
Semenjak kepulangannya hari itu, Keenan sering menghubungi Salwa. Terkadang, saat mendarat di kota tempat tinggalnya, dia menyempatkan untuk pulang, walau cuma beberapa jam saja. Dia tidak tahu, apa ini yang dinamakan cinta? Yang dia tahu, dia selalu rindu pada istri dan perut buncitnya.
Jika, dia tidak bisa pulang, Keenan selalu meminta Mang Ateng untuk mengantarkan Salwa ke Bandara. Tidak peduli seberapa banyak mata memandangnya, dia tetap bersikap santai, seolah dunia hanya milik berdua.
Seperti hari ini, Keenan mendarat di kotanya. Tapi, dia tidak bisa pulang karena keterbatasan waktu. Dia meminta Salwa untuk datang dan menunggunya di tempat biasa dia beristirahat.
"Terima kasih sudah mau datang." Dengan senyum manisnya Keenan menghampiri Salwa lalu duduk di sampingnya.
"Salwa bawa makanan, untuk Mas." Salwa menyodorkan sebuah kotak bekal pada Keenan.
Keenan membuka wadah bekal tersebut, lalu mulai menyantapnya.
"Mang Atengnya mana?" tanya Keenan disela-sela makannya.
"Di mobil." Jawab Salwa singkat.
"Mas ada penerbangan ke luar, mungkin untuk beberapa waktu kita tidak bisa saling bertukar kabar." Tutur Keenan sambil memandang wajah istrinya. Salwa hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Salwa." Sebut Keenan.
"Ada apa, Mas?" tanya Salwa.
"Apa belum ada cinta, dari Salwa untuk Mas?" Keenan balik bertanya.
"Maaf, Mas. Salwa nggak berani terlalu jauh untuk mengambil langkah dan keputusan. Aku takut, terluka jika terlalu berharap." Jawaban Salwa membuat Keenan tersenyum, walau yang sebenarnya terjadi, hatinya sangat sedih.
"Tapi, Mas ini suamimu. Wajar dong, jika istri mencintai suaminya dan begitu juga sebaliknya." Tutur Keenan.
"Mas menikahi Salwa, karena anak ini. Bukan karena cinta pada ibunya." Tegas Salwa.
"Jika Mas mengatakan mencintai kamu, apa kamu percaya dan akan membalas cinta dari Mas?" Keenan bertanya seraya memandang wajah Salwa.
Salwa membalas tatapan dari suaminya, kemudian menunduk. "Salwa tidak tahu, Mas." Lirihnya.
Keenan mengemasi bekas makannya, kemudian berpamitan pada Salwa.
"Jaga dia baik-baik." Pinta Keenan tanpa mengusap perut Salwa dan sama sekali tidak memandang wajah istrinya.
"Mas." Panggilan Salwa menghentikan langkah kaki Keenan.
__ADS_1
"Jika menikahiku hanya karena Mas ingin bertanggung jawab atas kejadian malam itu seperti yang Mas katakan, setelah anak ini lahir, kita bisa berpisah. Aku tidak akan menuntut apa-apa darimu." Perkataan Salwa mampu membuat Keenan memutar balik tubuhnya.
"Aku tahu, Mas mencariku dan menikahiku karena merasa bersalah." Sambung Salwa.
Bibir Keenan mendadak kelu, tidak mampu digerakkan. Tak satupun kata yang keluar dari mulutnya. Tidak satupun kata bantahan yang sanggup dia layangkan pada istrinya itu. Semua yang dikatakan oleh Salwa adalah benar, meski perlahan, kini yang bernama cinta itu sudah bersemayam di hatinya.
"Hati-hati, Mas. Aku menunggumu pulang." Salwa berjalan mendekati Keenan, meraih tangan suaminya lalu mengecupnya.
Salwa buru-buru berbalik, agar Keenan tidak melihat air matanya yang sudah menganak sungai. Sulit untuk mengatakan yang sebenarnya, jika dia sudah mulai mencintai suaminya. Tapi, semua terpaksa harus dia lakukan, agar tidak terlalu dalam mencinta. Apalagi, setelah tahu niat Keenan menikahi dirinya.
"Salwa!"
"Salwa!"
Keenan memanggil Salwa, tapi Salwa terus berjalan dan tidak menghiraukan panggilan ayah dari anaknya itu. Salwa melangkah menuju mobil lalu masuk ke dalamnya.
