My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 20


__ADS_3

"Lihat saja, Keenan. Sebentar lagi kamu akan kembali menjadi milikku." Zira berdiri sambil melihat ke luar jendela kamar hotelnya. Dia sedang menunggu seseorang yang sedang menuju ke kamar itu.


Tok


Tok


Tok


Terdengar bunyi ketukan di pintu kamar Zira.


"Masuk!" Zira menyuruh orang itu untuk masuk.


"Bos." Tiga orang laki-laki bertubuh tinggi tegap masuk ke kamar itu.


"Informasi apa yang kalian dapatkan?" tanya Zira.


"Kami ... Kami tidak mendapat informasi apa-apa, Bos. Keenan menutup semua akses yang berhubungan dengan istri dan anaknya." Jawab salah satu dari mereka.


"Sial! Sepertinya Keenan mengibarkan bendera perang. Lihat saja, aku sama sekali tidak takut. Akan aku ikuti permainamu, Keenanku sayang." Zira sudah tidak waras, obsesinya pada Keenan sudah membuatnya lupa jika dulu dia pernah meninggalkan luka di hati Keenan.


"Kalian boleh pergi. Laporkan terus informasi tentang Keenan padaku, sekecil apapun itu." Zira memberi perintah.


"Baik, Bos."


Ketiga lelaki itu pun ke luar, meninggalkan Zira yang sedang kesal.


Tidak lama setelah tiga laki-laki itu pergi, datang seorang lelaki ke kamar itu.


"Lama sekali sih, aku sudah tidak tahan. Rinduku padamu sangat menyiksaku." Zira merengek manja pada orang yang baru saja datang. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu.


"Maafkan aku sayang, aku harus mencari alasan agar kepergianku tidak di curigai oleh istriku. Kamu 'kan tahu sendiri, semenjak kejadian hari itu, dia selalu curiga. Dan parahnya lagi dia menyuruh orang untuk membuntutiku." Ternyata selama ini Zira masih berhubungan dengan Yahya, laki-laki yang membuatnya berpaling dari Keenan dan menggoreskan luka di hatinya.


"Kenapa sih, tidak kamu tinggalkan saja dia. Aku capek harus sembunyi terus. Jangan-jangan kamu hanya menjadikan aku bonekamu dan sama sekali tidak berniat untuk menikah denganku." Zira memasang wajah sedihnya untuk menarik simpati Yahya.


"Aku belum bisa melepaskannya. Apa yang kita inginkan, belum kita dapatkan. Bersabarlah sedikit, setelah semua bisa aku rebut, aku akan segera menikahimu." Yahya menjelaskan.

__ADS_1


Istri Yahya anak seorang pengusaha kaya. Karena istrinya itulah dia bisa hidup enak, bergelimang harta seperti sekarang ini.


Yahya hanya anak dari seorang petani kecil di kampung, dia bisa menjadi pilot karena orang tua istrinya yang membiayai semua biaya pendidikannya.


Sekarang dia berniat untuk mengambil harta istrinya, itu semua karena Zira sudah meracuni otaknya. Yahya belum menyadari jika dirinya hanya dijadikan ATM berjalan oleh Zira.


"Aku akan sabar menunggu hari itu, sayang." Zira mengusap pipi Yahya dengan lembut.


Yahya memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut yang dilakukan oleh Zira padanya. Mereka selalu melakukan hubungan selayaknya suami istri setiap kali bertemu.


"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu." Zira membisikkan kata yang memabukkan bagi Yahya.


Tubuh Yahya memanas, keringat mulai mengucur deras di seluruh tubuhnya. Zira selalu bisa memberinya kepuasan, karena itulah dia selalu menuruti apa yang diinginkan oleh wanita simpanannya itu.


"Aku merindukanmu." Tanpa menunda waktu lagi, dengan liar Yahya menyesap bibir gadis yang ada dalam pelukannya.


Kamar yang tadinya dingin berubah jadi panas. Suara erangan dan desahanh memenuhi setiap penjuru kamar itu.


"Sayang ... " Zira tidak berhenti menyebut dan memanggil kekasihnya itu. Meskipun dia hanya dijadikan kekasih gelap, tapi Zira sangat menikmatinya.


