
Byur, seorang laki-laki menyiram gelandangan yang sedang tertidur pulas di depan tokonya. Bahkan dia tidak peduli pada keadaan orang itu. Berkali-kali dia membangunkannya dengan cara yang kasar.
"Heh! Bangun! Dasar pemalas! Masih muda, cantik tapi jadi gelandangan. Bisa-bisanya tidur di depan toko milikku." Pemilik Toko memarahi Risma yang tidur di depan toko miliknya.
"Maaf, pak." Risma bangun dari tidurnya lalu pergi.
Uang dari bu Mala untuknya dirampok orang, sepeser pun tidak tersisa. Mendatangi rumah teman-temannya termasuk Zira, semua menolak untuk memberinya bantuan.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Lihat saja kalian, aku pasti akan membalas semua perbuatan kalian padaku." Risma terus berjalan entah ke mana tujuannya.
Matahari semakin memancarkan panas yang begitu terik. Risma memegani perutnya yang terasa lapar.
"Hei, orang gila! Pergi dari depan warungku! Bikin pembeliku kabur saja." Usir pemilik warung nasi.
Risma menelan air liurnya saat melihat orang-orang yang sedang menikmati makan siangnya. Dia buru-buru pergi saat pemilik warung mau menyiramnya dengan air kotor bekas mencuci piring.
Di sisi lain,
Bu Mala tengah bermesraan dengan lelaki yang jauh lebih tua darinya. Tentu saja lelaki itu lebih kaya dari pak Geri saat ini.
Bu Mala bertemu laki-laki itu saat sedang kebingungan, dia hendak mencari rumah kontrakan. Lelaki itu datang menawarkan kemewahan pada bu Mala, tentu saja dia menerima lelaki itu dengan senang hati.
Meski sudah berumur, tapi wajah dan tubuh bu Mala masih segar dan cantik. Bahkan orang yang tidak mengenalnya akan mengira jika usianya baru tiga puluh tahunan.
"Aku tidak akan mengampunimu jika suatu saat aku tahu kamu memiliki anak," ujar laki-laki itu pada Bu Mala.
"Aku berani bersumpah, aku belum pernah melahirkan seorang anak." Ucap bu Mala.
Lekaki itu kembali mengenakan pakaiannya setelah selesai bertempur dengan bu Mala.
"Apa kamu akan pergi secepat ini?" bu Mala turun dari ranjang tanpa memakai sehelai pakaian.
"Aku harus pulang, aku takut istriku curiga." Jawab laki-laki itu.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku juga mau check out dari hotel ini." Kata bu Mala lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Lelaki itu meninggalkan sejumlah uang di atas kasur, lalu ke luar dari kamar hotel itu.
Selesai dengan ritualnya di kamar mandi, bu Mala pun langsung memakai pakaiannya. Matanya berbinar saat melihat segepok uang di atas kasur.
"Dengan uang ini, aku bisa menyewa apartemen. Aku akan menghasilkan banyak uang, setelah itu aku akan datang pada Geri dan menunjukkan padanya jika aku masih bisa bertahan hidup dengan enak meski tanpa dirinya," monolog bu Mala.
Bu Mala menarik kopernya ke luar dari kamar hotel. Dia menggunakan lift untuk sampai di lantai bawah, setelah itu dia pun pergi naik Taksi.
Di rumah Keenan,
Seperti hari-hari sebelumnya, Keenan duduk diam sambil memandangi foto Salwa dan Angkasa yang ada di galeri foto ponselnya.
Mobil travel yang membawa Salwa sudah ditemukan, tapi dia tidak tahu ke mana Salwa pergi. Supir travel mengatakan, jika dia mengantarkan Salwa hingga di depan terminal saja. Setelah itu dia tidak tahu apa-apa lagi.
"Bos!" Keenan dikejutkan oleh suara anak buah yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Keenan.
