
Setelah memasuki ballroom hotel tempat acara Wedds Anniversary, Umbara menyapa beberapa tamu yang merupakan klien dan teman bisnisnya sambil menggandeng tangan Maretha. Umbara memperkenalkan Maretha sebagai calon istrinya.
Dari kejauhan nampak tatapan mata seseorang yang tidak suka dengan kelakuan Umbara yang menggandeng tangan Maretha dengan mesra dan sayang. Terlihat ada peperangan diantara keduanya.
Pak Danu menghampiri mereka sambil memegang gelas minuman di tangannya. "Ternyata kamu di sini Bara. Sejak tadi Papa mencarimu." katanya menepuk sebelah bahu Umbara.
Umbara hanya tersenyum menyapa Pak Danu.
"Selamat ya Pak atas Wedds Anniversarynya?," Ucap salah seorang klien dari mereka berdua.
"Terima Kasih atas ucapannya, Pak." balasnya menjabat tangannya.
Mereka pun akhirnya asyik mengobrol dengan bisnis yang mereka kerjakan bersama. Maretha merasa terlupakan dengan obrolan bisnis itu.
"Aku mau ambil minum dulu," bisik Maretha di telinga Umbara seraya meminta izin untuk meninggalkan mereoa sejenak.
Maretha bukan tidak paham dengan obrolan bisnis Umbara, Pak Danu dan rekan kerjanya. Dia menghindari aura dingin dari Pak Danu dan tatapan sinis dari asistennya yang selalu mengintimidasi dirinya.
Kemudian Maretha melepaskan tangan Umbara dan berjalan mendekati meja minuman yang berada di pinggiran ballroom. Maretha mengambil minuman berwarna kuning dan menenggaknya hingga setengah. Kemudian seseorang mendekatinya dan menyapa dirinya.
"Rere sayang kamu di sini?," kata seorang wanita yang sudah sangat dikenali oleh Maretha.
"Tante!," sapa Maretha saat melihat Amara atau Ibu Umbara.
Mereka pun akhirnya saling menyapa sambil cipika-cipiki dan tidak lupa Maretha mencium punggung tangan Amara sebagai tanda penghormatan.
"Dari tadi tante nyariin kamu loh," katanya menangkup sebelah wajah Maretha.
Maretha memegang tangan Ibu Amara dan mengulum senyum, "Happy Weds Anniversary tante. Wish you are always protected by Allah and always happy and love each other until death separates". Ucapnya mendoakan pernikahan orangtua Umbara dengan tulus.
Ibu Amara berkaca-kaca dan merasa terharu, "Thank you dear," balasnya mengecup puncak rambut Maretha kemudian memeluknya.
Ibu Amara lalu meninggalkan Maretha sendirian, dan bergabung dengan tamu lainnya. "Sayang, tante ke sana dulu ya mau temenin tamu." pamitnya menatap sendu pada Maretha yang masih memegang gelas minumnya.
"Iya tante, aku masih mau di sini." balasnya dengan senyuman khasnya.
Maretha memandangi punggung Amara hingga wanita tua yang cantik itu menghilang di tengah kerumunan orang-orang. Dia lalu memutar bola matanya merasa bosan, dia memperhatikan dari kejauhan seorang pria tampan yang tampak sibuk menyalami para tamu yang merupakan kerjanya.
"Kamu gak gabung sama Umbara, Re?," tanya seseorang dari arah depan yang menghampiri dirinya.
Maretha tersenyum menyambut orang itu, "Pak Lukman." panggilnya saat melihat orang itu.
"Aku bosan pak, dan sepertinya Mas Bara juga lagi sibuk dengan mereka" jawabnya masih memperhatikan pria tampan itu yang sesekali melemparkan senyuman untuknya.
Saat mereka asyik mengobrol seorang wanita yang juga sudah tua menghampiri mereka berdua. "Kamu di sini rupanya. Aku mencarimu, sayang." sapa wanita itu yang merupakan istri dari Pak Lukman.
Parasnya cantik tidak jauh berbeda dengan Ibu Amara yang berpenampilan modis dengan gaun mahal yang merupakan buatan dari desainer ternama.
"Rere, kamu di sini juga." Sapa wanita itu pada Maretha dengan sopan.
Maretha tersenyum, "Iya bu. Ibu apa kabar? Ibu cantik sekali malam ini," balasnya sambil memuji wanita itu. Maretha juga mencium punggung tangan Ibu Andini istri dari Pak Lukman yang juga sangat baik padanya.
"Aku baik, Re. Terima kasih sudah memujiku. Tapi aku rasa setiap hari memang terlihat cantik." Katanya dengan nada bercanda.
