
Dua bulan kemudian,
Bu Mala dan Pak Geri sedang berada di depan ruang bersalin, Bi Eli dan bi Lilis juga ada di sana. Salwa sudah berada di ruang bersalin, sendiri tanpa Keenan.
Sejak tadi pagi, Keenan tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati, mungkin dia belum mendarat.
"Coba lagi, Pa. Siapa tahu saja sudah aktif." Bu Mala meminta suaminya untuk mencoba menghubungi putranya, terlihat raut cemas di wajahnya.
"Sudah, Ma. Tapi, tetap saja tidak bisa." Pak Geri menunjukkan layar ponselnya pada bu Mala.
"Keenan berjanji akan pulang saat Salwa melahirkan, tapi ternyata menantu kita melahirkan lebih cepat dari perkiraan dokter," tutur Bu Mala dengan lesu.
"Kita berdoa saja, semoga menantu dan cucu kita semuanya selamat," ucap Pak Geri.
Bi Eli terharu dan bahagia melihat respon majikan sekaligus mertua dari keponakannya. Mereka sangat menyayangi Salwa, seperti menyayangi putrinya sendiri.
Wajah tegang dan penuh kekhawatiran, berubah seketika saat terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan.
"Jangan senang dulu, kita belum tahu bagaimana kondisi Salwa." Pak Geri mengingatkan.
Selang beberapa menit, dokter keluar dan mengatakan jika bayinya laki-laki, tampan dan sehat.
"Bagaimana dengan ibunya?" tanya Bi Eli, dia terlihat sangat cemas.
"Semua baik-baik saja, dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan." Dokter menjawab pertanyaan bi Eli sambil tersenyum.
Semua bernafas lega dan tersenyum bahagia.
"Permisi," ucap perawat yang mendorong brankar milik Salwa. Seorang perawat berada di belakang brankar itu sambil menggendong putra Salwa.
"Boleh saya menggendongnya," pinta bu Mala.
Perawat itu menyerahkan bayi Salwa pada Bu Mala. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang perawatan Salwa.
"Mama dan papa tidak bisa menghubungi suamimu, mungkin dia belum mendarat." Dengan penuh rasa bersalah, pak Geri menyampaikan itu pada menantunya.
Salwa tersenyum. "Tidak apa-apa, Pa. Lagipula, Salwa dan bayinya selamat. Kita tunggu saja dia pulang," ujar Salwa dengan lembut.
"Keenan sangat beruntung memiliki kamu, Nak." Bu Mala membelai rambut menantunya.
"Apa kamu sudah mempersiapkan nama untuknya, Salwa?" tanya bi Eli.
"Mas Keenan merahasiakan namanya, Bik. Salwa tidak tahu," jawab Salwa.
"Ya sudah kalau begitu, kita tunggu saja sampai dia pulang." Salwa mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh papa mertuanya.
Bu Mala, bi Eli dan bi Lilis berkumpul di dekat bayi Salwa. Mereka sangat bahagia sekali melihat bayi mungil yang sedang terlelap itu.
Sejak tadi, belum terdengar suara tangisannya. Dia terlihat sangat tenang dan menikmati tidurnya.
__ADS_1
...****************...
Keenan keluar dari bandara dan berjalan menuju parkiran. Dia masuk ke dalam mobil sambil tersenyum bahagia, karena surat pindah tugasnya sudah disetujui oleh atasan dan mulai lusa dia sudah bisa bertugas di kotanya.
Keenan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Dia belum mengaktifkan ponselnya, dia juga belum tau jika putra pertamanya telah lahir.
Keenan tersenyum, membayangkan aktifitasnya nanti. Berangkat kerja di pagi hari dan pulang di malam harinya, begitu juga sebaliknya. Dia tidak perlu menahan rindu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan pada istrinya.
"Bunga mawar merah satu, Pak." Keenan membeli buket bunga yang dijajakan oleh penjual di lampu merah.
"Salwa pasti suka," gumam Keenan seraya tersenyum.
Mobil kembali melaju saat lampu berwarna hijau. Dia mengemudikan mobilnya dengan perlahan saat mulai memasuki area perumahannya.
"Sore, Pak." Satpam penjaga gerbang menyapa Keenan. Seperti biasa, Keenan selalu membuka kaca mobilnya saat melintasi pos satpam.
"Sore juga, Pak." Keenan membalas sapaan itu.
