
Salwa turun dari kasur dan langsung ke luar dari kamar saat mendengar suara deru mesin mobil. Dia mengintip dari celah tirai untuk memastikan jika yang datang itu benar-benar suaminya.
Salwa bergegas membuka pintu untuk menyambut kedatangan Keenan. Meskipun ini sudah larut malam, dia tetap ingin menjadi orang pertama yang dilihat oleh suaminya.
"Sayang, kok belum tidur!" Keenan terkejut saat melihat Salwa membukakan pintu untuknya.
"Aku ingin menyambutmu," ujar Salwa.
"Aku tidak perlu kamu sambut, apalagi ini sudah larut malam. Kamu harus tidur, kasihan babynya nanti ikutan ngantuk." Keenan merangkul bahu Salwa dan mereka pun masuk ke rumah secara bersamaan.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar. Keenan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sedangkan Salwa membuatkan minuman hangat untuk suaminya.
"Kamu sudah makan atau belum, Mas?" tanya Salwa saat Keenan baru ke luar dari kamar mandi.
"Belum," jawab Keenan sambil tersenyum.
"Aku siapin makanan ya? Makan dulu setelah itu baru tidur," ujar Salwa.
Keenan melemparkan handuknya begitu saja lalu mendekati Salwa. Dia tarik pinggang istrinya hingga merapat ke tubuhnya. Meski perut buncit Salwa semakin ke depan, itu tidak menjadi penghalang bagi Keenan untuk bersikap mesra pada istrinya tersebut.
"Aku merindukanmu," bisik Keenan di telinga Salwa.
Hembusan nafas Keenan menyapu telinga Salwa, hingga menimbulkan desiran aneh di tubuhnya. Desiran yang menuntut pemilik tubuh untuk melakukan sesuatu yang lebih.
"Ahhh ...," suara Salwa lolos begitu saja saat lidah Keenan berselancar di lehernya.
"Jangan keras-keras, kamar ini tidak dipasangi peredam suara." Salwa langsung membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan saat Keenan berbisik.
Keenan kembali menjelajahi setiap inci tubuh istrinya, tanpa terlewat sedikit pun. Erangan dan lenguhan meski lirih terus ke luar dari mulut Salwa. Dia tidak bisa menahan suaranya agar tidak ke luar.
Setelah bergulat beberapa saat, akhirnya mereka pun mencapai puncak secara bersamaan. Mereka langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu barulah mereka tertidur.
Pagi harinya,
Keenan mengajak Salwa jalan-jalan di sekitaran kampung, menghirup udara pagi yang masih segar. Angkasa berjalan di depan, memimpin kedua orang tuanya. Mulutnya tidak berhenti berceloteh, entah apa yang sedang dibicarakannya.
"Hari ini Jihan dan Nanang akan datang," ujar Keenan.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Salwa.
"Iya, katanya dia suntuk karena tidak ada kita di sana." jawab Keenan.
Mereka berjalan sambil melihat-lihat tanaman sayur yang menjadi ladang pencaharian warga sekitar. Banyak macam sayur yang mereka tanan dan nantinya hasil sayur yang sudah di panen akan di jual di pasar yang ada di kota.
Berbeda dengan ibu Keenan, dia lebih suka menanam sawit dan karet.
"Kebun ibu di mana?" tanya Salwa.
"Jauh, harus pake motor atau mobil kalo mau ke sana." Jawab Keenan sambil sesekali menyapa warga yang sedang menggarap kebun sayur mereka.
"Mas," sebut Salwa.
"Hemm," dehem Keenan.
"Sepulang kita dari sini, kita pergi ke rumah bik Eli yuk. Aku merindukannya," ujar Salwa.
"Baiklah, sayang." Keenan merangkul pundak Salwa dan mengajaknya untuk kembali pulang ke rumah.
"Kalian sudah pulang, ada yang ingin bertemu kalian, terutama kamu." Tutur ibu pada Keenan.
"Siapa yang datang, bukan Jihan ya?" pertanyaan Keenan di jawab gelengan kepala oleh ibu.
"Om Panji?" tanya Keenan dan ibu pun mengangguk.
Dengan wajah berbinar Keenan masuk ke dalam rumah untuk menemui ayah tirinya. Seorang pria yang sudah berbaik hati merangkul ibunya saat terpuruk dulu, saat sang ibu berada di titik paling bawah.
"Ayah!" seru Keenan, dia memeluk pria yang sudah lebih dari dua puluh tahun menjadi ayah pengganti baginya.
"Makin tampan saja anak ayah! Mana istrimu dan cucu ayah?" tanya om Panji.
"Mereka di sini," jawab ibu sambil melingkar tangan di pinggang Salwa.
"Salwa." Sambil tersenyum dan mengulurkan tangan, Salwa memperkenalkan diri.
"Ini suami ibu, namanya om Panji. Panggil saja ayah," ujar Keenan dan Salwa mengangguk.
__ADS_1
Mereka pun duduk sambil bercengkrama. Canda tawa ditambah tingkah lucu Angkasa membuat suasana semakin hangat.
"Kenapa bengong? Baru tahu kalo ternyata ibu punya suami?" bisik Keenan dan Salwa pun mengangguk.
"Ayah Panji menikahi ibu tidak lama setelah Jihan lahir. Ayah jugalah yang sudah membantu ibu , menghibur ibu dari kesedihan akibat pengkhianatan papa Geri dulu." Tutur ibu.
"Jihan jadi datang nggak, Yank?" tanya Om Panji pada ibu.
"Katanya sih jadi, tapi mungkin agak sorean dia datang. Soalnya pagi Nanang harus meeting dulu," jawab ibu.
Selama ini om Panji jarang berada di rumah, dia mengurus perusahaan di luar negeri.
"Kenapa selama ini ibu menutupi pernikahan ibu dan ayah?" tanya Salwa.
"Sebenarnya bukan ditutupi, kalian saja yang tidak peduli pada kami." jawab om Panji sambil tersenyum.
"Berarti bukan satu, tapi dua laki-laki yang ada dalam hidup ibu." Tutur Salwa.
"Maksud kamu?" Ibu tidak mengerti apa yang di maksud oleh Salwa.
"Saat mas Keenan menelpon, Salwa sempat mendengar ibu mengatakan kalo mas Keenan satu-satunya laki-laki yang ibu miliki dan ibu cintai hingga sat ini." jawab Salwa.
"Ibu tidak bilang begitu, ibu bilang Keenan adalah anak laki-laki ibu satu-satunya dan ibu sangat mencintainya." Ibu menjelaskan.
"Sekarang cinta itu harus terbagi karena ada Angkasa," ujar Om Panji.
"Apa?" Angkasa angkat bicara saat namanya disebut.
"Opa sayang Angkasa," jawab Om Panji sambil mencubit pipi gembul cucunya.
"Love you," ucap Angkasa sambil mengangkat jarinya, mengikuti gaya anak muda jaman sekarang.
"Anak pintar," puji om Panji.
Sambil menunggu Salwa, ibu, dan nenek selesai memasak untuk makan siang, Keenan dan Om Panji memilih teras samping untuk tempat mereka ngobrol. Banyak hal yang mereka bahas, dari masalah pribadi masing-masing hingga masalah pekerjaan.
Mereka terlihat sangat akrab, tidak ada yang menyangka jika mereka hanyalah anak dan ayah tiri. Sekilas mata memandang, mereka terlihat seperti ayah dan anak kandung.
__ADS_1