Maretha tertawa renyah. "Aku serius bu, Ibu sangat cantik malam ini." pujinya lagi membuat Ibu Andini semakin tersipu.
"Mas, andai saja kita punya anak laki-laki rasanya ingin sekali menjodohkannya dengan Maretha." kata Ibu Andini pada suaminya.
"Papa juga berpikir begitu." tambah Pak Lukman.
"Pak Lukman sama Ibu Andini ternyata suka bercanda." Balas Maretha sedikit canggung.
Ibu Andini berbinar. "Kami gak bercanda, Re. Kamu itu udah cantik, baik, pintar lagi. Karna berkat kamu juga Andara bisa mendapat nilai yang bagus sekarang. Sekarang dia semangat belajar karna termotivasi denganmu." Jelas Ibu Andini yang merasa kagum dengan Maretha.
Andara adalah putri Pak Lukman dan Ibu Andini. Mungkin mereka sangat memanjakannya sehingga Andara sesuka hatinya belajar, sering berbuat onar, dan selalu membuat orangtuanya pusing. Tetapi sejak kenal dengan Maretha yang selalu baik dan tulus dengan siapa saja. Andara kini jadi punya semangat belajar. Dia menjadikan Maretha sebagai panutan untuk mencapao kesuksesan.
"Berkat bantuanmu juga Andara bisa kuliah di Hong Kong dengan nilai yang memuaskan." tambah Ibu Andini.
"Semua itu karna Andara sendiri, bu. Pada dasarnya Andara anak yang pintar hanya saja dia belum dewasa dan pola pikirnya juga masih labil. Aku hanya membantu sedikit." kata Maretha selalu merendah.
"Whateverlah, yang penting sekarang aku bahagia karna Andara bisa jadi anak yang penurut dan kebanggaan kami." Sela Ibu Andini.
"Kamu ke sini sama Pak Bara kan, dia dimana?," tanya Ibu Andini mencari-cari sosok Umbara yang dia tahu adalah kekasih Maretha.
Kemudian Ibu Andini mendapati sosok itu sedang berbincang dengan seseorang bersama Pak Danu.
Ibu Andini memicingkan matanya, "Ternyata dia sedang bersama Pak Danu dan ..........", Ibu Andini mengamati sosok laki-laki yang sedang berbincang dengan mereka yang terlihat hanya punggungnya.
"Itu siapa, Mas?," tanya Andini menoleh kepada suaminya yang sejak tadi hanya mengamati obrolan dua wanita di sampingnya.
Pak Lukman pun tertuju pada laki-laki itu. "Oohh itu Pak Budi Setiawan." jawabnya kemudian melanjutkan menenggak minumannya.
Ibu Andini membelalakkan matanya, "Serius Mas itu Pak Budi Setiawan." katanya dengan ekspresi senang.
Pak Lukman hanya mengangguk. "Ayo, Mas kita ke sana. Sudah lama aku tidak menyapanya." Ajak Ibu Andini antusias mendengar nama Pak Budi.
__ADS_1
"Re, kami permisi dulu ya!," Ucap mereka berpamitan dan meninggalkan Maretha sendirian.
Maretha tersenyum dan mengangguk. Lagi-lagi dia hanya memandangi punggung mereka.
Maretha mendesah, "Sepertinya aku salah deh ikut acara ini." keluhnya menyesal. Dia mulai berkeliling ballroom menikmati makanan dan minuman yang disajikan.
Hingga seseorang langsung memeluknya dari belakang dengan erat. Maretha sangat mengenali suara ini. "Rere sayang, aku kangen." kata orang itu yang merupakan Vena sahabatnya.
Maretha membalikkan badannya, Vena pun kembali memeluknya dengan erat tanpa memperdulikan image yang selama dia bangun. Yah, Vena dikenal sebagai wanita cantik yang anggun, dan misterius. Tetapi di depan Maretha dia bisa menjadi dirinya sendiri.
"Ve, aku gak bisa napas." katanya terbata-bata mencoba melepaskan pelukan Vena yang sangat kuat.
Vena pun melonggarkan pelukannya. "Aku kangen banget sama kamu, Re." katanya kemudian melepaskan pelukannya menatap Maretha sambil menyengir senang.b
"Aku juga kangen banget sama kamu, Ve?," balasnya dengan lembut dan sayang.
Vena menghujaninya lagi dengan mencium pipi kanan dan kiri Maretha secara berulang. "Udah dong, Ve. Orang-orang meratiin kita. Kamu kan terkenal di sini." Bisik Maretha mengingatkan status Vena sebagai Putri Konglomerat yang terkenal.
