
Suasana makan malam di rumah ibu kali ini terasa berbeda, lebih berwarna dan penuh kebahagiaan.
Bagaimana ibu dan ayah tidak bahagia, jika semua anaknya datang berkumpul. Biasanya moment ini jarang terjadi, dikarenakan semua sibuk dengan urusannya masing-masing.
Jihan dan Nanang datang tepat sebelum jam makan malam dikarenakan terjebak macet di perjalanan. Ditambah lagi dia juga sedang hamil, jadi Nanang tidak bisa melajukan mobilnya dengan kencang.
"Ayah senang, akhirnya keinginan ayah untuk berkumpul tercapai. Apalagi sekarang anggota keluarga kita bertambah, ada Salwa dan juga Angkasa. Sebentar lagi Jihan juga akan melahirkan, keluarga kita semakin ramai. Meski kita saling berjauhan, Ayah harap kita tidak memutus tali silahturahmi. Terutama Salwa, jangan kaget jika setiap minggu ayah menelponmu, itu cara ayah membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga." Tutur Om Panji panjang lebar.
"Jadi berasa punya selir banyak ya, Yah." seloroh Nanang sambil mengunyah makanannya.
"Awas kamu kalo macam-macam!" Ancam Jihan sambil mengarahkan garpu ke arah Nanang.
"Colok matanya biar nggak bisa jelalatan," Ayah malah mengompor-ngompori Jihan, melihat itu semua pun tertawa.
"Bagaimana kabar papamu?" tanya om Panji setelah selesai makan, dia mengajak Keenan duduk di beranda samping. Nanang dan Jihan sudah masuk kamar karena kecapekan.
"Sudah lebih baik, Yah." jawab Keenan.
Om Panji duduk bersandar di kursinya, menatap lurus ke depan, wajahnya terlihat datar tidak bisa ditebak.
"Terkadang ayah kasihan melihat papamu, sudah tua tapi tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana lawan atau kawan. Dia mudah percaya pada semua orang, tanpa dipikirkan akibatnya," tutur Om Panji.
Keenan tidak membantah apa yang dikatakan oleh ayah tirinya, karena semua yang dikatakannya adalah benar.
Berulang kali Keenan menyelesaikan berbagai kemelut yang dibuat oleh papanya, hingga terkadang Keenan merasa lelah.
"Oya, ayah sempet dengar kabar tentang Risma, katanya sekarang dia sudah menikah kembali. Apa itu benar? Selentingan kabar yang ayah dengar dia menyimpan dendam pada kalian." Keenan terdiam sesaat sebelum menjelaskan tentang Risma pada ayahnya.
__ADS_1
Keenan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Sebenarnya dia sama sekali tidak tertarik membahas tentang Risma.
"Yang aku dengar juga begitu, dia sudah menikah lagi." ucap Keenan.
"Ayah, sudah malam. Biarkan Keenan beristirahat, karena besok dia mau ibu ajak ke perkebunan." Ibu datang dari arah pintu samping.
"Mau ngapain ke perkebunan? Besok Keenan janji sama Salwa, mau ajak dia ke kampung sebelah bu." tutur Keenan.
"Sebentar saja nak, kamu tidak sendiri kok, ibu ajak Jihan juga." Keenan menangkap hal lain dari perkataan ibunya.
"Jangan bilang ibu mau meminta kami untuk mengurus perkebunan itu?" Keenan coba menebak.
"Ibu sudah tua nak, sudah waktunya yang muda yang bekerja." jawab Ibu.
"Ibu bayar orang saja untuk mengurus perkebunan itu, Keenan mana ada waktu bu. Perusahaan Keenan saja Nanang dan beberapa orang kepercayaan yang pegang." tolak Keenan.
Ayah dan ibu saling bertukar pandang lalu kembali melihat ke arah Keenan.
"Abangmu tidak mau, ayah dan ibu sudah pernah membahas masalah ini dengannya. Dia malah menulis surat pernyataan dan melimpahkan semua urusan perkebunan padamu." jelas om Panji.
"Ah Abang, selalu begitu. Besok Keenan akan menghubunginya." Keenan masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya. Salwa sudah tertidur bersama Angkasa.
***
Risma mulai menaruh curiga pada suaminya, karena semenjak menikah sang suami selalu pulang padanya. Bahkan sang suami mengajaknya pindah ke sebuah rumah yang lumayan besar dan mewah.
Setiap dia bertanya tentang istri pertama, suaminya selalu mengelak. Pernah sekali Risma mengikuti suaminya ke mana pun, tapi tidak ada tanda-tanda sang suami menemui perempuan lain kecuali seorang wanita paruh baya yang diyakini Risma sebagai ibu dari suaminya.
__ADS_1
"Malam ini aku tidak pulang, jangan menungguku!" Risma hanya mengangguk saat suaminya mengatakan itu.
Setelah suaminya pergi, Risma pun berinisiatif untuk membuntutinya. Dia mengikuti mobil yang dikemudikan oleh suaminya.
"Ke mana dia? Ini bukan arah ke kantor," hati Risma mulai gelisah saat mobil suaminya mengambil jalur lain.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah perumahan elit, mobil Risma menepi di depan sebuah rumah yang dimasuki oleh suaminya.
Dari mobilnya, Risma melihat seorang perempuan muda dan cantik menyambut kedatangan suaminya dan mereka pun berpelukan. Mereka terlihat sangat mesra dan Risma melihat ada kerinduan di antara mereka berdua.
"Jalan pak!" pinta Risma pada supir taksi yang ditumpanginya.
Risma menyadarkan tubuh di bangkunya, dadanya terasa sesak saat melihat sang suami bersama wanita lain.
Air matanya perlahan menetes, mewakili hatinya yang tengah terluka.
"Kenapa aku menangis? Bukankah aku sudah tahu kalau dia sudah punya istri dan kapan pun itu pasti dia akan kembali pada istrinya. Harusnya aku sadar kalau hanya jadi yang kedua." gumam Risma.
Risma memukuli dadanya yang terasa sakit dan sesak. Bahkan sakit ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya, tidak saat dia berpisah dengan Nanang sekali pun.
"Tidak, tidak mungkin aku mencintainya. Aku hanya cinta uangnya saja, aku cinta kekayaannya saja. Aku tidak mungkin mencintai laki-laki yang bahkan aku sendiri tidak tahu namanya." Risma memukuli kepalanya sambil menggeleng.
"Apa ibu baik-baik saja?" tanya supir taksi.
"Ya, aku baik-baik saja." jawab Risma.
Taksi berhenti tepat di depan rumah yang baru beberapa hari ini mereka tempati. Dengan langkah lunglai dia melangkah memasuki rumahnya.
__ADS_1
Risma duduk di lantai sambil menangis, entah apa yang membuatnya begitu bersedih.
"Aku harus bagaimana? Pergi dan kehilangan segalanya atau bertahan tapi sakit?" Risma menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut yang ditekuk.