My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 18


__ADS_3

Salwa membuka matanya secara perlahan, Keenan masih tertidur pulas di sampingnya. Angkasa juga masih tertidur dengan nyenyak.


Salwa turun dari kasurnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya tadi malam.


Dia jadi malu jika mengingat kejadian itu. Bagaimana Keenan dengan buas menguasai tubuhnya dan memberinya kenikmatan yang tiada tara.


"Sayang, udah selesai belum mandinya? Mas udah gak tahan nih, udah kebelet." Keenan menggedor pintu kamar mandi.


"Di kamar sebelah aja, Mas. Salwa baru aja masuk." Jawab Salwa. Tapi, sepertinya Keenan tidak mendengar apa yang di katakan istrinya. Dia terus menggedor pintu itu hingga Salwa terpaksa membukanya.


"Berisik banget sih, Mas. Kalo Angkasa bangun gimana?" Salwa menggerutu, dan sepertinya dia belum menyadari jika Keenan tidak memakai apa-apa sebagai penutup tubuhnya.


"Ya maaf, mas 'kan udah gak tahan banget." Dengan santai Keenan membalas gerutuan istrinya, dan saat itu lah Salwa baru sadar.


"Mas, kenapa gak ditutup itunya?" Salwa menutup mata menggunakan kedua telapak tangannya, hingga selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya pun terjatuh ke lantai.


Melihat tubuh polos Salwa, Keenan pun berniat menggodanya.


"Emangnya tadi malam belum puas ya?" Keenan mendekat ke arah Salwa.


"Eits, jangan macam-macam. Kalo tetep nekat juga, aku teriak nih." Bukannya takut terhadap ancaman Salwa, Keenan malah semakin semangat untuk mengganggu istrinya.


"Teriak aja, toh gak ada yang denger."


Degh ... Salwa baru sadar, lagipula siapa yang mau menolongnya.


"Mas, nanti Angkasa bangun." Melihat wajah melas Salwa, Keenan yang tadinya hanya ingin menggoda kini jadi terkena batunya. Sang junior pun terbagun dan langsung berdiri tegak, menantang perang dan siap mengobrak-ambrik benteng pertahanan milik Salwa.


"Sebentar saja," rayu Keenan dan akhirnya Salwa pun mengangguk tanda setuju. Toh dia juga tidak rugi, malah dapat bonus kenikmatan.


Mendapat lampu hijau dari istrinya, Keenan pun mengajak pasukan tempurnya untuk memulai peperangan. Akhirnya ronde ke sekian kalinya pun terjadi lagi.


Di rumah Jihan,

__ADS_1


"Mas semalaman nggak pulang, kalo Risma curiga bagaimana. Mas nggak takut dia akan gila lagi seperti dulu." Ujar Jihan sambil menyiapkan sarapan untuk Nanang.


"Aku ingin mengakhiri semua ini, tapi orang tuamu dan juga Keenan belum mengizinkannya." Nanang terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat.


Jihan tersenyum saja melihat raut wajah suaminya. Dia meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri Nanang dan duduk di pangkuan lelaki yang sudah menjadi suaminya sejak dua tahun yang lalu. Meskipun pernikahan mereka ditutupi dari khalayak umum, Jihan tetap setia.


"Papa, Mama dan juga Kak Keenanmu itu pasti punya alasan tersendiri. Jangan sedih dong." Dengan lembut Jihan membelai pipi Nanang.


"Aku tidak ingin pulang. Risma bertubuh selayaknya manusia tapi jiwanya iblis, aku tidak betah di rumah. Aku pulang hanya untuk Daniel anakku." Curhat Nanang, dia terlihat sangat sedih.


"Sekarang kita sarapan, setelah itu kita ke kantor. Nanti aku akan menemui papa dan menanyakan hal ini." Jihan turun dari pangkuan Nanang, tapi sepertinya lelaki itu tidak membiarkan wanitanya bebas begitu saja.


"Kamu membangkitkannya, sayang." Hembusan nafas Nanang yang mengenai telinga Jihan saat berbisik, membuat gadis itu menggeliat.


"Kita harus ke kantor, Mas." Jihan menolak secara tidak langsung. Tapi, memang pagi ini mereka harus berangkat ke kantor.


"Baiklah, tapi aku tidak akan melepasmu nanti malam." Nanang pun menurunkan Jihan dari pangkuannya, lalu mereka pun mulai sarapan.


