
Risma mendongak saat sebuah tangan menyentuh bahunya. Di hadapannya sudah ada sang suami beserta perempuan yang tadi dia lihat di rumah itu.
"Yank, siapa dia?" tanya wanita di samping suami Risma.
'Yank? Dia memanggil suamiku dengan sebutan yank? Berarti benar wanita ini istri pertama suamiku, atau mungkin dia istrinya yang lain." monolog Risma dalam hati.
"Dia Risma, istriku." Mata Risma membulat sempurna mendengar jawaban suaminya.
"Risma, ini Khayrani. Untuk sementara waktu akan tinggal bersama kita di sini." Tanpa meminta izin terlebih dulu pada Risma, dia membawa perempuan lain ke rumah ini.
"Ini rumahmu, kamu bebas membawa siapa saja masuk ke rumah ini." Risma bangkit kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
Risma berdiri di dekat jendela, menatap jauh ke luar. Meratapi nasib buruk yang selalu menimpa dirinya.
Klek, pintu kamar terbuka.
"Aku mau tidur, nanti tolong bangunkan aku satu jam dari sekarang." pinta Suami Risma.
Risma bergeming, tidak merespon perkataan suaminya. Dia masih asyik menikmati pemandangan di luar jendela.
Grep, tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Apa kamu sedang ada masalah? Kenapa kamu menangis saat aku datang? Dan sekarang kamu diam tanpa kata," tanya sang suami.
Risma memutar tubuh lalu memandang wajah suaminya. "Aku merindukan Daniel," jawabnya.
"Benarkah? Kita bisa menjemputnya jika kamu mau," tawar suami Risma.
Risma melepaskan diri dari pelukan suaminya, lalu berjalan menuju kasur. Dia duduk di tepinya sambil tertunduk.
Tak sengaja matanya melihat kartu identitas yang tergeletak di lantai. Dia memungutnya lalu melihat siapa pemilik kartu itu.
"Kyangrana? Belum menikah?" Risma mengalihkan pandangannya, dia menatap tajam suaminya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Risma.
"Maksud apa sayang? Itu kartu identitasku. Apa ada yang salah?" tanya suami Risma yang ternyata bernama asli Kyangrana.
__ADS_1
"Kenapa status perkawinannya belum kawin?" tanya Risma.
Kyang mendekati Risma lalu duduk di sampingnya, dia membelai rambut Risma dengan lembut.
"Lihat dengan teliti, itu kartu identitasku tiga tahun yang lalu." jawaban Kyang membuat Risma jadi salah tingkah, entah kenapa dia berharap jika suaminya benar-benar masih lajang saat menikah dengannya.
"Apa boleh aku menemui Daniel?" tanya Risma.
"Tentu saja, aku akan mengantarmu ke sana." jawab Kyang.
"Aku bisa pergi sendiri, kamu di rumah saja." Risma mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tidak ingin Kyang tahu jika dia sedang cemburu.
"Baiklah, tapi sebelum pergi kamu harus meninggalkan cintamu." Kyang merebahkan tubuh Risma di kasur.
Risma mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Selesai pertempurannya tadi, Kyang masih tertidur. Risma cepat-cepat memakai pakaiannya lalu ke luar dari kamar.
"Mau ke mana?" tanya Khayrani yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Bukan urusanmu," jawab Risma dengan ketus. Kyang masih tertidur pulas di kamar.
Khayrani berdiri lalu mendekati Risma. Dia memutari tubuh Risma sambil memandangnya dari atas hingga ke bawah.
Risma mencoba meredam amarah yang tengah bergejolak di hatinya. Dia meninggalkan Khayrani yang sedang menertawakannya.
***
Nanang mematikan ponselnya, dia baru saja menerima telepon dari Risma.
"Siapa yang menelponmu?" tanya Jihan.
"Risma. Dia meminta izin padaku untuk bertemu dengan Daniel." jawab Nanang.
"Lalu, kamu mengizinkannya?" tanya Jihan lagi.
