My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 24


__ADS_3

Zira tidak bisa menahan emosinya. Semua barang yang ada di dekatnya sudah pecah berserakan di lantai.


"Dasar tidak becus! Kenapa kalian bisa ketahuan dan tertangkap?" Dengan kasar Zira memaki orang suruhannya yang berhasil melarikan diri.


"Kita salah perhitungan bos, ternyata Keenan ada di rumah." Perkataan orang itu membuat Zira terkejut.


"Keenan ada di rumah? Kalian tidak salah lihat 'kan?" tanya Zira.


"Aku yakin itu Keenan. Pria itu mirip dengan pria yang ada di foto."


"Tidak mungkin! Yahya membohongiku." Zira mengepalkan kedua tangannya.


Zira mengambil amplop dari tasnya, kemudian melemparkan amplop itu pada orang suruhannya.


"Ambil uang ini, pergi sejauh mungkin. Tutupi wajah dan identitasmu, jangan sampai ada yang mengenalimu. Jika nanti kita bertemu, anggap kita tidak saling kenal."


"Bagaimana dengan mereka yang tertangkap?" tanya orang itu.


"Kamu tenang saja, aku akan membebaskan mereka. Cepat pergi, jangan sampai ada yang melihatmu di sini." Zira menyuruh orang suruhannya segera pergi.


"Aku harus memastikan, mereka tidak buka mulut." Zira memakai penutup kepala, kacamata dan masker, setelah itu dia pun pergi.


Di rumah sakit,


Keadaan Angkasa sudah membaik. Begitu juga dengan Salwa, dia sudah tidak ketakutan lagi. Emosinya sudah stabil, hanya tinggal menunggu dokter membuka perban di lehernya saja.


"Anak papa hebat, anak papa pinter." Keenan mengajak Angkasa mengoceh.


"Mama sama Papa bagaimana, mas?" tanya Salwa.


"Mereka baik-baik saja," jawab Keenan.


"Tentu saja, mereka pasti akan baik-baik saja." Salwa bergumam lirih.


"Sebentar lagi ada beberapa petugas yang datang, mereka mau bertanya-tanya soal kejadian tadi malam. Mas harap kamu membeberkan semuanya, agar kita bisa dengan mudah mencari dalang di balik ini semua." Tutur Keenan.


"Baik Mas," ujar Salwa.


"Mas," sebut Salwa sambil memandang ke arah suaminya.


"Jangan takut, Mas akan menemani kamu." Dan Salwa pun mengangguk.


Yang dikatakan Keenan ternyata benar, tidak berselang lama ada beberapa orang yang datang untuk mengintrogasi Salwa.

__ADS_1


Proses introgasi berlangsung cukup lama, karena banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas pada Salwa.


Setelah beberapa jam berlalu, barulah petugas mengakhiri pembicaraan dan pergi.


"Semoga dalang dari peristiwa ini cepat tertangkap," ucap Keenan dan diangguki kepala oleh Salwa.


Kondisi Salwa dan Angkasa sudah membaik, Keenan membawa istri dan anaknya kembali pulang ke rumah.


"Mas, apa mereka tidak akan meneror kita di rumah ini?" tanya Salwa setelah mereka sampai di rumahnya.


"Mas yakin, mereka masih istirahat dan mengatur strategi baru. Untuk sementara waktu kamu dan Angkasa, aman." Keenan mencoba mencoba menenangkan istrinya.


"Mas, apa boleh untuk sementara waktu aku pulang ke kampungku? Aku rasa mereka tidak akan mencariku sampai ke sana." Salwa terlihat masih menyimpan rasa takut.


"Tapi, mas tidak ada penerbangan ke arah sana, sayang." Tutur Keenan.


"Untuk sementara waktu saja, Mas. Sampai dalang dari permasalahan ini tertangkap." Ujar Salwa mencoba memberi penjelasan.


"Mas, yang menjadi target utama mereka adalah aku dan Angkasa. Jika kami menghilang dalam waktu lama, otomatis mereka akan merasa menang dan tidak akan mencari aku lagi. Selama kami bersembunyi, Mas bisa mencari tahu siapa dalangnya." Sambung Salwa.


"Baiklah kalo itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan mengantarkanmu ke sana." Meski terdengar berat, akhirnya Keenan menyetujui usulan dari istrinya.


"Aku akan mengemasi barang-barangku juga Angkasa," ujar Salwa.


"Mas pasti akan merindukan kalian," ujar Salwa.


"Rindu apanya mas, nggak usah lebay." Salwa membawa Angkasa masuk ke kamar.


