My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 52


__ADS_3

"Eh pak Gery, belum tidur pak?" tanya bi Eli yang sedang membersihkan dapur.


"Belum," jawab pak Gery singkat.


Bi Eli kembali membersihkan dapur, tak menghiraukan pak Gery yang sedang mengambil air minum.


"Eli," panggil pak Gery, kebetulan bi Eli sudah selesai dengan pekerjaannya dan hendak pergi ke kamar.


"Ada yang bapak butuhkan?" tanya bi Eli.


"Bisa ngobrol sebentar?" tanya pak Geri dan bi Eli pun mengangguk.


Pak Gery dan bi Eli duduk di ruang keluarga, tidak ada siapa-siapa lagi di sana, karena semua sudah tidur.


"Ada perlu apa ya pak?" tanya bi Eli.


Pak Geri menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan.


"Sudah puluhan tahun kita saling kenal, sudah puluhan tahun kita hidup dalam satu atap. Kita sudah saling mengenal satu sama lain, jadi kita tidak perlu untuk saling mengenal lagi. Anak-anakku juga sudah mengenalmu dengan sangat baik," tutur pak Gery.


"Maksud bapak?" bi Eli terlihat bingung.


"Sebelum pulang kampung, saya mau kita menikah. Menghabiskan masa tua bersama," jawaban pak Gery terdengar seperti sebuah lamaran untuk bi Eli.


"Bapak mengajak saya untuk menikah?" tanya bi Eli dan pak Gery pun mengangguk.


Bi Eli terdiam, tidak tahu harus menerima atau menolak lamaran dari mantan majikannya itu.


"Beri saya waktu!" akhirnya bi Eli mengeluarkan suara setelah terdiam beberapa saat.


"Bisa saya ambil kesimpulan bahwa kamu menolak," ujar pak Gery sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Istirahatlah, hari sudah malam." Titahnya sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar.


Bi Eli masuk ke kamar lalu duduk di tepi kasurnya, memikirkan percakapannya barusan dengan pak Gery.


Bi Eli masih belum bisa percaya sepenuhnya jika dia baru saja dilamar.


Bi Eli merebahkan tubuhnya lalu mulai tertidur. Biarlah waktu yang akan menjawab, jika mereka berjodoh pasti akan bersama, begitu pikir bi Eli.


Keesokan harinya,


Seperti pagi-pagi biasanya, bi Eli membantu bi Lilis menyiapkan sarapan untuk seisi rumah ini.


"Di meja saja bik," ujar Bi Lilis saat bi Eli hendak membentang tikar.


"Loh, emangnya cukup?" tanya bi Eli.


"Cukup, kan cuma Keenan dan Salwa saja. Ibu, nenek, dan yang lainnya sudah pulang." jawab Bi Lilis.


"Pak Gery sudah pergi sejak tadi malam, kalo ibu dan yang lain setelah subuh." jawab bi Lilis.


Bi Eli melanjutkan kembali aktivitasnya, begitu juga dengan bi Lilis. Tidak lama kemudian masakan sudah matang. Bi Lilis mendatangi kamar Keenan dan menyuruhnya untuk sarapan.


"Bibi kenapa? Kok kelihatannya lesu sekali?" tanya Keenan.


"Iya bik, dari tadi bibi juga diam saja. Apa bibi sakit?" tanya Salwa.


"Bibi baik-baik saja," kilah bi Eli.


Keenan dan Salwa saling bertukar pandang. Mereka belum tahu tentang lamaran pak Gery terhadap Bi Eli.


Selesai sarapan, Keenan kembali beraktivitas. Sudah cukup lama dia ambil cuti dan hari ini dia mulai bekerja seperti biasa

__ADS_1


Setelah mencium kedua anaknya, dan berpamitan pada Salwa, Keenan pun berangkat ke Bandara. Mang Ateng yang mengantarkannya hingga ke tempat kerja Keenan.


Salwa menemui bi Eli yang sedang menyetrika pakaian, dia duduk di samping bibinya itu.


"Sebenarnya ada apa, bik? Sepertinya ada sesuatu yang bibi sembunyikan dari Salwa?" tanya Salwa.


Bi Eli melihat keadaan sekitar, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Bibi kenapa sih? Kok jadi aneh begini?" Salwa bingung melihat tingkah bi Eli.


"Tadi malam pak Gery melamar bibi," ucap bi Eli.


"What?!" seru Salwa yang terkejut.


"Jangan kenceng-kenceng, nanti yang lain bisa tahu." ujar bi Eli dengan pelan.


Ekhemmm ... Salwa berdehem untuk menetralkan suaranya.


"Trus bibi terima nggak lamarannya?" tanya Salwa dengan pelan dan bi Eli pun menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" pertanyaan Salwa membuat bi Eli menganga.


"Kok kenapa? Emang harus ya bibi terima lamarannya?" bi Eli balik bertanya.


"Harus! Sebenarnya pak Gery itu orang baik, dan bibi tahu itu. Lelaki seperti apa lagi yang bibi cari? Udah di depan mata, dilamar, malah ditolak!" oceh Salwa.


"Bibi sudah tua, tidak sedang cari suami. Hidup sendiri bibi juga bisa bahagia," cetus bi Eli.


"Astaga bibi!" geram Salwa.


Salwa pun mengeluarkan jurus rayuan mautnya. Tidak bermaksud kurang ajar, hanya saja agar bibinya sedikit membuka mata dan hati.

__ADS_1


__ADS_2