
Seperti yang telah dikatakan oleh Umbara. Maretha pun mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan orangtua Umbara.
Umbara pun sudah memberitahu orangtuanya ingin memperkenalkan kekasihnya. Sebenarnya kunjungan orangtua Umbara bukan karna ingin mengenal gadis yang telah membuat putra mereka jatuh cinta. Tapi mereka datang ke Australia untuk urusan bisnis.
"Pa, aku akan mengenalkan Rere pada kalian." kata Umbara memulai pembicaraan mereka di apartemen miliknya.
Papa Umbara yang tidak lain adalah Danu Atmaja hanya berdeham. Tidak memberikan ekspresi berlibahn. Tidak juga menunjukkan ekspresi senang.
"Mama udah gak sabar pengen ketemu pacar kamu Bara," Balas Ibu Amara ibu dari Umbara.
"Aku yakin mama pasti akan suka dengan Rere." sambung Umbara antusias.
Pak Danu hanya diam. Dia tidak menanggapi sedikit pun perbincangan antara Umbara dan istrinya Amara.
Setelah sarapan Pak Danu berpamitan kepada istrinya untuk menemui kliennya di sebuah perusahaan di Sydney. Umbara pun berpamitan ke kampus.
"Ma, aku pergi dulu ya. Nanti siang papa jemput untuk makan siang bareng dengan klien." Pamit Pak Danu kepada istrinya kemudian mengecup keningnya.
"Ma, Bara juga pamit ke kampus," pamit Umbara kepada ibunya Amara.
"Pa, Bara pamt ke kampus. Nanti malam Bara akan ajak Rere ketemu dengan Papa." pamit Umbara kepada ayahnya.
Pak Danu tidak merespon sedikit pun tentang Maretha. Dia hanya diam dan berdeham mendengar nama Maretha.
"Kalian berdua hati-hati ya!," ucap Amara menengahi kedua lelaki yang dicintainya.
Umbara mencium pipi ibunya sebelum pergi dan hanya memberikan senyuman pada ayahnya.
Pak Danu pun melakukan hal yang sama. Tidak ada perlakuan lembut antara dirinya dengan putranya. Mereka berdua selalu berbeda paham.
Umbara menaiki mobilnya begitu juga dengan Pak Danu. Mereka hanya saling menatap tanpa ekspresi sebelum masuk ke dalam mobil masing-masing.
Pak Danu masuk ke mobilnya di kursi penumpang karna selalu ada driver yang mengantarnya.
"Jalan sekarang!," perintahnya datar sambil memperhatikan dokumen yang ada di tangannya.
"Baik, Pak!," jawab Mr. Smith driver Pak Danu.
Mobil yang berwarna putih itu pun berlalu. Umbara pun masuk ke dalam mobilnya di depan kemudi.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengirimkan pesan pada kekasihnya.
**To : My Love
Syg, aq otw ya jemput kamu
From : My Love
Aq jg udh siap**
Setelah membaca balasan dari Maretha dia pun memutar kunci dan menginjak gasnya. Dia pun mengajak mobil sportnya yang berwarna biru membelah jalanan Sydney.
30 menit, Umbara sudah sampai di runah Maretha. Dia menghentikan mobilnya dan berjalan mendekati mereka yang sedang menunggu di depan halaman.
"Hi semuanya!," sapa Umbara kepada Alisya dan Lisda yang sedang mengobrol sambil menunggu.
"Hi Kak Bara!," balas Alisya dan Lisda bersamaan.
Umbara menangkupkan tangan kanannya di wajah Maretha. "Kamu gak nunggu lama kan sayang?," tanyanya penuh perhatian.
Maretha hanya mengulum senyum, "Gak. Kami juga baru turun." balasnya.
Alisya berdeham, "Ehem... Mesra banget sih. Ada kita loh di sini," protesnya.
Maretha pun tersipu malu. Maretha selalu bersikap malu jika Umbara memperlakukannya dengan sayang. Meskipun di depan sahabatnya.
"Oh ya, aku pamit duluan yaa. Takut telat." Pamit Alisya yang sudah ingin beranjak meninggalkan mereka.
"Gue juga mau ke kampus," sambung Lisda juga ikut pamitan.
"Eh, kalian tunggu." katanya membuat langkah kedua sahabatnya berhenti.
Lisda dan Alisya pun berbalik bersamaan. "Kenapa Re?," tanya Alisya mengernyitkan alisnya.
Maretha tersenyum. "Kita antar kalian ya," katanya membuat Umbara menaikkan alisnya.
"Kak kita antar Alisya ke halte ya, trus kalo Lisda kan kampusnya bareng." pinta Maretha. Umbara langsung menyetujui permintaannya.
