My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 13


__ADS_3

Di bawah sinar mentari pagi, angin berhembus dan terasa sangat sejuk. Keenan duduk di halaman belakang rumahnya, duduk sambil memangku Angkasa, putra pertamanya.


Salwa sudah diperbolehkan pulang setelah keadaannya membaik. Dirawat beberapa hari di rumah sakit, membuat tubuhnya kembali pulih meski belum sepenuhnya.


Keenan meminta dokter untuk memberikan obat yang terbaik untuk Salwa. Dia tidak mau istrinya berlama-lama menahan sakit.


"Lihatlah sayang, langit pagi ini." Keenan mengajak putranya mengoceh.


"Cerah dan indah. Papa mau, kamu akan menjadi anak yang bisa membuat orang-orang di sekelilingmu bahagia." Sambung Keenan.


"Mas." Salwa memanggil Keenan dari pintu dapur.


"Mama sudah panggil kita tu, masuk yuk." Keenan beranjak dari duduknya lalu membawa Angkasa masuk ke rumah.


"Sarapan dulu, dari tadi mas belum makan apa-apa." Salwa mengambil alih Angkasa dari gendongan Keenan.


"Mas mandi dulu ya," ujar Keenan sambil mengusap kepala Salwa. Sebelum meninggalkan anak dan istrinya, Keenan menyempatkan diri untuk mencium pipi Angkasa.


"Jeruk!" Salwa berseloroh sambil membawa Angkasa kembali ke kamar. Dia berjalan mendahului Keenan.


"Hei, dia masih kecil. Lagipula dia putraku." Keenan membalas selorohan Salwa.


Salwa mendudukkan tubuhnya di kasur, dia pun memberikan ASI pada putranya.


"Sedot yang banyak, biar gendut dan cepat besar." Keenan mengelus kepala Angkasa.


"Buruan mandi, nanti keburu siang. Bukankah hari ini mas harus pergi." Salwa mengingatkan.


"Pergi ke mana?" Keenan lupa jika hari ini harus ke kantor cabang, menyerahkan surat pindah tugas miliknya.


"Bukannya mas yang bilang hari ini mau mengantar surat," tutur Salwa.


"Astaga! Mas lupa." Keenan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, Salwa hanya bisa tersenyum melihat tingkah ayah dari anaknya itu.


Angkasa sudah tertidur, wajahnya terlihat sangat imut. Pipi yang tembem serta hidung yang mancung, rambut hitam lebat , dan badan yang mulai gempal. Semua milik Keenan, ada padanya.


Keenan menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. " Sayang, tolong ambilkan handuk. Mas lupa membawanya," pinta Keenan.


Salwa berjalan menuju handuk Keenan yang tergantung di tempat khusus. Dia mengambil handuk itu lalu memberikan pada suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Keenan dan Salwa hanya tersenyum saja.


Keenan langsung memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh istrinya. Dia sudah melarang Salwa, tapi gadis itu tetap bersikeras melakukannya.


"Mas pergi dulu ya," pamit Keenan setelah rapi.


"Sarapan dulu, Mas." Salwa ingat jika Keenan belum mengisi perutnya sejak tadi.


"Nanti saja di kantor, Mas sudah terlambat." Keenan mencium kening Salwa tanpa mengganggu Angkasa. Dia takut Anaknya terbangun dan membuat Salwa kelelahan.


Tidak lama setelah Keenan pergi, Risma datang berkunjung ke rumah itu.


"Enak ya, mau habis melahirkan atau enggak, tetap saja di kamar." Perkataan Risma seperti menyindir Salwa.


Salwa bukanlah seorang yang mudah ditindas, hanya saja selama ini dia menghargai suaminya dan tidak pernah membalas perlakuan Risma. Hanya bi Lilis dan mang Ateng yang tau betapa jahatnya perlakuan adik Keenan terhadapnya.


"Emangnya kenapa kalo aku di kamar? Apa ada yang salah?" Tanya Salwa.


"Kamu masuk ke kehidupan kak Keenan, itu adalah kesalahan besar. Kamu sama sekali nggak pantes bersanding dengan kakakku." Ujar Risma dengan sengit.


"Kau datang kemari hanya untuk memujiku? Sungguh suatu kehormatan yang sangat besar. Aku sungguh tersanjung dibuatnya." Perkataan Salwa membuat wajah Risma memerah.


