
Setelqh berganti baju dengan kaos berkerah Arvin kembali ke ruang operasi menemui Chandra.
"Bagaimana operasinya?," tanyanya duduk di sebelah Chandra.
"Belum ada kabar." jawab Chandra singkat.
Arvin meletakkan kedua tangannya di atas pahanya kemudian menopang dagunya.
"Bagaimana dengan laporan polisi?," tanyanya lagi.
Chandra menoleh, "Tadi polisi menghubungiku. Mereka akan ke sini meminta keterangan darimu."
Arvin hanya bergumam. "Lalu tentang keluarga wanita itu?," kini tatapannya serius.
Chandra menepuk jidantnya. "Astaga aku lupa."
Chandra bangkit, "Aku coba periksa ke resepsionis dulu sapa tau baterai ponselnya sudah terisi." kemudian berjalan menuju resepsionis.
Arvin menggeliat dan merenggangkan kakinya yang terasa pegal. Dia melihat lampu operasi belum mati. "Kenapa operasinya lama sekali," gumamnya lirih merenggangkan otot-otot lehernya.
Dua orang pria dengan berseragam polisi berjalan mendekatinya.
"Selamat malam Pak Arvin!," sapa mereka bersamaan.
Arvin hanya mengangguk dengan ekspresi datarnya menyambut mereka. Dia pun bangkit dari duduknya.
"Maaf jika kami mengganggu, kamu ke datang untuk meminta keterangan dari Pak Arvin mengenai kecelakaan yang menimpa Nona Maretha Septin Aura." jelas salah seorang dari mereka sembari menyodorkan sebuah Map kepadanya.
Arvin mengambil Map itu dan membaca berita yang tertulis pada laporan polisi.
Arvin menceritakan jika tubuh Maretha tiba-tiba saja terjatuh di mobil depannya hingga membuatnya harus menginjak rem mendadak. Dia juga melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa, dan kondisi jalan memang sangat sepi. Hanya sesekali kendaraan lewat di jalan itu.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak!," ucap salah seorang dari mereka lagi.
Arvin masih dengan ekspresi datar menanggapi kedua polisi itu. "Kalo begitu kami permisi, pak." mereka pun berpamitan setelah mendapatkan keterangan dan tanda tangannya.
Chandra berjalan mendekatinya. "Apa yang dilakukan polisi itu?," tanyanya menunjuk polisi yang baru saja lewat.
"Minta keterangan dariku." jawabnya.
"Oohh.... Mereka tidak meunduhmu sebagai pelaku kan?," tanyanya curiga sembari menatap Arvin dengan serius.
Arvin menyeringai, "Coba saja jika mereka berani membuat laporan palsu."
Arvin kembali duduk di kursi depan ruang operasi. Dia sedikit khawatir dan mencoba mengingat wajah wanita yang tertabrak tadi. Dia merasa pernah melihat wajah itu.
Seorang gadis dengan tergopoh-gopoh berlari dengan ekspresi cemas mendekati mereka.
"Dimana Rere?"
"Apa yang terjadi dengannya?,"
Gadis itu menghujani mereka dengan pertanyaan sambil meneteskan airmata dan ketakutan.
Arvin mengernyit melihat tingkah gadis itu yang tidak bisa tenang. Dia menatap tajam pada Chandra tentang gadis ini.
**Flashback On
Chandra mendekati meja resepsionis dan meminta kepada petugas untuk melihat ponsel yang tadi dititipkannya untuk diisi baterainya.
"Maaf mbak ponsel yang tadi saya titip udah penuh belum?,"
"Tunggu sebentar Pak saya liat dulu," kemudian perawat yang bertugas mengambil ponsel yang sedang di charger dari dalam laci meja.
"Ini Pak baterainya sudah terisi tapi belum penuh." katanya memberikan ponsel Maretha pada Chandra
Chandra mengambilnya dan menyalakan ponsel itu. Saat dinyalakan bunyi notifikasi terus berdering.
"Gila banyak banget pesan dan telpon yang masuk," gumamnya mencoba mengotak-atik kata sandi ponsel itu.
__ADS_1
Kemudian sebuah panggilan masuk dengan kontak bertuliskan "Bestie Alisya". Chandra mengernyit, dia memandangi ponsel yang berdering itu. Dia berpikir untuk mengangkat panggilan yang masuk.
Panggilan pun mati. Tetapi kembali berdering dan Chandra pun menggeser layarnya dan menjawabnya.
"Halo, Re. Kamu dimana? Aku khawatir banget sama kamu, ini udah jam 2 pagi tapi kamu belum pulang." kata orang diseberang telpon.
