My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 41


__ADS_3

Salwa sedang berada di pesawat, bersama ibu, nenek dan Angkasa, sedangkan Keenan yang menjadi pilotnya. Ibu memboyong menantu serta cucunya ke kota tempatnya tinggal.


Keenan tidak ikut bersama anak dan istrinya karena masih banyak pekerjaan, setelah ada waktu senggang baru dia akan menyusul.


Sampai di kota tujuan,


Semua penumpang sudah turun, Salwa dan Angkasa masih berada di dalam pesawat, menunggu Keenan yang anak datang menemuinya.


"Sayang," sebut Keenan.


"Ibu mana?" tanyanya.


"Ibu dan Nenek sudah turun," jawab Salwa.


Keenan mencium Angkasa juga Salwa, "Papa pasti akan merindukanmu." Ucap Keenan pada Angkasa.


"Jaga diri baik-baik ya, setelah pekerjaan selesai papa akan langsung menemui kalian." Sekali lagi Keenan mencium kening Salwa, kemudian dia menjongkokkan tubuhnya dan mencium perut buncit itu.


"Jangan nakal ya sayang, baik-baik di dalam sini. Kalo pekerjaan sudah selesai, papa akan menemuimu. Ingat itu," ujar Keenan pada janin yang ada di perut Salwa.


"Hati-hati," pesan Keenan saat Salwa berjalan menuruni tangga.


Keenan tidak ikut turun karena harus kembali bekerja.


"Itu tadi istri pak Ken ya?" tanya temen kerja Keenan.


"Iya, dia istri saya." Keenan menjawab sambil tersenyum bahagia.


"Cantik ya, cocok dengan pak Ken yang tampan." Pujinya.


"Terima kasih," ucap Keenan.


Pesawat kembali mengudara, terbang melayang menembus awan yang putih bersih. Di bandara berikutnya, Keenan baru bisa beristirahat.

__ADS_1


Di sisi lain,


Salwa sedang menikmati makan malam bersama ibu dan nenek Keenan. Makan malam terasa hangat karena diiringi canda tawa mereka. Awalnya Salwa mengira jika rumah ibu berada di kota besar, ternyata dia salah, rumah ibu berada di sebuah perkampungan.


"Setelah makan, kamu langsung istirahat ya. Kamu pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh," ujar ibu.


"Iya bu," sahut Salwa.


Ibu mengantar ke kamar, Angkasa sudah tidur di kasurnya, mungkin dia juga lelah.


"Ini kamar Keenan, dia selalu memakai kamar ini kalo sedang berkunjung kemari." Tutur ibu.


Salwa mendudukkan tubuhnya di tepi kasur, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar itu.


"Bu, bukankah ibu berpisah dengan mas Keenan saat dia masih kecil. Tapi, kenapa kalian masih bisa berkomunikasi dan sangat dekat? Bagaimana bisa Mas Ken mengenali ibu? " tanya Salwa.


"Kami berpisah saat dia berusia sekitar sepuluh tahun kalo tidak salah, saat itu ibu sedang hamil Jihan, adiknya Keenan. Ibu pergi karena papa Keenan mengusir ibu dan membawa Mala masuk ke rumah itu. Semua yang ada pada Geri adalah punya ibu, dari keluarga besar ibu. Tapi, karena hasutan dan kelicikan Mala, mereka mengambil alih semua aset dan menguasainya." Ibu mulai bercerita.


Ibu menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ibu menatap jauh ke luar, mengenang masa lalunya.


"Lalu, bagaimana papa bisa tahu jika Jihan adalah adiknya mas Keenan?" tanya Salwa.


"Saat Jihan duduk di bangku SMA dan Keenan sudah mulai bekerja waktu itu, Keenan membawa Jihan tinggal bersamanya. Dari situlah Jihan bertemu Nanang dan akhirnya mereka saling jatuh cinta. Setelah Jihan tamat sekolah, mereka pun memutuskan untuk bertunangan dan menikah secara diam-diam." Jawab ibu panjang lebar.