Keenan duduk di samping Jihan lalu menepuk paha adiknya lembut. "Walau bagaimana pun Risma adalah ibu kandung Daniel, dia lebih berhak atas Daniel sepenuhnya." Ujarnya.
Jihan terdiam, dia membenarkan perkataan kakaknya meski tidak rela. Dia menyayangi Daniel seperti menyayangi anaknya sendiri.
__ADS_1
"Apa dia tidak akan menyakiti Daniel?" tanya Jihan.
"Percaya padaku, Risma sudah tidak seperti dulu lagi. Dia sudah berubah," jawab Nanang.
Di kamar Salwa,
Angkasa sedang tidur siang, Salwa sendiri memilih duduk di dekat jendela sambil berbicara dengan seseorang di ponselnya.
Tidak tahu siapa yang menjadi lawan bicaranya, Salwa terlihat sangat serius. Dari bahasanya, dia seperti sedang menasehati lawan bicaranya.
Keenan masuk ke dalam kamar bertepatan dengan Salwa yang menutup panggilan di telponnya.
"Siapa yang menelponmu?" tanya Keenan seraya berjalan menghampiri istrinya.
"Risma," jawab Salwa singkat.
Keenan duduk di samping Salwa, satu tangannya merangkul pundak Salwa dan tangan yang lainnya mengusap perut istrinya yang sudah terlihat membesar.
"Mas, apa kamu tahu jika Risma sudah menikah?" tanya Salwa sambil menoleh ke samping ke arah wajah suaminya.
Keenan tersenyum sambil mengangguk.
"Apa mas juga tahu jika suaminya sudah beristri dan Risma jadi istri kedua?" tanya Salwa lagi.
"Kepo! Mau tau aja urusan orang lain," bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Keenan malah menggodanya.
"Barusan dia menelponku dan mengatakan jika suaminya membawa perempuan lain untuk tinggal bersama mereka. Dia meminta pendapat padaku, bertahan atau pergi. Dari nada dan gaya bicaranya, aku bisa mengartikan jika Risma sudah berubah." Tutur Salwa sambil melihat reaksi wajah suaminya.
"Kyang membawa wanita lain?" gumam Keenan tapi Salwa masih bisa mendengarnya.
"Kamu mengenalnya, Mas?" Salwa berharap suaminya akan mengangguk.
"Sejak kecil Risma dan aku hidup bersama dalam satu rumah, aku kakaknya dan dia adikku. Aku tidak pernah menganggapnya adik tiri atau apapun itu istilahnya. Kami tumbuh besar bersama dan aku sangat mengenal Risma dengan baik. Aku tidak mau dia menderita, sayang. Walau bagaimana pun dia tetap adikku." Keenan menggenggam tangan Salwa sebelum dia melanjutkan perkataannya.
"Aku meminta sahabatku yang memang sudah sejak dulu menyukai Risma, tapi sekali pun dia belum pernah bertemu Risma secara langsung. Hingga kejadian tempo hari saat keluarga papa hancur, Kyang bertemu Risma di klub malam. Kyang membawa Risma pulang ke rumahnya, lalu mengajak Risma menikah. Tentu saja semua itu dia lakukan atas izin dariku." Keenan mengecup tangan Salwa berkali-kali, ceritanya sudah selesai. Namun, Salwa masih belum puas.
"Kamu mengizinkannya menikahi Risma dan menjadikan Risma istri kedua. Kakak macam apa kamu, mas?" Salwa terlihat emosi.
__ADS_1
"Kyang masih bujang, dia belum menikah. Itu hanya tipuan Kyang saja, dia ingin Risma kembali baik seperti dulu. Karena itulah Kyang membuat perjanjian konyol sesaat sebelum pernikahan berlangsung." tutur Keenan.
Keenan mengambil ponselnya lalu menelpon Kyang, akhirnya dia tahu jika perempuan lain yang di maksud Risma adalah Khayrani, adik kandung Kyang.