Vena mulai memanyunkan bibirnya. "Kalo aku sih gak masalah, kan gak ada yang kenal." tambah Maretha lagi semakin membuat ekspresi Vena tidak nyaman.
"Andai ini bukan tempat pertemuan orang-orang kaya aku bisa berbuat sesuka hatiku." kata Vena sedikit cemberut.
Puk... Puk....
Maretha menenangkan sahabatnya dengan menepuk pelan pundaknya. "Jangan ngeluh, seharusnya bersyukur karna sekarang kamu dikenal semua orang dikalangan pengusaha dan sosialita sebagai Nona Muda Vena." Hibut Maretha kepada sahabatnya.
Obrolan mereka pun mengalir seputaran pekerjaan dan karir mereka termasuk mereka pun menyinggung tentqng kekasih Maretha. Awalnya Vena terkejut saat tau jika laki-laki yang dicintai oleh Maretha adalah Umbara. Vena mengenal Umbara karna orangtua mereka adalah rekan kerja sekaligus sahabat. Vena juga cukup akrab dengan Umbara.
"Jadi, kamu sama Kak Bara gimana?." tanya Vena tiba-tiba. Maretha hanya diam dan memandangi dari kejauhan Umbara yang masih sibuk dengan rekan kerjanya.
"Kami baik-baik saja." jawabnya singkat.
"Pak Danu masih tidak merestui kalian ya?," tanya Vena membuat Maretha sedikit sendu.
"Yah, Pak Danu memang orangnya sangat keras. Hampir samalah dengan sikap Papi yang tidak bisa ditentang."
"Tapi aku yakin suatu saat Pak Danu pasti akan luluh apalagi jika dia mengenal lebih dekat sahabatku yang baik ini." rangkulnya dengan erat.
Disaat mereka tengah bergurau dan tertawa lepas. Dua orang dengan berseragam serba hitam menghampiri mereka.
"Maaf Nona diminta Tuan agar bergabung." Kata salag seorang dari mereka dengan menundukkan kepalanya.
.
Pria itu tidak memberikan ekspresi apapun. "Maafkan kami Nona. Kami hanya mengikuti perintah dari Tuan Besar." balasnya.
Maretha tersehyum simpul. "Pergilah, jangan membantah." katanya mengizinkan sahabatnya untuk pergi.
"Setelah ini aku akan menemuimu." kata Vena sebelum pergi bersama dengan dua orang pengawalnya yang selalu mengikutinya.
Sepeninggal Vena, Maretha merasakan dadanya sesak dan tanpa sebab sebulir bening dengan tanpa malunya keluar dari pelupuk matanya. Entah mengapa dia merasa semua orang meninggalkannya. Ada perasaan aneh yang mulai menghantuinya. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya lagi. Dia merasa tersiksa dengan perasaan aneh yang sejak tadi menyerangnya.
Kemudian seseorang memeluk pinggangnya dan berbisik di telinganya dengan mesra. "Maafkan aku sayang sudah membuatmu sendirian." ucap Umbara di telinganya.
Maretha menghela napas, "Lepasin Mas nanti ada yang liat." protesnya melepaskan tangan Umbara yang melingkar di pinggangnya.
Umbara membalikkan badan Maretha kemudian menempelkan keningnya pada kening Maretha. "Kamu tahu sejak tadi aku memperhatikanmu. Aku merindukanmu, sayang." ucap Umbara lagi dengan sikapnya yang sangat posesif.
Sikap Umbara tidak seperti biasanya. Dia seperti tidak ingin melepaskan Maretha dan ingin menunjukkan kepada semua orang dalam ballroom ini bahwa dia sangat mencintai wanita yang sedang dipeluknya sekarang.
"Kamu kenapa sih Mas? Malu Mas diliatin orang." bisiknya berusaha melepaskan pelukan Umbara yang semakin erat.
Umbara semakin mendekatkan wajahnya dan ingin menciumnya di tengah kerumunan tamu orangtuanya. Tentu saja para tamu memperhatikan mereka berdua.
Beberapa pasang mata memandangi mereka, ada yang terlihat senang dengan tersenyum nakal seperti Pak Lukman dan istrinya. Ada yang terlihat sedang marah seperti tatapan Pak Danu, dan ada pula yang seakan ingin menangis.
Maretha paham jika Umbara sedang memikirkan sesuatu. Dia mendesah pelan dan menenangkan dirinya untuk tidak panik. "Mas, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Tapi bijaksanalah sedikit, jangan menanggapi masalah yang sedang kamu pikirkan dengan cara seperti ini."
