My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 32


__ADS_3

Semenjak Salwa dan Angkasa kembali, Keenan lebih memperketat penjagaan. Salwa tidak boleh ke luar kecuali saat ada Keenan. Jika Keenan sedang bertugas, maka semua kebutuhan akan dipenuhi dan disediakan oleh Mang Ateng dan Bi Lilis.


"Bi, bukannya keadaan sudah aman. Kenapa mas Keenan masih memperketat penjagaan?" tanya Salwa, mereka sedang masak untuk makan malam.


"Kita tidak tahu kapan musuh akan muncul. Setahu bibi, penjahat yang tempo hari menyerang kalian, kabur dari tahanan. Zira juga belum diketahui keberadaannya," jawab bi Lilis.


"Zira? Apa hubungannya?" Salwa terlihat bingung.


"Menurut pengakuan salah satu dari mereka, dalang dibalik penyerangan itu adalah Zira. Para tahanan juga melarikan diri atas bantuan Zira," jawab bi Lilis lagi.


"Ya Tuhan! Kenapa Zira bisa senekat itu bik." Salwa benar-benar tidak mengerti. Mungkinkah cinta Zira pada Keenan yang membuat gadis itu nekat.


"Bibi juga tidak tahu, mungkin dia sudah tidak waras." Bi Lilis membersihkan dapur, karena masak memasak sudah selesai.


Salwa membantu bi Lilis menghidangkan makanan ke atas meja makan. Angkasa bermain dengan mang Ateng di halaman belakang, anak itu suka berjalan di sana, meskipun langkah kakinya masih oleng dan jatuh bangun.


"Bi, Salwa ke atas dulu ya. Mau mandi," ujar Salwa.


"Ya sudah, Angkasa biar bibi saja nanti yang mandikan." Kata bi Lilis dan Salwa pun mengangguk.


Selesai mandi, Salwa kembali ke dapur. Angkasa sudah mandi dan rapi, dia sedang menonton TV sambil meminum susu dari botolnya.


"Mas Keenan jadi pulang hari ini?" tanya Bi Lilis yang sedang menonton TV bersama Angkasa.


"Katanya sih jadi, tapi kurang tahu juga. Sampai sekarang belum juga datang," jawab Mang Ateng.


Salwa menghampiri mang Ateng dan Bi Lilis, lalu duduk di sofa. Mereka belum menyadari kalau Angkasa sudah tertidur.


"Kok Mas Keenan belum sampai ke rumah ya?" Salwa terlihat gelisah.


"Mungkin ada kendala, atau bisa jadi ada penundaan jam terbang." Mang Ateng mencoba berpikiran positif.


"Pada ngomongin aku ya," ujar Keenan yang baru saja datang mengejutkan Salwa dan yang lainnya.


Salwa berdiri lalu menghampiri Keenan, "Mas bikin kaget aja, Salwa kira mas nggak jadi pulang." Tuturnya.

__ADS_1


"Nggak mungkin dong mas nggak jadi pulang, mas udah nggak tahan, mas rindu sama Angkasa." Keenan mendekati Angkasa.


"Yah, dia sudah tidur, padahal mas beli mainan yang banyak untuknya." Keenan terlihat lesu.


"Mas bisa kasih mainannya besok, sekarang lebih baik mas mandi trus kita makan malam sama-sama." Kata Salwa, dan Keenan pun mengangguk setuju.


Salwa, Mang Ateng, dan bi Lilis sudah duduk di meja makan. Angkasa masih berada di ruang TV, sedang bergelut dengan mimpinya.


"Mang, selesai makan nanti, tolong ke ruang kerja Keenan ya." Keenan baru datang dan bergabung bersama anggota keluarga yang lain.


"Siap, Mas!" Sahut Mang Ateng.


Salwa mengambilkan makanan untuk Keenan, setelah itu baru ambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka pun berdoa terlebih dahulu, lalu menyantap makanannya.


Baru beberapa suap makanan yang masuk ke mulut Salwa, tiba-tiba terdengar suara tangisan dari arah ruang TV. Salwa beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Angkasa.


"Anak mama, haus ya." Salwa memangku Angkasa dan memberinya ASI.


"Sambil makan ya, mas suapin." Keenan duduk di samping Salwa sambil memegang piring berisi makanan.