"Yuk, kita jalan sekarang biar Alisya gak telat ke Perth." ajak Umbara menggandeng tangan Maretha masuk ke dalam mobil.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Alisya dan Lisda duduk di kursi penumpang. Umbara mengantarkan Alisya ke halte, lalu melanjutkan perjalanannya ke kampus.
"Thanks ya udah nganterin sampai sini." ucap Alisya kepada Umbara dan Maretha.
"Hati-hati ya Al, nanti kabarin kalo udah sampe." kata Maretha.
"Iya, jangan main tiba-tiba aja pulang."sarkas Lisda.
"Biasa aja dong, Lis," balas Alisya ketus. Mereka berdua memang tidak terlalu akur karna Lisda yang cuek dan jutek.
Sementara Alisya cerewet dan kepo. Sehingga Maretha harus memisahkan mereka jika ketemu.
"Sudah ih, kalian suka banget berantem. Entar malah saling rindu juga." balas Maretha. Umbara hanya menyimak perbincangan mereka.
Alisya tinggal dengan Maretha dan Lisda karna Alisya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan Fashion Design di Australia, Perth selama setahun. Alisya seminggu sekali kembali ke Sydney tinggal bersama Lisda dan Maretha.
"Oh ya, aku kayaknya balik deh bentar karna besok gak ada kegiatan. Seminggu ini hanya 2x aja pertemuannya." Kata Alisya memberitahu.
Maretha mengangguk. "Kalo begitu gue bisa minta tolong dong," sambung Umbara.
Alisya menaikkan alisnya. "Minta tolong apa kak?," tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
Umbara mengalihkan pandangannya pada Maretha. "Nanti malam ada acara dinner bareng papa mama gue. Dan [dia menarik napas] gue mau ngajak Rere juga." jelasnya.
Alisya mengangguk paham, "Gue tahu kok apa yang harus gue lakukan." serunya.
"Ya sudah kalian jalan gih ke kampus entar telat lagi." Kata Alisya lagi mengingatkan.
Mereka pun akhirnya menuju kampus. Setelah memarkirkan mobil, Lisda turun lebih awal.
"Gue duluan ya ke kelas karna sebentar lagi udah masuk." pamit Lisda meninggalkan Maretha dan Umbara yang masih bersiap-siap turun.
Maretha menoleh, "Oke. Entar bareng ya makan siangnya."
Lisda hanya merespon dengan membentuk jarinya "OK" lalu berjalan menuju kelasnya.
Maretha pun ikut turun dari mobil lalu disusul oleh Umbara.
Mereka berjalan berdampingan. Umbara mengantar Maretha sampai ke depan kelas.
"Mas aku kok takut ya mau ketemu sama orangtua kamu." kata Maretha sedikit menunduk.
Umbara tersenyum kecil, "Gak usah takut. Mereka baik kok, lagian kan ada aku." katanya menenangkan lalu memeluk Maretha.
Cup.....
Umbara mengecup kening Maretha. "Kamu masuk gih. Nanti siang gak bisa bareng kamu. Tapi entar aku jemput kalo pulang." tambahnya lagi.
Maretha tersenyum sambil mengangguk.
\
Selama menunggu malam hari, Maretha meluapkan kegelisahan dan ketakutannya bertemu dengan orangtua Umbara.
****Group Chat
Me : Guys, aku kok takut ya mau ketemu dengan orangtua Mas Bara
Alisya : Gak perlu takut, kan ada kita
Lisda : Iya, kita bakal bantuin kok
Alisya : Aku udah mintol sama si jutek siapin semua yang kamu butuhkan bentar malam sayang.
Lisda : 😡 enak aja bilang gue jutek
Alisya : Iya emang lo jutek kan!
Me : Hush, ini kok pada berantek sih. Aku left nih kalo gini.
Lisda : Enggak kok Re. qta baikan deh yaa.. ya kan Al
Lisda : Of course....
Me : Jadi gimana?
Alisya : Aku udh atur semuanya beb. Nanti Lisda yg bantu siapin.
Lisda : Yupsi, betul banget...
Alisya : Ok, aku lagi ada materi. see u soon guys
Lisda : me too**....
Setelah obrolan panjang di group. Mereka mengikuti kegiatan masing-masing. Hingga menjelang sore kampus bubar. Lisda sudah sejak tadi meninggalkan kampus pergi ke butik mengambil dress yang sengaja di pesan oleh Umbara sesuai dengan instruksi dari Alisya.
Umbara pun menjemput Maretha di kampus dan mengantarnya pulang.
