My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Peluang


__ADS_3

Cukup lelah Arvind dan Chandra membereskan masalah yang terjadi di anak perusahaan di kota M. Setelah menyelidiki beberapa permasalahan yang terjadi di kantor tersebut, mereka pun menemukan sesuatu yang


baru.


“Kamu yakin dengan informasi ini..?,” tanyaArvind memastikan saat Chandra memberikan sebuah laporan yang sudah sangat lama ditangannya. Arvind mengangkat sebelah alisnya menunggu kepastian dari asistennya.


Chandra duduk di depannya, “Aku pun sangat terkejut mengetahui hal ini. Tapi semua informasi ini benar dan 100% akurat. Aku sudah menyelidiki semuanya dengan teliti.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.


Arvind mengernyitkan keningnya mencoba mencerna dan menyatukan setiap potongan informasi yang ditemukannya. Dia meletakkan jarinya di depan bibirnya sambil berpikir. Tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya.


“Apakah kita tetap mempertahankannya sambil mengawasinya atau kita menyingkirkannya sekalian saja?,” tanya Chandra tiba-tiba menunggu konfirmasi tindakan yang harus dilakukannya berikutnya.


Dengan tatapan serius Arvind hanya membentuk smirk khasnya, “Aku rasa kamu tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya,” dan tanpa menunggu konfirmasi ataupun perintah darinya. Chandra pun bergegas menyelesaikan semua yang harus dilakukannya.


Chandra menghubungi seseorang, “Singkirkan semuanya kecuali sang raja tetapi tetap awasi dengan hati-hati. Karna dia sangat licik,” perintahnya kepada seseorang di seberang telepon.


Arvind pun beranjak dari tempat duduknya, “Siapkan pesawat sekarang juga, kita harus kembali hari ini menemui mommy.” Perintahnya dengan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku lalu melangkah.


“Kamu sudah siap menghadapi mommy?,” tanya Chandra kemudian.


Arvind berbalik, “Apakah kita ada pilihan lain?,” sebelah alisnya terangkat. Chandra yang sudah sangat paham dengan kelakukan bos sekaligus sahabatnya itu tidak perlu bertanya atau menunggu sebuah penjelasan rencana


darinya.


“Kamu memang benar-benar sudah gila, bro.” umpatnya sambil mengikuti langkah Arvind yang panjang berjalan meninggalkan hotel yang ditinggalinya selama beberapa hri ini di kota M.


Arvind berjalan menuju lobby hotel, dan seorang pengawal sudah siap berbaris menunggunya untuk menghalangi para pencari berita yang ingin tranding. Dia mengeluarkan kacamata hitam, dan mengenakannya pada hidungnya yang mancung. Karyawan menyapanya dengan ramah.


“Terima kasih, Presdir Reinhard.”


“Hati-hati di jalan Presdir Reinhard.”


Arvind hanya membalas mereka dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya. Dia lalu masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam. Chandra masuk di pintu seberangnya lagi. Kemudian mobil mewah itu pun pelan meninggalkan lobby hotel dan memecah jalanan kota M menuju bandara.


Arvind menatap keluar jendela dengan membayangkan wajah Maretha yang masih setia ­dengan tidur cantiknya. Dia tersenyum sedikit tertawa membayangkan wajah gadis itu. Chandra di sampingnya menoleh, “Disaat seperti ini kamu masih bisa tertawa. Coba pikirkan cara untuk menghadapi, Mommy.” Komentarnya terlihat lebih khawatir dengan pria yang duduk di sampingnya. Arvind melirik pemilik suara, dan membentuk smirk khasnya.


Chandra bergidik ngeri dengan smirknya itu, “Entah apa yang sedang kamu rencanakan, tapi tolong jangan libatkan aku dengan mommy.” Tambahnya lagi. Arvind hanya menepuk bahunya dengan pelan.


“Apa kamu tahu, ekspresimu ini membuatku sedikit ngeri.” Chandra merasa kesal dengan smirk dan ekspresi bosnya yang Nampak tenang.


