My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 9


__ADS_3

Risma duduk sambil tertunduk di hadapan kedua orang tuanya. Terbersit rasa menyesal di hatinya, karena telah berbicara yang tidak-tidak pada kakak iparnya. Dia berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi dan akan meminta maaf pada Salwa dan Keenan.


"Jangan sampai kakakmu tahu soal ini." Tegas pak Geri.


"Papamu benar, Risma. Kakakmu pasti akan marah besar." Bu Mala menimpali.


"Risma minta maaf, Risma gak sengaja." Risma menyesali perbuatannya.


"Nggak sengaja kamu bilang! Lagian apa untungnya kamu cerita soal Zira pada Salwa? Apa!" Bu Mala menghardik Risma, emosi sudah sampai ke ubun-ubun.


"Lihat sekarang, Salwa menjaga jarak dengan kakakmu. Apa itu yang kamu mau, RISMAYANTI!" Bu Mala menekankan kata-katanya.


Risma tidak berani menatap wajah kedua orang tuanya, dia menunduk sambil terisak.


"Kamu tidak suka pada Salwa?" Pertanyaan pak Geri mampu membuat Risma mengangkat kepalanya.


"Bukan itu maksud Risma, Pa. Risma bercerita soal Zira, agar Salwa belajar dari kesalahan mantan kakak. Agar kakak ipar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh wanita masa lalu Kak Ken." Risma menjelaskan sekaligus membela diri.


"Kenapa harus Zira? Kenapa bukan yang lain. Atau kamu tidak perlu menyebut dan membandingkan dengan seseorang. Bagaimana jika aku membandingkanmu dengan mantan kekasih suamimu, apa kamu mau?" Tanya Pak Geri.


"Dela, maksud papa? Dela tidak sebanding denganku!" Seru Risma.


"Ayo kita pulang, Ma. Susah ngomong sama orang sok pintar dan keras kepala. Egois kok gak ketulungan" Pak Geri mengajak istrinya untuk pulang sambil ngedumel.


Pak Geri dan bu Mala keluar dari rumah anaknya. Mereka pulang menggunakan mobil yang dikemudikan oleh supir. Di sepanjang perjalanan, bu Mala mengomel karena kesal.


"Kita harus menjelaskan pada Salwa, Pa. Kita harus bisa membuat Salwa kembali seperti semula, dekat dan percaya pada Keenan." Tutur bu Mala.


"Iya, Ma. Nanti papa pikirkan caranya. Mama tenang saja." Kata Pak Geri.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, pak Geri duduk bersandar di bangkunya. Dia memikirkan cara, bagaimana menjelaskan dan meluruskan kesalah pahaman yang telah dibuat oleh Risma.


Di rumah Salwa,


Dia sedang duduk di kamarnya, duduk di dekat jendela sambil melihat pemandangan di luar kamarnya.


Hari ini cukup cerah, bunga-bunga bermekaran, burung-burung berkicau merdu, kupu-kupu berkeliaran di atas indahnya warna-warni bunga. Angin sepoi-sepoi membuat irama indah di antara dedaunan.

__ADS_1


Salwa tersentak dari lamunannya, saat ponsel miliknya berdering. Nomor tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Dia mengabaikan panggilan itu, hingga nomor itu berulang kali menghubunginya.


"Nomor siapa ini? Kenapa menelponku berulang kali?" Salwa bertanya-tanya sendiri.


Salwa mengangkat ponselnya, dia takut jika itu penting.


"Sayang, kenapa lama sekali menjawab panggilanku." Keenan langsung berbicara sebelum Salwa sempat mengatakan sesuatu.


"Ternyata itu kamu, Mas. Aku pikir siapa." Kata Salwa.


"Siap-siaplah, mas akan menjemputmu." Titah Keenan dari seberang telepon.


"Kita mau kemana, Mas? Bukankah Mas sedang tugas di luar?" Tanya Salwa.


Salwa memandang layar ponselnya,panggilan Keenan tiba-tiba terputus.


"Aneh." Gumam Salwa.


Salwa kembali duduk di kursinya, dia sama sekali tidak berniat melakukan apa yang suaminya pinta. Hingga suara ketukan di pintu kamarnya kembali membuyarkan lamunannya.


Salwa beranjak hendak membuka pintu, tapi pintu kamarnya sudah terbuka. Keenan melangkahkan kakinya mendekati istrinya.


"Aku tidak tahu harus mempersiapkan apa." Salwa berkilah.


