My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Rumah Sakit 2


__ADS_3

Operasi dilanjutkan dan cukup lama. Mereka sudah lelah menunggu operasi yang sangat panjang ini.


"Kenapa Herman lama sekali mengerjakannya?," guman Arvin sedikit kesal.


Chandra menoleh ke sumber suara. "Sebaiknya istirahat di ruangan saja biar aku dan gadis itu yang menunggu operasinya." tawarnya lagi. Tetapi yang diajak justru bergumam saja.


"Yasudah terserah bos saja." kesalnya.


Dokter pun akhirnya keluar setelah lampu operasi mati. Alisya yang berdiri gelisah di depan pintu menghambur.


"Dokter bagaimana operasinya? Bagaimana kondisi Rere?." tanyanya menyerang dokter Herman saat baru saja keluar.


Chandra pun ikut mendekati mereka. Arvin bangkit dari duduknya hanya mengamati sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.


Dokter mendesah pasrah, ekspresi wajahnya pun tidak terlalu baik. "Operasinya berjalan lancar, namun kondisi pasien sangat kritis. Kami belum bisa memberikan keterangan apapun. Kita tunggu saja setelah efek biusnya habis." jelas dokter kepada mereka.


Alisya menangis, "Apakah Rere bisa sembuh, dok?," tanyanya dengan terisak.


Dokter pun mendesah pasrah sekali lagi. "Semoga saja, karna ........... kemungkinan untuk sembuh itu hanya 10%," jelasnya lagi membuat tubuh Alisya terkulai lemas.


Dia hampir saja pingsan mendengar penjelasan dokter. Chandra dengan sigap membantunya untuk berdiri.


"Saya permisi dulu." pamit dokter kemudian berlalu.


Tubuh Alisya terguncang karna tangis yang sudah tidak bisa terbendung. Tidak lama ponselnya berdering tertulis di layar "Mbak Amel". Alisya memandangi layar ponselnya. Dia menghapus airmatanya, menarik napas panjang dan menghembuskannya. Dia melakukannya beberapa kali.


Chandra dan Arvin hanya mengamati saja.


Setelah merasa lebih baik, Alisya pun menggeser layar ponselnya.


"Assalamualaikum, mbak." sapanya berusaha untuk bersikap normal.


"Waalaikumsalam."


"*Kamu sama Rere kan? Mbak sudah sejak semalam menghubunginya dan tidak pernah dijawab dan ponselnya pun gak aktif."


"Mbak khawatir sama dia*."


"Emang ada apa, Mbak?,"


"Semalam mbak mendengar kabar di acara Pak Danu bahwa mereka mengumumkan dan merencanakan untuk perjodohan antara Bara dengan Vena."


Alisya mengernyit dan ekspresi marah. "Apa Mbak? Kak Bara dan Vena?.."


"Maksudnya Vena...... Vena kamu mbak!,"


"Iya. Kamu tahu kan Vena anak Pak Budi Setiawan CEO dari PIE."


Alisya meremas tangannya menaham amarahnya.


"Oh ya... Sekarang Rere dimana? Tolong kamu temenin dia, hibur dia. Dia pasti sangat sedih."


Alisya menahan tangisnya tapi dia tidak mampu untuk membendungnya.


"Kamu kenapa Al, kok nangis gitu?,"

__ADS_1


"Mbak..... Rere......" Alisya merasa tenggorokannya tercekat. Dia tidak mampu untuk memberitahu kabar menyedihkan ini.


"Alisya. Ada apa? Apa yang terjadi di sana?,"


Alisya menurunkan ponselnya dari telinganya. Dia menengadah dan menarik napas yang panjang.


Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memberitahu mereka-pikirannya berkecamuk.


Alisya menenggak salivanya sendiri. "Mbak...... Sebelumnya mbak jangan kaget ya..." katanya dengan pelan.


"Sebenarnya ada apa sih?," suara di seberang telpon merasa heran dan penasaran.


"Sekarang Alisya di Rumah Sakit VR MEDICAL HOSPITAL..... Rere....... mengalami kecelakaan...... dan....... dia baru saja selesai operasi." jelasnya dengan pelan dan menahan isaknya.


Alisya tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menangis sesenggukan. Tubuhnya kini sudah terkulai lemas duduk di lantai.


"Apa yang terjadi, Al?"


"Aku juga belum tahu persis, mbak. Sementara masih di selidiki oleh polisi." terangnya sambil menggeleng.


"Kamu tenangkan dirimu. Mbak dan Mas Danang akan secepatnya ke sana. Jangan beritahu Bunda dulu. Biar aku atau Mas Danang yang memberitahunya."


"Iya mbak "


Kemudian percakapan mereka pun berakhir.


Alisya masih menangis dengan posisi yang sama duduk lemas dengan menyandarkan tubuhnya di dinding. Arvin berjalan meninggalkan tempat itu dan melangkah menuju lift setelah Chandra membisikkan sesuatu di telinganya.


Chandra menghampiri Alisya. "Maaf nona, kami harus pergi sebentar karna ada urusan. Nanti teman kamu akan dipindahkan di ruang ICCU." Alisya hanya mengangguk.


****


"Mommy, What haven? Why you crying?," tanya Aiden putranya yang sudah berusia 4 tahun. Amel hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan anaknya.


"It's Okay." dengan menahan isak tangisnya.


Amel lalu memanggil pengasuh Aiden dan memintanya untuk membawa Aiden masuk ke dalam kamarnya. Aiden menurut, dia mengerti jika Ibunya sedang sedih dan tidak ingin diganggu.


