My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Terkurung


__ADS_3

Umbara semakin gencar mendekati Maretha setelah tahu jika hanya dia yang diberikan respon.


Dia memanfaatkan momen-momen perjalanan pulang dari Melbourne ke Sydney. Tentu saja dengan bantuan Lisda sebagai orang ketiga diantara mereka


Umbara semakin menunjukkan perasaannya kepada Maretha berharap gadis itu bisa peka. Tetapi gadis itu hanya merespon sesekali saja.


Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menaklukkan hati Maretha. Butuh waktu yang lama bagi Umbara untuk meyakinkan dirinya agar bisa menyatakan perasaannya.


Umbara sudah mempersiapkan rencana untuk menyatakan perasaannya pada Maretha di acara Basket Competition. Umbara sudah menyiapkan bucket bunga dan boneka panda kesukaan gadis itu.


Umbara masih fokus bertanding di lapangan, sekarang sudah final. Tetapi Maretha belum muncul juga di bangku penonton.


*Flashback On


Gadis itu sedang duduk di perpustakaan sambik memainkan jari-jarinya di atas keybord laptop berwarna silver sambil matanya juga fokus pada buku referensi yang diambilnya.


Umbara berjalan mendekati ke bangku gadis itu,"Hei. aku ganggu gak?," sapanya dengan berbisik menarik kursi di samping gadis itu.


Gadis itu menoleh sekilas kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya. "Enggak kok," dengan menampilkan senyuman khasnya.


"Besok kan ada pertandingan basket antara kampus kita dengan kampus lain. Besok aku juga main. Kamu mau nonton ya!," ajaknya dengan penuh harap.


Gadis itu menghentikan kegiatannya. Dia menatap ke wajah Umbara. Lalu dia menautkan alisnya. "Besok ya?," pikirnya mengingat sesuatu.


"Aku gak tahu bisa datang atau enggak besok kak. Soalnya besok aku adan Seminar di Aula kampus,"jawabnya menundukkan wajahnya.


Umbara sedih tapi dia berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Pertandingan besok sampai jam berapa?," tanya gadis itu dengan melukiskan senyuman khasnya.


"Sampai 7 malam," jawabnya menatap gadis didepannya dengan penuh harap.


Gadis itu berpikir, "Seminar besok sampai jam 4 sore. Mungkin setelah dari sana aku akan menonton pertandingan Kak Bara di lapangan." tuturnya membuat senyuman mengambang di bibir Umbara.b


"Iya, gak apa-apa. Aku akan senang jika kamu mau menonton pertandinganku," katanya lagi memegang tangan gadis itu.


Flashback Off*


Sesekali Umbara mengalihkan pandangannya ke kursi penonton, tapi Maretha belum menampakkan dirinya.


Wasit meniup peluit tanda istirahat bagi pemain untuk minum. Umbara mendekati kursi penonton yang disitu ada Lisda. Gadis berkacamata itu mendekati Umbara.


"Rere kemana?,"tanyanya sambil melirik pintu masuk lapangan.


"Gue juga gak tahu. Tadi sih dia udah keluar dari Aula. Tapi dia minta izin mau ke toilet," jawabnya tersirat kecemasan pada kalimatnya.


"Gua cek ke toilet dulu ya, Gue...... khawatir sama dia,"tambah Lisda lagi.


Umbara mengernyit. "Khawatir gimana?," tanyanya penasaran.


Lisda mengalihkan kekhawatirannya, "Ya sudah. Kak Bara lanjutin lombanya, semoga menang. Biar gue yang cari Rere" pamitnya kemudian meninggalkan lapangan basket.


Perbincangan mereka berdua diperhatikan oleh beberapa pasang mata yang memandang sinis.


Umbara melanjutkan pertandingannya sambil sesekali melihat ke arah pintu masuk berharap Maretha menampakkan dirinya.


"Kamu dimana sih, Re. Aku udah mantap mau nyatain perasaanku sama kamu hari ini."batinnya


Sepeninggal Lisda, dua orang mengikutinya dari belakang. Lisda tidak menyadari jika mereka membuntutinya sambil fokus mencari keberadaan Maretha.

__ADS_1


Lisda berjalan menuju Aula yang tadi menjadi tempat seminar. Dia mengedarkan pandangannya tapi tidak ada seorang pun. Kemudian dia berjalan ke arah perpustakaan. Dia masuk menyusuri setiap lorong dan mencari keberadaan Maretha. Dan hasilnya pun tetap sama.


