
Duduk santai di sebuah kafe, sambil menikmati jus dan juga berbagai macam makanan. Keenan dan Salwa duduk santai, Angkasa tertidur di kereta dorong miliknya.
"Kita lagi nungguin siapa sih Mas?" tanya Salwa.
Belum sempat Keenan menjawab pertanyaan Salwa, Nanang datang menghampirinya.
"Sorry Bro, macet." Nanang bersalaman pada teman sekaligus kakak iparnya tersebut.
"Jihan tidak ikut?" tanya Keenan.
"Dia pergi meeting," jawab Nanang.
"Jangan terlalu mencolok, rencana kita bisa saja gagal karenamu." Keenan mengingatkan Nanang.
Nanang melirik ke arah Salwa, dia takut istri kakak iparnya akan membocorkan rahasia mereka berdua.
"Istriku tidak akan membocorkan rahasia kita, karena Risma tidak menyukainya. Jadi, tidak mungkin ada waktu bagi mereka untuk berbagi cerita." Keenan mengerti arti lirikan dari mata Nanang.
"Rahasia apa, Mas? Kalian sedang membahas soal apa? Kenapa aku dan Risma kalian sebut?" Salwa menodong Keenan dengan banyak pertanyaan.
"Suatu saat nanti kamu akan tahu, untuk saat ini tolong rahasiakan apa saja yang telah kamu dengar dari pembicaraan kami." Pinta Keenan dan Salwa pun mengangguk.
Keenan dan Nanang pun nampak serius membahas persoalan serta rencana mereka ke depannya. Mereka sama sekali tidak membahas soal pekerjaan.
Salwa hanya menyimak dan sesekali terlihat dia mengerutkan keningnya. Tidak mengerti dengan apa yang sedang dibahas oleh suami dan adik iparnya itu.
"Kita pulang yuk," ajak Keenan setelah urusannya selesai.
Salwa menyetujui ajakan suaminya. Diapun berjalan beriringan dengan Keenan yang berjalan di sampingnya sambil mendorong kereta bayi milik Angkasa.
Salwa masuk terlebih dulu ke dalam mobil. Setelah Angkasa berpindah ke pangkuan istrinya, barulah Keenan masuk dan duduk di bangku kemudi lalu mengemudikan mobilnya.
"Mas," sebut Salwa.
"Mau tanya soal Jihan dan Nanang?" Keenan menebak apa yang ingin Salwa bicarakan.
"Aku hanya bingung, kenapa mas malah mendukung Nanang untuk selingkuh. Harusnya mas melarangnya," tutur Salwa sambil menatap suaminya dengan tajam.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Keenan.
__ADS_1
"Jangan bilang kalo mas juga selingkuh, sama seperti Nanang." Tatapan mata Salwa yang tajam seolah menguliti Keenan.
Keenan menepikan mobilnya, lalu merubah posisi menghadap ke Salwa.
"Nanang punya alasan yang kuat untuk selingkuh. Kalo aku, tidak punya alasan."
"Apapun alasannya, selingkuh itu salah." Salwa memasang wajah jengkel.
Keenan membelai rambut Salwa dengan lembut. "Mas tidak mungkin selingkuh, karena mas tidak punya alasan untuk itu."
Keenan kembali mengemudikan mobilnya, dia tersenyum tipis hingga Salwa tidak menyadarinya. Sesekali Keenan melirik ke arah istrinya yang masih dalam mode cemberut.
Sesampainya di rumah, Keenan langsung memasukkan mobilnya ke garasi.
"Kok langsung dimasukin ke garasi, Mas. Bukannya mas mau pergi lagi ya."
"Nggak jadi pergi, bidadari lagi pasang mode ngambek." Keenan tersenyum sambil mencolek hidung Salwa.
"Tau ah." Salwa turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah.
Melihat Salwa ngambek dan wajah yang memerah karena malu, Keenan pun semakin gemes. Dia jadi suka menggoda istrinya dan menjahilinya.
"Mas Keenan." Bi Lilis memanggil Keenan dari arah dapur.
Mendengar namanya dipanggil, Keenan pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suara.
"Ada apa, Bik?" tanya Keenan.
Bi Lilis datang menghampiri Keenan, "tadi Risma datang kemari dan marah-marah. Dia terus berteriak memanggil nama Salwa. Dia bilang Salwa sudah menghasut mas Ken untuk mengambil semua fasilitas yang dia punya." Bi Lilis menyampaikan apa yang dia dengar tadi.
"Dia ngomong apa lagi?" tanya Keenan.
