My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 50


__ADS_3

Belajar dari pengalaman, itu kata yang tepat untuk Keenan.


Saat Angkasa lahir dia tidak bisa hadir karena tugas pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan, untuk kelahiran anak keduanya kali ini dia sudah ambil cuti dari jauh-jauh hari. Dia tidak mau melewatkan hari berharga untuk yang kedua kalinya.


Kini, untuk kali kedua Salwa sedang berada di ruang bersalin. Kembali mengadu peruntungan antara hidup dan mati. Berjuang melahirkan buah hatinya, buah hati yang sudah dinantikan kelahirannya.


Keenan tak kuasa menahan tangis saat melihat Salwa berjuang, merintih, dan mengerang karena rasa sakit yang sedang mendera di tubuhnya. Keringat yang ke luar, membasahi sekujur tubuhnya. Padahal ruangan cukup dingin dan sangat sejuk, bahkan Keenan sampai menggigil karena dinginnya ruangan itu.


Setelah beberapa waktu berjuang, akhirnya putri yang ditunggu-tunggu kehadirannya pun terlahir dengan selamat dan sehat. Dia begitu cantik, secantik ibunya.


Selesai dibersihkan, Salwa dan putrinya dipindahkan ke ruang perawatan. Ibu sudah datang sejak tadi, karena secara kebetulan ibu sedang berada di kota itu.


Bayi perempuan berbadan gempal sedang menggeliat di atas kasurnya. Rambut ikal dan hitam semakin menambah cantik wajah putri Keenan. Apalagi matanya yang bulat mirip mata boneka.


"Ibu ingin menggendongnya," ujar Ibu.


"Silahkan oma," ucap Keenan.


Ibu menggendong Mentari, nama yang disematkan Keenan untuk putrinya. Berharap putrinya kelak menjadi penerang untuk orang di sekitarnya.


"Nenek tidak ikut, bu?" tanya Salwa.


"Nenek tidak bisa ikut karena banyak pekerjaan," jawab ibu.

__ADS_1


"Bu, Keenan titip Salwa dan anak-anak sebentar ya. Mendadak ada urusan," ujar Keenan dan ibu pun mengangguk.


Salwa yang tenaganya sudah terkuras habis memilih untuk tidur, bukan sengaja tidur tapi efek obat yang diminumnya membuat matanya mengantuk.


Angkasa sudah dibawa pulang oleh bik Lilis dan Mang Ateng, Karena Salwa melahirkan sudah masuk waktu malam, tepatnya pukul tujuh.


Ibu meletakkan Mentari ke kasurnya, bayi itu sudah tertidur di dalam dekapan hangat sang nenek.


Sudah pukul sepuluh malam, tapi Keenan belum juga kembali.


Di tempat lain,


Keenan ternyata bukan pergi karena ada pekerjaan, tapi dia pulang ke rumahnya. Dia ditemani oleh bik Eli mempersiapkan kejutan untuk Salwa.


"Apa bibik yakin Salwa akan menyukainya?" tanya Keenan.


"Apapun yang kamu lakukan pasti Salwa menyukainya," jawab bik Eli.


"Aku sangat mencintainya bik, aku takut kehilangannya." Keenan mencurahkan isi hatinya.


"Bibik tahu itu, bibik sangat mengenalmu." ujar bik Eli.


Bik Eli menceritakan pengalamannya saat mereka pergi meninggalkan rumah. Dia juga menceritakan betapa Salwa sangat merindukan Keenan.

__ADS_1


"Sudah malam, Keenan harus kembali ke rumah sakit. Bibik istirahat saja di kamar," bik Eli mengangguk dan Keenan pun langsung pergi.


Keenan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan masih dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang. Sesampainya di rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya, Keenan langsung menuju kamar rawat Salwa.


"Bu, kenapa ibu belum tidur? Ini sudah malam," tanya Keenan.


"Ibu sedang mengecek laporan penjualan hari ini. Jumlahnya lumayan meningkat," jawab Ibu.


Keenan duduk di samping ibunya, mengambil ponsel milik ibu lalu meletakkannya.


"Kesehatan ibu lebih penting daripada jumlah penjualan hasil perkebunan," ujar Keenan.


Ibu mengacak rambut Keenan, "Baik papa Keenan, oma akan tidur sekarang." goda ibu.


Ibu merebahkan tubuhnya di kasur lain yang ada di sana, tidak lama kemudian dia sudah tertidur.


Keenan memandangi satu persatu wajah ketiga wanita yang sangat dicintainya, Ibu, Salwa, dan Mentari putrinya.


"Semoga kalian semua sehat dan panjang umur. Terutama kamu sayang, semoga tumbuh sehat dan pintar," ucap Keenan sambil mengelus pipi gembul Mentari.


Keenan merebahkan tubuhnya di sofa tepat di samping kasur milik Mentari. Hanya ada dua tempat tidur di ruangan itu, satu brankar pasien Salwa, satu kasur tambahan untuk ibu. Sedangkan Mentari tidur di kasur khusus bayi.


Perlahan Keenan mulai memejamkan matanya, dia harus tidur mumpung putrinya tidak rewel.

__ADS_1


__ADS_2