Lisda mulai khawatir,dia terus menghubungi ponsel Maretha. Tapi yang terdengar suara operator.


The number you are calling is not active and others area. Pleass, try again


Lisda terus menghubungi nomornya tetapi tetap operator yang menjawab.


Dia berjalan menuju toilet, dia masuk dan memeriksa setiap kamarnya. Tetapi hasilnya tetap tidak ada.


Kemudian dia menghubungi Tuan Jhon untuk memastikan keberadaan Maretha.


"Halo Mr. Jhon. Is Rere already home?," tanya Lisda begitu panggilannya tersambung.


"Not. I think you are both still on campus." jawab seseorang di seberang telepon


"Did something happen?," tanya Tuan Jhon lagi.


"Oh Nothing. Thanks Mr. Jhon," ucapnya lalu memutuskan panggilan telepon.


Lisda meremas ponsel ditangannya. Dia memaksa otaknya berpikir untuk mencari keberadaan Maretha sahabatnya.


Saat dia ingin keluar dari toilet, dua orang menghampirinya dengan tatapan membunuh. Lisda mengenali mereka.


"Excuse me, I want to go!," pamitnya. Tetapi salah seorang dari mereka menariknya dan mendorongnya hingga tubuhnya terbentur ke dinding.


"Are you looking for your friend, huh!," Seseorang lagi mengintimidasi dirinya.


Lisda merasa jengah dengan tingkah mereka, "Where is she?," Dia membalas tatapannya dengan lebih tajam.


Mereka tidak menjawab justru tertawa meremehkan dirinya. Lisda mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai memperlihatkan buku-bukunya. Giginya gemeretak, hidungnya kembang kempis menahan amarah yang diubun-ubun.


Seorang lagi ingin menghajarnya, tapi lagi-lagi Lisda mampu menahannya. Justru sekarang dia menarik rambut gadis itu dengan keras hingga kepalanya mengikuti arah tarikannya.


"Don't act too much with me," katanya geram. Napasnya mulai memburu. "Once again. Where is she?,"tanyanya lagi dengan penuh penekanan dan mengintimidasi kepada mereka berdua.


Kedua gadis itu meringis kesakitan. Mereka tidak menyangka jika Lisda yang berpenampilan seperti itu mempunyai tenaga yang kuat dan bisa berkelahi.


Mereka pun menyerah kepada Lisda setelah beberapa kali menampar dan memberikan tendangan di bagian kaki.


Lisda meninggalkan mereka berdua di toilet dengan meringis kesakitan. Dia berlari menuju gudang yang sudah lama tidak pernah digunakan. Mereka mengunci Maretha di dalam.


Lisda menggedor pintu gudang sambil berteriak memanggil nama Maretha.


"Re, Rere. Kamu baik-baik kan di dalam?," tanya cemas.


Tidak ada sahutan dari dalam. Lisda semakin cemas. Dia berusaha untuk mendobrak pintu, tapi tidak bisa. Dia berlari mencari seseorang untuk membantunya. Tetapi gudang ini berada jauh dari lalu lalang mahasiswa. Tidak seorang pun yang dilihatnya lewat.


Lisda lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Berharap pertandingan sudah selesai.


Tuuuuut.... Tuuuuuttt....


Belum ada jawaban. "Re, tolong jawab gue!," teriaknya sekali lagi. Hasilnya tetap sama.


Kemudian dia kembali menghubungi nomor yang sama.


"Halo, Kak Bara!,"katanya cemas.


"Iya, ada apa Lis?," tanya Umbara setelah melihat ponselnya yang penuh dengan panggilan tidak terjawab.

__ADS_1


"Apakah pertandingannya sudah selesai, kak?,"tanya Lisda lagi.


"Iya, ada apa? Apa Rere sudah ketemu?," tanyanya lagi.


"Gue butuh bantuan Kak Bara. Tolong segera ke Gudang Belakang. Rere terkurung di dalam," jelas Lisda dan Umbara langsung berlari menuju tempat yang dimaksud Lisda.


"Hei, What's up?," tanya Christ heran. Tetapi Umbara tidak memperdulikannya.


Dia berlari menuju gudang. Dari kejauhan dia melihat Lisda yang sedang berusaha membuka pintu gudang.