Maretha menenggak salivanya, "Kamu harus bersikap tenang, jangan mempermalukan dirimu sendiri di depan client dan rekan bisnismu." nasihatnya pada Umbara.
Tatapan mata Umbara semakin intens padanya. Ada sebutir bening yang lolos dipelupuk matanya. "Kamu kok nangis sih, Mas." kata Maretha menghapus airmatanya dengan ujung jarinya sambil tersenyum.
Adegan mesra dan syahdu mereka berdua diganggu oleh announcement dari MC bahwa acara inti sudah akan dimulai. MC meminta para tamu undangan untuk mendekat dan pasangan yang sedang merayakan Wedds Anniversarynya untuk naik ke panggung.
Pak Danu dan istrinya Ibu Amara berjalan ke atas panggung. Mereka tampak serasi dengan balutan pakaian yang cantik dan senada. Ibu Amara tidak pernah berhenti untuk tersenyum. Kemudian MC meminta mereka untuk membagi cerita tentang perjalanan rumah tangga mereka selama 35 tahun. Secara bergantian Pak Danu dan Ibu Amara menceritakan pengalaman mereka.
"Aku bahagia Mas melihat mereka bahagia. Dan aku bangga dengan mereka yang masih mesra diusia pernikahan yang sudah 35 tahun." Puji Maretha merasa terharu dengan kisah perjalanan hidup Pak Danu dan Ibu Amara.
Umbara dan Maretha mengambil kursi yang berada jauh dari panggung, mereka hanya berdua di meja bundar yang tersedia. Umbara tidak menanggapi serius.
"Mas, kamu kok begitu. Mereka itu orangtua kamu." tegurnya dengan sikap Umbara yang acuh.
Umbara mendesah berat, "Aku tahu. Tapi apakah kamu masih menghargai Papa jika kamu tahu dia memintaku apa?," protesnya membuat dada Maretha semakin sesak.
"Memang apa yang diinginkan Pak Danu, Mas?," tanyanya pelan sambil menenggak salivanya.
__ADS_1
Umbara memegang dan meremas tangan Maretha dengan sayang. "Walau apapun aku yang terjadi aku tidak akan pernah melepaskanmu. Meski Papa mencoretku sebagai pewarisnya."Katanya membuat Maretha semakin sulit untuj bernapas.
Maretha berusaha untuk tetap tersenyum, "Kamu gak boleh begitu, Mas. Pak Danu hanya menginginkan yang terbaik buat kamu." tambahnya lahi mencoba untuk menenangkan.
"Bagaimana kalo kita kawin lari saja." kata Umbara membuat Maretha tersedak mendengarnya.
"Uhuk... Uhuk.... Kalo ngomong yang benar Mas. Kita tidak akan melakukan hal itu." tegasnya sedikit kesal.
Setelah bercerita dan memutarkan slide gambar tentang kehidupan pernikahan Pak Danu dan Ibu Amara. Terlihat Pak Danu membisikkan sesuatu kepada pembawa acara.
"Apakah Pak Danu yakin?," tanya pembawa acara mengerutkan keningnya meyakinkan pada yang didengarnya.
Kemudian ekspresinya berubah menjadi senang dan sedikit jenaka menanggapinya. "Wah, ini sih kabar baik banget." tambahnya.
"Baiklah para hadirin dan tamu undangan. Malam ini memang malam yang penuh dengan kebahagiaan." kata pembawa acara.
"Kami meminta untuk Pak Budi Setiawab dan Putrinya Nona Vena Jasmine Setiawan." Panggil pembawa acara.
Kemudian mereka pun berjalan menaiki panggung dan saling bersalaman dengan Pak Danu dan Ibu Amara. Maretha hanya bisa menyaksikan keakraban Vena dengan Pak Danu.
Maretha menunduk dan mendesah pelan. "Vena akrab sekali dengan Pak Danu. Aku iri dengannya." bisiknya berusaha menguatkan dirinya.
Kemudian diantara mereka pun saling melemparkan pertanyaan. Semua tamu undangan berdecak kagum dengan kedekatan dua keluarga itu. Entah mengapa Maretha merasakan sakit dibagian dadanya.
Kemudian tidak lama pembawa acara pun memanggil Umbara untuk ikut bergabung dengan mereka.
"Mas, kamu dipanggil ke atas." tegurnya melihat Umbara tidak merespon sama sekali.
"Sebaiknya kita pergi dari sini. Aku bosan." Ajak Umbara menarik tangan Maretha untuk keluar dari Ballroom.
Pembawa Acara memanggil lagi namanya, "Kami mohon kepada Bapak Umbara untuk bergabung ke atas panggung!," panggilnya lagi.