Selesai sarapan, mereka pun langsung berangkat ke kantor menggunakan mobil masing-masing.


"Nanang sama Jihan belum datang, padahal meeting sebentar lagi akan dimulai." Pak Geri bolak-balik melirik ke arah jam.


"Jika begitu terus, kita harus memecat Jihan. Jangan mentang-mentang dia dekat dengan Nanang, dia bisa datang dan pergi seenaknya." Keenan menggerutu.


Hari ini Keenan mendapat jadwal penerbangan sore hari, jadi dia bisa datang ke kantor dan ikut serta dalam rapat yang akan dimulai beberapa menit lagi.


"Selamat pagi! Maaf terlambat." Nanang dan Jihan masuk lalu mengucapkan salam serta permintaan maaf secara bersamaan.


"Kalian serius kerja atau tidak? Dan terutama kamu, Jihan. Kalau begini terus, saya terpaksa harus pecat kamu dan cari pengganti yang lebih bertanggung jawab." Keenan pun memasang wajah kesal.


"Maaf." Hanya itu yang bisa Jihan ucapkan.


Keenan membawa berkas-berkas yang akan jadi bahan meeting hari ini. Dia berjalan melewati Jihan dan Nanang begitu saja.

__ADS_1


"Serem banget sih mukanya kalo lagi marah. Emang tadi malam nggak dikasih jatah ya sama istrinya." Jihan pun menggerutu.


"Sudah sudah, ayo kita ke ruang meeting. Singa bisa semakin mengamuk kalo kita sampai terlambat." Pak Geri pun menggiring Nanang dan Jihan menuju ruang meeting.


Meeting pun dimulai,


Semua tertuju pada Keenan yang sedang mempresentasikan rencana kerja dan sedikit perubahan struktur kerja di kantornya. Kenapa ada perubahan? Karena Keenan benar-benar menepati ucapannya. Dia memecat Jihan dengan dan tanpa alasan.


Selesai rapat, Nanang menemui Keenan di ruang kerjanya.


"Apa rencanamu selanjutnya? Kenapa kamu memecat Jihan?" tanya Nanang.


"Aku mencium bau-bau penyusup di kantor ini. Sepertinya Risma dan Zira menaruh orang suruhannya di kantor kita." Jawaban Keenan membuat Nanang terkejut.


"Siapa? Apa kamu tahu orangnya?" Nanang jadi penasaran.


"Aku masih menyelidikinya. Begitu aku menemukan orang itu, barulah kita bongkar semua dan saat itu terjadi kamu boleh menceraikan Risma." Keenan pun menjelaskan secara rinci dan memberikan daftar orang yang dia curigai.


"Aku pulang dulu, karena aku harus kembali menjadi burung." Keenan pun berpamitan pada Nanang, lalu pergi dari sana.


Keenan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, masih ada waktu beberapa jam lagi. Keenan pun memutuskan untuk pulang ke rumah agar bisa bermain sebentar dengan putranya.


"Loh Mas, kok pulang?" tanya Salwa saat Keenan menghampirinya di ruang TV.


"Emang nggak boleh pulang ya?" Keenan balik bertanya, membuat Salwa jadi salah tingkah.


"Bukan begitu maksudnya, Mas. Pagi tadi 'kan mas sendiri yang bilang kalo mau langsung berangkat kerja." Salwa memberi penjelasan agar Keenan tidak salah paham.


Keenan mendekati Angkasa lalu menggendongnya. Karena kali ini dia akan terbang sedikit lama, sekitar satu minggu.


"Selama Mas tidak ada di rumah, jangan ke luar tanpa pengawalan. Mas takut terjadi sesuatu pada kalian." Perkataan Keenan terdengar lucu di telinga Salwa, hingga dia tertawa lepas.


"Mas, aku ini istri seorang pilot, bukan istri raja atau petinggi negara. Tidak perlu berlebihan seperti itu ah. Lagi pula ada mang Ateng yang selalu menjaga kami." Salwa mencoba untuk tetap tenang di hadapan suaminya.

__ADS_1


"Tetap saja, aku harus menjaga kalian." Keenan bersikeras dan Salwa pun akhirnya mengalah. Tapi, sebenarnya jauh di dalam hatinya dia merasa takut. Keenan bersikap begitu pasti ada sesuatu. Yang perlu dia lakukan hanya tersenyum agar suaminya tidak terlalu mengkhawatirkannya juga Angkasa.


__ADS_2