"Apa kamu pernah bertemu Keenan?" Zira bertanya pada Yahya.


"Tidak pernah." Yahya menjawab pertanyaan Zira dengan singkat.


"Bukankah kamu satu maskapai dengannya?" Zira bertanya lagi.


"Sayang, apa kamu lupa kalo aku sudah di pecat karena kasus beberapa waktu yang lalu."


"Bukankah kamu kembali, setelah mertuamu membantumu." Sepertinya Zira sedang mengorek informasi dari Yahya.


"Keenan pindah tugas, dan yang aku dengar dia mengambil penerbangan ke luar negri." Yahya menjawab apa yang dia tahu. Walaupun informasi yang dia dapat tidak semuanya benar.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal Keenan, apa kamu merindukan dia?" Pertanyaan Yahya membuat Zira jadi salah tingkah.


"Bukan begitu, sayang. Belum lama ini aku melihatnya bersama seorang perempuan yang sedang hamil. Apa dia sudah menikah?" Zira berpura-pura tidak tahu menahu soal Keenan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu," jawab Yahya.


Yahya memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Zira. Dia membelai rambut gadis itu dengan lembut.


"Daripada kita membahas soal Keenan, lebih baik kita melanjutkan pertempuran kita." Dan akhirnya mereka pun kembali melakukannya untuk yang kedua kalinya di hari ini.


Di tempat lain,


Keenan sedang duduk di sebuah kafe, di hadapannya sudah duduk dua orang yang bertugas menyelidiki dan mengikuti semua aktivitas Zira dan Risma.


"Informasi apa yang kalian dapat?" tanya Keenan pada kedua orang tersebut.


"Zira masih menjalin hubungan dengan pilot yang dulu pernah dipecat. Tadi malam mereka bertemu di sebuah hotel. Ini rekaman yang berhasil kami ambil." Salah seorang dari mereka menyerahkan sebuah flashdisk kepada Keenan.


"Nona dan Angkasa sudah beberapa hari ini menginap di rumah orang tua Anda. Informasi yang kami dapat, putra Anda sedang demam." Lapor orang yang lainnya.


"Putraku, demam?" Keenan terkejut saat mendengar laporan dari orang suruhannya.


"Iya, Tuan. Kata Tuan Geri, demam karena Angkasa baru saja selesai disuntik imunisasi." Jawaban orang itu membuat Keenan sedikit tenang.


"Bagaimana dengan adik perempuanku?" Tanya Keenan, dia harus mengumpulkan banyak informasi agar rencananya berjalan dengan lancar.


"Adik anda sedang pergi berlibur, mungkin terlalu stres menghadapi permasalahannya dengan sang suami." Jawaban orang tersebut mengakhiri pertemuan mereka.


Keenan mempunyai anak buah di setiap kota, mereka bertugas melaporkan tentang semua hasil kerja yang mereka peroleh. Keenan menempatkan mereka di setiap kota yang dia singgahi. Tujuannya untuk memudahkan mereka saling bertukar informasi.


"Angkasa, maafkan papa ya nak. Papa belum bisa pulang." Keenan memandang foto dirinya bersama Salwa yang tersenyum sambil menggendong Angkasa.


Sebelum pergi mengudara, Keenan sempat melakukan sesi foto sekeluarga. Keenan, Salwa, dan Angkasa.


"Aku merindukan kalian berdua." Keenan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian kembali ke burung besi yang sudah bertahun-tahun menjadi tunggangannya.


Meski tangung jawabnya sangat besar, Keenan sangat menyukai pekerjaannya. Jika dia mau, dia bisa meninggalkan pekerjaan itu. Uang hasil beberapa perusahaan miliknya cukup untuk membiayai hidupnya bersama istri dan anak-anaknya.


Pesawat mulai lepas landas, meninggalkan kota yang satu dan mendatangi kota yang lain.

__ADS_1


"Kenapa papa memberimu nama Angkasa, karena setiap hari, setiap kali, dan setiap saat langit ini mengingatkan papa padamu, Nak. Dan setiap papa mengingatmu, di saat itu juga papa teringat mamamu." Keenan bermonolog sambil tersenyum.


__ADS_2