Umbara mendorong pintu gudang dengan menggunakan bahunya beberapa kali. Kemudian menendangnya dengan kuat.


BRUK!!!


Pintu terbuka. Mereka berdua berlari masuk mencari keberadaan Maretha. Dan mendapatkan tubuh gadis itu meringkuk di lantai tanpa sadarkan diri.


Umbara mengangkat kepalanya dan mendudukkannya di atas pahanya. Menepuk-nepuk wajahnya dengan lembut. "Re, bangun. Plis, bangun Re," katanya dengan ekspresi penuh kecemasan.


Maretha tidak memberikan respon sedikit pun. "Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit kak. Gue khawatir sama Rere. Soalnya di trauma dengan ruangan gelap seperti ini,"


Umbara pun menggendong Maretha yang tidak sadarkan diri menuju parkiran. Mahasiswa yang melihat terlihat cemas dan banyak desas desus melihat kejadian itu.


Dua orang cewek yang tadi dihajar oleh Lisda pun ketakutan melihat kondisi Maretha yang pingsan di gudang.


Umbara meletakkan Maretha di bangku belakang kemudian Lisda memangku kepalanya sambil mencoba menepuk wajahnya dengan pelan. Umbara segera melajukan mobilnya ke rumah sakit dekat kampus.


Sesampainya di rumah sakit. Umbara menggendong Maretha masuk ke dalam ruangan UGD. Dia tidak memperdulikan perawat yang memintanya untuk meletakkan tubuh Maretha di Brankar kosong.


"Tolong dok,!" katanya memohon setelah meletakkan tubuh Maretha di atas brankar di dalam ruang UGD.


"Anda silakan tunggu di luar. Dan selesaikan administrasinya di resepsionis." kata perawat memberikan instruksi.


"Lo tunggu di sini. Gue mau urus administrasi dulu," kata Umbara pada Lisda kemudian dia berjalan dengan langkah cepat menuju resepsionis.


Dokter dan perawat langsung menangani Maretha sambil Umbara menyelesaikan administrasi. Lisda menunggu dengan penuh kecemasan di luar ruangan.


"Gimana?," tanya Umbara ketika selesai dari resepsionis.


Lisda menggeleng, "Belum ada kabar,"


Umbara menggosok wajahnya dengan gusar. "Aarrrghhh....!!!,"


"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa terkurung di dalam gudang?," tanyanya geram mencengkeram kedua bahu Lisda dengan kuat.


Lisda meringis, kemudian melepaskan tangan Umbara dengan sisa tenaganya setelah menghajar kedua cewek di toilet.


"Gue juga gak tahu persis. Tapi ini semua ulah Rebecca CS." Jawab Lisda menggeretakkan giginya.


Umbara tidak bertanya lagi. Dia sudah paham jika mendengar nama Rebecca. Gadis itu memang selalu membuat ulah di kampus. Apalagi dia sangat menyukai Umbara. Rebecca merasa kesal karna Umbara justru tidak memperdulikannya. Dia justru berniat untuk menjadikan Maretha kekasihnya.


Rebecca kerap kali membully Maretha. Apalagi setelah tahu jika Maretha adalah anak yatim piatu dan tinggal di Panti Asuhan. Sudah beberapa kali Rebecca ingin mencelakai Maretha. Dia pernah mensabotase hasil ujiannya agar beasiswanya dicabut. Dan masih banyak lagi.


Rebecca merasa tidak sepantas dan selevel dengan dirinya yang menyukai Umbara. Rebecca adalah anak dari rektor kampus, sementara Maretha hanya seorang anak Panti Asuhan yang rendahan.


Rebecca pernah merengek kepada ayahnya agar mencabut beasiswa Maretha. Tetapi apalah daya, meskipun ayahnya seorang rektor. Tetapi keputusan tetap ada di tangan pemilik kampus. Dan, Maretha juga merupakan aset berharga untuk kampus.


Jadi Rebecca selalu mengganggu kenyamanan Maretha dengan harapan Maretha tidak betah dan akhirnya mengundurkan diri.


Rebecca tidak pernah berhasil, karna apapun yang dilakukannya selalu gagal. Lisda yang selalu membantunya juga ada campur tangan Vena yang memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki oleh ayahnya.

__ADS_1


Wednesday, 15 January 2020


__ADS_2