"Jalan, Mang." Salwa meminta mang Ateng untuk mengemudikan mobilnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, Mas Keenan pria yang baik." Ujar Mang Ateng yang langsung mengemudikan mobilnya.
"Salwa hanya tidak ingin terlalu dalam mencintai Mas Keenan." Tutur Salwa.
Flashback on
Risma dan anaknya datang berkunjung ke rumah Salwa. Awalnya mereka baik-baik saja, bercanda, tertawa dan terlihat bahagia. Tapi, setelah Risma bercerita soal Zira, kekasih masa lalu Keenan, semua jadi berubah. Ditambah lagi perkataan Risma yang terasa seperti pisau yang menusuk jantung.
"Untung mas Keenan laki-laki baik ya Mbak, dia mau bertanggung jawab." Kata Risma.
"Maksudnya?" tanya Salwa yang belum mengerti arah omongan adik iparnya itu.
"Maksud aku, mas Keenan menikahi mbak Salwa karena merasa bersalah, dia hanya ingin mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia perbuat." Jawab Risma.
"Oh, gitu ya." Salwa manggut-manggut saja.
"Mas Keenan itu sangat susah untuk mencinta, apalagi pada orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Tapi, sekali dia mencintai seseorang, maka sulit untuknya melupakan orang yang dicintainya itu." Sambung Risma. Lalu diapun menceritakan masa lalu Keenan dan Zira.
Mulai saat itu, Salwa menjaga jarak dengan Keenan. Dia akan bersikap biasa saja saat Keenan meneleponnya.
Flashback off
__ADS_1
"Menurut Mang Ateng, apa Mas Keenan mau memberikan hak asuh anak pada Salwa, jika kami berpisah nanti?" tanya Salwa setelah mereka sampai di rumah.
"Jangan sembarangan kalo ngomong. Pamali!" Kata mang Ateng.
"Baik, Mang." Salwa menaiki tangga menuju kamarnya. Dalam hatinya gelisah, memikirkan masalah yang sedang dia hadapi.
Salwa mendudukan dirinya di tepi kasur, sesekali terdengar helaan nafas yang berat dan panjang.
"Apa aku keterlaluan, jika terlalu memikirkan hal ini? Bukankah semua harus direncanakan mulai dari sekarang? Sebelum aku terlanjur mencintainya." Monolog Salwa.
Terdengar suara pesawat melintas, Salwa mendongak walaupun burung besi itu tidak terlihat.
"Selamat bertugas, Mas. Semoga selamat sampai tujuan." Gumam Salwa.
"Aku mencintaimu, Mas. Sudah mencintaimu, apa kamu juga percaya jika aku mengatakannya." Lirihnya.
Salwa mengusap perutnya yang sudah mulai ada pergerakan. Perut yang menjadi tempat favorit Keenan untuk saat ini. Karena disitulah tempat yang paling sering disentuh oleh suaminya itu.
Terdengar suara ketukan pintu. Salwa turun dari kasurnya, lalu berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
"Bi Lilis. Masuk Bi." Salwa mempersilahkan bi Lilis untuk masuk ke kamarnya.
"Di bawah ada bu Mala dan Pak Geri. Temuilah." Kata Bi Lilis.
Salwa ke luar dari kamarnya dan langsung menuju ke ruang tamu. Salwa tersenyum pada kedua mertuanya, lalu duduk di sofa yang sama dengan bu Mala.
"Udah lama, Ma?" tanya Salwa.
"Baru saja sampai, Nak." jawab Bu Mala.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya pak Geri.
"Salwa baik, Pa." Salwa menjawab pertanyaan pak Geri sambil tersenyum.
"Mama bawain kamu makanan, cobain deh. Pasti kamu suka." Kata Bu Mala sambil meletakan bungkusan di atas meja.
"Terima kasih, Ma." Ucap Salwa.
Pak Geri dan bu Mala, memandangi wajah Salwa. Mata yang merah dan sembab, menunjukan kalo menantunya itu habis menangis. Sebelum memanggil Salwa, mang Ateng sudah menceritakan apa yang terjadi antara Salwa dan Keenan, termasuk perkataan Risma pada istri kakaknya itu tempo hari. Pak Geri merasa geram atas apa yang dilakukan oleh putrinya, dia akan menasehati Risma jika bertemu nanti.
__ADS_1