Amel berjalan mondar-mandir memikirkan kalimat yang tepat untuk menyampaikan kabar ini kepada suaminya. Dia sangat sayang dengan Maretha meskipun mereka bukan saudara kandung.


Setelah merasa dirinya lebih baik, Amel pun menghubungi nomor ponsel suaminya.


"Assalamualaikum, sayang." sapa suara diseberang telepon.


".......... " Amel tidak menjawab dan hanya terdengar sebuah isakan yang membuat suaminya khawatir.


"Halo, sayang. kamu kenapa? Ada apa kok nangis sih?,"


"...... Mas..... Kalo kamu gak sibuk...... bisa pulang sekarang...." jawabnya membuat suaminya mengernyit.


"Sebenarnya ada apa sayang? Jangan bikin aku khawatir begini."


"Nanti aku ceritakan di rumah." lalu memutuskan panggilannya.


Amel kembali menangis di dalam kamarnya memikirkan kondisi Maretha yang dilaporkan oleh Alisya. Tidak lama pintu kamar pun terbuka dan terlihat sosok suaminya Danang dengan ekspresi cemas.

__ADS_1


Amel berhambur ke dalam pelukan suaminya sembari menangis. Mas Danang semakin bingung dengan sikap istrinya. Dia memeluk dan menenangkan istrinya.


"Apa yang terjadi sayang?" bisiknya di tengah pelukannya.


Amel masih terisak dan semakin menenggelamkan kepalanya di dada suaminya. "..... Mas..... hiks...... Rere...... Mas..... hiks....." katanya tidak jelas.


Danang mengernyit, mencoba memahami istrinya. "Ada apa dengan Rere? Nanti kita pulang dan menghiburnya atau kita ajak dia ke sini." hiburnya. Danang sudah tahu kejadian yang terjadi dalam acara itu.


Dia pun merasa marah dan murka kepada Umbara, Vena dan Pak Danu karna telah menyakiti dan menghianati adiknya.


"Bu.... bukan itu Mas..... Hiks..... Hiks....." Amel semakin terisak. Dia mulai sesenggukan karna menangis.


"Lalu apa?," tanyanya penasaran.


Amel melepaskan pelukan suaminya. Dia mengangkat wajahnya dan menatap wajah suaminya. Danang menghapus airmata istrinya. Amel menarik napas panjang kemudian menghembuskannya.


".... Mas... Tadi aku dapat kabar dari Alisya tentang Rere...." tuturnya mulai bercerita.... Danang mengamati.


"Alisya bilang...... Hiks..... Rere kecelakaan Mas..... Hiks..... Dan...... Sampai sekarang belum sadar...... Hiks..... "Amel kembali menangis. Danang lemas mendengar kabar itu.


Airmatanya pun tumpah. Dia tidak mampu menahan kabar ini. Dia sangat menyayangi Maretha adiknya. Tetapi dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Danang memejamkan matanya menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Apa kamu sudah meminta Levin untuk mencari informasinya di sana?," tanyanya


Amel menangguk, "Sudah Mas... Tapi Levin pun belum mendapat kabarnya dengan detail."


"Kalo begitu kita ke sana sekarang." katanya lalu menghubungi asistennya untuk membatal semua meeting dan mencarikan tiket untuk keluarganya.


"Mas.... bagaimana kita memberitahu bunda..?," tanyanya membuat Danang sedikit frustasi.


"Nanti kita pikirkan setelah tiba di sana." jawabnya memeluk istrinya.


*****


Umbara dan Ibu Amara tertidur di Ruang VVIP rumah sakit. Mereka sedang menjaga Pak Danu yang semalam dilarikan karna terkena serangan jantung setelah berdebat dengan putranya.


Ibu Amara menggeliat dan membuka matanya. Dia pun bangun mengumpulkan nyawanya. Dia lalu melihat ke arah ranjang. Dia melihat putranya Umbara tertidur di kursi samping ranjang suaminya sambil meletakkan kepalanya di pinggir ranjang.


Ibu Amara bangkit dan berjalan mendekati putranya. "Bara, bangun sayang..... Kamu pindah ke sofa." katanya menepuk pelan pundak putranya.


Umbara membuka matanya lalu mengangkat kepalanya. Dia merenggangkan kedua tangannya dan juga lehernya. "Jam berapa sekarang, Ma?," tanyanya dengan suara serak khas baru bangun tidur.


"Jam 6 sayang." jawabnya kemudian dia melirik arloji di tangannya.


Umbara segera bangkit dan berjalan menuju toilet. Dia membasuh mukanya lalu kembali ke dalam.


"Aku pulang dulu, Ma. Hp ku tertinggal di rumah. Setelah itu aku ke kantor. Tolong kabari aku tentang Papa." katanya lalu mengecup kening Ibu Amara.


Ibu Amara menarik tangannya. "Nak... Mama khawatir sama Rere. Tolong kamu temuin dia dan jelaskan semuanya kepadanya. Kalo soal papa nanti mama akan membantu membujuknya." katanya. Umbara mengangguk.


Umbara keluar dari kamar VVIP dan membuka pintu. Di depan pintu sudah berdiri Jack asistennya. "Antarkan saya ke rumah Jack." perintahnya.


"Baik tuan." kemudian berjalan mengekor di belakang Umbara.


Jack ingin menyampaikan kabar tentang Maretha pada Umbara. Tetapi dia harus melihat kondisi atasannya dulu yang sedang tidak baik.

__ADS_1


Jack sudah tahu peristiwa yang menimpa Maretha semalam karna tidak sengaja melihat keberadaan Alisya di rumah sakit.


Wednesday, 04 March 2020


__ADS_2