"Papa Geri yang menjadi wali mereka saat menikah, dari situlah papa tahu kalo Jihan adiknya Keenan. Karena permintaan dari Keenan, akhirnya papa Geri merahasiakan identitas Jihan dari publik, termasuk dari Mala dan Risma." Sambung ibu.


"Sebenarnya Risma anak yang baik, tapi karena ibunya yang terlalu berambisi akan harta, Risma pun harus menuruti semua keinginan ibunya dan berubah jahat." Tiba-tiba nenek datang menghampiri mereka.


"Bagaimana bisa Nanang dan Risma menikah?" tanya Salwa. Malam ini dia beralih profesi menjadi wartawan yang sedang mengulik informasi dari narasumber yang terpercaya.


"Bu Mala menjebak Nanang dan memaksa Nanang untuk menikahi Risma. Seseorang sudah menggagahi Risma hingga hamil, karena orang itu miskin bu Mala menolak pertanggung jawaban dari pria tersebut. Risma stres karena terlalu tertekan dan pernah masuk rumah sakit jiwa. Atas permintaan Keenan, akhirnya Nanang mau menikah dengan Risma." Jawab Ibu.


Nenek yang mengetahui kisah itu pun mulai bercerita panjang lebar, mengungkap semua yang pernah terjadi di masa lalu. Termasuk masa lalu Keenan dan Zira.

__ADS_1


Mereka saling bertukar cerita hingga fajar mulai menyingsing. Karena terlalu asyik bercerita, rasa kantuk pun hilang dan mereka pun sampai lupa waktu.


Di tempat lain,


Risma masih tertidur nyaman di pelukan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Semenjak mereka menikah, sang suami tidak pernah pulang ke rumah istri pertama. Meski bingung, Risma mencoba berpikiran postif, mungkin sang suami benar-benar menepati ucapannya saat itu, bahwa dia akan menceraikan istri pertamanya.


Semilir angin masuk melalu celah-celah jendela yang semalaman tidak di tutup. Sinar matahari menyeruak menyilaukan mata, namun menghangatkan.


Risma membuka matanya dengan perlahan. Pemandangan indah yang pertama dia lihat adalah wajah tampan suaminya.


"Kenapa menatapku seperti itu, sayang? Apa jatah dariku semalam masih kurang?" Pertanyaan sang suami membuat Risma terkejut dan salah tingkah.


"Eh, siapa yang menatapmu. Aku tidak melihatmu." Risma berkilah dan mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Sudah, ngaku saja, aku nggak bakalan marah kok." Goda sang suami.


"Kamu tidak pulang? Kalo istrimu mencarimu, bagaimana?" Risma mengalihkan pembicaraan.


"Kamu 'kan istriku, untuk apa kamu mencariku, sedangkan aku selalu ada di sampingku." Jawab sang suami.


Risma turun dari kasurnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya tadi malam. Selesai mandi dia berpakaian lengkap lalu mencari suaminya ke luar kamar.


"Aku lapar, tolong bikinkan sarapan," pinta sang suami dari arah ruang TV.


"Aku? Masak?" tanya Risma sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajahnya sendiri.


Sang suami beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Risma.


"Kamu istriku, jadi aku harus minta tolong pada siapa kalo bukan kamu? Kamu ingat perjanjian awal kita, aku ingin kamu jadi istri yang baik." Tutur sang suami.


"Tapi, aku tidak bisa masak." Ujar Risma.


"Apapun yang kau suguhkan di depanku pagi ini, akan aku makan."

__ADS_1


Risma pun akhirnya pergi ke dapur. Dia melihat persediaan makanan di dapur, tapi kulkas kosong. Hanya ada beberapa putir telur saja. Risma menengok ke lemari yang biasa dipakai untuk menyimpan stok makanan kering, hanya ada beberapa bungkus mie instans.


Risma memasak mie instan itu dan setelah mie masak, Risma menyuguhkannya di hadapan sang suami. Mereka pun sarapan berdua dengan menu seadanya.


__ADS_2