
Rencana pernikahan antara putra dari Danu Atmaja dan Budi Setiawan pun tersebar hampir di semua majalah bisnis. Berita pernikahan kedua perusahaan besar ini lebih populer dari berita selebriti terkenal di negara ini.
Baik Umbara ataupun Vena mereka tidak ada yang begitu bersemangat mempersiapkan pernikahan mereka. Hanya mengikuti apa yang telah menjadi pilihan kedua orangtua mereka. Toh mereka pun menyerahkan
semuanya kepada pihak WO.
Keduanya pun sudah melakukan konfrensi pers mengenai kebenaran pernikahan ini. Teman-teman yang mengetahui hubungan antara Umbara dan Maretha tentu saja terkejut dengan berita yang tersebar ini.
Pak Lukman menekan dial nomor meja Alisya, “Alisya. Tolong ke ruanganku sekarang!,” perintahnya dari telepon.
“Baik. Pak!,” balasnya.
Alisya lalu bangkit dari meja kerjanya. “Eh ada apa ya Pak Lukman manggil lo ke ruangannya?,” tanya Maria teman kerjanya.
Alisya mengedikkan bahunya, “Entahlah...” kemudian berjalan menuju ruangan atasannya yang berada dua lantai dari ruang kerjanya.
Maria dan yang lainnya merasa penasaran dengan pemanggilan tiba-tiba Alisya ke ruangan Pak Lukman.
“Kira-kira ada hubungannya ama Rere gak sih?,”
“Atau Alisya dapat proyek lagi?,
“Ehh... bagaimana ya kabar Rere... udah lama gak jengukin dia,”
Seperti itulah kira-kira pertanyaan yang muncul dari teman kerjanya yang sedikit kepo dengan urusan Alisya dan Maretha.
Tok... Tok... Alisya mengetuk pintu ruangan atasannya.
“Masuk!,” balas Pak Lukman dari dalam ruangan. Dia pun membuka pintu, “Silakan duduk Al?,” sapanya lagi meminta Alisya untuk masuk dan tidak berdiri saja di depan pintu.
Alisya duduk di kursi depan meja Pak Lukman,”Ada apa ya Bapak manggil saya?,” tanyanya kemudian setelah duduk.
Pak Lukman lalu menyodorkan sebuah majalah bisnis kepadanya yang di sampul gambar Vena dan Umbara kabar tentang pernikahan mereka. Alisya mengernyit saat melihat sampul majalah tersebut.
“Jadi mereka menyetujui perjodohan itu?,” gumamnya dengan ekspresi kesal. Meremas majalah itu.
“Kemarin dia bilang akan berusaha untuk mencegah perjodohan itu. Ternyata mau juga, udah ketahuan banget kalo dia emang suka juga sama Kak Bara. Dasar Pelakor. Penghianat.” Dengusnya terus memaki. Hidungnya kembang kempis.
“Huh, dasar Kak Bara brengsek juga. Bukannya bilang mau nungguin Rere sampai bangun. Tapi tetap aja tersilau dengan penampilan cantik Vena.” Tambahnya merutuki Umbara.
Pak Lukman tertawa melihat ekspresi dan mendengarkan kata-kata Alisya yang penuh dengan sumpah serapah dengan kedua orang itu.
“Loh kok Bapak malah ketawain saya sih?,” protesnya dengan muka yang ditekuk.
“Gimana saya gak ketawa. Sejak melihat majalah itu kamu terus-terusan ngomel dan ngoceh.” Sahut Pak Lukman.
Alisya masih meremas majalah itu, “Bagaimana gak kesel pak. Mereka berdua itu... rrgghhhh...,” dia malah memukul wajah mereka yang berada di dalam majalah.
“Tapi majalahnya kan gak salah, Al.” Tambah Pak Lukman masih menertawakan reaksi dari karyawannya.
“Kamu gak boleh salahkan mereka berdua juga. Saya pikir kamu tahu persis bagaimana kondisi sebenarnya kan,” kali ini Pak Lukman mengangkat sebelah alisnya menatap Alisya.
Alisya pun menunduk, “Iya sih. Tapi.. kan tetap aja mereka salah.” Sungutnya masih tidak terima dengan keputusan mereka.
“Ehemm.... sebenarnya saya manggil kamu ke sini karna Vena memintaku. Dia ingin bicara berdua denganmu tentang masalah ini.” Jujurnya. Seketika Alisya berdiri dan memelototi atasannya.
“Bapak ini sebenarnya mendukung siapa sih?,” dengan sedikit marah.
Pak Lukman menggeleng melihat reaksi Alisya yang diluar dugaannya. “Kamu berani bentak saya?,” tegasnya membuat Alisya kembali sadar dan duduk kembali.
Alisya pun salah tingkah, “Eh... maaf pak bu.bukan begitu maksudnya.” Cengengesan. Dia memutar bola matanya sambil berpikir.
