagi.
Dia lalu membuka bungkusan bucket bunga itu kemudian dia bangkit dari duduknya membawa vas bunga ke dalam kamar mandi dan mengisinya dengan air. Lalu menata rangkaian bunga Anyelir di dalamnya kemudian
meletakkannya di meja nakas samping tempat tidur Maretha.
Dia kembali duduk mengangkat tangan Maretha yang tidak bergerak. “Siang ini kamu terlihat sangat cantik. Sepertinya bunda merawat mu dengan baik.” Katanya lagi lalu mengecup punggung tangannya.
Meletakkan kembali tangan Maretha tetapi dia menimpanya dengan tangannya sendiri. “Kamu tahu, hari ini aku sangat sibuk di kantor. Dan begitu banyak masalah yang harus diselesaikan. Tapi, aku merindukanmu jadi aku datang menemuimu.” Tambahnya lagi.
“Harapanku. Kamu bisa segera bangun dan melihatku.” Doanya lagi berharap. Arvind memajukan wajahnya dan memandangi wajah Maretha lebih dekat.
“Wajah inilah yang selalu membuatku rindu.” Ucapnya mengelus wajah Maretha dengan lembut.
Entah mengapa Arvind jadi banyak bicara jika bersama dengan Maretha. Dia bisa menumpahkan segala isi hati dan kegundahannya pada gadis itu meski tidak ada respon sama sekali.
Setelah merasa puas berbiara dengan Maretha dia pun mengakhirinya. “My Sleeping Beauty, aku pamit dulu. Aku akan menemuimu lagi besok.” Katanya
Arvind bangkit dan tempat duduk lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti ketika ingin menarik panel. Dia berbalik lalu memandang sekali lagi wajah Maretha. Kemudian dia pun akhirnya keluar dan meminta bunda dan Ibu Citra untuk kembali masuk.
“Aku sudah selesai bun.” Tuturnya kepada kedua wanita paruh baya yang sedang asyik mengobrol di depan kamar Maretha.
“Apa Nak Arvind sudah mau pergi?,” tanya Ibu Citra.
Arvind mengangguk, “Mau kembali ke kantor bu.” Jawabnya. Lalu kedua wanita itu mengangguk paham.
“Kamu hati-hati ya, jaga kesehatan dan jangan lupa untuk makan.” Nasihat bunda menepuk bahu Arvind dengan lembut. Arvind hanya mengangguk untuk menanggapinya.
__ADS_1
Dia pun kembali ke kantor. Chandra sudah berkali-kali mengiriminya pesan utnuk segera kembali ke kantor karna ada hal penting yang harus dibahas. Dia sudah tahu jika hari ini akan lembur.
Monday, 06 Apr 2020