"Nanti malam aku jemput ya jam 7, kamu harus cantik dan tetap sepeti Rereku yang manis dan juga lembut," kata Umbara mencubit pipi Maretha gemaa dan pelan.
Maretha merapatkan bibirnya dan menyipitkam matamya. "Mas akan tetap bersamaku, kan!," katanya manja.
"Tentu saja sayang," Umbara lalu menempelkan keningnya pada kening Maretha hingga wajah mereka saling berdekatan.
Nafas mereka saling bertemu. Umbara menggosokkan hidungnya pada hidung Maretha. "Aku mencintaimu, Maretha Septin Aura." ucapnya lalu mengecup keningnya.
"Ehem, senang ya bikin orang baper," protes Alisya yang sudah sampai dan berdiri di depan pintu.
"Kamu udah pulang, Al?," tanya Maretha salah tingkah dan malu.
"Kan untuk bantu kamu, beb." jawabnya singkat kemudian berlalu masuk ke dalam setelah Umbara menggeser tubuhnya dan memberikan jalan untuk Alisya lewat.
"Ya sudah aku pulang dulu ya," Pamit Umbara.
"Lisda, Alisya. Tolong dibantu ya. Nanti gue balik lagi."katanya.
"Siap kak," sahut Alisya menaikkan jempolnya.
Setelah Umbara pergi Alisya menunjukkan kemampuan dalam bidang fashion. Dia membantu Maretha untuk tampil cantik malam ini bertemu dengan Papa Umbara.
Alisya memadukan Dress selutut dengan lengannya yang pendek dan leher berbentuk V. Alisya sengaja memperlihatkan sedikit bagian leher Maretha yang jenjang. Warna dress hijau lime yang terlihat segar dengan kulit Maretha yang putih mulus. Lalu rambut Maretha tetap dibiarkan tergerai tetapi dibagian pinggir dibuat kepang sebagai pengganti bandana atau jepitan.
Alisya juga memberikan make up natural dan tipis pada wajah Maretha yang memang sudah cantik dan bibirnya yang sdh merona diberikan warna pink nude.
Dengan tas kecil yang berwarna sama dengan dressnya. Maretha terlihat cantik, dan semakin anggun.
"Wow, gue pangling loh. Soalnya lo gak pernah make up seperti ini." puji Lisda melihat Maretha yang terlihat cantik.
Maretha terus memandangi dirinya di depan cermin. "Ini gak berlebihan kan?," tanyanya masih kurang percaya diri.
__ADS_1
"Ya enggaklah. Ini udah pas banget dengan karakter kamu." tambah Alisya meyakinkan.
"Benar banget. Lo keliatan lebih cantik Re," Puji Lisda sekali lagi.
Alisya menyengir, "Terima Kasih mbak jutek," balasnya sambil memicingkan matanya.
Lisda mengernyit, "Gue muji Maretha, bukan Lo." balasnya Sarkas.
Alisya masih nyengir, "Tapi kan ini hasil karya gue. Itu berarti sekarang lo akuin kalo gue itu hebat." jelas Alisya membuat Lisda semakin dongkol.
"Terserah lo saja," balasnya kemudian berlalu menuju pintu yang terdengar seseorang mengetuk.
Lisda membuka handel pintu lalu membukanya. Terlihat sosok Umbara yang mengenakan kemeja motif abstrak dengan celana jeans dan dipadukan dengan sepatu sport.
"Rere udah siap kan?," tanya Umbara pada Lisda dengan ekspresi datarnya.
Lisda menggeser tubuhnya agar Umbara bisa masuk. "Re, pacar lo udah jemput nih!," teriak Lisda kemudian berlalu menuju dapur untuk mengambil air.
Maretha berjalan keluar kamar setelah mendengar panggilan Lisda. Alisya mengekor di belakangnya. Umbara tidak berkedip melihat penampilan Maretha untuk pertama kalinya menggunakan make up. Dia sangat memuji makhluk ciptaan Tuham yang sangat sempurna.
"Cantik!," ucapnya lirih. Hanya kata itu yang terlintas.
Alisya mendekati Lisda yang berdiri di dekat meja makan. Dia merebut air minum yang berada di tangan Lisda.
Lisda menyenggol tangannya kesal, "Ambil sendiri sana," bisiknya.
"Gue udah haus,"balasnya tidak menoleh.
"Ehem, Mas. Bagaimana?," tanya Maretha pelan membuyarkan lamunan Umbara.
Umbara salah tingkah, "Ehm...Uhm... Ya... Kita berangkat sekarang!," ajaknya.
Mereka pun berpamitan dan menuju restoran tempat yang sengaja dipesan oleh Umbara untuk pertemuan ini.