Kini Pak Lukman kembali menatapnya serius, “Sebenarnya saya gak mau ikut campur dengan masalah kalian. Tapi Vena sudah berkali-kali menghubungimu, jadi dia meminta tolong sama saya.”
__ADS_1
“Sebaiknya kamu temui dia. Saya tahu kalian kan bersahabat, dan saya rasa dia butuh teman cerita.” Nasihat Pak Lukman kemudian bangkit dari kursinya.
Alisya masih tertunduk memikirkan nasihatnya. “Jangan terlalu egois.” Tambah Pak Lukman menepuk bahunya dengan pelan.
“Ya sudah kalo kamu masih mau di sini. Aku keluar sebentar.” Katanya berjalan keluar menuju pintu.
Pintu memandangi punggung bosnya yang sudah mau keluar, dia pun tersadar dan segera berdiri menyusul Pak Lukman untuk segera keluar juga dari ruangan.
Alisya kembali ke ruang kerjanya sambil melamun. Dia memikirkan nasihat dari Pak Lukman. Sebenarnya dia sudah tahu dengan rencana pernikahan Vena dan Umbara sebelum terekspos di majalah bisnis. Tapi dia terus menghindarinya karna merasa kesal dan terhianati.
“Al.. lo kenapa?,” tanya Maria saat melihat Alisya yang terus melamun sembari memegang majalah bisnis itu.
Alisya hanya menggeleng dan memberikan majalah bisnis padanya. “Ini kan Pak Bara tunangannya Rere...” tebaknya
“Ehh... iya... kok malah mau nikah sama putri konglomerat itu?,” timpal yang lainnya.
Mereka pun akhirnya bergosip tentang berita yang baru saja mereka baca. Alisya masih melamun di meja kerjanya. Dia lalu merogoh tasnya dan melihat ponselnya. Ada banyak pesan dari Vena yang sama sekali tidak pernah dia baca.
From : Vena
Al, plis aku mau ngomong sama kamu
From : Vena
Aku bisa jelaskan semuanya alasanku menerima perjodohan ini
From :Vena
Aku ingin ketemu sama kamu Al.
From : Vena
Aku butuh teman cerita. Aku gak mungkin cerita sama orang lain.
Akhirnya dia pun menyerah. Apa yang dikatakan oleh Pak Lukman padanya memang ada benarnya.
To : Vena
Mau ketemu dimana?
Dia pun membalas pesan dari Vena, tetapi tidak membutuhkan waktu lama pesannya pun langsung dibalas.
From : Vena
Di tempat biasa pulang kantor ya
Makasi Al
Setelah pulang kerja Alisya pergi ke Cafe tempat biasanya mereka selalu pergi bersama bertiga. Tetapi kali ini mereka hanya pergi berdua. Alisya memarkirkan motor matic miliknya di tempat parkir Cafe tersebut. Alisya turun dan berjalan menuju Cafe.
Di depan Cafe bertuliskan WONDERGIRL CAFE, Alisya mendongakkan kepalanya melihat papan nama tersebut. Dia mendesah. “Andai saja...” gumamnya kemudian masuk ke dalam Cafe.
Vena melambaikan tangannya saat melihat sosok Alisya, dan Alisya pun berjalan mendekati gadis cantik itu.
Vena berdiri menyambut sahabatnya. “Akhirnya kamu datang juga.” Sapanya dengan tersenyum sedikit canggung.
“Duduk..” tawarnya. Alisya pun mengikutinya lalu dia pun ikut duduk di depannya. Vena memanggil pelayan untuk melayani mereka memesan minuman.
“Kamu gak makan, Al....?,” tawar Vena lagi saat melihat buku menu yang diberikan oleh pelayan.
“Minum saja, Ve. Aku juga sudah kenyang.” Tolaknya menggelengkan kepalanya.
“Aku pesan Stroberry Smoothies 1 dan French Fries yang large 2, dan....” Vena mengalihkan pandangannya ke arah Alisya. “Aku yang biasa aja.” Sahut Alisya merasa ditanya.
__ADS_1
“1 Milkshage Greentea.” Pesannya kepada pelayan. Kemudian pelayan pun pergi meninggalkan meja mereka.
Tidak ada suara dalam beberapa saat. Mereka saling terdiam, pertemuan mereka kali ini terasa sangat canggung dan sedikit tegang. Sampai pelayan membawakan pesanan mereka dan meletakkan di atas meja.
Mereka sama-sama menyesap minuman mereka dalam diam. “Al....” panggilnya dengan lirih. Alisya hanya menanggapinya dengan senyum terpaksa.
Vena pun menunduk dengan sorot mata yang bingung. “Aku tahu kamu pasti marah dan mengutukku atas keputusan yang sudah kuambil.” Vena pun memulai pembicaraan mereka.
Alisya hanya mengaduk-aduk minumannya mendengarkan Vena selesai berbicara. “Tapi ini semua kulakukan karna terpaksa. Kamu pasti paham bagaimana sifat papi selama ini. Sekeras apapun aku menolak, dia tetap akan melakukan pernikahan ini.” Kini airmata mulai menetes dari tempatnya.
