
Umbara dan Lisda terlihat cemas dengab kondisi Maretha yang belum sadarkan diri. Terlebih pada Umbara, hatinya pun merasa sakit melihat Maretha yang seperti itu.
Apakah ini memang karna dia sangat mencintai gadis itu atau karna hal lain.
Namun baginya Maretha adalah gadis yang sangat dia cintai. Dia ingin selalu melindungi dan menjaga gadis itu.
Dokter pun keluar setelah memeriksa kondisi Maretha. "Bagaimana kondisi Rere, dokter?," tanya khawatir saat dokter keluar.
Sebenarnya mereka berbicara dengan menggunakan bahasa inggris yang fasih. Namun berhubung Author Grammarnya masih kurang bagus jadi dibuat bahasa Indonesia saja. Jadi anggap mereka sedang berbincang dalam bahasa inggris yaa🙏😁
Dokter itu memandanginya, "Apa kalian keluarga Nona Maretha?," tanya dokter lagi.
Lisda dan Umbara saling bertukar pandang. "Kami bukan keluarganya, tapi kami adalah orang terdekatnya. Kami mahasiswa University of Sydney,"terangnya.
Dokter pun mengerti dengan kondisi mereka yang berstatus mahasiswa yang mengartikan mereka tinggal jauh dari orangtua.
"Baiklah jika kalian adalah kerabatnya, saya akan menjelaskan tentang kondisi Nona Maretha." kata dokter mengajak mereka ke ruangannya untuk berbicara.
Mereka mengikuti langkah dokter itu menuju ruangannya. "Silakan duduk!," tawar si dokter ramah.
Dokter memandangi mereka dengan tatapan serius, "Kondisi Nona Maretha tidak terlalu berbahaya. Dia hanya perlu beristirahat karna luka dikeningnya bekas benturan atau karna terhantam oleh benda keras. Tapi kalian tidak perlu khawatir tentang itu. Sebentar lagi lukanya akan sembuh. Kami pun sudah melakukan CT Scan dibagian kepala, juga tidak ada yang mengkhawatirkan. Hanya saja....." terang dokter menggantungkan kalimatnya.
Kini dokter menatap mereka dengan serius, "Apakah Nona Maretha memiliki riwayat trauma dengan sesuatu hal?," kening dokter mengernyit menunggu jawaban dari mereka.
Lisda berpikir sejenak, "Iya dokter. Rere memiliki Nyctophobia jika dalam kondisi tertentu." jelasnya membuat ekspresi Umbara melotot.
Dokter pun kembali menjelaskan, "Nyctophobia adalah kondisi yang dialami oleh seseorang jika berada di dalam ruangan gelap. Kondisi pasien pun berbeda-beda, tergantung dari pasien itu sendiri. Dalam hal ini saya rasa Nona Maretha masih dalam kondisi normal, karna jika tidak mungkin akibatnya lebih fatal." tambah dokter menerangkan.
"Tapi setahu saya, Rere sudah pernah mengobatinya. Dan dia sudah bisa menerima jika kondisi ruangan gelap," tambah Lisda meminta penjelasan.
Dokter tersenyum, "Mungkin saja. Tetapi dalam situasi seperti yang Nona katakan tadi bahwa Nona Maretha disekap, mungkin saja mendapatkan pukulan sehingga dia merasa terancam. Dan akhirnya mengakibatkan tingkat kecemasannya akan kegelapan semakin meningkat." tambah dokter lagi.
Tangan Umbara mengepal, dia merasa ingin membuat perhitungan dengan Rebecca.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Rere. Tapi kau sudah membuatnya menderita. Aku akan pastikan kau akan mendapatkan hukuman atas apa yang telah kau lakukan pada gadisku" geramnya dalam hati.
Lisda memperhatikan ekspresi Umbara yang terlihat marah.
"Terima kasih dokter atas penjelasannya." kata Umbara.