Mobil pun akhirnya tiba di bandara. Arvind dan Chandra tidak perlu memasuki pintu utama bandara dan melakukan lapor diri ke counter airlines. Dia hanya perlu memarkirkan mobil yang mengantarnya di tempat VVIP. Di bandara dia sudah memiliki tempat parker sendiri untuk pesawat pribadi miliknya.


Seorang pria yang bertubuh kekar dan tinggi memakai jas hitam rapih membukakan pintu mobil untuknya. Arvind keluar dari mobil dan Chandra di pintu seberangnya lagi. Pria itu menyapanya, “Pesawat sudah siap bos.” Lapornya dengan suara berat dan tegas.


Arvind berjalan menuju pesawat pribadi miliknya yang berwarna biru bertuliskan RG Airlines pada badan pesawat. Mereka naik ke dalam pesawat dan disambut dengan ramah oleh pramugari di depan pintu, dan pilot yang duduk di kokpit. “Selamat datang di RG Airlines, Pak Presdir.” Seperti itulah kalimat penyambut dari keduanya.


Pramugari sibuk menyiapkan minuman dan cemilan di bagian belakang pesawat. Arvind duduk di kursi depan dan Chandra di belakangnya. “Tolong berikan saya Coke,” Chandra meminta kepada pramugari yang sedang menyiapkan minuman.


Pramugari menoleh, “Baik, Pak.” Sahutnya sambil tersenyum. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada pria yang duduk di kursi depan sambil memainkan ponsel miliknya. “Pak Presdir, ingin minuman apa?,” tanyanya sopan. Pramugari itu sangat berharap bisa mendapatkan tatapan lembut dari pria tampan itu.


“Seperti biasa saja.” Balasnya tanpa menoleh ataupun melirik.


Pilot yang sedang dikokpit menginformasikan lewat pengeras suara. “Selamat Sore para penumpang bersama dengan saya Capten Pilot Adrian Wijaya, kita akan segera lepas landar menuju Ibukota dengan waktu penerbangan 1 Jam 45 Menit sekarang pukul 16.15 dan akan tiba di Ibukota pada pukul 18.00 waktu setempat. Diharapkan agar penumpang memasang seatbelt dan segera duduk dikursi Anda”


Setelah himbauan tersebut pesawat yang terlihat besar dari luar ini hanya bisa menampung sebanyak 8 orang saja


mengikuti arahan tersebut. Desain  interior mewah di dalamnya membuat pesawat milik Reinhard ini sangat istimewa. Pramugari yang tadinya melayani Chandra pun kembali duduk di kursinya.


Kemudian terdengar lagi pengumuman dari pilot yang menyatakan bahwa ketinggian pesawat sudah stabil. Arvind membuka kacamata hitamnya saat membaca pesan yang masuk di ponsel. Dia terlihat sangat serius dengan isi pesan yang dibacanya.


Dari : dr. Flora


Aku sudah menemuinya dan memeriksa kondisinya.


Aku sudah mengirimkan laporannya ke emailmu.

__ADS_1


Arvind berbalik dan meminta smartbook pada Chandra. “Berikan itu padaku,” pintanya sambil menunjuk sebuah kotak elektronik di samping Chandra. Pun memberikannya setelah meletakkan kaleng minuman di lengan kursi pesawat.


Arvind membuka email dan membuka file yang dikirimkan oleh Dr. Flora. Dia membaca file laporan kesehatan milik Maretha. Arvind sedikit tersenyum membaca laporan dari Dr. Flora yang juga sekaligus adalah sepupunya. Chandra penasaran dengan file yang dibaca oleh bosnya itu. Dia mendekat dan mengambil alih smartbook yang tadi diberikannya.


“Sepertinya gadis pujaanmu akan segera siuman.” Gumamnya setelah membaca file laporan itu.


