My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Undangan


__ADS_3

Pernikahan antara Vena dan Umbara pun menjadi perbincangan hangat di kalangan pengusaha. Persiapan pernikahan yang mereka lakukan pun sangat mewah dengan melibatkan desainer kondang, fotografer


profesional yang juga terkenal, pengisi acara yang akan mengisi acara pernikahan mereka.


Undangan mereka pun mulai tersebar di kalangan para pengusaha sukses baik yang bekerjasama dengan kedua perusahaan itu ataupun yang tidak. Pak Lukman sendiri mendapatkan undangan pernikahan tersebut.


"Akhirnya mereka menikah juga.” Gumamnya saat membaca kartu undangan berwarna gold di atas mejanya.


Pak Lukman mendesah, “Setidaknya saat ini tidak ada yang merasa tersakiti dengan pernikahan ini.” Komentarnya lagi kemudian meletakkan kembali undangan berwarna gold itu di atas mejanya.


Alisya pun mendapatkan undangan yang sama dengan Pak Lukman dan juga sebuah bingkisan untuk menjadi bridesmaid Vena. Tentu saja teman kerjanya bertanya-tanya alasan Alisya menerima menjadi pendamping pengantin Vena.


“Al, lo beneran mau jadi bridesmaid-nya Vena?,” tanya Maria saat melihat bingkisan di atas meja Alisya yang baru saja diantarkan oleh OG untuknya.


Alisya memutar kursinya, “Yah, seperti yang lo lihat.” Jawabnya dengan melebarkan kedua tangannya lalu menyatukannya.


Sarah memicingkan matanya, “Apa ini tidak termasuk berhianat dengan Rere?,” tanyanya hati-hati.


Alisya mengalihkan pandanganya pada sumber suara yang berada di depan kubikelnya.”Kalo pun Rere ada, dia juga akan melakukan hal yang sama,” sambil memperlihat deretan giginya.


“Persahabatan kalian complicated banget yaa..?,”timpal Sarah lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Alisya bangkit dari kursinya. “Sudah jam pulang kantor. Apa kalian masih ingin tinggal bergosip?,” tanyanya mengalihkan.


Teman kerjanya pun berdiri dan membereskan meja mereka sebelum meninggalkan ruangan.


“Eh.. Al. Kamu langsung balik gak?,” tanya Maria lagi saat mereka sudah berada di depan lobby kantor.


Alisya menggeleng, “Enggak. Malam ini aku bertugas menjaga Rere di rumah sakit.” Jawabnya.


“Oh ya sudah.. kalo begitu salam untuk Rere ya...” tutur Maria.


Alisya membulatkan jarinya dan mengangkatnya dari belakang. Dia berjalan menuju tempat parkir kantornya dan mengendarai motornya menuju rumah sakit.


Saat sampai di rumah sakit. Alisya melihat sosok Amel dari kejauhan yang sedang berdiri di depan ruangan Rere dirawat. Alisya menghampirinya, “Eh ada Mbak Amel”, sapanya.


Amel tidak membalasnya justru memberikan tatapan membunuh padanya. Dia pun membanting kartu undangan pernikahan itu. “Apa maksud kamu mau menjadi bridesmaid Vena, HAH?,” bentaknya dengan sorot mata marah padanya.


Alisya tentu saja terkejut mendapatkan perlakukan itu. “Mbak... Mbak tenang dulu..” balasnya berusaha menjelaskan.


“Ternyata kamu diam-diam mendukung hubungan mereka, HAH!,” tambah Mbak Amel lagi.


Mbak Amel selalu menyalahkan Vena dan Umbara sebagai akibat Maretha koma di rumah sakit. Apalagi dengan pernikahan mereka semakin membuat Mbak Amel semakin marah dan membenci keduanya. Meski Mas Danang


sudah berusaha mengingatkan dan menjelaskan.


Alisya menggembungkan mulutnya, berusaha untuk mencari jawaban agar Amel mau mendengarnya.


“Mbak... Aku bisa jelaskan alasanku.” Sahut Alisya lagi. “Tidak perlu kamu jelaskan. Kamu lupa siapa yang menyebabkan Rere koma seperti itu,” giginya gemeratak karna amarah yang sudah diubun-ubunnya.

__ADS_1


Alisya menenggak ludahnya, “Ya ampun... Belum juga istirahat, sekarang sudah dapat amukan dari Mbak Amel”—pikirnya


Alisya memilih diam dan mendengar semua amukan, cacian dari Mbak Amel. Mungkin dengan seperti ini Mbak Amel nanti akan lebih tenang. Napas Amel memburu karena amarah yang baru saja dikeluarkan.


