My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 7


__ADS_3

Semenjak menikah dan ditinggal pergi, Salwa tetap beraktifitas seperti biasa. Tidak ada rindu ataupun sedih, mungkin karena belum ada cinta dalam hatinya. Keenan tidak pernah menghubunginya atau pun menanyakan kabarnya. Mereka putus hubungan, membuat bu Mala dan pak Geri merasa kasihan pada Salwa.


"Mungkin Keenan belum mencintai Salwa, dia hanya sekedar suka karena Salwa gadis baik dan masih perauwan saat Keenan menggagahinya." Pak Geri mencoba untuk berpikiran positif. Tapi, tidak dengan bu Mala, dia takut jika Keenan punya wanita selain menantunya.


"Keenan tidak pernah menghubungi kita, semenjak dia pergi. Apa menurut papa itu wajar? Bahkan ponselnya juga mati." Ujar bu Mala.


"Mama 'kan tau sendiri jadwal Keenan, dia sangat sibuk. Lagipula, di pesawat tidak boleh mengaktifkan ponsel." Pak Geri tetap berpikiran positif.


"Dia bisa menghubungi kita saat beristirahat! Sesibuk apapun dia, dia pasti punya waktu luang." Kekeh bu Mala.


"Kasihan Salwa, Pa. Dia butuh kasih sayang, apalagi sekarang dia sedang hamil. Apa Keenan sama sekali tidak peduli pada bayinya? Apa sikap lembutnya selama ini hanya sandiwara? Mama lihat, dia langsung berubah malam itu, dia bersikap dingin pada Salwa. Sebelumnya, dia sangat hangat dan perhatian." Tutur Bu Mala.


"Papa tidak tau." Perkataan pak Geri membuat bu Mala geram.


"Dasar! Semua laki-laki sama saja, cuma mau enaknya." Bu Mala beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar.


Bi Eli yang melihat percekcokan majikannya pun merasa sedih, karena Salwa mereka jadi bertengkar. Bi Eli pergi ke belakang, menuju kamar tidur ponakannya. Semenjak Keenan pergi, Salwa memilih untuk kembali tidur di kamarnya semula.


"Maafkan Salwa, Bi." Salwa menundukkan kepalanya, ternyata tadi dia sempat mendengar perdebatan antara pak Geri dan bu Mala.


"Tidak ada yang perlu disalahkan juga dimaafkan, semua telah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah kamu, bayi ini butuh sosok ibu yang kuat. Dia akan lemah, jika ibunya lemah." Bi Eli menghibur Salwa.


"Salwa pasti kuat!" Kata Salwa dengan penuh semangat.


Bi Eli mengusap perut Salwa yang semakin membesar, seiring dengan usia kehamilannya.


"Sudah empat bulan, berarti lima bulan lagi kamu akan melahirkan. Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Bi Eli.


"Salwa akan membawa anak ini pulang. Salwa yakin, dengan bukti buku nikah yang Salwa pegang, orang kampung tidak akan berani macam-macam." Salwa mengutarakan rencananya.


Di tempat lain,


Keenan sedang berbaring di kasurnya, menatap foto yang ada di galeri ponselnya. Foto dia sedang bersanding dengan Salwa sambil menunjukkan buku nikah mereka.


"Maafkan aku, jika aku terkesan cuek dan jahat padamu. Aku takut melukai hatimu lebih dalam." Keenan bermonolog.


"Pasti sekarang perutmu sudah besar, dan bayi di dalamnya sudah bergerak. Apa kamu tau, aku sering membaca artikel tentang kehamilan di aplikasi online. Ingin rasanya aku mengusap perutmu, tapi aku terlalu naif. Aku takut tidak bisa mengontrol dorongan itu dari diriku." Lagi-lagi Keenan bermonolog.

__ADS_1


Hembusan angin yang masuk melalui jendela kamarnya, menyisir setiap helai rambutnya. Menambah besar kerinduan yang bergejolak dalam hati Keenan. Angin seolah membisikkan kata-kata mesra bernada cinta, membuat pria di kamar itu semakin gelisah. Apalagi bayangan wajah sang istri mulai berkeliaran di benaknya.


"Salwa, aku merindukanmu." Ucap Keenan dengan mata tertutup.


"Aku harus pulang!" Keenan turun dari kasurnya, lalu bergegas pergi. Ada satu penerbangan terakhir malam ini, dia bisa pulang dengan pesawat itu.


...----------------...