Alisya terenyuh melihat raut kesedihan dari sahabatnya. “Aku hanya tidak ingin kamu membenciku tanpa alasan, tapi kamu berhak untuk hal itu.” Sambungnya lagi.
Kini Alisya meraih tangan Vena dan menumpukkan tangannya diatas. Dia pun tersenyum untuk menguatkan. “Aku... aku gak punya cara lain lagi. Andai saja bisa, aku sangat ingin Rere menggantikanku untuk menikah dengan Kak Bara.” Mulai terisak.
Alisya pun menggosok tangannya. “Mungkin semua orang berpikir bahwa pernikahan kami akan bahagia nantinya. Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana ke depannya, Al. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa pernikahan ini tidak akan berlangsung lama.” Terangnya lagi.
Alisya pun mengernyit,”Maksudnya..?,” menatapnya ingin tahu.
Vena pun mulai sesenggukan. Alisya merasa iba, dia berdiri dan duduk di samping Vena. Merangkulnya dan memberinya semangat untuk lebih tenang. “Kamu harus tenang, Ve.” Ucapnya menyemangati
“Aku... dan Kak Bara membuat perjanjian sebelum pernikahan ini, Al. Kami akan berpisah jika Rere bangun.”
Menelungkupkan wajahnya dalam pelukan Alisya.
“Kenapa kamu melakukan itu?,” tanya Alisya tidak percaya dengan keputusan Vena.
“Karna hanya ini yang bisa kulakukan. Papi dan Om Danu terus memaksa dan menekanmu agar mau menerima pernikahan ini. Kak Bara awalnya tidak menginginkannya, tapi saat aku mengatakan hal ini diapun langsung menyetujuinya.” Jelasnya lagi.
“Lalu bagaimana jika seandainya Rere gak pernah bangun lagi?,” tanya Alisya lagi lebih serius.
Vena mengangkat wajahnya, “Kak Bara tetap akan berpisah.” Jawabnya.
Tidak mudah memang berada di posisi Vena, memiliki ayah yang tidak mau mendengar kata penolakan. Alisya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya Vena dan Umbara tentang pernikahan ini.
“Kenapa Kak Bara bisa seperti itu?,” tanyanya lagi dan Vena hanya menggeleng tidak tahu.
“Apa kamu yakin akan menjalani pernikahan ini..?,” tanya Alisya kembali.
Vena mulai tenang. “Aku akan berusaha meskipun itu sulit, Al.” Jawabnya sedikit ragu.
Mereka pun saling berpelukan. Vena memang tidak bisa menyimpan sendiri semua masalah yang dihadapinya. Dia harus bercerita kepada orang lain agar hatinya bisa lebih tenang.
“Ve....” panggilnya saat mereka sudah tenang. “Hem....”
Alisya membasahi bibirnya, “Jika seandainya Rere bangun, dan dia masih mencintai Kak Bara dan ingin menikah. Dan kamu sudah merasa nyaman dengan pernikahan yang kamu lakukan. Apa... kamu masih ingin melepaskannya dan menyerahkan Kak Bara untuknya?,” alisya menaikkan sebelah alisnya
Vena terdiam memikirkan jawabannya. “Meski sulit, tapi aku akan melakukannya Al. Karna sejak awal Kak Bara milik Rere, bukan milikku.” Jawabnya lirih.
Kini Alisya pun mengangguk. “Apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik?,” tanya Alisya lagi mengalihkan topik. Vena pun mengangguk.
“Al, kamu mau kan hadir di pernikahanku dan menjadi bridesmaid aku...?”, tanyanya hati-hati.
Alisya terkejut dia pun seketika berpikir. Vena menunduk dan mendesah pasrah. “Gak apa-apa jika kamu gak bisa, Al. Aku paham kok.” Tuturnya sedih.
Alisya meraih tangan Vena lagi. “Insyaa Allah.” Jawabnya membuat Vena menyunggingkan senyum lebar.
“Makasi Al.” Ucapnya dengan senang.
Kini perasaan Vena sedikit lebih baik setelah berbicara dengan Alisya. Hatinya pun tidak terlalu sesak. Setidaknya dia masih memiliki sahabat yang mau mengerti dirinya.
Alisya awalnya tidak terlalu menyetujui dengan pernikahan Vena dan Umbara. Namun, setelah mendengar sendiri alasan dari Vena. Kini dia pun merasa kasihan, mungkin jika dia berada diposisi itu dia pun akan melakukan hal yang sama.
Bunda pun pernah mengatakan, jika tidak semua hal bisa kita kendalikan sendiri. Karna ada Tuhan yang telah menulis semua takdir makhluk ciptaan-Nya. Maretha mengalami kecelakaan dan koma adalah takdir dari Tuhan. Vena dan Umbara akan menikah mungkin juga Tuhan sudah menentukan takdir mereka seperti itu.
__ADS_1
Monday, 06 Apr 2020