"Sayang, apa yang kamu katakan? Tentu saja aku merindukan kalian." Keenan mengejar Salwa hingga ke kamarnya.


"Sudah, bik?" tanya Salwa.


"Sudah, semua sudah bibi masukkan ke dalam koper." Jawab bi Lilis.


"Bi, bisa tolong bawa Angkasa sebentar? Ada yang mau Aku bahas dengan Salwa." Pinta Keenan.


" Bisa, Mas." Bi Lilis pun menggendong Angkasa dan membawanya ke luar dari kamar.


Keenan memandang wajah Salwa, " sepertinya ada hal yang sedang kamu sembunyikan dariku. Apa aku benar?" tanyanya.


"Tidak ada yang aku sembunyikan, Mas." Salwa berkilah.


"Aku suamimu, sudah lebih dari setahun kita menikah. Mas akui, dalam setahun ini kita jarang bersama, karena pekerjaan yang membuat kita tidak bisa sering-sering menghabiskan waktu berdua. Tapi, bukan berarti mas melupakan kalian, bukan berarti mas tidak peduli padamu. Jika ada kesalahan yang tidak sengaja mas lakukan, tolong katakan. Jangan diam dan pergi serta menjadikan permasalahan ini sebagai kambing hitam." Perkataan Keenan membuat Salwa menangis. Salwa mendongak agar air matanya tidak jatuh, tapi gagal.

__ADS_1


"Mas tidak salah, akulah yang salah di sini." Ujar Salwa.


"Tolong jelaskan, Mas nggak ngerti apa maksud kamu sayang." Desak Keenan.


Salwa diam lalu duduk di tepi kasur. Matanya menatap ke arah koper yang sudah berisikan pakaian miliknya dan Angkasa.


"Aku mau kita pisah."


Keenan terkejut mendengar permintaan istrinya. Hal yang tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya adalah berpisah dengan istrinya. Tapi, kini malah Salwa yang meminta perpisahan di antara mereka.


Keenan hendak berbicara, tapi suara ketukan di pintu kamarnya membuat dia mengurungkan niatnya dan bergegas membuka pintu.


"Bi Eli? Kok bibi ada di sini?" tanya Keenan.


"Apa kamu sudah siap, Nak?" tanya bi Eli pada Salwa. Dia tidak menghiraukan pertanyaan Keenan.


"Sudah." Salwa menjawab dengan singkat.


"Travelnya sudah menunggu kita, ayo kita pergi." Ajak bi Eli.


"Travel? Pergi? Sayang, ini sebenarnya ada apa?" Keenan dibuat bingung oleh sikap istri dan bibinya itu.


"Aku pergi, Mas. Suatu saat kamu akan tahu apa yang membuat aku begini." Salwa mencium punggung tangan Keenan lalu menarik kopernya dan keluar dari kamar.


"Tunggu. Aku suamimu, aku tidak mengizinkanmu pergi Salwa Fatiya!" Seru Keenan.


"Di dalam dunia ini ada yang namanya mantan istri, tapi tidak ada yang namanya mantan orang tua ataupun mantan anak. Seorang istri memang milik suaminya selama mereka masih terikat oleh tali pernikahan. Tapi, seorang anak laki-laki akan tetap menjadi milik ibunya seumur hidup meskipun anak lelaki itu sudah menikah. Jika wanita yang menjadi istrimu tidak diharapkan oleh ibumu, apa yang bisa kamu lakukan, Mas Keenan?" Meski perkataan Salwa terdengar lembut, tapi cukup membuat Keenan merasa sakit di hatinya.


"Apa maksud kamu sayang? Apa hubungan kita sama Mama? Mama ngomong apa sama kamu?" tanya Keenan.


"Maaf Mas Keenan, kami harus segera pergi." Bi Eli membungkuk lalu menggandeng tangan Salwa ke luar dari rumah itu. Angkasa sudah berada di dekat mobil travel bersama bi Lilis.


"Apa kepergianmu ada hubungannya sama Mama?" tanya Keenan.


"Aku bukan siapa-siapa setelah ini, Mas. Pertanyaanmu hanya Bu Mala yang berhak untuk menjawabnya." Salwa menggendong Angkasa lalu masuk ke dalam mobil.


Mobil perlahan bergerak meninggalkan kediaman Keenan yang masih memikirkan setiap perkataan istrinya.


"Berarti ... " Keenan tidak melanjutkan kata-kata saat menyadari sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana.


Keenan mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


"Tunda semua penerbangan, tahan penumpang yang bernama Salwa Fatiya dan orang-orang yang bersamanya." Keenan memberikan perintah pada orang yang di teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2