
Selesai sarapan, setelah Kyang pergi ke kantor, Risma mengajak Daniel untuk ke luar rumah. Dia berniat untuk mengunjungi Keenan hari ini. Menurut informasi dari Kyang, hari ini Keenan sedang ada di rumah.
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang. Risma mengemudikan mobilnya sendiri. Untung saja pagi ini dia tidak pusing, mual, atau pun muntah.
Satpam di rumah Kennan langsung membuka pintu pagar saat mengetahui siapa yang datang berkunjung.
Risma tidak menyangka jika dia bisa masuk dengan semudah itu.
"Risma," sabut Salwa. Dia menyambut hangat kedatangan adik iparnya.
"Kak, maafin aku kak. Selama ini aku banyak salah sama kakak. Aku udah bikin kakak hampir celaka," ucap Risma diiringi air mata penyesalan.
"Kakak sudah memaafkanmu sedari dulu, kakak senang akhirnya kamu bisa berubah." balas Salwa.
"Ini semua berkat kak Ken," ujar Risma.
"Aku? Benarkah?" tiba-tiba Keenan sudah berada di sana.
Risma melepaskan pelukannya pada Salwa, lalu berpindah ke pelukan Keenan. Tangisnya pecah tanpa kata, hanya sedu sedan yang terdengar memilukan.
Keenan membimbing Risma dan Daniel untuk duduk di sofa. Daniel bermain bersama Angkasa, sedangkan Salwa dan Keenan saling bertukar cerita dengan Risma.
"Permisi Mas Ken, di depan ada orang yang ingin bertemu." lapor Mang Ateng.
Keenan beranjak dari duduknya, "Tunggu sebentar, ya." Dan Keenan pun pergi menemui tamunya.
"Selamat pagi, pak. Maaf mengganggu waktu santainya," ucap salah satu tamu.
__ADS_1
"Selamat pagi, silakan masuk." Keenan mengajak tamunya duduk di ruang tamu.
"Begini pak Keenan, kami datang kemari untuk menyampaikan sesuatu. Lebih tepatnya kabar duka," tutur tamu.
"Kabar duka? Apa itu?" tanya Keenan, hatinya mulai tidak tenang.
"Sekitar pukul tiga pagi tadi, mobil yang ditumpangi oleh Bu Mala mengalami kecelakaan. Bu Mala meninggal dunia di tempat kejadian, sedangkan teman prianya mengalami koma." jawab tamu.
Keenan terkejut mendengar berita duka yang disampaikan oleh tamunya. Setelah mereka pulang, Keenan kembali bergabung bersama istri dan anaknya.
"Siapa yang datang?" tanya Salwa.
"Dari pihak kepolisian," jawab Keenan sambil memandang ke arah Risma dengan mata berembun.
"Ada apa kak?" tanya Risma, melihat ada genangan air mata di mata Keenan, dia yakin pasti ada yang tidak beres.
"Kak, sebenarnya ada apa? Kenapa kakak terlihat sedih?" tanya Risma.
"Mama, Mama kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian." Suara Keenan bergetar saat menyampaikan itu. Sejahat apapun bu Mala, dia tetaplah seorang ibu. Dia pernah berjasa pada hidup Keenan.
Salwa dan Risma terkejut bukan kepalang, lalu menangis bersamaan.
"Sekarang mama di mana, kak?" tanya Risma di sela-sela tangisnya.
"Masih di rumah sakit. Jika tidak ada pihak keluarga yang mau mengurus proses pemakamannya, maka pihak rumah sakit yang akan mengurusnya." jawab Keenan.
"Aku yang akan mengurusnya, aku akan telpon Kyang." Risma membuka tas lalu mengeluarkan ponselnya. Dia mencoba menghubungi suaminya, namun tidak bisa. Ponsel Kyang nonaktif dan tidak bisa dihubungi sama sekali.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, telpon Keenan berdering. Ternyata Kyang yang menghubunginya.
Keenan menjauh dari Salwa dan Risma lalu menjawab panggilan dari sahabat sekaligus adik iparnya itu.
Cukup lama mereka berbicara di telpon, entah apa yang sedang mereka bahas.
"Kalian bersiaplah, kita pergi ke rumah Risma. Jenazah Mama sedang menuju ke sana." Mendengar itu Risma langsung bersiap-siap, dan pergi.
Tidak banyak yang datang untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa, hanya segelintir orang yang datang itupun pihak tetangga yang berada di sisi kanan dan kiri rumah Kyang.
Papa Gery sudah ada di sana, terduduk di samping peti jenazah bu Mala.
"Pa," sebut Keenan.
Risma sudah dibawa ke kamar karena saat tiba di rumah tersebut, dia jatuh pingsan dan Kyang langsung membawanya.
"Semua sudah selesai dipersiapkan, kita harus cepat-cepat memakamkan bu Mala. Kalo ditunda, takutnya tubuh jenazah membusuk. Banyak luka dan sebagian tubuhnya hancur," tutur Kyang.
"Secepat itu kamu mempersiapkan pemakaman. Dari mana kamu tahu kalo bu Mala kecelakaan?" tanya Keenan.
"Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi kamu tidak menjawab panggilan telponku." jawab Kyang.
Keenan memeriksa ponselnya dan benar saja, ada lima belas panggilan tidak terjawab dari Kyang.
Setelah Risma siuman, mereka pun langsung pergi ke pemakaman untuk memakamkan jenazah bu Mala.
Begitu proses pemakaman selesai, mereka pun langsung pulang. Cuaca tidak mendukung untuk mereka berlama-lama di sana. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
__ADS_1
Hingga malam hari, Risma masih berdiam diri di kamarnya. Segala kebutuhannya Kyang yang menyediakannya.