"Kalian harus bisa menjaganya agar tetap merasa aman. Mungkin beberapa hari ini dia akan merasa ketakutan,"tambah dokter lagi memperingatkan.
Mereka pun mengangguk paham dengan perintah dokter.
Maretha dipindahkan di ruangan rawat VVIP karna Umbara telah mengurus segala administrasinya.
"Apakah ini gak berlebihan kak?," tanya Lisda saat memasuki ruang rawat Maretha.
"Apa menurutmu gue harus membuatnya merasa ketakutan jika di ruangan umum, huh!," jawabnya tanpa menoleh dan berjalan menuju tempat tidur dimana Maretha masih terbaring lemah.
"Cih, dasar anak orang kaya. Bebas gitu ngabisin duit ortu," desis Lisda melihat tingkah Umbara yang berlebihan.
"Gue denger ya!," celetuk Umbara merasa tidak nyaman dengan penilaian gadis berkacamata itu.
Sebenarnya Lisda pun mengerti alasan Umbara ingin melakukan ini kepada Maretha. Hanya saja mungkin terlalu berlebihan.
Lisda berjalan ke sofa yang berada di dalam ruangan Maretha. Umbara mengambil tangan kanan Maretha kemudian menggenggamnya dengan lembut. Tak henti-hentinya dia memandangi wajah itu.
"Beginilah cinta," gumam Lisda sambil membaca majalah yang berada di meja samping sofa.
"Lis, sebaiknya lo balik dulu istirahat. Biar gue yang jagain Rere di sini," kata Umbara saat melihat Lisda yang kelelahan dan mulai ngantuk.
"Baiklah. Besok pagi gue ke sini nengokin sebelum ke kampus," dia pun beranjak dan membuka pintu.
"Thanks ya udah care sama Rere," ucap Umbara sebelum Lisda keluar.
Lisda tertawa kecil,"Sudah pastilah gue care, dia kan sahabat gue."sarkas kemudian keluar dari ruangan.
__ADS_1
Sepeninggal Lisda pergi, Umbara mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo, Jack," sapanya ketika sambungan telepon tersambung.
"Bereskan kekacauan yang terjadi hari ini. Aku mau dia hukum dengan setimpal. Setidaknya buat dia jera dan tidak berani lagi menyentuhnya." perintahnya sarkas.
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan." jawab seseorang di seberang dengan penuh hormat.
"Dan satu lagi, kirimkan bodyguad untuk menjaga ruangan ini agar tidak ada seorangpun yang boleh masuk tanpa sepengetahuan saya."tambahnya lagi.
"Baik tuan, akan segera saya kirimkan," jawabnya lagi.
Sambungan telepon pun terputus. Tidak lama kemudian 3 orang laki-laki dengan berpakain jas hitam datang.
Umbara menemui mereka di luar ruangan. Dia memberikan instruksi kepada mereka. Ketiga lelaki itu menunduk dan mengangguk paham dengan perintah yang diberikan oleh Umbara.
Maretha belum sadar hingga semalaman, mungkin pengaruh dari obat yang diberikan dokter padanya.
Setelah Shalat Subuh, Lisda bangun dan menyiapkan sarapan. Kali aja Umbara belum makan, meskipun dia sudah tahu kalo pria itu pasti sudah membeli makan.
Lisda memasukkan roti bakar yang sudah diberinya dengan selai kacang dan coklat. Hanya sarapan itu yang bisa dia buat. Lisda tidak seperti Maretha yang pandai memasak.
"Hem, rasanya ini cukup deh. Kalopun Kak Bara gak suka setidaknya gue bisa menghabiskannya,"gumamnya kemudian berangkat.
Lisda berjalan turun ke bawah kemudian mengetuk beberapa kali rumah kediaman Tuan Jhon.
TOK... TOK... TOK...
Lisda menunggu berapa saat sambil menahan udara dingin yang menerpa tubuhnya.
CEKLEK
Suara pintu terbuka. Tampak seorang laki-laki yang sudah beruban membukakan pintu dengan wajah khas bangun tidur.