Umbara tidak menanggapi dia tetap menarik tangan Maretha untuk melangkah keluar.
"Mas, itu kamu dipanggil lagi " cegah Maretha terus membalikkan badannya ke arah panggung.
"Aku bilang kita pergi dari sini," kata Umbara memaksa tanpa menoleh sedikit pun.
Tangan Maretha ditarik oleh Umbara dan langkahnya pun terseok terpaksa mengikuti langkah Umbara.
"Maaf tuan muda, Anda tidak bisa meninggalkan tempat ini." Kata seseorang dengan pakaian berjas hitam yang merupakan orang suruhan dari Pak Danu.
Umbara menatap tajam kepada mereka. "Minggir kalian. Biarkan aku pergi," katanya suara pelan tapi menegaskan nada marah pada mereka.
Mereka hanya menundukkan kepala, "Maafkan kami tuan muda. Ini perintah dari Tuan Besar." kata pengawal itu lagi.
Umbara memutar bola matanya. Dia melepaskan tangan Maretha dan berniat untuk melayangkan sebuah pukulan. "Jangan membuat onar di sini tuan. Ibu Amara bisa syok." Cegah Jack yang merupakan asisten dari Umbara sendiri.
Umbara menurunkan tangannya, dia menahan amarah yang sudah diubun-ubun. Jack menatap pada Maretha untuk menenangkan Umbara yang sedang emosi. Dia mengepalkan tangannya sampai buku-bukunya terlihat.
Maretha memegang tangan itu dengan lembut hingga terlepas dan mengaitkan jarinya. "Mas, kamu jangan bersikap seperti ini. Aku gak mau kamu menjadi durhaka. Ikuti saja mereka." katanya membujuk Umbara dan menenangkannya.
Umbara memandang sendu pada Maretha. "Kamu gak tahu sayang apa yang direncanakan oleh Papa. Aku mohon sebaiknya kita pergi dari sini." Pinta Umbara dengan tatapan mata yang sendu dan memohon.
Maretha tersenyum, "Aku gak apa-apa kok. Aku akan tetap di sini, aku pasti bisa menghadapinya." katanya lagi. Umbara memeluknya dengan erat. "Kamu harus janji akan tetap percaya padaku apapun nanti yang terjadi." bisiknya di telinga Maretha.
"Iya aku janji!," balasnya dengan tercekat.
"Aku mencintaimu, Re." ucap Umbara lagi mengecup ujung rambut Maretha.
"Mari tuan muda ikut kami." ajak Jack lagi menuntun Umbara untuk ikut ke atas panggung.
Umbara pun ikut bergabung dengan mereka. Dia tetap berdiri di tempatnya sambil mengamati acara yang sedang berlangsung. Maretha menyilangkan tangannya di depan dadanya. Sesekali dia menekan dadanya kuat untuk menghilangkan rasa sakit yang menyerang tiba-tiba.
Pak Danu dan Pak Budi saling bertukar pendapat tentang rencana bisnis mereka ke depannya dan semua itu disambut meriah oleh para tamu.
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya untuk melebarkan bisnis yang kalian lakukan?." tanya si pembawa acara.
"Kebetulan ini adalah acara yang bahagia dan aku pun ingin menyampaikan rencana bahagia kami berdua." jawab Pak Danu serius.
"Wah rencana apa itu? Apakah kalian berpikir untuk menyatukan bisnis kalian dengan menjodohkan anak-anak kalian?," tebak si Pembawa Acara memancing.
Umbara dan Vena terkejut mendengar pernyataan dan pertanyaan dari pembawa acara.
"Betul sekali. Dan malam ini kami akan mengumumkan kepada semuanya bahwa putraku Umbara akan bertunangan dengan putri rekan saya Budi Setiawan yaitu Vena Jasmine Setiawan." katanya mengumumkan secara live di depan para tamu undangan dan beberapa kamera serta reporter yang sedang meliput acara ini.
Maretha sangat terkejut mendengarnya seakan langit runtuh di atas kepalanya. Dia berusaha untuk mencerna apa yang baru saja didengarnya.
Vena dan Umbara nampak ingin memprotes tetapi kondisi dan situasi tidak memungkinkan. Mereka berdua memilih untuk diam sampai acara selesai.
Dada Maretha semakin terasa sesak, kali ini dia sangat sulit untuk menghirup oksigen. Matanya mulai memanas, hatinya sakit dan lututnya seakan tidak mampu untuk menopang tubuhnya yang mulai lemaa. Hatinya terasa sangat hancur dan sakit mendengar kekasih dan sahabatnya akan menikah.
*Bersambung
Friday, 28 Februari 2020*
__ADS_1