
Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah bergaya kuno, rumah itu masih terlihat rapi dan sangat terawat.
Keenan turun dari taksi lalu membuka pintu pagar. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Dia sangat senang karena akhirnya dia bisa bertemu dengan orang yang sangat dia cintai dan sangat dia rindukan.
"Halo Darling, semakin cantik dan segar saja." Ucap Keenan pada seorang wanita yang berdiri tegak menyambut kedatangannya.
"Akhirnya kamu datang, sayang. Aku sangat merinduimu." Wanita itu pun memeluk erat tubuh Keenan, melepaskan semua rindu yang terpendam. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bertemu.
"Aku juga sangat merindukanmu, cinta pertamaku." Ucap Keenan sambil mencolek hidung wanita itu.
"Ah, kamu selalu begitu. Membuatku susah move on." Balas wanita itu lalu tertawa.
"Nenek, mana Bu? Kok tidak kelihatan? Biasanya nenek selalu menyambut kedatangan Keenan." tanya Keenan sambil melongok ke dalam rumah.
"Nenek sedang memasak, dia sangat bahagia saat kamu menelponnya dan mengatakan akan datang." Jawab wanita itu yang ternyata ibu kandung Keenan.
"Kalian selalu repot kalo aku datang," ujar Keenan.
Ibu mengajak Keenan masuk ke dalam rumah, dan menyuruhnya untuk duduk di ruang makan.
"Tunggu di sini, ibu akan menyiapkan makanan untukmu." Setelah mengatakan itu, ibu pun langsung menyusul nenek di dapur.
Keenan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu, tidak ada yang berubah, semua masih pada tempatnya. Hanya jumlahnya saja yang bertambah, satu foto Angkasa saat masih bayi, satu foto Salwa, dan satu lagi foto Keenan bersama anak dan istrinya terpasang di dinding, berbaur dengan foto Keenan dan Jihan.
Keenan berdiri dan mendekati foto Salwa, mengusapnya dengan lembut lalu tersenyum.
"Kamu merindukannya?" tanya Nenek sambil meletakkan sayur di meja.
"Bahkan satu detik saja aku tidak melihatnya, aku sudah rindu." Jawab Keenan lalu menghampiri sang nenek dan langsung memeluknya.
"Ternyata sang pengemudi burung besi bisa bucin juga," ejek nenek.
"Apa nenek berharap jika aku selingkuh dan mengkhianati Salwa?" Keenan menggoda neneknya.
"Aku yang pertama akan membunuhmu, jika itu benar terjadi." Ibu ikut nimbrung.
__ADS_1
"Tidak akan, Bu. Aku tidak mau seperti papa yang menyakiti hati ibu." Ujar Keenan lalu kembali memeluk ibunya.
"Sudah sudah, ayo kita makan. Jangan berpelukan terus, nanti bisa gepeng." Nenek mengajak anak dan cucunya untuk makan.
Keenan sudah lama tidak mencicipi masakan ibu dan neneknya, dia begitu lahap menyantap semua makanan yang terhidang di hadapannya.
"Kapan kamu mau memperkenalkan ibu pada istri dan anakmu, Ken?" tanya ibu di sela-sela makannya.
"Setelah Keenan dapat kepastian, Salwa hamil atau tidak." Jawab Keenan tanpa berhenti mengunyah.
"Jika istrimu ternyata benar-benar hamil, bagaimana?" tanya ibu lagi.
"Berarti, ibu harus bersabar sampai dia melahirkan." Jawab Keenan sambil tersenyum.
"Dasar anak nakal, aku yakin istrimu pasti punya kekuatan super, hingga tetap waras hingga detik ini." Seloroh nenek sambil menoyor kepala Keenan.
"Dia sekarang sedang tidak tenang dan sangat gelisah. Ibu tahu kenapa? Karena setiap ibu menelpon, aku selalu menjauh darinya." Tutur Keenan.
"Kamu mau bikin menantuku curiga? Hah!" Ibu meninggikan suaranya.
Seperti anak yang melakukan kesalahan fatal, ibu mengejar Keenan sambil memegang sapu. Mereka berlari mengitari meja ruang tamu.