Mang Ateng mengetuk pintu kamar Salwa dengan perlahan. Dia harus berhasil membawa pulang Salwa ke tempat majikannya.


"Mang Ateng! Ada apa malam-malam begini ke kamar Salwa?" Salwa mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Bibi sakit, badannya panas. Mamang bingung harus minta tolong sama siapa, makanya mamang kemari," jawab Mang Ateng.


"Tunggu bentar, Salwa cuci muka dulu."


Mang Ateng mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.


"Tidurlah, besok baru mulai kerja. Ini kamar kamu." Mang Ateng membukakan pintu kamar untuk Salwa.


"Kamar yang biasa kamu tempati kotor, mamang belum sempat membersihkannya." Mang Ateng langsung pergi setelah Salwa masuk ke dalam kamar.


Salwa merebahkan tubuhnya di kasur. Ketika hendak memejamkan matanya, dia dibuat kaget oleh seseorang.


"Kamu tidak merindukan aku?" tanya Keenan.


"Hei, kamu kenapa ada di sini!" Salwa langsung mendudukan tubuhnya.


"Ini rumahku, dan perlu aku ingatkan, namaku Keenan bukan hei." Jawaban Keenan membuat Salwa syok dan membuka mulutnya lebar-lebar.


"Rumahmu?" tanyanya, meski dalam gelap dia bisa melihat Keenan yang mengangguk sambil tersenyum.


"Aku salah masuk kamar," ujar Salwa lalu turun dari kasur, dengan sigap Keenan menarik tangan Salwa hingga gadis itu terjatuh ke dalam pelukannya.


"Perutku!" Salwa merintih sambil memegangi perutnya yang terbentur tubuh Keenan


"Maaf! Aku tidak sengaja." Keenan turun dari kasur lalu menyalakan lampu.

__ADS_1


"Sakit?" Wajah Keenan terlihat sangat khawatir.


Salwa menggeleng, "Sudah tidak, hanya sedikit."


"Kamu mau ke mana? Ini kamarku, berarti ini kamarmu juga." Kata Keenan.


"Kita tidak boleh tidur bersama, maaf!" Ucap Salwa.


"Malam ini saja, besok pagi aku harus kembali bekerja." Keenan memohon.


Salwa memandang wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. "Kenapa Mas melakukan ini?" tanyanya.


Keenan tersenyum, "Kamu panggil aku apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Salwa, dia malah balik bertanya.


"Mas. Apa ada yang salah? Kalo tidak suka, aku bisa menggantinya." Kata Salwa.


"Aku menyukainya, panggil aku Mas sepuasmu." Keenan memeluk Salwa dengan erat.


"Aku pulang karena rindu padamu juga anak kita." Keenan mengusap perut Salwa, kemudian sedikit membungkuk untuk mencium perut buncit istrinya.


"Mas, kok bisa bersikap lembut begini, malah terkesan bucin. Seharusnya, Mas bersikap dingin dan kejam. Seperti di novel ataupun sinetron-sinetron." Tutur Salwa.


"Aku bukan tokoh novel ataupun seorang aktor, aku tahu harus bersikap apa pada istriku."


"Walau tidak mencintaiku?" Salwa memotong perkataan suaminya.


"Bukan tidak! Tapi, belum mencinta. Meski begitu, aku bukanlah laki-laki kejam, yang bisa sesuka hati menyiksa jiwa dan ragamu." Jawab Keenan.


Salwa terdiam, rasa kantuknya perlahan menghilang. Keenan mengajaknya duduk di balkon, dia mengajak istrinya untuk saling bertukar cerita.Dengan begitu, dia berharap hubungan mereka akan semakin dekat.


Salwa mendengar Keenan bercerita, hingga fajar menyingsing, barulah mereka masuk ke dalam kamar. Keenan bersiap-siap, sebentar lagi dia harus segera berangkat. Jadwal penerbangannya tidak bisa ditunda lagi.


"Tiga bulan lagi, aku pulang. Tunggu aku, jaga baik-baik anak kita." Keenan mengecup kening Salwa lalu berpamitan. Mang Ateng mengantarkannya hingga ke Bandara.


Salwa ingin ikut, tapi Keenan melarangnya. Dia menyuruh istrinya untuk tidur, karena semalaman Keenan mengajaknya mengobrol.


"Sepertinya, Mas Keenan mulai mencintai kamu, Nak." Perkataan Bi Lilis membuat Salwa tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2