Dia pun terduduk lemas di bangku sambil menghapus airmatanya. Alisya berjalan mendekat. Merangkul dan menggosok punggungnya.


“Aku tahu Mbak pasti akan sangat marah. Tapi biar gimana pun Vena juga sahabatku, Mbak. Kami sudah berteman lama, apakah salah jika aku mengabulkan keinginan sahabatku?,” katanya menjelaskan dengan perlahan.


Tubuh Amel masih gemetar. “Mbak kan juga tahu bagaimana sifat dari Pak Budi. Bukankah Mbak sering mengutuk laki-laki itu?,” tambahnya lagi dengan sedikit candaan yang membuat Amel tertawa kecil.


“Iya, pria itu sangat kejam. Hitler.... Iblis tak berperasaan.” Timpalnya


Alisya menerawang, “Memang akan ada perubahan jika aku menolak untuk menjadi bridesmaid-nya Vena? Tidak akan berbeda juga kan?,” tambahnya lagi.


“Aku peduli dengan Rere yang sekarang masih koma. Tapi, kita juga gak boleh menutup mata Mbak. Aku rasa Mbak pun tidak akan membiarkan Rere bersama Kak Bara lagi.” Kali ini alisnya terangkat.


Amel terdiam, dia hanya berpikir kenapa masalah Vena dan Umbara selalu membuat emosinya gampang tersulut. Entah kenapa dia selalu marah mengingat Vena dan Umbara akan bahagia sementara adiknya akan terus menderita seperti ini.


Alisya paham dengan kekhawatiran Amel. Dia pun merasakan hal itu, tapi tidak semua masalah harus dikaitkan dengan mereka dan harus menyalahkan mereka.


Mereka berdua saling terdiam hingga Bunda pun keluar setelah menghampiri. Dia melihat kedua wanita yang sedang terdiam. Bunda memberi isyarat pada Alisya untuk masuk ke dalam. Alisya menurutinya.


Bunda duduk disamping Amel yang masih menenangkan diri. Bunda lalu menggosok punggungnya dengan lembut. Amel menengadah melihat sorot mata yang lembut dan selalu menyejukkan itu. Hatinya pun luluh, emosi yang tadinya berapi-api kini sudah meredah.


“Bunda tidak pernah menyalahkan jika kamu masih marah dengan mereka. Karna bunda tahu kamu sangat menyayangi Rere. Dan semua kemarahan itu hanya karna kamu tidak ingin melihat Rere menderita dan sakit hati.” Memulai obrolan dan sedikit nasihat untuk Ibu beranak satu itu.


Amel tertegun mendengarkan penjelasan bunda. Dia tidak ingin menyelanya.


“Apa kamu pikir dengan kemarahan akan membuat Rere bahagia, hem..?”, tanyanya dengan mengangkat kedua alisnya. Amel pun menggeleng.


“Justru bunda takut kemarahanmu itu akan mempengaruhi perawatan Rere..”, kali ini Amel mengernyit.


“Kamu masih ingat kan pesan dokter Herman...?”, Amel mengangguk.


“Rere masih bisa mendengar semua perkataan kita. Hanya saja dia tidak akan merespon ataupun menanggapi. Jadi sebaiknya kamu ikhlaskan saja mereka menikah, lagipula bunda rasa ada seseorang yang lebih peduli dengan Rere saat ini melebihi dari kepedulian kita semua.” Bunda mengalihkan topik pembicaraan.


Amel paham yang dimaksud oleh bunda. Meski dia tidak menyebutkan namanya, tapi dia sudah tahu siapa orangnya.


“Menurut bunda dia akan lebih baik dari Bara..?,” tanyanya lirih.


Bunda tersenyum, “Entahlah. Kita doakan saja yang terbaik untuk Rere.” Harapnya kemudian memeluk anaknya dengan lembut.


Mereka pun kembali masuk ke dalam kamar Maretha. seperti yang sudah diatur jika malam ini Alisya yang akan menemani Maretha di rumah sakit. Setelah pulang dan mengambil kebutuhan untuknya besok, karna Alisya berencana langsung ke kantor esok pagi. Bunda dan Amel harus pulang.


