My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 46


__ADS_3

Risma bahagia saat Daniel ada di dekatnya, berada dalam pelukannya. Putra yang dia lahirkan dengan penuh deraian air mata, kini sudah besar, sudah bisa mengenali orang di sekelilingnya.


"Daniel rindu sama Mama," ujar anak berusia kurang lebih lima tahunan itu.


"Mama juga kangen sama Daniel," balas Risma lalu memeluk putranya penuh haru.


"Mbak Risma, mari duduk! Kita ngobrol di dalam," ajak simbok yang bertugas merawat Daniel.


"Makasih, mbok." ucap Risma.


Daniel duduk di samping Risma, tangannya terus menggenggam tangan sang mama.


Nanang dan Jihan selalu memberitahukan pada Daniel, bahwa Risma lah ibu kandungnya. Mereka juga mengajarkan Daniel agar tetap menghormati dan menyayangi Risma.


"Mama tidak menginap?" tanya Daniel saat Risma berpamitan untuk pulang.


"Mama tidak bisa. Tapi, jika Daniel mau, Mama bisa mengajakmu ikut bersama Mama. Nanti kalo papa dan bunda sudah pulang, Mama akan antar Daniel." tutur Risma.


Karena sudah mendapat izin dari Nanang dan Jihan, akhirnya Risma membawa Daniel pulang ke rumah Kyang.


"Wah, lihatlah siapa yang datang. Ternyata ada jagoan yang berkunjung ke rumah Ayah," sambut Kyang hangat saat Daniel menapakkan kaki di rumahnya.


Daniel mendongak, menatap wajah Risma seolah meminta penjelasan. Risma yang mengerti maksud anaknya pun jongkok dan mengusap punggung Daniel.


"Seperti halnya papa dan bunda, di sini ada Mama dan ayah. Namanya Ayah Kyang, kamu bisa bermain dengannya selama di sini," Risma memberi penjelasan.


"Hallo, saya Daniel." Dengan sopan Daniel memperkenalkan diri.


Kyang berjalan menghampiri Risma dan Daniel, sebelum berbicara dengan Daniel, dia terlebih dulu berbisik pada Risma.


"Kenapa tidak memberi tahuku kalo kamu mau menemui Daniel? Kamu 'kan bisa mengajakku untuk menjemputnya," bisik Kyang di telinga Risma.


"Aku takut mengganggu waktumu," ujar Risma yang belum mengetahui siapa sebenarnya Khayrani.


"Kyang! Anak siapa ini? Lucu sekali," seru Khayrani yang baru keluar dari kamar dalam keadaan rambut yang basah, menambah kecurigaan dan prasangka buruk Risma.


"Tentu saja dia anakku. Lihat saja wajahnya, tampan sepertiku." Risma membulatkan matanya, tidak menyangka suaminya bisa senarsis itu.


"Duh duh duh, gantengnya ponakan onty. Sini cium onty dulu," tanpa izin pemilik pipi, Khayrani langsung nyosor dan mencium pipi kanan dan kiri Daniel hingga memerah.

__ADS_1


"Sudah sudah, lihatlah pipinya sampai merah. Kamu kalo cium gak pake perasaan." Kyang menyingkirkan Khayrani dari Daniel.


"Dasar pelit!" dengus Khayrani dengan kesal.


Tiiit ... bunyi klakson mobil dari arah depan rumah Kyang.


"Siapa yang datang?" tanya Kyang dan Risma menggelengkan kepalanya.


"Ayang mbebku," jawab Khayrani sambil nyelonong keluar dari rumah.


Risma masih bingung, mencoba memecah misteri yang dia buat sendiri. 'Apa hubungan Kyang dan Khayrani? Kenapa ada laki-laki lain yang disebut ayang mbeb oleh gadis itu?' begitu pertanyaan yang ada di dalam hati Risma.


Risma mengajak Daniel masuk ke kamarnya, Kyang mengikutinya dari belakang.


"Sejak Rani di sini, kamu selalu cemberut. Apa kamu tidak suka dia tinggal bersama kita?" tanya Kyang.


"Aku tidak punya hak dan alasan untuk tidak menyukainya. Dari awal sudah kukatakan, ini rumahmu, kamu bebas membawa siapa saja masuk ke rumah ini." jawab Risma.


