
Di sebuah rumah,
Risma dan Zira sedang mengatur rencana jahat untuk mencelakai Salwa dan memisahkan gadis itu dari Keenan. Entah apa yang membuat mereka begitu membenci Salwa dan ingin melenyapkannya.
"Kamu 'kan adiknya Keenan, kenapa kamu malah berpihak padaku?" Seharusnya kamu lebih membela istrinya Keenan." Zira menaruh tasa curiga pada adik mantan kekasihnya itu. Tapi, dia juga yakin rencananya akan berhasil dengan bantuan Risma.
"Aku benci perempuan itu, sudah susah malah nyusahin. Sekarang dia berlagak baik tapi sebenarnya dia itu sangat licik. Bisa-bisanya dia menghasut kak Ken untuk menarik semua aset yang sudah kakak berikan padaku." Risma meluapkan kekesalannya dan kebencian Risma pada Salwa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Zira.
"Kita harus bisa membuat Keenan membenci istrinya," ujar Zira.
Risma sangat setuju dengan apa yang direncanakan oleh mantan kekasih kakaknya itu. Hatinya sudah ditutup oleh rasa benci yang membuncah. Akal sehatnya sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Tanpa dia sadari, dia sudah menggali kuburannya sendiri karena sudah berani mencari masalah dengan Keenan.
"Kak Ken tidak ada di rumah, jadi kita bisa dengan leluasa masuk ke rumahnya." Sampai saat ini Risma tidak tahu kalau Keenan sudah pindah tugas kerja di kota mereka.
"Bagus! Kalau begitu, cepat lakukan." Zira pun tersenyum penuh kemenangan.
Risma pun langsung pergi dari rumah Zira. Dia meminta sopir untuk mengantarkannya ke rumah Keenan. Dia tidak tahu jika sopir itu berpihak pada Keenan.
Dia sangat yakin jika rencananya akan berhasil. Apa lagi Salwa yang mempunyai sifat pemaaf dan mudah untuk dikelabui. Salwa pasti akan dengan mudah masuk ke dalam perangkatnya.
Sesampainya di luar pagar rumah Keenan, beberapa penjaga menghalangi mobil Risma.
"Hei, buka pagarnya. Kalian pikir aku siapa, hah! Aku ini adiknya Keenan. Jangan kurang ajar kalian." Risma murka karena para penjaga melarangnya masuk ke rumah Keenan.
"Sejak kapan rumah Kak Ken dijaga oleh banyak orang. Kalau begini, aku tidak mungkin bisa menjalankan rencanaku." Risma bermonolog dalam hati.
"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas, silakan anda datang lagi kemari saat Tuan Keenan sudah kembali ke rumah." Dengan sopan penjaga pintu gerbang meminta Risma untuk pulang.
__ADS_1
"Pulang, Pak." Dengan hati kesal Risma menyuruh sopir untuk mengemudikan mobilnya.
"Sial! Sebenarnya ada masalah apa di rumah kak Kek? Kenapa sekarang begitu banyak penjaga di rumahnya?" Risma menggerutu.
Di sisi lain,
Nanang baru saja mendapat info dari penjaga rumah Keenan, jika Risma baru saja datang. Selama Keenan pergi, Nanang bertanggung jawab menjaga keselamatan Salwa, Angkasa dan keamanan rumah.
"Kenapa Mas? Seperti yang sedang emosi gitu?" Jihan menyuguhkan kopi untuk Nanang.
"Risma benar-benar keterlaluan, Dia sudah bertindak di luar batas. Aku sudah muak!" Nanang sebenarnya sudah tidak tahan menghadapi sifat Risma, tapi ada hal yang harus dia perjuangkan. Salah satu alasannya adalah kebahagiaannya bersama Jihan.
"Jadi, mas mau apa? Menceraikannya dan semua perjuangan kita selama ini sia-sia. Mas kita sudah hampir sampai di titik akhir, jangan mengikuti napsu dan terpancing oleh umpannya. Walaupun mungkin Risma tidak tahu tentang hubungan kita, tapi kita tetap harus hati-hati. Tidak menutup kemungkinan, Zira akan membantunya untuk mengusut sikapmu yang kasar terhadapnya selama ini." Jihan mencoba meredam amarah suaminya.