Keenan telah sampai di rumah, dia memarkirkan mobilnya di depan rumah.
"Sebentar lagi, rumah yang sepi ini akan menjadi ramai oleh suara tangisan anakku." Keenan bergumam sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Sayang!" Keenan memanggil Salwa.
Mang Ateng yang bertugas menjaga rumah berlari menghampiri Keenan.
"Mas Keenan!" Dengan nafas ngos-ngosan Mang Ateng memanggil majikannya.
"Untung mas pulang hari ini, mbak Salwa nggak ada di rumah mas. Dia mel ... "
"Salwa kemana? ke pasar? atau ke rumah mama?" Keenan memotong perkataan mang Ateng.
"Mbak Salwa melahirkan mas, tadi pagi saya bawa ke rumah sakit," jawab mang Ateng.
"Melahirkan! Antar saya ke rumah sakit." Keenan kembali ke mobilnya, diikuti oleh mang Ateng dari belakang. Dia masih mengenakan pakaian tugasnya.
Mang Ateng mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Salwa di rawat. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah sakit, Keenan langsung berlari menuju kamar rawat istrinya.
"Sayang." Keenan kembali menyebut nama istrinya saat dia membuka pintu kamar.
"Mas, kamu pulang" Salwa menyambut suaminya dengan senyuman.
Keenan berjalan menghampiri Salwa, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit? Apa yang sakit? Katakan padaku." Keenan menodong Salwa dengan banyak pertanyaan.
"Aku baik-baik saja, Mas." Salwa tersenyum untuk meyakinkan suaminya.
__ADS_1
Keenan diam terpaku melihat bayi mungil yang masih merah di samping Salwa.
"Dia anakku?" tanya Keenan, dengan tangan gemetar dia mengambil bayi itu dan menggendongnya.
"Putra, Mas." Salwa menegaskan.
Keenan tidak menyadari, ada air mata yang menetes dari sudut matanya. Dia terlalu bahagia karena putra dan istrinya dalam keadaan sehat.
"Apa tidak ada yang menemanimu?" tanya Keenan, saat sadar tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain istrinya.
"Mereka baru saja pulang." Jawab Salwa.
Keenan duduk di bangku, dia masih menggendong putranya.
"Apa aku sudah boleh mengetahui siapa nama anakku?" tanya Salwa.
"Anak kita, sayang. Anakku dan anakmu, bukan cuma anakmu." Keenan memberi penekanan pada setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Keenan memandang wajah Salwa, "Apa kamu berpikir aku tidak akan menerima kehadirannya? Tidak mengakuinya, sehingga kamu mengatakan jika dia anakmu. Apa kamu masih berniat untuk berpisah dan memisahkan aku dengan anakku?" tanya Keenan.
"Bukan begitu maksudku, Mas." Salwa berkilah.
Keenan meletakkan putranya di samping Salwa.
"Mas mau kemana?" tanya Salwa, karena setelah meletakkan putranya, Keenan langsung keluar dari ruangan itu.
"Apa papamu merajuk, nak?" tanya Salwa pada bayi yang masih tertidur di sampingnya.
Pintu kamar kembali terbuka. Keenan masuk sambil membawa satu buket bunga mawar merah.
"Tadi aku membelinya untukmu," ujar Keenan.
"Untukku?" tanya Salwa dan Keenan pun mengangguk.
"Maaf, aku tidak hadir di saat kamu sedang berjuang melahirkan putraku. Terima kasih untuk perjuanganmu," ucap Keenan.
Salwa tersenyum menanggapi setiap perkataan yang keluar dari mulut suaminya. Kata-kata yang terdengar begitu tulus dan Salwa bisa melihat itu dari sorot mata Keenan.
" Sama-sama, Mas." Salwa tidak tahu harus membalas dengan perkataan apa.
"Kamu mau tau, siapa nama anak kita?" tanya Keenan dan Salwa mengangguk.
Keenan mendekatkan wajahnya lalu menepuk pipinya, " Cium aku dulu." Keenan menggoda istrinya.
Keenan tidak beranjak dari hadapan Salwa, hingga sentuhan lembut bibir istrinya menyentuh pipinya.
"Namanya Angkasa." Keenan menyebutkan nama putranya.
"Kenapa harus Angkasa?" tanya Salwa.
__ADS_1
"Agar aku selalu mengingatnya," jawab Keenan dan mereka pun tersenyum bersamaan.