
Jihan berjalan dengan santainya, masuk ke dalam gedung kantor tempat suaminya bekerja. Semua karyawan tersenyum saat melihat Jihan lewat di hadapan mereka. Para karyawan sudah tahu jika Jihan adalah anak dari pemilik tempat mereka bekerja dan juga istri dari Nanang.
"Sayang," sebut Jihan saat masuk ke ruangan kerja Nanang.
"Kamu datang tapi tidak memberitahuku, sayang. Aku bisa menjemputmu di bawah," ujar Nanang.
"Tidak usah lebay, aku bisa datang sendiri," kata Jihan lalu duduk bersandar di sofa. Perutnya sudah makin membesar, terlihat seperti mau meledak.
Nanang mempercepat pekerjaannya, agar bisa menemani istrinya ngobrol.
"Aku kangen kakak," ucap Jihan dengan wajah cemberut.
"Kamu 'kan bisa mengunjunginya," kata Nanang.
Nanang menutup laptopnya lalu beranjak menghampiri Jihan.
"Selamat siang anak papa, mamamu salah makan ya tadi, kok tiba-tiba mukanya jadi jelek." Nanang mengoceh di depan perut Jihan.
"Emangnya kamu nggak tahu kalo kak Keenan dan istrinya pergi ke tempat mama Aurel?" tanya Jihan sambil mendengus kesal.
"Benarkah? Aku pikir mama hanya mengunjungi kita dan tidak mengajak mereka saat pulang." Jawab Nanang dengan wajah tanpa dosa.
Nanang duduk di samping Jihan, tangannya tidak berhenti mengelus perut buncit istrinya.
"Kamu mau kita pergi ke sana?" tanya Nanang dengan lembut dan Jihan pun mengangguk.
"Besok kita akan pergi ke rumah mama, tapi kamu harus janji satu hal." pinta Nanang.
"Apa itu?" tanya Jihan.
"Di sana kamu tidak boleh main ataupun mandi di sungai," jawab Nanang.
"Baiklah tuan suami, aku akan menuruti permintaanmu." ucap Jihan sambil tersenyum.
Cup ... Tiba-tiba Nanang mengecup bibir istrinya.
"Nanti ada yang melihat," ucap Jihan malu-malu.
"Siapa yang akan melihat, sayang. Tidak ada yang berani masuk ke ruangan ini kecuali atas izinku. Hanya satu yang bisa masuk ke ruangan ini sesuka hati. Keenan!" tutur Nanang yang disambut senyuman oleh Jihan.
__ADS_1
"Biar bagaimana pun dia itu kakakku," ujar Jihan.
Nanang mendekatkan wajahnya ke wajah Jihan, tujuan utamanya adalah bibir ranum nan merah milik istrinya yang begitu menggoda iman.
"Mph," Jihan menikmati belitan lidah yang dilakukan oleh Nanang.
Mereka saling bertukar saliva untuk saling mencurahkan hasratnya masing-masing. Desahhan demi desahhan lolos begitu saja saat tangan Nanang bergerak liar meremmas gundukan di dadanya.
"Aku kehabisan nafas," ujar Jihan dengan nafas tersengal.
Nanang tersenyum sambil mengelap bibir Jihan yang basah.
"Sayang ... jangan di sini," kata Jihan saat Nanang mulai membuka kancing bajunya satu persatu.
"Kenapa?" tanya Nanang tanpa menghentikan aksinya.
"Nanti ada orang yang masuk," jawab Jihan.
Nanang tidak mempedulikan perkataan istrinya, dia malah semakin liar menyerang Jihan.
Suara seksi Jihan semakin membuat Nanang menggila. Dia tidak peduli sedang berada di mana, yang penting adalah dia bisa bertempur dengan istri yang sangat dicintainya itu.
Setelah puas bermain-main untuk pemanasan, Nanang pun melakukan permainan inti. Cukup lama dia memompa tubuh istrinya hingga kemudian terdengar lenguhan panjang penuh kenikmatan dari keduanya.
"Aku dengar Risma sudah menikah," ujar Jihan sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Dia baru saja selesai mandi.
"Iya," sahut Nanang santai.
"Menjadi istri simpanan atau istri sah?" tanya Jihan.