"Benarkah? Di mana dia?" tanya Keenan.
"Ada di depan, Bos." Jawab orang itu.
Keenan beranjak dari duduknya lalu berjalan ke luar.
"Apa benar kamu yang mengantarkan istri saya?" tanya Keenan sambil menunjukkan foto Salwa dan Angkasa.
"Iya, Tuan." Jawab Sopir travel.
"Ke mana kamu mengantarkan dia?" tanya Keenan.
"Ke perumahan yang ada di jalan MH, Tuan. Tapi, saya tidak tahu persis di mana rumahnya, karena mereka meminta saya untuk berhenti di pintu gerbang." Jawab Sopir itu.
__ADS_1
"Maksud kamu, mereka belum tentu masuk atau tidaknya ke perumahan itu?" tanya Keenan.
"Sepertinya mereka memang ke perumahan itu, saya melihat satpam penjaga pintu gerbang mengenali ibu paruh baya yang bersama istri Tuan." Sopir itu menjelaska.
"Antarkan dia pulang dan berikan haknya." Keenan masuk ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya.
Keenan tidak mau menunda waktu lagi, hari ini juga dia akan pergi ke perumahan itu untuk menjemput istrinya.
Keenan pun segera berangkat bersama beberapa anak buahnya. Dia berharap segera bertemu dengan Salwa dan membawanya kembali pulang.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju perumahan yang berada di jalan MH. Butuh beberapa jam untuk sampai ke perumahan itu.
"Salah satu dari kalian turun, dan tanyakan pada satpam itu tentang bi Eli." Perintah Keenan pada anak buahnya.
Salah satu anak buah Keenan pun turun lalu menghampiri satpam di pintu masuk. Terlihat satpam itu berbicara sambil menunjuk ke arah lain. Setelah terlibat pembicaraan beberapa saat, anak buah Keenan pun kembali ke mobil.
"Memang benar malam itu bi Eli kemari bersama Nona, tapi dia tidak masuk ke perumahan ini, Bos. Bi Eli hanya menanyakan alamat yang satpam itu sendiri tidak tahu di mana. Karena sudah malam, satpam menyarankan bi Eli untuk menginap di penginapan yang ada di depan sana. Bi Eli dan Nona pun ke penginapan itu dan satpam tadi yang mengantarkannya." Anak buah Keenan memberi laporan.
"Kita ke sana," titah Keenan.
"Baik, Bos." Mereka pun segera bergerak menuju penginapan yang dimaksud.
Sesampai di penginapan itu, tidak satu pun dari mereka yang tahu menahu soal bi Eli dan Salwa. Malam yang sama saat kejadian, tidak satu pun pengunjung yang bernama Eli dan Salwa.
Keenan meminta izin untuk melihat rekaman CCTV, dan ternyata benar, mereka hanya turun di depan penginapan itu dan pergi ke arah lain dengan berjalan kaki.
"Sepertinya bi Eli sengaja bersembunyi dari kita, Bos. Pasti dia sudah tahu jika Bos akan mencari mereka." Tutur salah satu anak buah Keenan.
"Tentu saja bi Eli tahu, aku tumbuh besar di tangannya." Keenan terlihat sangat lesu.
Pencarian dihentikan, mereka pun kembali pulang. Melanjutkan pencarian tidak mungkin, karena menurut penuturan pegawai penginapan di tempat itu sangat jarang yang memasang CCTV.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Keenan. Rinai hujan mengiringi hati Keenan yang tengah bersedih, tetesan air yang turun dari langit seolah tahu jika Keenan sedang bersedih saat ini. Rintik hujan yang turun seolah mewakilkan air mata kesedihan dari Keenan.
__ADS_1
Setelah sampai di rumahnya, Keenan langsung mengurung diri di kamar.Dia tidak peduli pada panggilan dari teman-teman kerjanya, bahkan peringatan dari atasannya pun tidak dia pedulikan.