
Ponsel Maretha berdering saat dia sedang memimpin sebuah meeting, semua mata memandangnya dengan tatapan yang sangat mengganggu. "Maaf, tadi aku lupa untuk menonaktifkan ponselku," ucapnya dengan perasaan bersalah setelah mematikan panggilan dari seseorang yang sangat dicintainya.
Maretha lalu melanjutkan presentasinya didepan Direktur perusahaannya dan beberapa pemegang saham lainnya.
"Selamat, Rere Presentasimu tadi sangat bagus. Dan proyek ini saya percayakan padamu. Kamu boleh memilih tim sendiri yang bisa kamu ajak bekerja sama." Pak Lukman memberinya selamat setelah para pemegang saham pergi meninggalkan perusahaan.
Pak Lukman adalah Direktur dari Perusahaan yang bergerak di Bidang Periklanan di tempat Maretha dan sahabatnya Alisya bekerja. Pak Lukman mungkin sudah berumur, tapi pesonanya masih terlihat sangat jelas. Hal ini terlihat dari postur tubuhnya yang tegap dan masih ada sisa-sisa otot yang dirawat. Perawakannya tegap dengan postur tubuh yang tinggi sekitar 178cm, rahang yang tegas, matanya berwarna coklat meski ditutup dengan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya.
Maretha mengukir senyuman khasnya yang memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya yang membuatnya semakin cantik."Terima Kasih Pak atas kepercayaannya. Insyaa Allah aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk proyek ini," katanya membalas uluran tangan Pak Lukman dengan penuh semangat dan percaya diri.
"Oh ya, kejadian tadi jangan diulang lagi," tambah Pak Lukman memperingatkannya saat ingin berbalik kembali ke ruangannya.
Maretha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Baik Pak," sedikit malu.
Setelah Pak Lukman berjalan meninggalkannya. Alisya berlari kecil mendekatinya dan serta merta memeluknya dengan bersemangat. "Maretha, kamu sangat hebat tadi. Aku sangat bangga punya sahabat sepertimu," peluknya bersemangat membuat Maretha sedikit sulit untuk bernapas.
Maretha berusaha melonggarkan pelukan sahabatnya itu, "Al, to--long longgarkan sedikit pelukanmu. A--aku sedikit sulit bernapas." akhirnya dia bisa menyelesaikan kalimatnya.
Alisya, menyadari keterbataan sahabatnya. Dia pun melonggarkan pelukannya. "Maaf, tapi aku benar-benar senang mendengarnya. Akhirnya kamu bisa juga membuktikan bahwa kamu bisa memimpin proyek yang besar ini." Tambah Alisya lagi masih bersemangat.
"Kamu kan tahu, kalo aku sangat senang mendengar hal ini. Dan,,,,,,,,, kita harus merayakannya. Kau harus mentraktirku makan." tambah Alisya lagi.
Senyum terukir dibibirnya yang tipis, "Itu sudah pasti. Kamu bisa memilih tempatnya dimana."balasnya lagi semakin membuat Alisya kegirangan.
Maretha memegangi ponselnya, dan sebuah pesan masuk. Dia membaca dilayar datar ponselnya, pesan dari kekasihnya yang sudah menjadi tunangannya.
From : Mas Bara❤
Aku dengar presentasimu sangat memukau, selamat ya sayang😍. Kamu memang sangat hebat😘
Senyumannya merekah dan berhasil membuat wajahnya memerah.
**To : Mas Bara❤
__ADS_1
Makasi juga sayang, semua juga karna mas terus-terusan memberiku semangat🙏🤗
From : Mas Bara❤
I Love you 3000❤ my future wife😘
To : Mas Bara❤
I Love u too my future husband**
"Ciyee, senengnya dapat semangat dari sang calon suami," ledek Alisya menyenggol bahu Maretha yang terlihat malu.
Maretha memegang ponselnya didekat dadanya dengan bahagia. "Aku bahagia, pada akhirnya kami akan menikah. Papa Mas Bara pun akhirnya memberikan restunya," Sebulir air bening menetes di pelupuk matanya. Airmata bahagia dan haru. Hari ini Maretha sangat bahagia,
"Gak usah sedih gitu dong. Yuk, kita makan. Aku udah lapar banget," ajak Alisya menarik tangannya dengan paksa.
-----
Mereka masuk ke sebuah restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Mereka duduk dipinggir dekat jendela di tempat favorit mereka.
"Selamat sore, mau pesan apa?." tanya pelayan itu dengan ramah sambil mengeluarkan pulpen dari saku celemeknya dan sebuah taking order.
Alisya membuka buku menu dan melihat daftarnya. "Re, kamu mau pesan apa?." tanya Alisya kebingungan melihat daftar menu yang sudah sering dilihatnya.
Maretha, masih sibuk dengan ponselnya membalas chat dari calon suaminya. "Hmm, aku mau yang biasa saja." jawabnya tanpa melirik pada Alisya.
Alisya memutar bola matanya malas melihat tingkah sahabatnya yang masih sibuk chat dengan Umbara. "Serius banget chatnya," tegurnya.
