My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 10


__ADS_3

Keenan mengajak Salwa berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Selama berkeliling di mall tersebut, tak sedetik pun Keenan melepaskan genggamannya dari tangan istrinya itu. Dia terus menggenggam tangan gadis itu seolah takut terlepas dan hilang. Sudah banyak barang yang mereka beli, tapi sepertinya dia belum puas memanjakan ibu dari anaknya itu.


"Mas, pulang yuk. Salwa capek." Salwa merengek sambil menggoyangkan tangannya yang digenggam oleh Keenan.


Semenjak hamil dan bertambah usia kehamilannya, Salwa kini mudah lelah. Sering merasa ngantuk dan juga pegal pada kakinya.


"Capek? Ya sudah, kita pulang." Keenan menuruti kemauan istrinya.


Keenan mengajak Salwa turun ke lantai bawah menggunakan lift. Begitu keluar dari lift dan melihat kursi, Salwa meminta pada Keenan untuk duduk sebentar.


"Mas, Salwa duduk sebentar ya." Keringat sudah membanjiri wajah Salwa.


Keenan meletakkan barang belanjaan yang dibawanya di samping Salwa. Dengan sigap dia membuka sepatu yang dipakai oleh istrinya itu.


"Kakimu bengkak! Apa sebelumnya pernah begini?" Keenan bertanya sambil memijat lembut kaki istrinya.


"Mas, nggak usah. Nggak enak dilihat orang." Salwa meminta Keenan untuk menghentikan pijatannya.


"Kenapa harus nggak enak? Biarkan saja mereka." Keenan terus melanjutkan pijatannya.


"Kaki bengkak tidak boleh dipijat," ujar Salwa pelan.


"Tidak boleh kuat-kuat, kalo lembut boleh."


Keenan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, yang terpenting istrinya merasa nyaman.


"Tunggu di sini sebentar, Mas antar barang-barang ini ke mobil." Keenan membawa semua barang belanjaannya ke mobil, Salwa tetap duduk di sana menunggunya.


"Permisi, Mbak. Boleh saya duduk?" Seorang wanita datang menghampiri Salwa.


"Silahkan." Balas Salwa dengan ramah.


"Udah berapa bulan kehamilannya?" tanya wanita itu.


"Sudah tujuh..."


"Sayang." Panggilan Keenan membuat Salwa dan wanita itu menoleh bersamaan.


"Belum bisa move on dari aku ya, sampai sekarang masih panggil sayang aja." Salwa menoleh pada wanita di sampingnya sambil mengkerutkan kening.


"Sudah gak pegel lagi 'kan kakinya?" tanya Keenan tanpa menghiraukan Zira yang sedang duduk di samping Salwa dan Salwa menjawab pertanyaan Keenan dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Ini istri kamu, Keenan?" tanya Zira dengan wajah yang sudah memerah, malu karena menyangka tadi Keenan memanggil sayang padanya.


"Iya." Keenan menjawab pertanyaan Zira dengan singkat.


Salwa memandang wajah Keenan dengan banyak pertanyaan.


"Dia, Zira." Lirih Keenan.


"Aku duluan ya." Kata Salwa. Dia ingin memberi ruang pada Keenan.


"Permisi." Ucap Keenan pada Zira, tanpa menoleh sedikit pun. Salwa kaget saat Keenan menggendongnya ala bridal style, dia sempat berpikir jika suaminya akan bernostalgia dengan mantannya.


"Mas." Sebut Salwa sambil memandang wajah Keenan.


"Lain kali, jangan pernah beri celah pada wanita lain untuk mendekati suamimu. Sekuat-kuatnya iman seorang suami, secantik dan sebaik apapun istri di rumah, jika ada celah untuk pelakor masuk, suami akan tergoda. Karena apa? Karena godaan pelakor itu lebih dahsyat dari godaan tukang panci." Tutur Keenan.


"Dia mantanmu," ujar Salwa.


Keenan menurunkan Salwa tepat di samping mobilnya.


"Jika dia tadi adalah mantanmu, apa kamu akan mengajaknya ngobrol dan bercerita?" tanya Keenan dan Salwa pun menggelengkan kepalanya.


Keenan membukakan pintu mobil untuk Salwa, lalu menutupnya kembali setelah istrinya masuk ke mobil.


Keenan tidak mempedulikan panggilan Zira padanya, dia masuk ke dalam mobilnya dan hendak mengemudikannya. Dengan lembut Salwa menyentuh tangan Keenan.