"Sepertinya dia tidak tahu kalo Mas Ken ada di rumah, dia bilang sore ini akan datang lagi." Jawab bi Lilis.
Keenan melihat ke arah jam yang ada di dinding, pukul tiga sore.
"Aku masuk kamar dulu ya bik, jangan bilang padanya kalo aku ada di rumah." Pesan Keenan lalu kembali melanjutkan langkahnya ke arah kamar.
Keenan masuk ke kamar dan langsung duduk di samping Salwa yang sedang duduk di tepi kasur.
__ADS_1
"Nanti Risma akan datang dan marah-marah padamu, aku akan bersembunyi. Aku ingin tahu, seberapa berani dia memarahi dan memaki dirimu." Keenan pun menceritakan pada Salwa tentang Risma yang tadi datang sambil marah-marah.
"Risma datang dan marah-marah? Lagipula, atas dasar apa dia menuduhku seperti itu?" Salwa bingung, tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran adik iparnya. Karena setahu Salwa, suami Risma lah yang meminta Keenan untuk membekukan keuangan milik Risma.
Keenan hendak menjawab, tapi diurungkannya saat terdengar suara keributan dari luar kamarnya.
"Tetap tenang, mas masuk ke kamar mandi dulu ya." Keenan cepat-cepat masuk ke kamar mandi, sedangkan Salwa merebahkan diri di atas kasur, pura-pura sedang tidur sambil memeluk Angkasa.
Brakk ... Dengan kasar Risma membuka pintu kamar Salwa.
"Heh, perempuan nggak tahu diri, bangun loe." Dengan kasar Risma menarik tangan Salwa hingga Salwa merasakan sakit di tangannya.
"Ada apa, Risma? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan langsung marah-marah?" tanya Salwa dengan lembut.
"Nggak usah sok lembut deh, dasar munafik! Kamu 'kan yang suruh Kak Keenan untuk menarik semua falisitas yang udah kak Ken kasih ke aku, kamu juga yang suruh dia untuk membekukan rekeningku. Iya kan?" Suara teriakan Risma membuat Angkasa kaget hingga terbangun dari tidurnya dan menangis.
Salwa hendak menenangkan putranya, tapi Risma mencegahnya dengan cara mendorong Salwa hingga jatuh ke lantai.
Risma berjongkok lalu mencengkram leher Salwa hingga Salwa meneteskan air mata karena sakit.
"Tinggalkan kak Ken, atau kamu akan merasakan penderitaan yang lebih sakit dari ini." Ancam Risma.
"Sesakit apa itu?" Mata Risma membulat saat mendengar suara Keenan. Dia menoleh dan terkejut saat melihat Keenan bersandar di pintu kamar mandi dan hanya mengenakan handuk saja.
"Ka-kakak ada di rumah?" Dengan terbata-bata Risma bertanya pada Keenan.
"Kalau aku di rumah, emangnya kenapa? Apa kamu akan bersikap manis pada istriku?" Keenan melangkah maju mendekati Salwa, kemudian membantu Salwa untuk berdiri, setelah itu dia mendekati Angkasa.
"Sayang Papa, kaget ya denger suara orang sakit yang berteriak." Keenan menggendong Angkasa lalu menenangkan putranya yang sedang menangis dengan kencang.
Keenan duduk di tepi kasur sambil memandang ke arah Risma yang berdiri sambil menunduk.
"Kenapa diam? Ayo lanjutkan lagi. Jangan cuma memaki dan bertetiak, bila perlu kamu injak atau kamu banting istriku. Biar kamu bisa lebih puas!" Suara Keenan terdengar berat dan bergetar, sepertinya dia sedang menahan emosinya.
"Kak, Risma nggak bermaksud untuk ... "
"Sudahlah Risma, nggak usah membela diri. Kakak sudah tahu sikap kamu selama ini bagaimana. Apa kamu lupa, jika disetiap rumah kakak ada kamera cctv? Atau kamu sengaja melakukan itu agar kakak bisa tahu kebusukanmu." Keenan menarik tangan Salwa dengan lembut agar mendekat ke arahnya.
"Dia istriku, yang kamu bilang penghasut ini, sama sekali tidak pernah tahu tentang fasilitas yang aku berikan padamu. Atas dasar apa kamu menuduhnya? Lagipula, sudah seharusnya aku menarik semuanya darimu, karena kamu bukan tanggung jawabku. SAMA SEKALI BUKAN TANGGUNG JAWABKU." Keenan menekankan kata-katanya.
__ADS_1