"Ini rumah kita, bukan hanya rumahku. Kalau kamu tidak suka, aku bisa mengusirnya dan menyuruhnya kembali ke rumah papa." Risma kaget, tapi dengan cepat dia membuang rasa keterkejutannya.


"Tidak perlu, biarkan saja dia di sini." cegah Risma.


"Daniel mau makan apa? Kita jalan-jalan yuk, sekalian makan di luar!" Wajah Daniel terlihat sangat senang mendengar tawaran dari Kyang, tanpa pikir panjang dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Selama di mobil, Daniel melihat ke kanan dan ke kiri kaca mobilnya. Senyum dan kekaguman terpancar dari wajahnya, baru kali ini dia ke luar rumah dan jalan-jalan.


"Ayah, itu apa?" tanya Daniel pada gedung yang menjulang tinggi.


"Itu namanya apartemen, sama seperti rumah kita tapi kamarnya banyak." jawab Kyang dan Daniel pun mengangguk.


Kyang memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.Dia mengajak istri dan anaknya turun, mereka langsung menuju food court yang ada di mall tersebut.


"Apa sebelumnya Daniel tidak pernah jalan-jalan sama papa dan bunda?" tanya Risma, melihat tingkah Daniel, dia yakin ini baru kali pertama putranya melihat dunia luar.


"Enggak. Papa sibuk kerja dan bunda juga sibuk," jawab Daniel.


Kyang mengusap tangan Risma dengan lembut, dia yakin Risma pasti sedih saat mengetahui hal itu.


Kyang memesan banyak makanan dan saat makanan itu datang, Daniel langsung menyantapnya.

__ADS_1


Selesai makan, Kyang mengajak istri dan anaknya berkeliling mall. Banyak barang yang dibelinya, terutama kebutuhan Daniel.


"Aku akan meminta Daniel dan membawanya tinggal bersama kita. Jika Nanang menolak, aku akan mengambil jalur hukum." cetus Kyang.


"Biarlah Daniel bersama Nanang," ucap Risma.


Kyang menghentikan langkahnya, "Kamu tidak menginginkan Daniel?" tanyanya.


"Aku sangat menginginkannya. Tapi, bagaimana nanti tanggapan istrimu soal ini? Aku takut dia tidak menerima Daniel," Risma mengungkapkan ke khawatirannya.


"Kamu tenang saja, itu biar menjadi urusanku." ujar Kyang.


Kyang membawa Daniel ke arena bermain. Risma duduk di kursi tunggu sambil mengawasi suami dan anaknya yang terlihat sangat bahagia, bermain sambil tertawa bersama.


"Andai saja kamu satu milikku, mungkin kebahagiaan ini terasa sangat nyata bagiku, bukan sekedar khayalan semata." Risma bergumam lirih.


"Mama, ayo pulang!" ajakan Daniel membuyarkan lamunan Risma.


"Kamu sakit?" tanya Kyang.


"Mama sakit? Mana yang sakit?" Daniel menyambung pertanyaan Kyang.


"Mama tidak sakit, mama cuma kecapekan saja," jawab Risma sambil tersenyum.


Dengan tangan kanannya Kyang menggandeng Daniel, sedangkan tangan kirinya melingkar di pinggang Risma. Dia membawa istri dan anaknya ke mobil.


Daniel tertidur di bangku belakang, mungkin dia kelelahan setelah bermain tadi.


"Jangan terlalu dipikirkan, jalani dan ikuti saja arusnya." Nada bicara Kyang terdengar bijak dan tegas.


"Iya," hanya itu yang keluar dari mulut Risma, selanjutnya bibir itu kembali terkatup rapat.


Sesampainya di rumah, Kyang menggendong Daniel dan membawanya ke kamar. Sudah ada satu kasur tambahan di kamar itu, entah siapa yang sudah menaruhnya di sana.


Kyang masuk ke kamar mandi untuk menyiram tubuhnya yang lengket agar kembali segar.


Risma membongkar barang belanjaan dan menyusun di tempatnya masing-masing. Setelah itu dia mandi bergantian dengan Kyang.


Saat ke luar dari kamar mandi, Risma disuguhi pemandangan yang membuatnya merasa damai. Kyang sudah tertidur di kasur yang sama dengan Daniel. Tangan kekarnya memeluk tubuh anak itu dan sepertinya sang anak saat menikmati pelukan ayah sambungnya. Terdengar dengkuran halus dari kedua lelaki yang kini mengisi ruang hati Risma.

__ADS_1


__ADS_2