"Temui dia, Mas. Jika Mas bersikap seperti ini, siapapun orangnya termasuk aku pasti menganggap Mas masih mencintainya." Tutur Salwa dengan lembut.


"Jika memang mas tidak lagi mencintainya, temui dia dan katakan yang sebenarnya. Mas, menghindar bukan cara yang tepat." Tambah Salwa.


Keenan membuka pintu mobilnya lalu keluar dan menemui Zira. Salwa tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh suami dan mantan kekasih suaminya itu. Yang dia lihat, Zira menangis dan Keenan berjalan kembali menuju mobil.


Keenan duduk di bangku kemudi, lalu mulai mengemudikan mobilnya dengan perlahan.


"Kita mampir ke restoran dulu ya, pasti kamu sudah lapar." Ajak Keenan.


"Iya, Mas." Ucap Salwa.


Suasana jadi hening, tidak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Mau makan apa?" Keenan memecah keheningan.

__ADS_1


"Terserah Mas aja," jawab Salwa.


"Wih, ternyata istri mas bener-bener perempuan tulen." Keenan mengacak rambut Salwa sambil tersenyum.


"Kok gitu?" tanya Salwa.


"Perempuan kalo ditanya makan apa, pasti jawabnya terserah. Tapi, marah saat sang suami salah ambil keputusan soal makan." Jawab Keenan.


"Seperti itu ya," ujar Salwa.


"Mama selalu seperti itu," kata Keenan.


"Oh mama, kirain siapa." Lirih Salwa.


Keenan membelokkan mobilnya ke sebuah restoran, lalu memarkirkan mobilnya di parkiran yang berada tepat di depan restoran tersebut.


"Jangan berpikiran macam-macam. Bagi Mas, apa yang sudah berlalu akan tetap jadi masa lalu. Mas tidak akan membawanya ke masa depan. Apalagi sekarang ada kamu, dan calon anak kita. Kalian masa depan Mas." Perkataan Keenan mampu membuat wajah Salwa merona malu.


"Ayo turun, aku sudah lapar." Salwa membuang mukanya ke arah lain saat wajah Keenan mendekat ke arahnya.


Klik, sabuk pengaman terlepas. "Aku hanya membantumu membuka sabuk pengaman." Keenan menggoda istrinya, membuat wajah Salwa semakin memerah.


Mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam restoran secara bersamaan. Keenan memilih meja yang berada di sudut ruangan agar Salwa merasa nyaman.


"Pesanlah, pilih makanan apa yang kamu mau." Keenan memandang wajah Salwa dengan penuh cinta.


"Jangan menatapku seperti itu," ujar Salwa lalu menunduk.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Keenan masih dengan senyum manisnya.


"Salwa malu, Mas." Salwa menjawab pertanyaan suaminya dengan suara pelan.


Keenan memanggil pelayan dan memesan makanan yang sudah dipilih oleh Salwa. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Keenan mengoceh di depan perut Salwa. Dia tidak berhenti mengusap perut buncit itu. Terlihat senyum bahagia terukir di wajah Keenan.


Perut Salwa yang bergerak-gerak membuat Keenan semakin berbahagia. Semenjak tahu kalo gadis yang dia gagahi malam itu sedang hamil, Keenan sering membaca artikel tentang ibu hamil di aplikasi online. Dia ingin menjadi suami siaga untuk istrinya dan juga ayah siaga untuk anaknya.


"Makanlah dulu, mas. Nanti makanannya keburu dingin." Ujar Salwa saat pelayan menghidangkan makanan yang mereka pesan.


"Makan yang banyak," ujar Keenan pada Salwa.


Mereka pun mulai makan. Salwa sangat menikmati makanannya, makanan yang sudah lama sangat diinginkannya dan baru tercapai malam ini. Ayam bakar taliwang, menu yang sudah biasa bagi kebanyakan orang, tapi sangat istimewa untuk Salwa. Karena baginya, harus merogoh kocek cukup dalam untuk bisa menikmati kuliner khas daerah Lombok tersebut. Gaji yang tidak seberapa waktu itu, hanya mampu untuknya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


"Kalo kurang, kamu boleh pesan lagi. Mas akan membelinya untukmu." Keenan mengusap rambut Salwa dengan lembut. Sungguh dia sudah benar-benar jatuh hati pada gadis di sampingnya.


__ADS_2