"Nggak perlu, mas. Nanti Salwa bisa makan sendiri kok." Tolak Salwa dengan halus.


"Coba berbalik sebentar deh, itu ada sesuatu di belakang kamu." Pinta Keenan. Salwa pun langsung berbalik karena mengira ada yang menakutkan menempel di punggungnya.


"Biar rileks," ujar Keenan yang ternyata hanya menjahili istrinya. Keenan memijat bahu dan punggung Salwa agar tidak tegang.


"Terima kasih, mas." Ucap Salwa, dia tidak menyangka jika suaminya bisa sekonyol itu hanya karena ingin memijat punggungnya.


"Mas, mamang tunggu di ruang kerja ya." Kata Mang Ateng.


"Oh iya, Mang. Tunggu bentar ya, lagi buka usaha panti pijat nih. Siapa tahu dapat keuntungan yang banyak." Seloroh Keenan sambil tersenyum.


Salwa dan mang Ateng sama-sama menggelengkan kepalanya mendengar selorohan Keenan.


"Mamang senang melihatmu sudah kembali seperti dulu, Keenan. Salwa memang gadis yang tepat untukmu." Mang Ateng berbicara dalam hati.

__ADS_1


Mang Ateng masuk ke ruang kerja Keenan dan menunggu di sana. Biasanya ada hal penting yang akan disampaikan oleh majikannya itu.


"Mas, kasihan mang Ateng udah nungguin kamu. Temui dulu dia, baru nanti sambung lagi mijatnya." Ujar Salwa, Angkasa sudah kembali tertidur di pangkuannya.


"Oke sayang, jangan lupa upahnya." Ucap Keenan.


Keenan masuk ke ruang kerjanya, lalu duduk di hadapan mang Ateng.


"Ada hal penting apa mas, sehingga kita harus meeting berdua seperti ini?" tanya mang Ateng. Terlihat serius tapi itulah cara mereka bercanda.


"Salah satu anak buahku tidak sengaja melihat Risma. Kini, dia menjadi simpanan seorang pengusaha kaya. Dia juga berniat untuk balas dendam, terutama pada Jihan." Tutur Keenan.


"Kenapa dia memilih Jihan? Bukankah seharusnya dia membalaskan dendamnya pada mas Keenan?" Mang Ateng terlihat bingung.


"Karena dia tahu, dia tidak mungkin bisa melawanku." Jawaban Keenan terdengar masuk akal.


"Lalu, mas ingin mamang melakukan apa?" tanya mang Ateng.


"Awasi wanita ini!" Keenan menunjukkan sebuah foto pada mang Ateng.


Mang Ateng melihat foto itu dengan seksama, kemudian memandang ke arah Keenan dengan kening yang berkerut.


"Siapa wanita ini? Apa musuh kita yang baru?" tanya mang Ateng, dia tidak mengenali gadis yang ada di ponsel Keenan.


"Perempuan ini adalah Risma yang menyamar. Aku takut dia datang kemari dan menyamar dengan berbagai penampilan. Aku harap, mamang bisa bantu untuk menjaga keamanan Salwa dan Angkasa. Para penjaga semua sudah punya sketsa wajah Risma." Keenan menjelaskan.


"Baik, Mas. Mamang mah selalu siap." Ujar Mang Ateng.


"Terima kasih, mang." Ucap Keenan. Pertemuan penting telah selesai dan mereka pun pergi ke kamar masing-masing.


Salwa sudah tertidur nyenyak di kasurnya saat Keenan masuk ke dalam kamar. Wajah yang tirus kini mulai tembem dan tubuh yang kurus pun kini sudah mulai gemuk kembali.


Keenan naik ke kasurnya dan berbaring di samping istri yang sangat dicintainya. Istri yang sudah melahirkan satu putra untuknya, dan Keenan berharap dalam waktu cepat, akan ada Keenan junior atau Salwa junior yang hadir di tengah-tengah mereka.


Cup ...

__ADS_1


Keenan mencium kening Salwa, ciuman yang mendarat di kening itu sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Keenan juga mencium punggung tangan Salwa, tangan yang selalu memberinya belaian lembut di kala dia sedang letih dan lelah.


"I Love you, sayang." Keenan berbisik di telinga Salwa, setelah itu barulah dia tertidur sambil memeluk guling yang ada nyawanya.


__ADS_2