"Re, kamu gak apa-apa kan. Firasatku gak enak banget nih." tambahnya lagi dengan cemas.
""Re, kok kamu gak jawab sih?,"
"Rere, sekarang kamu dimana? lagi dimana dan dengan siapa?."
"Kamu lagi sama Kak Bara ya?,"
Alisya terus bertanya tanpa memberikan kesempatan kepada orang yang mengangkat telpon berbicara. Chandra memijit pelipisnya menghadapi cewek ini.
Chandra mendesah gusar, "Halo mbak, ini saya dengan Chandra." Sapanya
"Ehhh.....Kamu siapa? Kenapa bisa hp Rere kamu yang angkat? Awas ya kalo kamu apa-apain teman aku." balas Alisya merocos terus.
Chandra menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia terlihat kesal menghadapi cewek yang sedang menelpon.
"Mbak, tolong dengarkan saya dulu." pintanya memohon dengan suara yang sengaja dilembutkan menahan kesal.
"Oke, baik.... Sekarang katakan dimana Rere dan kenapa bisa hp nya sama kamu." bentaknya
Chandra mendesah lagi, "Sekarang saya di rumah sakit sedang menunggu Nona Maretha operasi. Tadi sekitar jam 9 malam mengalami kecelakaan mobil." jelasnya dengan pelan.
Diseberang telepon tidak merespon. Suara cempreng yang cerewet tidak terdengar kecuali desahan napas yang tidak beraturan.
"Kamu pasti bohong kan! Rere pasti gak kenapa-kenapa kan! Tolong jangan becanda," isaknya.
Chandra berpikir bagaimana menenangkan gadis ini. "Begini mbak. Sebaiknya mbak ke Rumah Sakit VR MEDICAL HOSPITAL sekarang nanti baru saya jelaskan detailnya. Kami hanya menginformasikan kabar tentang Nona Maretha."
"Ba.... Baik... Saya akan ke sana sekarang." kemudian sambungan telpon pun terputus.
Chandra mendesah lega kemudian mengangkat wajahnya dan memegang pinggangnya untuk menenangkan dirinya.
Gadis itu menatap ke arah Chandra dan Arvin secara bergantian.
"Bagaimana keadaan Rere?," tanyanya lirih dengan airmata yang sudah membanjir.
Arvin masih duduk dengan ekspresi datar dan dingin. Chandra mendekati gadis itu.
"Perkenalkan mbak, saya Chandra yang tadi menerima telpon." sapanya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.
Alisya menyambutnya dengan tatapan bingung. "Saya Alisya sahabat Rere, maksud saya Maretha."
Chandra meminta Alisya untuk duduk dan menjelaskan yang terjadi sesuai dengan yang didengarnya dari bosnya Arvin.
"Lalu bagaimana keadaannya?," tanyanya lirih menatap ke pintu ruang operasi.
Chandra bergidik, "Kami juga belum tahu. Sementara menunggu dokter yang sedang menangani operasinya."
Alisya terduduk lemas mendengar bahwa Maretha mengalami kecelakaan mobil yang saat ini sedang diselidiki akibat dia tertabrak dan tubuhnya terpental sampai pada mobil Arvin.
Mereka bertiga pun menunggu operasi selesai dilakukan. Sejak tadi dokter dan perawat hanya keluar masuk dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Alisya menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menundukkan wajahnya. Tangisnya pecah dan terus terisak.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Re? Tadi kamu pergi dengan Kak Bara dan sekarang malah kamu di sini." Gumamnya dengan terisak.
"Dan sekarang dimana Kak Bara? Kenapa dia tidak ada menemani kamu?," tanyanya lagi.
Kemudian dokter Herman yang menangani operasi Maretha keluar. Mereka bertiga pun berhambur menghampirinya.
"Dokter bagaimana keadaan teman saya?,"
"Bagaimana keadaannya?,"
__ADS_1
Tanya mereka bersamaan. Dokter Herman memandangi mereka secara bergantian.
Dokter mendesah dan wajahnya pun pias. "Apa diantara kalian ada yang memiliki golongan darah AB+?,"
"Pasien mengeluarkan banyak darah dan sekarang membutuhkan donor untuk melanjutkan operasi yang dilakukan". terangnya.
Alisya mengernyit dan berpikir siapa diantara teman-temannya yang memiliki golongan itu. Chandra pun melakukan hal yang sama dengan memegangi dagunya.
"Ambil saja darahku," kata Arvin mengagetkan mereka.
Chandra membelalakkan matanya. "Kamu serius, Pak?," tanyanya meyakinkan dan hanya dibalas anggukan oleh Arvin.
"Baiklah kalo begitu kamu ikut dengan perawat untuk diperiksa. Semoga kondisi bagus dan bisa mendonorkan darah untuk pasien."