"Ada apa Nona membangunkan ku sepagi ini?,"tanya Tuan Jhon dengan suara serak khas bangun tidud.
"Siapa yang sakit?," tanyanya lagi dengan wajah yang serius.
Lisda mendesah dan sedikit memanyunkan bibirnya, "Semalaman Rere mendapatkan musibah. Jadi harus dirawat untuk beberapa hari ini di rumah sakit,"terangnya.
Kemudian Lisda pun menjelaskan semua kejadian yang menimpa Maretha di kampus. Tuan Jhon pun mengerti.
"Tolong sampaikan salamku untuknya," tuturnya.
Lisda pun menaiki taksi dan membawanya ke rumah sakit tempat dimana Maretha dirawat. Lisda mengernyitkan keningnya melihat 3 orang laki-laki bertampang sangar dan memakai jas hitam sedang berdiri awas di depan ruangan Maretha.
"Siapa mereka?,"pikirnya
Dia pun berjalan mendekati ruangan Maretha. Namun salah satu dari mereka ditahan dan tidak diperbolehkan untuk mendekati ruangan Maretha.
"Maaf Nona, Anda tidak diperbolehkan untuk mendekat apalagi memasuki ruangan ini," cegat laki-laki yang bertubuh tambun dan sedikit berjenggot.
Lisda memaksa untuk masuk sehingga tercipat keributan kecil. Di dalam ruangan Umbara merasa terganggu dengan suara keributan dari luar ruangan.
Dia pun bangkit dari sofa memaksa dirinya bangun dan melihat keluar. Saat membuka pintu, dia mendapati Lisda sedang beradu argumen dengan pengawalnya.
"Biarkan dia masuk. Kecuali dia tidak ada lagi yang boleh masuk ke ruangan ini," perintahnya. Lalu orang itu melepaskannya.
Wajah Lisda cemberut, dia menghentakkan kakinya berjalan mengikuti Umbara yang sudah masuk lebih dulu di dalam kamar.
"Apakah ini gak berlebihan kak?,"tanyanya dengan tatapan tajam pada Umbara yang kembali duduk di sofa.
Umbara menuangkan air ke dalam gelas kemudian meneguknya hingga habis. "Tidak. Karna gue gak mau adalagi yang menyakiti Rere," jawabnya mengarahkan pandangannya pada gadis yang masih tertidur pulas.
Lisda memutar bola matanya jengah dengan sikap berlebihannya Umbara. "Ya terserahlah,"
Kemudian mereka pun saling terdiam. Lisda memegangi punggung tangan Maretha yang juga belum sadar. "Re, sadar dong. Gue kesepian di rumah. Gue kangen masakan lo, tadi gue cuma makan roti bakar," katanya.
__ADS_1
"Lo gak kasihan sama gue? Kelaperan."tambahnya lagi.
Umbara beranjak dan mendekati di samping tempat tidur Maretha. "Apaan sih lo? Bangunin Rere cuma minta dia masakin lo? Enak aja,"protes Umbara dan menepis tangan Lisda.
"Jangan sok Bossy di depan gue apalagi di depan Rere. Yang ada nanti Rere ngejauh dari lo," Sarkas lalu membuka kotak sarapannya.
Lisda memakan roti hasil karyanya dan memakannya sendiri tanpa menawarkan Umbara. "Lo gak nawarin buat gue sarapan?," protes Umbara lagi.
Lisda tidak memperdulikannya, dia tetap mengunyah rotinya. "Lo kan kaya, jadi suruh tuh pengawal di depan beliin lo sarapan." Sarkas.
Disaat mereka adu mulut, Maretha tiba-tiba bergerak. Tubuhnya penuh peluh, tangan gemetaran dan dia terus mengigau.
"Tolong lepaskan aku,"
"Aku takut, tolong bawa aku dari tempat ini,"katanya meracau dengan suara lirih
"Tolong. Kalian mau apa?,"
"Aku takut gelap!," racaunya lagi.