Ponsel Arvind berdering, dia menggeser panggilan itu. “Ada apa meneleponku? Aku sedang di pesawat.” Sapanya kepada si penelepon yang tidak lain adalah dr. Flora


“Apa kamu tidak menrindukanku?,”


“Setidaknya ucapkan terima kasih, karna aku memberimu harapan” cerca wanita di seberang telepon menggoda Arvind.


“Thanks.” Lalu mematikan panggilan.


Sepertinya wanita yang sedang meneleponnya kesal dengan sikapnya yang seperti itu. Namun, wanita itu juga pasti sudah terbiasa dengan sikap Arvind yang cuek dan dingin. Belum lagi dia termasuk orang yang irit dalam berbicara. Arvind hanya akan berbicara untuk hal yang penting, tetapi sering juga mengeluarkan kata-kata yang sarkas. Bukan kata-kata sarkasnya yang harus dihindari, justru ekspresinya yang tenang bisa bermakna bahwa kamu sedang bermasalah dan sedang tidak baik-baik saja.


Ponselnya pun kembali berdering sebuah pesan masuk dari dr. Flora.


Dari. dr. Flora


(Picture)


She looks so beautiful when she sleeps.


Are u really love her?


Tidak terasa suara pilot pun bergema di dalam pesawat. “Para penumpang, sesaat lagi kita akan mendarat di bandara Ibukota. Waktu setempat telah menunjukkan pukul 17.45.”


Arvind tidak membalas pesan dari dr. Flora. Dia mematikan ponselnya dan memasukkannya di dalam saku jasnya. Mereka pun bersiap untuk mendarat di bandara.


***


Seperti sebuah ritual baginya, setiap kali pulang dari perjalanan dinas atau apapun. Arvind akan menemui Maretha di kamarnya. Bercerita tentang semua yang terjadi padanya dan apa yang dilakukannya seolah berharap wanita itu akan sadar dan berkomentar tentangnya. Mommy yang memerhatikan kebiasaan baru putra semata wayangnya awalnya merasa terkejut, tetapi dia sangat mengenali putranya. Percuma jika dia memprotes atau menasihatinya. Sikap putranya tidak akan berubah.


Arvind masuk ke dalam kamar membawa bucket bunga Anyelir, dia berjalan mengganti bunga yang berada di vas. Kemudian menarik kursi yang berada di samping tempat tidur. Dia meraih tangan wanita itu yang ditusukkan dengan jarum infus. Mengecup punggung tangannya dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Mommy memperhatikannya dari luar jendela.


dr. Flora sudah cukup lama menyaksikan tantenya yang mengintip dari jendela. “Aunty, tidak perlu khawatir. Insyaa


Allah kami bisa menyembuhkannya.” Dia berjalan menghampiri sambil tersenyum kepada tantenya.


dr. Flora melirik sebentar ke jendela, “Aku rasa wanita itu pasti akan bangun. Dia mendapatkan cinta yang sangat besar dari Arvind.” Katanya berpendapat. dr. Vinda pun tersenyum. Dia sangat berharap kali putranya bisa mendapatkan cinta sejatinya.


“Ehem…” dr. Flora berdehem di ujung pintu masuk kamar Maretha. Arvind menoleh dan menadapati dua orang wanita dengan jas putih berdiri di sana.


Arvind beranjak dan mendekati kedua dokter tersebut. Dia meraih tangan ibunya dan memeluknya. “How are you, mom?,” tanyanya basa-basi melepaskan pelukannya dari dr. Vinda.


“As you see, son.” Balas dr. Vinda sambil tersenyum dan mengusap bahu putranya.


dr. Flora melipat kedua tangannya di depan dadanya, “Hei, you can’t see me, bro?,” protesnya karna tidak dipedulikan oleh saudara sepupunya. Arvind tidak menanggapinya dia hanya tertawa kecil padanya.


“Ah sudahlah, kau memang tidak pernah peduli padaku.” Dia mengayunkan tangannya di udara.


“Kapan kamu dan dr. Evan melakukan operasinya?,” tanyanya tidak sabar dengan hasil laporan yang telah


dikirimkannya.