Keenan menjongkokan tubuhnya sejajar dengan perut Salwa, dia mencium perut itu cukup lama. Keenan mendongak untuk melihat wajah cantik istrinya.


"Bi Lilis bilang, bajumu mulai sempit karena ulah anakku. Aku berniat mengajakmu berbelanja hari ini." Tutur Keenan.


"Bajuku masih banyak yang bisa dipakai, lebih baik uangnya ditabung saja." Balas Salwa.


Keenan berdiri lalu memegang kedua pundak Salwa. "Semenjak menikah denganku, kamu tidak pernah memakai uangku sama sekali. Kamu tidak pernah membeli apa yang menjadi kebutuhanmu. Apa uang itu kamu simpan, dan suatu saat akan kamu pake untuk meninggalkanku?" Pertanyaan Keenan membuat Salwa salah tingkah.


"Bukan begitu maksudku. Semua kebutuhanku sudah tercukupi, dan apa yang aku mau sudah ada. Jadi, apa yang harus aku beli, semua sudah lengkap." Jawab Salwa.


Keenan meletakkan topi kerjanya, lalu berjalan menuju lemari. Dia mengambil pakaian santai dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


"Mas." Sebut Salwa saat Keenan keluar dari kamar mandi dan menggantung pakaian kerjanya di gantungan baju.

__ADS_1


"Ada apa? Apa kamu mau bertanya soal Zira?" tanya Keenan.


"Aku tidak peduli soal mantanmu itu." Tegas Salwa.


"Lalu, soal apa?" tanya Keenan lagi.


"Berapa hari mas libur? Maksud Salwa ... "


"Mas seminggu di rumah. Ada apa?" Keenan mendekati istrinya.


"Bisakah Mas mengantarku ke rumah sakit, besok?" Besok jadwal Salwa kontrol kehamilan." Salwa menundukkan kepalanya saat mengatakan keinginannya.


Keenan terkejut mendengar permintaan istrinya, selama ini dia tidak pernah berpikir untuk membawa Salwa periksa kehamilannya. Dia hanya mengirim uang untuk membeli apa yang diinginkan oleh wanita yang kini sedang mengandung anaknya.


"Besok mas antar." Suara Keenan bergetar, antara menahan tangis dan rasa bersalah. Keenan menarik pinggang Salwa lalu memeluknya.


"Maaf." Lirihnya.


Salwa terdiam, tidak membalas pelukan dari suaminya. Dia masih harus meyakinkan hatinya, untuk benar-benar siap menerima Keenan dan menjadikannya orang yang memiliki diri dan hatinya secara utuh.


"Sudah siang, mungkin bi Lilis sudah menyiapkan makan untuk kita. Makan siang yuk, setelah itu mas akan mengajakmu jalan-jalan." Keenan menggenggam tangan Salwa dan mengajaknya ke ruang makan.


Keenan menarik kursi untuk Salwa duduk, lalu mereka pun mulai makan.


"Darimana Mas tahu soal Zira?" tanya Salwa disela-sela makannya.


"Makanlah. Tidak perlu dibahas, jika itu hal yang tidak penting. Fokus saja pada kesehatanmu juga calon bayi kita." Jawab Keenan.


"Maaf, Mas." Salwa melanjutkan kembali makan siangnya. Selesai makan siang, Keenan menepati perkataannya. Dia membawa Salwa jalan-jalan berkeliling kota.


"Saling percaya, adalah kunci utama dalam sebuah hubungan. Jika, kamu tidak percaya pada Mas, bagainana hubungan kita akan bertahan dengan baik. Perkataan orang jangan terlalu dipikirkan, jangan langsung ditelan mentah-mentah. Walaupun orang yang mengatakan itu orang terdekatmu." Tutur Keenan.


"Iya, Mas." Ucap Salwa.


"Ini pernikahan kita, rumah tangga kita. Kita yang menjalani, kita yang rasakan. Orang lain hanya penonton yang pintar berkomentar saja." Tambah Keenan.


"Risma adikmu, bukan orang lain." Tegas Salwa.

__ADS_1


"Kehancuran terkadang datang dari diri kita sendiri, orang terdekat kita, dan bukan dari orang lain. Tergantung kita, bagaimana menyikapi setiap perkataan yang orang sampaikan pada kita. Mas percaya, Salwa pasti bisa memilah, mana perkataan yang baik dan mana yang buruk." Tutur Keenan dan Salwa hanya manggut-manggut saja.


__ADS_2