Arvin pun berjalan ke ruangan yang dimaksud. Dia tidak perlu dibimbing ataupun diberikan petunjuk. Rumah sakit ini adalah milik keluarganya dan dia sudah tahu semua lokasinya.
Alisya dan Chandra kembali duduk sembari menunggu Arvin melakukan pemeriksaan.
Arvin lalu datang bersama perawat. "Bagaimana?," tanya Chandra mendekati.
"Kondisi Pak Arvin bagus, dan bisa melakukan donor darah." jawab perawat kemudian menyusul Arvin yang juga masuk ke dalam ruang operasi.
Arvin mengganti baju khusus pasien yang diberikan oleh perawat kemudian menutup mulutnya dengan masker. Proses transfusi darah yang dilakukan Arvin adalah langsung kepada pasien dengan peralatan khusus yang tidak perlu menunggu lama.
Arvin menatap pasien yang sedang terbaring dengan peralatan medis yang tertempel pada tubuhnya. Dia lalu berbaring di atas brankar kemudian perawat pun menusukkan jarum suntik dan membiarkan darahnya mengalir keluar memenuhi kantung yang disiapkan. Kemudian dari kantung itu lagi dialirkan dengan alat khusus ke wadah yang lain untuk disterilkan kemudian baru dialirkan ke tubuh pasien.
Setelah proses itu dilakukan Arvin pun bangun dengan bantuan perawat. "Sekarang Pak Arvin harus beristirahat karna darah yang diambil cukup banyak." kata perawat mengingatkan. Arvin hanya mengangguk.
Arvin keluar dari ruang operasi dengan disambut oleh Chandra dan membantunya untuk duduk. Operasi pun dilanjutkan setelah beberapa saat tadi dijeda karna kekurangan darah.
"Kamu gak apa-apa kan?," tanya Chandra sedikit cemas dengan kondisi bosnya.
Arvin hanya mengangguk sembari mengedipkan matanya. "Syukurlah," desah Chandra merasa lega.
Alisya sudah gelisah dan berkeringat, "Terima kasih Bapak sudah mau membantu teman saya." Ucapnya ditengah isakannya yang masih ada.
Mereka kembali menunggu hasil operasi yang dilakukan. Alisya berjalan mondar-mandir dengan tangan yang berkeringat dan juga tiada henti menangis.
Arvin memijit pelipisnya merasa pusing. "Sebaiknya kamu istirahat di ruangan." tawar Chandra. Tapi Arvin menolaknya.
Arvin menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Dia tertidur karna merasa sangat lelah. Alisya masih bertahan, dia sangat gelisah dan cemas.
Dia terus berpikir apa yang harus dikatakannya untuk mengabarkan Bunda, Ibu, Mas Danang dan Amel. Dia kebingungan untuk menghubungi mereka.
Chandra memperhatikan sikap Alisya yang sangat gelisah. Dia beranjak menuju kafetaria rumah sakit yang buka 24 jam untuk memesan kopi.
Chandra membawa 3 gelas kopi dari kafetaria. Dia memberikan kepada Arvin dan juga Alisya.
Chandra menepuk pundak bosnya pelan. "Minum dulu kopinya!," tawarnya menyodorkan segelas kopi dalam kemasan gelas kertas. Arvin membuka matanya dan menerimanya.
Dia lalu mendekati Alisya yang berdiri menyandarkan tubuhnya di samping pintu ruang operasi.
"Ini minumlah!," tawarnya memberikan segelas lagi padanya.
Alisya menerimanya kemudian menyesapnya. "Terima Kasih."
Chandra berdiri di samping Alisya dengan menyandarkan sebelah bahunya sambil menatap Alisya yang masih tertunduk.
"Kenapa kamu terlihat gelisah? Apa yang kamu pikirkan?," tanyanya.
Alisya menoleh dan menatap Chandra. "Aku takut jika operasi ini tidak berhasil? Aku bingung bagaimana menjelaskan ini kepada Bunda, Ibu, Mas Danang dan Mbak Amel." Jelasnya.
"Tunggulah sampai operasinya selesai. Setelah itu kamu bisa mengabarkan kepada mereka." Tutur Chandra
"Lagipula kasus ini sedang kami selidiki. Mungkin sebentar lagi sudah mendapatkan hasilnya." sambungnya.
"Sebenarnya mereka siapa? Tapi aku merasa tidak asing dengan laki-laki itu." tanyanya membatin.
"Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mendoakannya agar operasinya lancar." Nasihat Chandra lagi lalu kembali duduk di sampingnya bosnya Arvin.
__ADS_1
Tuesday, 03 March 2020