“Jika dia tidak mengalami komplikasi terhadap anestesi yang diberikan, kita bisa melakukan operasi selanjutnya minggu depan.”


“Aku sendiri yang akan mengawasinya selama seminggu ini.” Jelasnya lagi membuat Arvind menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman dan sinar matanya berbinar. Kedua wanita itu merasa senang melihat perubahan ekspresi pria dingin yang sudah lama mereka kenal.


Arvind hanya menatap dr. Flora membutuhkan penjelasan yang lengkap, “Seperti yang kujelaskan pada laporan kesehatan Maretha. Aku sudah menyesuaikan pemberian anestesi terbaru untuknya. Aku akan terus mengawasi perkembangannya. Jika dia tidak mengalami Total Spinal Block, Defisit Neurologis, ataupun yang lainnya. Maka operasi bisa kita lakukan dengan segera.” Tambahnya lagi menjelaskan.


“Berapa peluang keberhasilannya?,” tanyanya.


“80%.” Jawab dr. Flora dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Airmukanya berubah. Sorot matanya berbinar, bibirnya tersenyum,  “Aku percayakan dia padamu, dan dr. Evans.” Harapnya. Dia pun berjalan keluar dari kamar Maretha.


dr. Vinda mengikutinya dari belakang. “Apa kamu tidak merasa ingin menjelaskan sesuatu padaku?.” dr. Vinda menghentikan langkah putranya.


Arvind berhenti dan berbalik, “Mom, aku harus ke kantor sekarang.” Jawabnya mencari alasan.


dr. Vinda menatapnya dengan tajam. Dia lalu melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. “Kamu pikir mommy bodoh dan tidak tahu jadwalmu, hem?,” sedikit mengintimidasi dengan tatapannya yang tajam pada putranya.


Arvind pun akhirnya mengalah. Dia tidak ingin berdebat dengan wanita yang sangat dicintainya ini. “Baiklah.” Gumamnya kemudian.


“Apa mommy tidak punya jadwal operasi?,” tanyanya lagi mencoba mengalihkan perhatiannya. dr. Vinda semakin


mengintimadasi dirinya.


“Mommy sudah selesai, kita makan malam di rumah.” Ajaknya dengan nada sedikit perintah untuk putranya agar patuh.


“Aku akan pulang bersama Chandra, Mom.” Sahutnya memenuhi keinginan ibunya untuk makan malam bersama di rumah.


Arvind dan Chandra memenuhi permintaan Mommy untuk makan malam bersama di kediaman Reinhard. Rumah yang sangat besar dengan halaman yang sangat luas. Kediaman Reinhard bagai istana di sebuah cerita dongeng. Dari pintu gerbang sampai ke pintu masuk rumah berjarak sekitar 300 meter. Jadi tidak memungkinkan jika harus berjalan masuk dari gerbang utama ke pintu masuk. Di depan gerbang di jaga oleh 8 orang sekuriti yang berjaga


secara bergantian. Meski pada gerbang dilengkapi dengan Microcontoller dan Sensor Ultrasonik juga intercom Automatic.


Chandra yang mengemudikan mobil masuk membelah jalan menujur kediaman Reinhard yang dipenuhi dengan tanaman pohon dan lampu taman yang sangat indah. Mereka pun akhirnya tiba di depan rumah, Arvind turun lebih dulu sementara Chandra memarkirkan mobil Jeep hitam.


Seorang pelayan menyambut kedatangan Arvind. “Selamat malam tuan muda.” Sapanya lalu dibalas hanya dengan anggukan oleh pria yang disapa.


Dia berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang makan. Dari jauh sudah terlihat Mommy, Daddy, dr. Flora, dan dr. Evans sedang bercengkerama di meja makan. Mereka berbalik secara bersamaan ketika suara langkah Arvind terdengar.


“Akhirnya orang yang ditunggu muncul juga,” celetuk dr. Evans saat melihat sosok Arvind.