"Kamu benar, sayang. Tapi, aku sungguh tidak tega melihatmu menderita. Kamu pemilik hati dan tubuhku, bukan dia."
Jihan menggenggam tangan Nanang kemudian menaruh tangan itu di dadanya.
"Aku memang sakit, sangat sakit. Aku bisa kuat dan tetap tegar, asal ada kamu di sisiku. Aku tahu, mas terpaksa melakukan ini. Mas, ini semua kita lakukan demi kebahagiaan kita. Kita mas, bukan dia atau mereka. Tapi, aku dan kamu." Kelembutan Jihan mampu meluluhkan Nanang, meredam emosinya juga merubah sifat Nanang yang sangat arogan dulu.
"Terima kasih sayang, kamu sudah mengerti aku." Dan Jihan pun mengangguk.
"Pulanglah, jangan sampai mereka mengetahui hubungan kita." Jihan mencoba tetap tegar, meski jauh di dalam hatinya sangat sakit.
Nanang pun beranjak dari duduknya, memakai kembali pakaiannya lalu pergi menggunakan mobil yang tidak diketahui oleh Risma.
"Kamu lihat saja, Risma. Aku akan membalas semua perbuatanmu. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang, aku pasti membuat perhitungan. Kamu yang memulai, tapi aku yang akan mengakhiri. Sudah cukup kamu mengobrak-abrik keluargaku." Tatapan mata Jihan sangat tajam, tersirat dendam yang teramat besar di sana.
__ADS_1
Sementara itu,
Nanang sudah sampai di rumah Risma, dia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Rumah yang terasa bagai neraka baginya. Tidak ada sambutan manis dari Risma, yang ada hanya suara tinggi yang berakhir dengan pertengkaran.
"Dari mana saja kamu Mas?" Risma berdiri tegak di atas tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua. Kedua tangannya dilipat di depan dada.
"Begitukah cara seorang istri menyambut suaminya yang baru pulang dari bekerja?" Nanang tetap mencoba untuk tetap waras, walau sebenarnya dia sudah hampir gila menghadapi sikap Risma.
"Bekerja? Aku tadi ke kantormu, tapi kamu tidak ada. Sekretarismu juga tidak ada di ruangannya, apa kalian pergi bersama?" tanya Risma.
"Dia sudah dipecat, tentu saja dia tidak akan ada di kantor itu lagi. Dan kamu tahu, aku bekerja bukan cuma di kantor tapi juga di luar." Nanang mencoba untuk bersabar dan tidak terpancing emosi.
"Di luar di mana, Mas? Orang kantor bilang kalo kamu tidak ada meeting apapun hari ini."
"Risma, bisa tidak kamu beri aku ketenangan dan kenyamanan di rumah ini, satu hari saja. Kenapa sih aku selalu salah di matamu, aku selalu menuruti semua kemauanmu, tapi apa balasanmu. Jangan sampai sifat dan sikapmu itu menjadi bom waktu yang bisa meledak dan menghancurkanmu kapan saja." Nanang melewati Risma begitu saja lalu masuk ke kamarnya.
"Sial!" Risma merasa Nanang semakin sulit untuk ditaklukkan.
"Lihat saja, aku pastikan kamu tidak akan bisa mendapatkan informasi apa-apa. Carilah sepuasmu, itupun jika kamu mampu." Nanang menyeringai lalu mendekati Daniel yang sedang tertidur nyenyak di kasurnya.
Putranya itu seolah tidak peduli terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh kedua orang tuanya. Dia terlihat sangat santai dan tidak pernah rewel sedikit pun.
"Jadilah laki-laki yang kuat dan baik, Nak. Meski papa tahu mamamu seperti itu, tapi papa yakin kamu akan tumbuh menjadi pria idaman untuk semua wanita." Nanang membelai puncak kepala Daniel kemudian mencium kening putranya.
Huft ...
Terdengar Nanang menghela nafasnya dengan panjang dan berat, seberat beban hidup yang sedang dipikulnya.
__ADS_1