***


Chandra berjalan menuju ruangan Arvind sambil memegangi sebuah kartu undangan berwarna gold di tangannya. Dia baru saja menerima kartu undangan itu dari petugas resepsionis.


Dia mengetuk pintu. “Masuk!,” seru Arvind dari dalam ruangan.

__ADS_1


Dia pun membuka pintu dan melihat Arvind sedang fokus memainkan jarin-jarinya di atas keyboard laptopnya. “Ada apa?,” tanyanya tanpa menoleh.


Chandra mendekat dan menarik kursi di depan meja Arvind. Dia duduk lalu menjatuhkan undangan di depannya. Arvind hanya memiringkan kepalanya untuk melihat Chandra dengan alis yang terangkat satu.


Chandra memberi isyarat menunjuk ke meja dengan menggunakan dagunya, “Undangan dari rivalmu...?,” sahutnya berhasil membuat Arvind berhenti dari aktivitasnya.


Dia lalu melirik undangan itu di depannya. Penasaran, dia mengambilnya dan membaca sampulnya. Sudut alisya terangkat. “Akhirnya..... setelah drama panjang menyedihkan mereka perankan.” Tukasnya sarkas.


Dia kembali meletakkan undangan itu. “Kau senang kan?,” sindir Chandra. Arvind hanya tertawa kecil menanggapinya


“Apa kau ingin aku memasukkan ini ke dalam agendamu?,” tanyanya lagi.


“Tentu saja. Aku tidak ingin melewatkan sesuatu yang menarik.” Sahutnya dengan smirknya yang khas.


Chandra memutar bola matanya, “Baiklah. Aku akan menjadwalkan ini ke agendamu. Aku rasa memang menarik mendatangi acara itu.” Sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas dan merenggangkan kakinya.


“Kau memang brengsek, kawan.” Makinya penuh arti sembari alis kanannya terangkat.


“Apa perlu juga kita beli tuxedo yang baru untuk menghadirinya..?,” usulnya lagi semakin usil.


“Jika itu perlu, why not?,” balasnya memperlihatkan giginya.


Chandra memutar kursi yang didudukinya. Setidaknya dia paham suasan hati atasannya saat ini.


“Okey. Masalah undangan selesai. Dan sekarang aku mau bahas masalah penting denganmu?,” kali ini ekspresi serius.


Arvind menautkan alisnya. Kemudian Chandra menyodorkan sebuah map kepadanya. “Ini hasil penyelidikan dari Sonny pada anak perusahaan kita di kota M.” Tuturnya.


Dia menerima map itu lalu membacanya. “Sepertinya yang kita duga sebelumnya. Mereka memang sedang melakukan permainan pada laporan sebelumnya dan beberapa bulan terakhir ini.” Jelasnya lagi.


“Damar Hadi...?,” gumam Arvind


“Yups. Damar Hadi adalah General Manager di perusahaan itu. Dia adalah karyawan senior yang diberikan tanggung jawab oleh Tuan Reinhard sebagai kredibilitasnya selama ini mengabdi dengan tuan. Sehingga beliau memberikan penghargaannya kepada Pak Damar untuk memimpin anak perusahaan di kota itu.” Tambahnya lagi.


Arvind masih mengamati. “Lalu ada hubungan apa antara Pak Damar dengan.. Pak Danu?,” tanyanya dari laporan yang dibacanya.


Chandra kembali mendekatkan kursinya setelah dari tadi dia memutar dan memajukan kursinya sambil bermain. “Nah itu dia.. Sonny belum mendapatkan infonya, karna data-data Pak Damar hanya menuliskan pengabdiannya sejak bergabung dengan Reinhard Group.”


“Very Intereseting...”, gumamnya dengan alis yang terangkat.


“Hubungi Markus untuk menyelidiki hal ini.”usulnya membuat Chandra tidak paham.


Chandra mengernyit, “Kenapa harus Markus..? aku rasa Sonny pun bisa menyelesaikan hal ini.” Tanyanya menimpali.


Arvind tertawa meremehkan. “Kau sudah lama ikut bersamaku, tapi kau masih bertanya maksudku, hah?,” menegaskan dengan sedikit mencibir.


Chandra mengetuk meja, “Apa ini ada hubungannya dengan kasus kecelakaan itu?,” tebaknya dan Arvind pun mengangguk. “Bisa jadi.”


“Baiklah. Aku akan segera menghubunginya.” Jawabnya kemudian beranjak dan kembali ke ruangannya.

__ADS_1


 


Monday, 06 Apr 2020


__ADS_2