Sebelum berangkat Umbara berkali-kali memandangi Maretha dan membuatnya tersipu malu. Lalu mereka pun melanjutkan perjalananvke restoran.
"Mas, aku takut ketemu sama orang tua mu?," ucapnya sebelum masuk ke dalam restoran.
"Gak perlu takut. Kan ada aku, sayang" sahut Umbara memegang dagu Maretha.
Orangtua Umbara sudah tiba 5 menit lebih cepat dari mereka. Mereka pun berjalan masuk ke dalam restoran. Nampak di ujung restoran yang sudah dipesan oleh Umbara sepasang wanita dan laki-laki yang sudah tua. Tapi mereka masih terlihat cantik dan tampan.
Mereka menghampiri mereka. Umbara menyapa mereka dengan sopan.
"Ma, Pa. Maaf sudah menunggu." sapanya mengalihkan perhatian mereka.
Amara berdiri memyambut keduanya dengan senyum sumringah.
"Akhirnya kalian datang juga. Kami belum lama kok sampenya." Jawab Amara.
Pak Danu yang merupakan Papa Umbara tidak merespon. Ekspresinya datar.
"Ma kenalin ini Maretha pacarnya Bara," Kata Umbara memperkenal wanita cantik di sampingnya anaknya.
"Assalamualaikum, tante." sapa Maretha mencium punggung tangan Amara.
Amara menyambutnya dengan senang. Dia memeluk Maretha dengan senang.
Kemudian beralih pada Papa Umbara, "Assalamualaikum, Om", sapanya sopan dengan cara yang sama.
Pak Danu memberikan tangannya. Tapi tidak memberikan ekspresi apapun. Dia hanya tersenyum sinis.
"Silakan kalian duduk", kata Pak Danu yang diikuti oleh mereka.
Kemudian mereka pun memesan makanan untuk makan malam pada pelayan. Maretha merasa canggung karna Pak Danu melihatnya dengan tatapan tidak suka pada raut mukanya. Untung saja Amara sangat menyukainya.
"Kamu cantik sekali, nak. Umbara sangat beruntung deh" Puji Amara membuat Maretha tersipu malu.
"Aku biasa aja kok, tante. Aku yang beruntung dicintai sama Mas Bara." balasnya dengan malu-malu.
Kemudian pelayan pun membawakan makanan untuk mereka. Mereka menikmati makan malam itu dengan tenang dan senang. Kecuali Maretha yang merasa terganggu dengan sikap Papa Umbara yang jelas tidak menyukai dirinya.
Umbara dan Amara sangat mengerti hal itu. Mereka sengaja menghibur Maretha untuk menyemangati.
Umbara memegang tangannya untuk menyalurkan semangat padanya. Kemudian acara makan malam pun berakhir. Orangtua Umbara berpamitan.
"Papa hanya menginginkan kamu bisa menikah dengan yang sederajat dengan keluarga kita." Kata Pak Danu datar tetapi memandangi Maretha dengan tatapan sinis dan mengintikidasi.
Maretha menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat Pak Danu. Dia menahan dirinya agar tidak menangis.
"Kita sederajat kok, Pa. Kami belajar di kampus yang sama." balas Umbara menantang Pak Danu.
Pak Danu ingin membalas, tapi Amara menahan suaminya untuk tidak bertengkar dengan anaknya.
"Rere, Bara. Kami pulang dulu ya!," pamit Amara dengan ramah.
"Bara, lainkali ajak Rere ya ke rumah kalo kalian udah selesai kuliahnya." Tambah Amara lagi mencairkan suasana.
"Insyaa Allah Tante." Sahut Maretha dengan tersenyum.
Mereka pun akhirnya pergi dan meninggalkan restoran. Maretha terduduk lesu, melepaskan beban yang tadi dirasakannya.
Umbara memeluknya dan mengajaknya kembali ke dalam mobil. Maretha berkali-kali menarik napas panjang untuk melegakan sesak didadanya.
"Papa Mas Bara gak suka dengan aku, Mas." keluh Maretha dengan airmata yang mulai merosot
Umbara menghapus airmata Maretha dengan ujung ibu jarinya. "Kamu gak perlu khawatir sayang. Setidaknya Mama menyukaimu. Soal Papa nanti kita akan pikirkan caranya untuk menaklukan dirinya." bujuknya.
Maretha pun tersenyum. "Tapi bagaimana jika Papa Mas Bara gak pernah merestui hubungan kita?,"Tanyanya lagi semakin sedih.
Umbara merangkulnya lagi. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." katanya lagi meyakinkan.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baik, Umbara pun melajukan mobilnya dan mengantarkan Maretha pulang.
Wednesday, 05 Februari 2020