"Sah atau simpanan, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Itu urusan dia," jawab Nanang.
Jihan sudah selesai mengeringkan rambutnya, dia kembali duduk di sofa. Mau pulang tanggung, karena sebentar lagi jam pulang kantor. Dia memutuskan pulang bersama suaminya.
"Kapan aku bisa berkunjung ke rumah mama Aurel?" tanya Jihan.
"Kapan pun kamu bisa berkunjung ke sana, sayang." jawab Nanang.
Di tempat lain,
__ADS_1
"Bu, apa ibu tidak keberatan jika Salwa terus tinggal di sini?" tanya Salwa sambil membantu ibu menyiapkan masakan untuk makan malam.
Angkasa tidak di rumah, dia ikut nenek pergi ke luar.
"Kenapa harus keberatan, sayang? Ibu malah senang kamu tinggal di sini. Tapi, ibu tidak bisa terus menemanimu, karena ibu harus pergi ke perkebunan." jawab ibu sambil mengaduk sayur di dalam panci.
"Oh iya, hampir saja ibu lupa. Tadi Keenan telpon katanya nanti dia pulang. Kemungkinan akan sampai di sini tengah malam," tutur ibu.
"Iya, Bu. Mas Ken tadi sudah memberi tahu Salwa melalui pesan singkat." ujar Salwa.
Semua makanan sudah matang, Salwa membawanya ke ruang makan dan menyusunnya di atas meja. Setelah itu dia langsung mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bau asap dan bawang.
Salwa duduk di teras depan rumah ibu sambil melihat aktivitas warga sekitar yang berlalu lalang di jalan. Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul membuat dia sudah banyak mengenal orang-orang yang tinggal di sana.
Terlihat dari kejauhan, Angkasa sedang berjalan menuju ke arah Salwa sambil membawa kantong plastik yang berisi banyak makanan. Setiap pulang dari jalan-jalan sore, pasti anak itu membawa cemilan yang jumlahnya sangat banyak. Bukan Nenek yang membelinya, melainkan warga sekitar yang memberi cemilan itu pada Angkasa secara percuma.
"Mama, jajan." Angkasa menunjukkan kantong plastiknya pada Salwa.
"Bu RT yang kasih, dia suka melihat Angkasa yang gendut dan lucu." Tutur Nenek lalu duduk di samping Salwa.
"Bu RT tidak punya anak ya nek?" tanya Salwa.
"Dulu punya, tapi sudah meninggal. Kalo anak itu hidup, mungkin usianya sama dengan Jihan. Setelah itu, bu RT sakit dan mengharuskan rahimnya diangkat. Jadi dia tidak punya anak lagi, yang menjadi anaknya ya anak-anak tetangga." Jawab Nenek.
Matahari perlahan mulai tenggelam, sinar jingga kemerahan mulai berganti gelap. Burung-burung terbang untuk kembali ke sangkarnya, kembali ke keluarga mereka.
Nenek mengajak Salwa dan Angkasa masuk ke dalam rumah. Salwa menyalakan semua lampu, dari dalam hingga yang di luar rumah. Setelah itu dia bergabung bersama ibu dan nenek di meja makan.
"Besok ibu dan nenek mau ke pasar, kamu mau titip apa?" tanya ibu.
"Salwa boleh ikut nggak?" Salwa malah balik bertanya.
"Tidak, sayang. Kamu di rumah saja menjaga Angkasa. Pasar di sini sangat jauh dan jalannya juga sangat terjal, itu bisa membahayakan kehamilan kamu." jawab Nenek.
"Betul apa yang dikatakan oleh nenekmu. Lagipula pasar di sini tidak sama dengan di kota. Di sini pasarnya becek dan licin, ibu takut kamu terpeleset dan jatuh." Ibu menambahkan.
"Baiklah bu, Salwa akan tinggal di rumah." ucap Salwa.
Mereka pun menikmati makan malam mereka sambil bercerita. Angkasa duduk di samping Salwa dan terlihat sangat menikmati makanan yang dimasak oleh sang nenek. Setelah makan Salwa membawa Angkasa ke kamar, anak itu terlihat sudah mengantuk. Salwa belum tidur, dia menunggu sang suami yang akan pulang malam ini.
__ADS_1