"Jangan bangga kamu! Setelah kamu lepas masa idah, kak Keenan akan menceraikanmu." Emosi Risma mencuat.


"Silahkan kalo dia mampu, aku menantikan hari itu." Tantang Salwa yang tidak kalah tinggi dari suara Risma.


Bi Lilis langsung masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.


"Pembantu gak tau diri, masuk seenaknya saja tanpa mengetuk pintu." Hardik Risma.


"Kenapa kamu yang sewot, ini kamarku." Salwa membela bi Lilis.


Risma tertawa dengan keras hingga air matanya ke luar.


"Aku lupa jika kalian sama-sama pembantu. Wajar jika kalian saling mendukung dan membela satu sama lain." Risma berjalan keluar dari kamar Salwa.


"Dulu, dia tidak begitu. Entah apa yang membuat dia berubah," tutur Bi Lilis.


"Mungkin dia berubah karena aku, Bik. Dia gak suka jika Salwa yang menjadi istri mas Keenan. Yang dia mau, kakak iparnya berasal dari keluarga kaya dan terpandang." Salwa menghela nafasnya, mengingat perlakuan adik iparnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, yang terpenting sekarang kamu harus mengurus dan merawat Angkasa dengan baik. Selama mas Keenan masih menganggap dan memperlakukanmu selayaknya seorang istri, kamu tidak perlu khawatir." Bi Lilis menghibur Salwa.


Salwa memperhatikan wajah Angkasa, wajah yang seperti pinang dibelah dua dengan Keenan.


"Bibi keluar dulu," kata bi Lilis sambil menepuk pundak Salwa dengan lembut.


Bi Lilis keluar dari kamar Salwa, dia berjalan menuju dapur. Mang Ateng sedang duduk santai sambil menikmati segelas kopi.


"Apa Risma berkata kasar lagi pada Salwa?" tanya mang Ateng.


"Seperti biasa, dia selalu menyakiti hati Salwa dengan lidahnya." Bi Lilis pun menceritakan apa saja yang dikatakan oleh Risma pada Salwa.


"Keterlaluan sekali, sungguh tidak berperasaan. Sedari dulu, Risma memang berbeda dari kedua orang tua dan kakaknya. Dia sangat angkuh dan sombong, dia akan baik jika ada keluarga dan suaminya saja." Mang Ateng terlihat sangat kesal.


"Bukankah selama ini dia sangat baik? Dia berubah baru-baru ini saja, semenjak ada Salwa." ujar Bi Lilis.


Mang Ateng menghela nafasnya, kemudian memandang wajahnya wanita yang sudah menemani hidupnya selama bertahun-tahun.


"Sejak dulu, Risma memang seperti itu. Bahkan dia tidak punya teman semasa sekolahnya. Dia hanya berteman dengan anak-anak dari kalangan atas, berbeda dengan kakaknya." Bik Lilis mendengar cerita suaminya dengan seksama.


"Keenan sangat ramah dan baik, dia menurun sifat kedua orang tuanya. Di mana pun dan pada siapa pun, dia tidak pernah membeda-bedakan seseorang. Keenan punya banyak teman, bahkan temannya banyak yang berasal dari kalangan bawah." Mang Ateng mengakhiri ceritanya.


"Setahu Lilis, Risma baik pada Salwa. Tapi, setelah tahu jika Salwa adalah gadis yang dicari oleh mas Keenan, dia langsung berubah."


"Berubah bagaimana?" tanya Keenan, ternyata sedari tadi dia mendengar percakapan sepasang suami istri yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya.


"Maaf, Mas." Ucap mang Ateng dan bi Lilis bersamaan.


Keenan menatap tajam secara bergantian dua orang yang sedang tertunduk di depannya.


"Apa tadi Risma datang kemari?" tanya Keenan, dan hanya dijawab anggukan kepala oleh mang Ateng dan bi Lilis.


Keenan berlari kecil menuju kamarnya. Sesampainya di kamar dia melihat Salwa sedang duduk di dekat jendela sambil memangku Angkasa.


"Sudah pulang, Mas?" tanya Salwa.


"Apa yang dikatakan Risma padamu?" Keenan balik bertanya.


"Dia tidak mengatakan apa-apa." Salwa tidak berani menatap wajah Keenan.

__ADS_1


Melihat sikap istrinya, Keenan tahu jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Dia mendekati Salwa, mengusap puncak rambut panjang itu dan menciumnya.


__ADS_2