Arvind mendekati ibunya terlebih yang duduk di kursi dekat ayahnya. Dia mengecup kepala ibunya. Seorang pria yang sudah tua tapi masih terlihat sangat tampan dan berkharisma duduk di ujung meja makan samping ibunya. Pria itu hanya menyodorkan kepalan tangannya lalu disambut oleh putranya. Dia pun menarik kursi di samping kursi Tuan Reinhard.


“Aku sangat iri dengan kedekatan kalian.” Komentar dr. Evan menilai cara kedua pria anak dan bapak di depannya. Mereka tampak seperti seorang teman, bukan antara ayah dan anak.


Arvind hanya membentuk smirk di bibirnya. “Lakukan nanti dengan anakmu.” Jawabnya membuat dr. Flora tersedak saat menguyah makanannya.


“Kamu tidak perlu terkejut seperti itu Flo,” ucapnya lagi dengan ekspresi datar.


“Apa ucapanku salah, dr. Evan?,” melirik ke pria di sampingnya.


Memang sulit untuk membalas kalimat sarkas yang keluar dari mulut Arvind. Mereka hanya bisa terdiam tidak membalas ataupun menimpalinya.


“Sebaiknya kalian makan saja. Hari ini Mommy menyempatkan diri memasak untuk menyambut kedatangan dr. Flora dan dr. Evan.” Suara dr. Vinda untuk mencairkan suasana.


Suasana menjadi canggung. Hanya suara dentuman sendok dan piring yang saling beradu. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing. Makan malam pun telah usai.


“Arvind, ikut saya ke ruang kerja.” Ajak Tuan Reinhard beranjak dari kursinya memberi isyarat pada putranya dengan tatapan serius.


Arvind pun ikut beranjak dari kursinya. Dia berjalan mengekor di belakang ayahnya yang juga mempunyai tubuh yang tinggi dan masih kekar meski sudah berusia lanjut. Cara jalan mereka terlihat sama begitu juga dengan bayangan tubuh dari belakang pun sama. Memang ayah dan anak yang saling mendukung.


“Mereka tidak terlihat seperti ayah dan anak jika terlihat dari belakang seperti ini.” Gumam Chandra berkomentar


memandangi punggung kedua pria hebat tersebut.


“Bener banget.” dr. Flora membenarkan.


“Dari belakang pun charisma mereka tetap terlihat, tidak heran jika mereka berdua selalu jadi idola oleh wanita-wanita di luar sana.” dr. Evan menyenggol wanita di sampingnya sambil melirik ke arah dr. Vinda.


dr. Flora menyengir sambil menutup mulutnya dengan tangannya. “Bukan begitu maksud Flora, Aunt. Hehehe”, meneguk gelas minum yang ada di sampingnya.


dr. Vinda hanya menanggapinya dengan serius, “Tante tidak terpengaruh, kok. Tenang saja.” Mengangkat kedua bahunya dengan santai lalu berjalan meninggalkan mereka yang masih terpaku di meja makan sambil saling menatap dengan pikiran mereka.


 “Tentu saja gak terpengaruh, dr. Vinda kan cantik dan juga wanita sukses. Keliatannya aja tenang dan anggun, tapi sebenarnya dia tipe wanita badass kalo lagi marah” benak dr. Flora sambil bergidik ngeri sendiri membayangkan jika dr. Vinda marah.


“Emang ada wanita yang bisa tahan dengan sikap dingin nan cuek tuan Reinhard?,” pikir Chandra.

__ADS_1


“Aku aja gak berani dengan dr. Vinda, gimana mau berani dengan Pak Reinhard?. Macam-macam dengan keluarga ini sama aja menggali kuburan sendiri.” Dalam hati dr. Evan.


Mereka pun saling menatap dan menyunginggkan senyuman lebih tepatnya menyengir, “HAHAHAHA……” Ketiganya pun tertawa bersamaan. Menertawakan pikiran mereka sendiri yang menurut mereka konyol. Juga membayangkan jika ketiga orang itu bisa membaca pikiran mereka.


__ADS_2