Umbara dan Lisda panik. "Lo panggil dokter cepetan." perintahnya. Lisda pun berlari keluar ruangan mencari dokter. Karena terlalu panik dia lupa jika dikamar itu bell yang menghubungkan ruangan dokter.
Umbara mencoba menenangkan Maretha. Dia memegangi tangannya dan terus menggosoknya dengan pelan. "Kamu tenang ya Re, ada aku di sini. Kamu jangan takut lagi." katanya berusaha menenangkannya.
Maretha semakin gelisah, keringatnya semakin banyak. Tubuhnya bergetar hebat, kemudian terlonjak bangun. "TOLOOOOONGGG!!!," teriaknya histeris.
Umbara memeluknya dengan kuat dengan harapan bisa menenangkan Maretha yang ketakutan. Dia mengusap punggung Maretha dan sesekali mengusap kepalanya. "Tenanglah. Sekarang ada aku. Kamu gak perlu takut lagi. Aku akan terus menjagamu," bisiknya tiada henti berharap Maretha mendengarnya.
Perlahan Maretha membalas pelukan Umbara. Napasnya yang memburu dan tubuhnya yang tadi bergetar sangat hebat mulai menghilang.
"Tenanglah. Aku akan selalu ada untukmu, menjagamu."Bisiknya lagi dengan lembut.
Dokter masuk diikuti oleh dua orang perawat dan Lisda yang mengekor dibelakang. Mereka melihat cara Umbara menenangkan Maretha yang ketakutan.
Maretha memeluk Umbara dengan sangat kuat. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya. "Aku gak mau. Jangan tinggalkan aku, Aku takut, hiks,"katanya dengan isak tangis saat Dokter ingin memeriksa keadaannya.
Umbara mencoba untuk menenangkannya."Aku tidak akan pergi, Re"jawabnya melepaskan pelukan Maretha.
"Aku takut." Maretha menggeleng.
Umbara melepaskan pelukannya. Memandangi wajah gadis ini yang sudah penuh dengan airmata yang bercampur keringat.
"Dokter ingin memeriksamu. Biarkan mereka mengobatimu. Aku di sini di sampingmu,"Bujuknya membingkai wajah Maretha dengan kedua tangannya.
Maretha mengangguk, Umbara membaringkan kembali tubuhnya ke tempat tidur. Maretha tidak melepaskannya genggamannya.
Perawat ingin melepaskannya, "Biarkan saja, dia membutuhkannya,"cegat dokter.
Mereka pun akhirnya memberikan suntikan penenang untuk Maretha. Lalu memeriksa detak jantungnya, darahnya, denyut nadinya, dan juga napasnya.
"Kondisinya mulai stabil. Ini dikarenakan ketakutan berlebihan yang membuat Nyctophobia Nona Maretha kembali." jelas dokter lagi.
"Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah dia perlu perawatan khusus?," tanyanya mengernyit.
Dokter tersenyum,"Tidak perlu. Dia hanya perlu rasa nyaman dan aman juga ketenangan. Untuk beberapa hari ini dia harus dibuat rileks, tidak boleh terlalu banyak berpikir,"terang dokter lagi.
"Baik dokter," kata mereka kompak.
Dokter dan perawat pun keluar meninggalkan mereka.
"Gue gak nyangka jika reaksi Rere, seperti tadi. Kasihan kan, padahal Rere pembawaannya selalu tenang, tidak pernah mau punya masalah dengan orang lain. Tapi ulah si Rebecca jalang itu, Rerebjadi seperti ini,"umpat kesal.
"Kalo aja tuh cewek ada di depan gue pasti gue udah tonjok tuh muka,"tambahnya lagi semakin geram ingin menghajar Rebecca.
Umbara tidak menanggapi, dia mendapatkan laporan dari anak buahnya jika dua orang pengikut Rebecca sudah dibikin babak belur oleh Lisda di toilet.
Wednesday, 15 January 2020
__ADS_1