Telpon Keenan berdering, tertulis nama istri tercinta di layar ponsel Keenan.
"Stop, bu! Keenan mau angkat telpon dari Salwa dulu." Pinta Keenan dengan nafas yang terengah-engah.
Keenan menggeser ikon hijau di layar ponselnya, panggilan pun terhubung.
"Hallo, sayang." Keenan menyapa Salwa yang ada di seberang telpon.
"Kenapa suaramu seperti sedang kehabisan nafas. Apa kamu baru selesai olahraga?" tanya Salwa dari ujung telpon.
Nenek datang dan mengajak ibu mengobrol, nenek tidak tahu jika Salwa sedang menelpon Keenan. Suara nenek dan ibu membuat Salwa semakin berprasangka buruk dan berpikiran negatif tentang Keenan.
"Suara siapa itu, mas? Apa kamu sedang berkunjung ke rumah seseorang?" tanya Salwa lagi.
__ADS_1
"Iya, aku sedang mengunjungi seseorang." Jawab Keenan.
"Aku matikan telponnya ya, maaf sudah mengganggu." Salwa langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
"Ada apa?" tanya bi Lilis pada Salwa, mereka sedang duduk santai di ruang TV.
"Apa ada yang terjadi pada Keenan? Kenapa wajahmu terlihat murung dan sedih? Kamu tidak mengatakan kalo kamu sedang hamil adiknya Angkasa?" tanya Mang Ateng secara bertubi-tubi.
"Sepertinya mas Keenan sedang sibuk dan tidak bisa diganggu," jawab Salwa, wajahnya terlihat begitu sedih dan murung.
"Mungkin Keenan sedang rapat atau berkumpul dengan rekan kerjanya," ujar bi Lilis mencoba menghibur Salwa.
"Mungkin saja, bik. Salwa ke kamar dulu ya bik, titip Angkasa." Salwa pun masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lemes di atas kasur.
Sejak hamil adiknya Angkasa, tubuh Salwa jadi mudah lelah. Meskipun dia tidak mual dan muntah, tapi tubuhnya sangat lemah dan membuatnya takut untuk beraktifitas. Tadi pagi saja dia hampir jatuh, untung mang Ateng dengan sigap menangkapnya.
"Siapa perempuan yang sedang bersama mas Keenan tadi? Kenapa perempuan itu mengatakan kalo dia sangat mencintai mas Keenan? Apa wanita itu kekasihnya atau istri mas Keenan selain aku?" Banyak pertanyaan yang bertebaran di benak Salwa, membuat kepalanya semakin pusing dan berdenyut.
Saat menelpon Keenan tadi, Salwa sempet mendengar ibu dan nenek berbicara. Salwa juga bisa mendengar saat Ibu mengatakan bahwa Keenanlah lelaki yang sangat dicintainya, sejak dahulu, kini, dan hingga nanti.
Tentu saja ibu mencintai Keenan, karena Keenanlah satu-satunya lelaki yang ibu miliki saat ini. Anak laki-laki satu-satunya dan ibu sangat-sangat mencintai putra pertamanya itu.
Kembali ke rumah ibu,
"Siapa yang menelponmu, nak?" tanya Nenek.
"Istriku, Nek. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan," jawab Keenan.
Ibu melihat raut wajah Keenan yang berubah gelisah. "Mungkin dia mendengar suara ibu dan nenek ngobrol, makanya dia mengurungkan niat untuk bercerita padamu." Ujarnya.
"Pulanglah, nak. Ceritakan pada Salwa tentang kami, jangan sampai hubungan kalian retak hanya karena sebuah ke salah pahaman. Nenek tidak mau lagi melihat hidup kalian hancur, cukup Mala saja yang sudah menghancurkan hidup kita." Tutur Nenek.
"Iya, Nek. Setelah dari sini, Keenan akan langsung pulang dan menceritakannya pada Salwa." Kata Keenan menuruti saran nenek.
"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat, bukankah besok pagi kamu harus kembali bekerja." Ibu menepuk lembut bahu Keenan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Nenek juga masuk ke kamarnya, meninggalkan Keenan sendiri di ruang tamu.