"Hmm," balas Maretha lagi.
"Permisi, mbak. Kalo masih lama saya nanti saya kembali lagi. Jika sudah punya keputusan silakan panggil saya lagi atau dengan teman saya." Tawar pelayan itu dengan sopan.
Alisya mendongak ke arah pelayan, "Aku pesan Greentea Smoothies 1, Mocca Latte 1, Air Mineral 2 yang tidak dingin."
__ADS_1
"Ini saja mbak?." tanya pelayan itu. Kemudian Alisya menunjuk menu makanan pada daftar menu. "Aku mau yang ini 1 dan yang ini," jawabnya sambil menunjuk menu. Si Pelayan dengan telaten mencatat pesanan mereka.
"Baik mbak saya ulangi pesanannya ya, Greentea Smoothies 1, Mocca Latte 1, Air Mineral 2 yang tidak dingin, Paket Spesial 2 1 dan Paket Spesial 3 1. Apakah pesanannya sudah benar?." tanya pelayan lagi melakukan konfirmasi.
Alisya mengangguk membenarkan pesanannya, "Baik, mbak mohon ditunggu. Pesannaya akan siap 10 menit." Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan mereka.
Maretha masih sibuk dengan ponselnya. Alisya mulai malas, seharusnya mereka bersenang-senang dan menikmati hari ini. Karena kemenangan tender tadi mereka diizinkan oleh Pak Lukman untuk pulang lebih awal karna sebelumnya mereka harus lembur untuk mempersiapkan meeting hari ini.
"Ada apaan sih, Re. Keliatannya serius banget chatnya sama Umbara." Protes Alisya merebut ponsel Maretha dari tangannya.
"Al, sini deh handphone ku." Tetapi Alisya menahan tangannya. Maretha yang terdiam dan berhenti meminta ponselnya.
Alisya membaca sekilas chat mereka dan dia mwngernyit, "Serius nih??."tanyanya kemudian memperlihatkan layar ponsel ke Maretha.
Maretha melipat kedua tangannya diatas meja, "Aku juga kaget. Malam ini papanya Mas Bara minta aku datang di acara anniversary pernikahan mereka. Katanya mau ngumumin soal pernikahan kami." Maretha tidak percaya diri.
"Aku gak tau harus gimana?." Maretha meletakkan kepalanya diatas meja dengan ditahan kedua tangannya.
"Ini kan bagus Re, itu berarti hubungan kalian memang sudah benar-benar direstuin sama papanya Umbara." Alisya merasa sangat senang.
Maretha memasang wajah sendunya, "Tapi kan aku takut. Disana pasti banyak relasi kerja Pak Danu, dan aku takut gak bisa menjaga sikapku. Aku takut justru akan mempermalukan mereka," terangnya ragu.
Alisya memutar bola matanya berpikir untuk meyakinkan sahabatnya ini. "Kenapa harus takut. Kamu kan udah cantik, Re. Kamu juga pintar, meski kamu anak yatim piatu tapi kamu udah bisa buktiin kalo kamu itu pantas. Lagian, di sana pasti ada Pak Lukman juga kan. Kalo emang merasa canggung, kamu bisa ngobrol sama beliau deh. Pak Lukman kan sangat membanggakan dirimu, andai saja dia punya anak laki-laki mungkin beliau akan menikahkan kalian."
Sebuah senyuman samar terukir di bibir Maretha, "Tapi tetap aja aku merasa gak siap." Jawabnya.
"Kalo gitu kita makan dulu, setelah itu aku bantuin kamu siap-siap dan dandan yang cantik" tambah Alisya menyemangatinya.
Tawa pun pecah diantara mereka. Pesanan mereka pun datang. Mereka berbicara tentang apa yang harus dilakukan saat bertemu dengan relasi kerja Pak Danu orangtua Umbara yang juga merupakan CEO dari Gineka Corporation. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Garment dan juga memiliki sebuah Mall di salah satu kota ini.
Maretha sendiri seorang yatim piatu, dia besar di Panti Asuhan. Dia tidak pernah mengenali orangtuanya. Dia hanya dititipkan di depan pintu Panti kala itu. Selama di Panti Asuhan tidak ada yang ingin mengadopsinya karna Maretha tipe anak pendiam dan tertutup. Dia tidak mudah bergaul dengan orang baru, temannya tidak terlalu banyak. Maretha sejak kecil suka belajar, dan karna itu dia selalu mendapatkan beasiswa. Jadi pengurus panti sangat sayang padanya, Maretha terlalu mandiri dan tidak pernah merepotkan orang lain. Saat usianya sudah dewasa Maretha memutuskan untuk keluar dari Panti belajar hidup mandiri. Namun dia tidak pernah melupakan mereka. Maretha sering berkunjung ke Panti Asuhan jika dia ada waktu luang dari kesibukannya sekarang.
Dengan latar belakangnya yang tidak jelas membuat hubungannya dengan Umbara tidak mulus.
__ADS_1
Wednesday, 01 January 2020